Sebuah kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Melibatkan dunia mistis dan sebuah mesteri yang belum terpecahkan.
Kakek
Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat.
Aldo
Aku ingin melepasmu, tapi aku mencintaimu.
Pria
Dirimu adalah magnet bagiku, magnet yang menarikku mendekat setiap kali kita bertemu, karena aku tak memiliki kuasa atas diriku ketika itu berhubungan dengan pesonamu.
Gadhis
Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan.
Bagaimana kisah Gadhis dan Pria selanjutnya ketika ada lelaki lain yang juga mencintainya…
Jadilah saksi dari perjalanan kisah Gadhis dan Pria dalam “Ketika Kisah Kita ternyata Abadi”. Dibumbui dengan kisah cinta segi tiga, penghianatan, pengorbanan. tangis, dan tawa. Buktikan bahwa setiap kisah akan indah pada waktunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isnasari Sulfia Handriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Man's Most Wanted
Rumah Kakek
Seperti biasa kakek duduk di tempat favoritnya, di kebun belakang di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Di bagian punggung ada sebuah bantal kecil yang bisa dipindah tempatnya agar kakek merasa nyaman ketika posisi duduk ataupun tiduran. Pak Bandi duduk di sisi bawah tepat di sebelah kaki kakek.
“Aku kangen cucuku Ndi, sudah sepuluh tahun lebih aku tak berjumpa dengannya.”
“Apa ndoro kakung ingin meminta saya mendatangi keluarga Tuan Muda Sasmito?”
Kakek tidak menjawab pertanyaan Pak Bandi. Rindu yang tertangguhkan untuk cucunya sudah hampir meledak. Tetapi memintanya untuk datang menyimpan kekhawatiran tersendiri bagi Supomo – kakek Gadhis. Selama ini Sasmito hanya datang sendiri atau berdua dengan Marta. Supomo selalu melarang anak menantunya membawa cucunya untuk pulang ke desa.
“Aku belum bisa memintanya untuk datang Ndi, terlalu banyak keresahan dan kekhawatiran dalam hatiku, aku takut dendam itu masih ada.”
“Sejak ndoro Ramdan berpulang ke rahmatullah, saya rasa dendam itu sudah hilang ndoro, siapa yang akan menyimpan dendam begitu lama.”
“Tapi anak perempuan Ramdan masih hidup Ndi, kamu tahu sendiri bagaimana keadaannya, dibilang hidup tak ada cahaya kehidupan memancar dari tubuhnya, tapi kalau di katakan mati perempuan itu masih hidup Ndi. Aku tak kuasa melihatnya.”
Kakek menggerakkan kipas bambu menggunakan tangannya tanpa henti. Udara sejuk di area kebun tidak mengurangi hawa panas yang masih saja merajai hati kakek. Rasa rindu pun tertepiskan karena kekhawatiran akan dendam masa lalu yang membelenggu sejarah dua keluarga itu.
“Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat Ndi.”
Pak Bandi mendengarkan kalimat kakek dengan sabar. Hanya Pak Bandi orang yang dipercaya kakek sebagai tempat mencurahkan isi hatinya.
“Bukan ndoro kakung yang salah, ndoro tahu itu.”
“Aku khawatir takdir cucuku akan bertemu lagi dengan cucunya Ramdan ndi, aku harus bagaimana kalau hal itu terjadi Ndi.”
Terkadang sebuah firasat lebih kuat dari realita yang tampak nyata. Apa yang akan terjadi esok hari sudah bisa kita kenali tanda-tandanya hari ini. Bahkan sesuatu yang begitu ingin dihindari malah akan menjadi takdir yang harus dilalui. Seperti itulah kehidupan. Tanpa Supomo ketahui dua anak manusia yang berusaha dia jauhkan, sekarang malah akan menjalani takdirnya besama. Siapa yang tahu…
“Mas harus pulang, aku sudah sehat, mas nggak perlu lagi khawatir.”
“Bukan sakitmu yang aku khawatirkan. Aku lebih khawatir laki-laki itu akan berusaha mendekatimu.”
Gadhis tertawa mendengar kalimat Aldo, “kenapa…takut aku selingkuh, mas aneh ah, selama belum ada ikatan pernikahan diantara kita, aku rasa aku bebas mengenal lelaki manapun.”
Aldo membanting pisang goreng yang belum sempat dia makan keatas piring. Tatapan matanya tajam menusuk Gadhis.
“Kamu milikku, tak ada lelaki lain yang boleh memilikimu, hanya aku Dhis…hanya aku.”
“Makin kesini sikapmu makin aneh dan menakutkan mas. Akhir-akhir ini kamu seperti tidak merasa aman dengan hubungan kita, apa yang kamu takutkan mas, aku ada disini untukmu, dan akan selalu ada buat kamu.”
Aldo menarik nafasnya dalam. *Kamu tidak tahu betapa aku takut kehilangan kamu Dhis, aku sudah bermain dengan api dan aku takut aku akan menarikmu masuk dan terbakar bersamaku*.
“Aku hanya merasa kalau laki-laki itu akan membuatku kehilanganmu Dhis. Aku takut dia mengambilmu dariku.”
