NovelToon NovelToon
Abang Guru, I Kehed You!

Abang Guru, I Kehed You!

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bulan Separuh

⚠️Jangan boom like⚠️
follow author dulu sebelum baca yok

~

Gue menikah dengan musuh bebuyutan gue yang datang dari masa lalu. Bisa-bisanya sekarang doi malah mengajar di kelas gue. Hey, Abang Guru, I kehed you! Sumpah, gue kehed banget, anjoy! Aaaaaaaaargh…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guru Baru

Gue dan Bagas kembali ke depan ruangan kakek gue. Sewaktu gue dan Bagas baru tiba di sana, kebetulan dokter membuka pintu.

"Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?" Bokap gue langsung menyambar dokter dengan pertanyaan-pertanyaan. Orang-orang pun sama penasarannya dengan bokap gue dan ikut-ikutan menanyai dokter.

"Sebentar ya, Bapak Ibu. Di sini ada yang bernama Celine dan Bagas?" ucap dokter tersebut.

"Saya Celine!"

"Dan saya Bagas!"

sahut kami berdua.

"Silakan kalian masuk," ucap dokter itu.

Gue dan Bagas pun masuk. Saat gue dan bagas melewati dokter itu di depan pintu, dia berbisik kepada kami, "Lakukan kemampuan terbaik kalian. Beri kakek kalian pujian atau hal-hal yang disukainya agar semangat hidupnya meningkat. Sepertinya hanya kalian yang bisa melakukannya." Gue pun mengacungkan jempol dan Bagas mengangguk mantap.

"Cucu-cucuku…" kata kakek gue. Suaranya pelan dan gemetar. Gue ga tega melihatnya kaya gini. Mata gue berkaca-kaca.

"Kakek jangan sakit," rengek gue sambil meneteskan air mata.

Bagas langsung menoleh. Dia ngelihatin gue menangis. Dari mukanya terlihat kaya Bagas terkejut gitu. Mungkin karena ini pertama kalinya doi meliihat gue menangis di depan dia secara terang-terangan setelah sekian lama.

Setiap gue sedih gue ga pernah memperlihatkan tangisan gue ke Bagas. Malu, anjir, mata gue jadi kelihatan seperti habis ditonjokin orang.

Sementara sekarang, gue bodo amat mau gue terlihat sejelek apapun. Yang gue pedulikan cuma kesehatan kakek.

Gue pun memeluk kakek gue yang lagi terbaring itu. Lalu kakek memanggil Bagas dengan isyarat lambaian tangan dan Bagas pun mendekat dan gue melepaskan pelukan gue. Gue berdiri di samping kanan ranjang kakek sementara Bagas di samping kirinya.

Kakek pun mengambil tangan gue dan tangan Bagas lalu menumpuknya jadi satu.

"Menikahlah," kata kakek gue sambil menengok gue dan Bagas secara bergantian.

Sebuah permintaan ditambah sorotan mata itu membuat gue ga berdaya. Gue akan melakukan apapun demi kesembuhan kakek.

Gue lihat Bagas menyeka matanya. Ternyata ni cowok bisa nangis juga. Ternyata doi punya hati juga. Atau jangan-jangan doi menangis gara-gara berat menerima kenyataan bahwa doi akan menikah sama gue? Anjir! Kalau gur ada di posisi lu, Bang, gue akan gantung diri!

Kakek masih menunggu jawaban gue dan Bagas. Gue pun mengangguk diikuti dengan Bagas juga karena kakek gue ga cuma menyorot mata gue, tapi juga menyorot mata Bagas dengan tatapan sayunya.

Waktu berlalu dan hari pun berganti. Tiba saatnya hari pernikahan gue dan Bagas. Kami mengadakan pernikahan yang tamunya tertutup. Gue lihat di sini ada bokap nyokap gue tentunya, juga bokap nyokap Bagas, ada sepupu-sepupu bokap-nyokap gue, ada keluarga bokap nyokap Bagas juga

dan…

"ITU KENAPA ADA KEPALA SEKOLAH NYEMPIL DI MEJA ITU, ANJIR!" kata gue mambatin.

