NovelToon NovelToon
EDITOR GANTENG DARI ALAM BAKA

EDITOR GANTENG DARI ALAM BAKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Enemy to Lovers / Cinta Beda Dunia
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.

Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.

Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.

Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror di Tengah Malam

"Sudah jam dua pagi! Kenapa kau belum tidur, atau lebih tepatnya ... kenapa kau belum menulis?!"

Suara berat itu menggema tiba-tiba, memecah keheningan malam yang mencekam. Dori yang sedang memijat pelipis lelah, langsung melonjak kaget. Jantungnya hampir copot.

"Ya ampun! Bisa nggak sih munculnya jangan ngagetin gitu?! Aku hampir kena serangan jantung!" bentaknya sambil memegang dada.

Matcha melayang tepat di samping kepalanya, wajahnya datar tanpa dosa. Matanya yang berwarna hijau itu menatap tajam ke arah layar monitor yang masih kosong melompong.

"Aku cuma bertanya karena kemalasanmu sudah melewati batas wajar."

Dori mendengus kasar, lalu menjatuhkan pantatnya kembali ke kursi. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 02.15 pagi.

Matanya sudah perih, otaknya sudah macet, perut juga sudah keroncongan. Tapi hantu satu ini sepertinya tidak mengenal kata istirahat.

"Pak Editor yang terhormat," Dori bicara dengan nada sarkas setinggi langit. "Manusia butuh tidur. Manusia butuh makan. Aku bukan mesin kayak kamu!"

"Penulis hebat tidak pernah punya alasan untuk berhenti," potong Matcha dingin. Ia mengibaskan lengan jubahnya, dan tiba-tiba ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

"Dulu, aku bisa menulis selama tiga hari tiga malam tanpa henti demi menyelesaikan satu naskah penting. Dan kau ... hanya diminta menulis beberapa ribu kata saja sudah mengeluh?"

"Itu dulu! Zaman sekarang beda! Otakku butuh charging!" Dori membalas tak kalah keras.

Ia merasa tidak adil. Matcha bicara seolah dunia ini berjalan sesuai aturan di abad pertengahan. Tidak ada pengertian, tidak ada belas kasihan.

Matcha mendekatkan wajahnya. Hawa dingin itu semakin terasa menusuk tulang. "Kalau begitu, biarkan aku yang membantumu 'berkonsentrasi'."

Belum sempat Dori bertanya maksudnya apa, tiba-tiba lampu kamar berkedip-kedip cepat. Nyala, mati, nyala, mati.

Suara angin berdesir aneh terdengar dari sudut ruangan, padahal jendela tertutup rapat.

"Hey! Apa yang kamu lakuin? Hidupin lampunya!" Dori mulai panik.

"Siapa yang tidak bekerja, dia tidak pantas menikmati kenyamanan," ucap Matcha dengan nada yang terdengar sangat menyeramkan, tapi entah kenapa suaranya tetap terdengar indah.

Tiba-tiba, bayangan hitam mulai bergerak-gerak di dinding. Bentuknya seperti tangan-tangan raksasa yang siap meraih. Dori menelan ludah. Rasa kesalnya perlahan berganti dengan rasa takut yang luar biasa.

"Kamu ... kamu mau ngapain? Jangan macam-macam ya! Aku tahu ilmu silat lho!" teriaknya sok berani, padahal kakinya sudah gemetar.

Matcha tersenyum miring. Senyuman yang sangat tampan tapi sangat jahat.

"Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan membuatmu ... tidak bisa tidur. Tidak bisa makan. Dan tidak bisa tenang sampai kau menyelesaikan target hari ini."

"Dasar hantu psikopat!"

"Terima kasih atas pujiannya. Sekarang, tulis. Atau malam ini kau akan mendengar nyanyian kuno dari duniaku sepanjang malam."

Dori menatap layar laptop. Lalu menatap Matcha. Lalu menatap bayangan aneh di dinding.

Otaknya bekerja cepat.

Melawan?

Tidak mungkin.

Mengeluh?

Percuma, telinga itu sepertinya terbuat dari batu.

Akhirnya, dengan napas memburu dan hati yang dongkol setengah mati, Dori kembali meletakkan jari-jarinya di atas keyboard.

Tek... tek... tek...

Suara ketikan terdengar pelan di tengah keheningan.

Matcha mengangguk puas, lalu lampu kembali menyala normal. Bayangan itu pun menghilang. Namun, dia tidak pergi. Dia tetap melayang di sana, berdiri tepat di belakang Dori seperti pengawas yang paling ketat.

"Bagus. Lanjutkan. Dan ingat ... aku melihat setiap huruf yang kau ketik."

Dori menggertakkan gigi. Ia merasa seperti budak belian yang disiksa oleh tuan tanah yang gila kerja. Tapi di tengah rasa kesal itu, ada satu hal aneh yang ia sadari.

Ternyata ... kalau dilihat dari belakang, siluet hantu sombong ini terlihat sangat gagah dan ... wangi?

Wait, wangi?

Hantu kan nggak punya badan?

Dori menggeleng cepat, menepis pikiran aneh itu. "Fokus Dori! Kamu lagi disiksa! Jangan malah baper!" batinnya.

"Kenapa berhenti?! Huruf 'a'-nya salah bentuk!" teriak Matcha lagi.

"Aduh iya iya! Mulutnya bisa nggak sih diem sebentar aja?!"

"Kata ini salah! Ganti segera! Tidak ada istilah 'baper' dalam kamus keindahan bahasa!"

Matcha menggebrak udara dengan kuasnya, membuat layar monitor bergetar hebat.