“Percaya padaku mas, aku akan menempel padamu seperti permen karet, kecuali kau yang menginginkan untuk aku pergi, aku tak akan pergi.”
Senyummu begitu menenangkan, *Tuhan…apa yang sudah aku lakukan. Bagaimana bisa aku terjerumus masuk ke dalam pasir hisap yang membuatku sulit bernafas. Padahal di depanku ada oase yang akan selalu mampu melepaskan dahagaku*.
Aldo memegang tangan Gadhis dan menciumnya lama. Sejak awal dia memang memutuskan tak akan pernah melepaskan tangan ini, tapi bagaimana jika pemiliknya ingin dia melepaskan genggamannya.
“ehemm…geser gih, aku mau duduk,” entah dari mana makhluk yang satu ini muncul. Tiba-tiba saja dia sudah ada diantara Gadhis dan Aldo.
“Santet ihhh….”
“Maaf ya neng, mas nya aku pinjam dulu,” Santi menempatkan tubuhnya diantara Aldo dan Gadhis, “Mas Aldo nggak ada rencana buat makan gitu, sore begini selepas isya ada warung nasi goreng yang enak mmm…luar biasa.”
“Kenapa…Kamu lapar?”
“Widih…kaya dukun lo Dhis calon suami kamu, tahu aja kalau aku lagi lapar,” kelakar Santi sambil menggerakkan pundaknya menyenggol Gadhis.
“Calon suamiku sih hafal saja sama kebiasaanmu. Kalau ngomong masalah perdukunan, kamu yang lebih pantas jadi dukun, tahu bener soalnya cara ngerusak suasana,” Gadhis mengucapkan kalimatnya sambil memutar kepala ke arah lain.
“Baiklah mari kita berangkat menuju warung nasi goreng, yang katamu enak.”
“Ayo…” teriak Santi sambil menggandeng tangan Gadhis dan menariknya menuju mobil milik Aldo.
Sementara itu di tempat penginapan mahasiswa laki-laki, Sandy berusaha memuaskan rasa keingintahuannya karena peristiwa siang tadi.
“Aku tahu selama ini kita bukan teman akrab, dan bukan maksudku untuk mencampuri urusanmu, sama sekali bukan. Tapi aku rasa aku berhak tahu, paling tidak apa alasan dibalik permintaanmu untuk menyembunyikan identitas.”
Pria memandang Sandy sekilas kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke jalan didepan, saat itulah dia melihat mobil sedan abu metalik lewat, wajahnya tertunduk ketika dia memulai kalimat petamanya, “Gadhis adalah seseorang yang aku kenal di masa lalu, dan untuk sekarang aku tak ingin dia tahu identitasku. Apa alasannya, aku tak bisa mengatakannya kepadamu. Untuk alasan yang sama juga, aku memperkenalkan diriku sebagai Petir. Aku tak mungkin membohongimu karena kita teman satu jurusan.”
“Karena itu juga kamu meminta bapak Kepala Sekolah memanggilmu dengan petir dengan alasan panggilan sejak kecil.”
“Ya, semua untuk alasan yang sama. Apa kamu tahu, dia yang memberiku nama itu…’Petir’.”
“Hubungan kalian aneh, harusnya bilang saja kalian dulu pernah saling kenal.”
Pria tak memberikan respon atas kalimat yang baru saja diucapkan Sandy. Kamu tak tahu betapa rumitnya hubungan kami, ada sebuah lingkaran setan yang bisa saja menghancurkan semua jika aku tidak hati-hati.
“Aku lapar…sebaiknya kita cari makan, tidak enak kalau terus-terusan makan di rumah Pak Karun,” Pria berdiri dari duduknya sambil menepuk bahu Sandy, “bawa motormu, kita tidak perlu bawa motor masing-masing kan, toh tujuan kita sama.”
“Oke, kita bawa motorku, aneh juga kalau bonceng kamu, terus aku harus nempel ke punggungmu karena model jok yang seperti itu. Omong-omong bagaimana rasanya boncengin Gadhis, dadanya pasti nempel kan…”
“Punggungku seperti menerima beban berat. Bagaimana tidak, ada dua gunung bersandar disana, tapi aku jadi yakin kalau Gadhis punya anak, anaknya tak akan kekurangan asupan gizi,” Pria berbicara sambil menggerakkan tangan membentuk bulatan di depan dadanya dengan ukuran tertentu.
“Sialan kamu, kalau aku jangankan kerasa ada gunung di belakang, bukitpun jauh, ha…ha…ha.”
“Gadhis itu tipe tubuhnya man’s most wanted. Tapi bukan itu yang membuatku jatuh cinta. Karena aku mencintainya sejak kanak-kanak.”
“Hiss…jangan ngomong masalah cinta untuk wanita yang hampir jadi milik orang, bisa kualat.”
Keduanya tertawa keras, kalau dua perempuan itu mendengar mereka sedang membicarakannya, habislah tubuh kena cubit. Tahu kan senjata rahasia perempuan itu salah satunya adalah cubitan selain air mata tentunya.
semangat
lanjut
aku suka ceritanya