Jodoh itu misteri, siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak, tak seorang pun mengetahuinya.
Sejak masih belia, Rian dan Dina dijodohkan oleh kedua orang tua mereka yang berkawan baik.
Mereka tidak kuasa menolak perjodohan, hingga pernikahan pun terjadi dan membuat orang yang mereka cintai patah hati.
Maretha, mantan pacar Ryan, yang terpaksa harus menikah dengan calon suami kakaknya.
Serta Fardhan, yang setengah hati menerima pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya, berharap bisa segera move-on dari Dina.
Apakah Ryan jodoh sejati untuk Dina? Bagaimana dengan para mantan, Maretha dan Fardhan?
Akankah rumah tangga mereka bertahan atau berpisah menjadi keputusan akhir mereka?
Bagaimana dengan para mantan yang patah hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Cinta yang Egois
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Ryan dan Dina sampai di rumah saat waktu menunjukan hampir sepuluh malam. Meski lelah, Dina memasak air untuk mereka berdua mandi, tidak mungkin mereka bisa istirahat tanpa membersihkan badan yang terasa sangat lengket. Langsung mandi menggunakan air dingin juga bukan pilihan yang baik, udara malam sangat dingin terasa.
"Kalau ada rizki lebih, nanti kita beli water heater, biar kamu nggak perlu masak air panas buat mandi," kata Ryan saat Dina kembali dari dapur dengan membawa segelas air putih untuk suaminya.
"Aku nggak apa-apa ko ka, jangan merasa terbebani harus beli ini itu," ucap Dina lembut menenangkan hati Ryan.
"Kamu memang istri yang baik dan pengertian, terima kasih.." Ryan berkata sambil mengelus kepala Dina yang masih tertutup kerudung.
Perlakuan Ryan yang demikian tentu saja membuat jantung Dina berdegup kencang.
"Aku hanya nggak mau kamu kecapean, jika mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Belum lagi harus ke toko juga. Aku jarang banget bisa bantuin kamu."
Ryan menggenggam tangan Dina.
"Nggak apa-apa, ka. Kalau aku ikhlas mengerjakannya, semua terasa ringan dan pahala yang di dapat juga besar, ka."
"Aamiin, aku berharap kamu juga bisa secepatnya mengerjakan kewajiban lainnya," ucap Ryan dengan senyum menggoda ke arah Dina.
Dina yang mengerti maksud Ryan langsung melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.
"Canda, Din. Aku ngerti, aku kan udah janji akan menunggu sampai kamu siap, kapan pun itu.." Ryan meralat ucapan sebelumnya, dan kembali menggenggam tangan istrinya.
"Kayaknya air udah mendidih, ka." Dina mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik yang ingin dia hindari.
"Kamu tunggu aja di sini, biar aku yang angkatin air panasnya ke kamar mandi."
"Air panasnya jangan semuanya, ka, setengahnya aja."
"Okey..."
Saat Ryan ke dapur, Dina masuk ke kamarnya.
"Aku mandi di kamar mandi luar aja, tolong siapin baju ganti ya!"
Dina mengangguk dan menyiapkan permintaan suaminya. Ryan keluar dari kamar mandi dengan menenteng handuk lalu mengambil baju yang disiapkan Dina.
Sepeninggal Ryan, Dina segera mengambil baju tidurnya lalu segera masuk ke kamar mandi.
Dina menghabiskan waktu lebih lama dari Ryan untuk membersihkan diri, saat Ryan masuk, Dina belum keluar dari dalam kamar mandi. Melihat itu, Ryan kembali keluar dari kamar.
Dina sudah selesai beberapa saat yang lalu, setelah menguatkan hati, Dina keluar perlahan, dia menghela nafas lega saat tak mendapati Ryan di dalam kamar. Dina berjalan ke arah meja rias untuk menyisir rambut panjangnya.
Ryan membuka pintu kamar perlahan, di tangannya dia membawa segelas coklat hangat untuk Dina. Saat hendak menutup pintu, Ryan terpaku ditempatnya melihat penampilan Dina yang berbeda.