Mana berani gue teriak-teriak sekarang. Kan lagi mode anggun. Tapi, sumpah, ni make up membuat muka gue serasa lagi memakai topeng besi zaman Hitler, anjir. Muka gue jadi berat dan kaku banget. Lipstik ini juga membuat gue ga bisa mangap. Ini kenapa gue paling ga suka make up. Gue jadi tersiksa kaya gini.

Gue pun mencolek lengan pendamping pengantin gue, yaitu bokap gue sendiri. "Pa, kenapa Pak Sugeng diundang?" kata gue yang menanyakan soal kepala sekolah itu.

"Tidak apa-apa. Celine tenang saja. Pak Sugeng yang akan mem-back up Celine agar rahasia ini aman sampai Celine lulus nanti," jelas bokap gue. Gue pun tersenyum dan mengangguk. Senyum ala-ala Pahlawan Bertopeng, ya. Tahu sendiri kondisi muka gue.

Lalu pandangan gue beralih ke kakek gue. Ih, doi lagi petakilan di arah yang lain. Doi lagi ngobrol sama keluarga lainnya dengan sangat ekspresif. Tangannya diangkatnya tinggi-tinggi, kakinya simulasi lari di tempat, ketawanya ngakak. Gue jadi curiga, jangan-jangan kondisi beliau beberapa hari yang lalu itu cuma acting! Kalau bener beliau cuma acting, gue kesel banget.

Prosesi pernikahan yang sakral itu pun tiba. Bagas terlihat gugup. Gue pun melihatnya sambil nahan ngakak. Biasa aja kali, kan lu nikahnya sama gue. Kecuali lu nikah sama Cindy baru wajar lu gugup. Eh, Cindy cewek lu itu rupanya ga diundang ya? Padahal gue pengen banget melihat muka kesalnya karena pangerannya gue ambil.

Setelah acara pernikahan selesai, gue dan Bagas pun langsung pindah ke rumah baru kami. Rumah yang dibelikan oleh kakek untuk kami berdua.

Begitu kami berdua sampai di dalam rumah, Bagas pun langsung memblokade jalan gue.

"Ini kamar gue! Kamar lu di sana! Jangan harap kita bakal sekamar bareng," kata Bagas.

"Yeee… Ge er lu! Siapa juga yang mau sekamar sama lu? Najis tralala!" balas gue.

"OH IYA, BANG!"

Setelah gue ada di pintu kamar gue, gue pun meneriaki Bagas. Bagas pun menoleh dari balik pintu kamarnya.

"JANGAN BERANI-BERANINYA LU MASUK KE KAMAR GUE! HARAM!" kata gue.

Perkataan gue dibalas dengan muka jeleknya, bibir monyong dan mata melotot. Doi meledek gue.

"LU KAN MESUM! TAPI GUE PERINGATIN JANGAN MACAM-MACAM SAMA GUE! HARAM!" lanjut gue.

Doi membalas teriakan gue dengan raut muka ganjennya, kelopak mata diberat-beratin, tangan menjuntai ke atas pintu, bokong disandarkan di rangka pintu, senyumnya freak dan bibirnya berpose mengecup manja. Merinding gue melihatnya. Kaya lekong lampu merah, sat!

Setelah gue menempati kamar gue, gue pun mager banget.

Setelah seharian gue ngereog di kamar gue, gue pun kelaparan. Gue pesan aja makanan pakai layanan pesan antar. Eh, si Abang-abang Mesum itu udah makan belum ya? Ah bodo amat gue. Mending pesan buat gue sendiri, daripada kelamaan, bisa nyeri lambung gue.

TING TUUNG…

Kok cepat banget kurir makanannya sampai? Gue pun dengan langkah gontai menghampiri pintu lalu membukanya.

"Selamat malam. Seporsi Mie Aceh dan segelas es jeruk," kata kurir itu ramah. Senyumannya begitu aduhai, tapi tunggu…

"Mas, gue kan pesan Nasi Padang dan Capuccino Cincau. Tapi kok yang datang…"

"Enak aja! Ini pesanan gue!" Tiba-tiba Bagas datang dari dalam dan langsung mengambil pesanan itu. "Makasih ya Mas."