Dori yang sedang asyik mengetik, langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia memijat pelipis dengan kuat, berusaha menahan ledakan amarah yang sudah di ujung tanduk.

"Ya Tuhan, kenapa kau ciptakan makhluk sekeras kepala ini?" batinnya menjerit putus asa.

"Pak Matcha yang terhormat," Dori berbicara pelan tapi penuh tekanan. "Ini novel web, bukan naskah pidato kenegaraan. Pembaca suka bahasa santai, ngerti nggak?"

"Tidak ada yang namanya bahasa santai jika hasilnya buruk!" potong Matcha tanpa ragu. Ia menunjuk satu baris kalimat dengan ujung kuasnya yang bercahaya.

"Lihat ini! 'Dia senyum manis banget'. Itu kalimat level taman kanak-kanak! Kenapa tidak kau tulis 'Senyumnya memancarkan cahaya yang mampu menghangatkan jiwa yang beku'?!"

"Terlalu berlebihan! Pembaca zaman sekarang malah baca itu langsung skip!" Dori membantah habis-habisan.

Ia berdiri dari kursi, menatap mata hijau tajam milik hantu di depannya. Perdebatan ini sudah berlangsung berjam-jam, dan rasanya seperti berbicara dengan tembok besar.

Matcha adalah representasi dari kesempurnaan kuno, sedangkan Dori adalah simbol kepraktisan modern. Mereka adalah dua kutub yang tidak mungkin bertemu.

"Kau tidak mengerti seni!" serang Matcha.

"Kamu yang tidak mengerti pasar!" balas Dori tak kalah cepat.

Suasana kamar yang tadinya tenang, kini berubah menjadi medan pertempuran udara. Suara mereka saling timpa, argumen demi argumen pun dilontarkan tanpa ampun.

Dori merasa lelah. Ia menulis untuk mencari uang, untuk bertahan hidup. Tapi Matcha seolah ingin menjadikan tulisannya sebagai monumen sejarah abadi.

"Lihat ini," Matcha tiba-tiba memunculkan sebuah naskah kuno yang melayang di udara. Tulisan di atasnya indah, rapi, dan sangat formal.

"Ini standarnya. Setiap kata harus punya bobot. Setiap kalimat harus punya makna mendalam. Kau menulis bukan hanya untuk diisi halaman, tapi untuk menyentuh hati!"

"Terus kalau nggak ada yang baca gimana? Aku mau mati kelaparan, kamu yang tanggung jawab beliin makan?!" tanya Dori sinis.

Matcha terdiam sejenak. Matanya berkedip, pertanyaan itu adalah hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

Di zaman dia hidup, penulis hebat adalah orang terpandang, kaya raya, dan dihormati raja. Konsep 'penulis gagal' atau 'kelaparan' sepertinya asing baginya.

"Kau ... akan kelaparan?" tanyanya pelan, nada suaranya sedikit turun.

"Ya! Tahu nggak sih! Uang hasil nulis aku kemarin cuma cukup beli mi instan satu bungkus!" Dori meluapkan kekesalannya.

Ia tidak sadar kalau ia baru saja menunjukkan sisi lemahnya di depan musuh bebuyutannya.

Matcha menatap wajah Dori lekat-lekat. Tatapan tajamnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain ... mungkin bingung?

Atau mungkin... iba?

Tapi itu hanya berlangsung sedetik. Wajahnya kembali masam dan dingin.

"Hmph. Itu karena kau menulis dengan cara yang salah. Jika kau ikuti arahanku, kualitas akan naik, dan otomatis orang akan menghargaimu."

"Teori kamu indah, tapi realitanya pahit!"

"Kurangi bicara, tambah kerja! Ubah diksi itu sekarang juga!" Matcha kembali bersikap galak, menyorotkan cahaya hijau ke layar komputer.

Dori mendengus kasar, tapi akhirnya ia menuruti. Jari-jarinya kembali menari di atas keyboard, meski dengan hati yang dongkol.

"Ganti 'senyum manis' jadi 'senggaman matahari pagi'... apa sih maksudnya?!" gerutunya dalam hati.

Namun, anehnya. Saat Dori mulai mengikuti saran Matcha, ada perubahan kecil yang terjadi.

Kalimat-kalimat itu terasa lebih mengalir, lebih kuat, dan entah kenapa ... terasa lebih menyentuh. Bahkan Dori sendiri saat membacanya kembali, merasa tulisannya jadi jauh lebih keren.

Matcha benar soal kualitas. Tapi Dori tetap kesal karena harus mengakui kehebatan hantu ini.

"Nah, begitu kan jadinya? Lebih enak dilihat mata," kata Matcha dengan nada sombong yang sangat kental.

"Iya iya, tahu ah! Paling hebat sedunia!" jawab Dori ketus, tapi pipinya sedikit merona.

Tiba-tiba, Matcha melayang mendekat sangat dekat. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Dori. Hawa dingin itu menyapu kulit, membuat bulu kuduk Dori meremang.

"Jangan pernah meremehkan kata-kata, Dori. Kata bisa membunuh, tapi kata juga bisa ... mencuri hati."

Matanya menatap dalam, ingin menembus sampai ke jiwa gadis itu.

Dori terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan.

Wait ... apa barusan hantu ini ... lagi ngegombal?!

Atau ini cuma cara aneh dia buat mengajar diksi?!

"Sudah! Lanjutkan! Jangan melamun seperti orang bodoh!" Matcha tiba-tiba berbalik badan cepat, menyembunyikan sesuatu ... apakah itu semburat merah tipis di pipi pucatnya?!

Dori mengucek matanya tak percaya.

Dunia memang sudah gila.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!