Jika biasanya, Dina selalu memakai baju tidur serba panjang, tangan panjang dan celana panjang, kali ini Dina memakai baju tidur berbahan satin yang mencetak tubuhnya, lengan pendek dan celana yang panjangnya selutut, memperlihatkan lengan dan kaki putih Dina yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Tenggorokan Ryan terasa kering, dia sampai meneguk salivanya sendiri melihat penampilan berbeda Dina dari biasanya.
Dina menghentikan tangan yang sedang menyisir rambutnya saat melihat Ryan masuk. Melalui cermin, dapat dia lihat wajah kaget Ryan, yang membuat Dina menjadi salah tingkah.
Hati Dina semakin bertalu-talu saat Ryan mendekat ke arahnya.
"Aku buatin coklat hangat buat kamu."
Ryan menyodorkan gelas kepada Dina. Pandangan mereka bertemu di dalam cermin.
"Terima kasih, ka." Dina meletakan sisir, dan mengambil gelas dari tangan Ryan.
"Untuk kakak?"
"Udah diminum tadi di dapur."
Dina duduk di pinggir tempat tidur, kemudian meminumnya beberapa tegukan.
"Aku jelek ya pakai baju begini, aku ganti aja ya." Dina tak tahan, karena sejak tadi, Ryan terus melihatnya.
"Kamu cantik, sangat cantik... Kamu punya baju tidur seperti itu?"
"Ini kado dari teman aku."
"Oh..."
Ryan memutari tempat tidur, lalu berbaring di tempatnya biasa tidur. Dina heran melihatnya. "Tadi nyindir-nyindir meminta haknya, sekarang udah pake baju kayak gini, masa dia nggak ngerti. Apa harus pakai baju yang bahannya kayak saringan tahu itu?" Dina bertanya dalam hatinya.
"Kalau nggak habis, simpen aja di meja, tutup lagi." Ryan berkata karena melihat Dina diam saja, tidak meminum kembali coklatnya ataupun menyimpannya.
"Aku habisin aja, tinggal sedikit lagi." Dina segera meneguk kembali isinya hingga tandas, keluar kamar untuk menyimpan gelas dan berkumur-kumur dengan air putih.
Setelah itu dia kembali ke kamarnya, karena teringat pesan Ryan sebelum dia membuka pintu untuk langsung tidur dan jangan menonton televisi dahulu.
Saat Dina masuk ke kamarnya, Ryan sudah memejamkan mata dengan posisi tidur terlentang. Sebelum berbaring, Dina melihat ke arah Ryan yang tetap tenang. Melihat Ryan yang sepertinya sudah tidur, Dina membaringkan tubuhnya, tidur membelakangi Ryan.
Dina baru menaikan selimut ketika sebuah tangan menyusup ke pinggangnya.
"Terima kasih untuk penampilan yang berbeda malam ini, apa itu artinya kamu sudah siap menerima dan memberikan dirimu seutuhnya?" bisik Ryan lembut di telinga Dina.
Dina yang kaget tak mampu bersuara, dia hanya menjawab dengan anggukan kepala, tapi bisa Ryan rasakan pergerakan kepala Dina.
"Terima kasih, sayang..." Ryan mengecup kepala belakang Dina.
"Tapi aku tahu kamu sangat lelah, malam ini biarlah kita tidur seperti ini, hingga nanti kita terbangun, sudah hampir tengah malam, tidurlah!" Ryan semakin mengeratkan pelukannya.
Ryan tahu maksud Dina berpakaian seperti itu, tapi dia tidak boleh egois, istrinya pasti sangat lelah setelah seharian bepergian. Dia tidak ingin memaksa yang akan membuat Dina tidak menikmati penyatuan mereka. Sekuat tenaga Ryan menahan diri, karena dia menyayangi Dina, dan cintanya tulus dari hati, bukan karena nafsu semata.
Dina terharu, ternyata Ryan suami yang sangat baik dan pengertian. Cinta Ryan bukan cinta yang egois. Dina berjanji detik itu, akan mencintai Ryan dengan sepenuh hatinya.
BERSAMBUNG
dan adzan maupun iqomah hanya dilakukan laki2