Gue pun langsung kospley jadi tembok. Bagas masuk ke dalam terus gue retak-retak, pecah lalu runtuh.

Keesokan harinya gue pun berangkat ke sekolah. Bagas juga berangkat ke tempat magangnya. Gue ga tahu di mana doi magang di mana, gue ga pernah nanya. Doi juga ga cerita sama gue. Pokoknya kehidupan gue dan Bagas di rumah itu cuma sebatas tinggal satu atap doang. Urusan tetap masing-masing. Kami itu kaya teman kosan kira-kira gitu. Tapi kalau teman kos masih mending, masih suka sharing cerita, kalau kami enggak sama sekali.

Gue pun udah di kelas. Bel masuk udah bunyi tadi, tinggal nunggu guru masuk aja.

"Gue perhatiin muka lu dari tadi bete mulut gitu, Cel?" teman sebangku gue, Helen perhatian sama gue. "Ga apa-apa. Kayanya gue mau mens," jawab gue. Seandainya gue bisa cerita sama Helen, ya Tuhan. Berat banget masalah hidup gue, Len.

Ga lama guru pun masuk diikuti oleh Bagas di belakangnya. Mata gue melotot kaya mau copot terus menggelinding di lantai. Gue harap gue bisa menginjaknya, CLETUS… CLETUS…

Sangkin gue syoknya dengan apa yang gue lihat.

"Selamat pagi anak-anak."

"PAGI PAAAK…"

"Pagi hari ini Bapak akan memperkenalkan guru baru di kelas kita ini yang akan mengajar pelajaran Bahasa Inggris."

"Aaaaa…" Murid-murid cewek berseru gemas.

"Anjir, kita dapat guru baru, Cel! Ganteng banget! Rambutnya ala-ala harajuku, hidungnya mancung, kulitnya bening…" bisik Helen.

"Casper kali, kulitnya bening!" protes gue sambil cemberut.

"Lu kenapa sih? Lu kok ga excited gitu?" kata Helen heran.

"Excited kenapa? Biasa aja gitu kok," jawab gue.

"Biasa? Ini ganteng banget Celine! Lu ga mau?" protes Helen.

"Enggak. Buat lu aja," kata gue.

"Ih, nyesel lu ntar," balas Helen.

Iya, gue nyesel. Nyesel karena udah ditakdirin ketemu sama makhluk ini. Bisa-bisanya gue nikah sama ni cowok.

Huuuft… Mampus gue. Ga kebayang hari-hari gue di sekolah ini bakal ketemu doi terus. Haaa…

Gue pun menaruh kepala gue di atas meja dan ngeberdiriin buku buat nutupin muka gue. Gue pengen nangis, sumpah.

1
audi
ceritanya baguss😊
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ: ternyata masih ada yg baca 😭. makasih kak. klo ga dinotis aku ga semangat nulisnyam ternyata ada 🌷
total 1 replies
audi
ngakak dehh😂
audi
suka banget ama ceritanya 😊
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
nah lupa kan sampai keceplosan...
ᴍ֟፝ᴀʜ ᴇ •
duh lah kek mana ya kayaknya brian sayang tapi kalau gn trs kasian celine
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
persaingan 2 cwo ganteng 🤭👏👏
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
🤣🤣🤣 mereka lup dsna kn ada Brian.
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
tuu Bru fans Lo yg dh buat cell bgtu.
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
wahhh pasti dapat buliyng lgi..
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
brlersaung dh tuu
Author DELILAH
bunga bermekaran hanya untukmu 😍🥰😇
Aszenapena
wkwkwk.. ngaaakkkkaaakk
dearifa✅
seneng amat tereak2🤐
dearifa✅
dilihatin orang malu dong🙂
Erarefo Alfin Artharizki
jalan jalan ke kalsel
jangan lupa membeli kawah
inget ya cel
kamu udah menikah
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
tulingn lh tu celin lgi di keroyok.
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
wehhh gas kan
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
sengg 🤗
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
laki orangg tuu 🤣
ᥫᩣ 🕳️ Chusna
wahh gas. GG tau aja pesona celin gmnaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!