Deg.
Vina terhuyung ke belakang setelah mendengar perkataan Devan barusan.
Tadinya Vina datang berniat memberitahu Devan bahwa dirinya hamil, tapi siapa sangka Vina malah mendengar kabar menyakitkan tentang hubungan mereka.
Tanpa pikir panjang Vina langsung berlari keluar dari apartemen itu dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Vina pergi tanpa memberitahu Devan soal kehamilannya. Toh hubungan mereka tidak bisa lagi di perjuangkan, itu sebabnya Vina memutuskan untuk merawat sendiri bayi yang masih ada di dalam perutnya.
Vina memutuskan pulang ke kampung halamannya meninggalkan semua kenangan yang ada di kota itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delfi Sofya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Pagi-pagi sekali Devan sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi bersama rombongan yang akan ikut terlibat dalam proyek itu tersebut.
Semalam Devan juga sudah izin pada Bayu bahwa ia akan pergi beberapa hari untuk urusan pekerjaan.
Di luar Devan sudah di tunggu oleh supir yang akan bersamanya nanti selama perjalanan ke desa itu.
“Jalan pak.” Pintah Devan setelah masuk ke dalam mobil itu.
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman miliknya menuju tempat semua orang berkumpul sebelum nanti sama-sama menuju desa.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya rombongan itu sampai di tujuan.
Mereka berhenti di sebuah penginapan yang telah di sediakan di desa itu.
“Karna hari ini kita semua pasti capek jadi sebaiknya kita istirahat saja dulu. Besok pagi baru kita semua akan sama-sama ke pasar itu.” Info salah satu penanggung jawab proyek itu.
Devan pun beranjak pergi memasuki kamarnya, perjalanan yang pajang itu membuat tubuhnya lelah di tambah lagi Devan tidak bisa tidur dengan baik selama di perjalanan.
“Hhhh, badan ku sakit-sakit semua.” Keluh Devan sambil menghela napasnya.
Devan membaringkan tubuhnya langsung di atas kasur minimalis itu.
***
Sementara di desa yang sama tapi berbeda tempat.
Vina, Naya dan Adi sedang duduk bersama menikmati makan malam mereka.
Semua fokus pada makanan mereka, sesekali akan ada obrolan kecil di meja makan itu.
Setelah makan malam sederhana itu selesai, Vina pun bergerak cepat membereskan semua piring-piring kotor, sementara Naya dan Adi sudah lebih dulu ke depan.
Saat semua pekerjaannya selesai, Vina pun ikut menyusul mereka ke depan.
“Jadi besok warung tidak buka?” Tanya Adi pada Vina yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi kayu yang ada dalam ruangan itu.
“Iya ayah. Rencananya besok aku ingin menemani Naya seharian, kasihan juga mungkin aku terlalu sibuk dengan warung sampai tidak terlalu memperhatikan Naya.” Jawab Vina.
“Yeayy, akhirnya besok bunda bisa temani Naya di sekolah sampai selesai.” Sorak kegembiraan gadis kecil itu.
Rupanya Naya menyimak pembicaraan dua orang dewasa itu.
Vina geleng-geleng kepala melihat tingkah malaikat kecilnya itu, hal sederhana ini saja sudah bisa membuat Naya senang.
“Kamu senang?” Tanya Vina menggoda gadis kecil itu.
“Senang sekali bunda.” Seru Naya mantap.
Hal itu sontak membuat Vina serta Adi yang ada di ruangan itu tertawa.
Mereka terlihat sangat bahagia, kebahagiaan yang mereka dapatkan hanya dengan cara yang sederhana.
***
Keesokan paginya.
Devan dan rombongan tengah bersiap untuk meninjau lokasi.
Perjalanan ke lokasi hanya memerlukan waktu beberapa menit saja.
Di sana sudah ada yang menunggu mereka, para rombongan itu pun di tuntun menyusuri pasar itu untuk di lihat-lihat apa yang perlu di perbaiki.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 12 siang. Proses peninjauan telah selesai, mereka hanya perlu melakukan rapat lagi untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang harus di lakukan nanti.
“Dimana tempat makan yang enak? Ini sudah waktunya jam makan siang.” Ucap salah dari rombongan yang ada di situ.
“Sebenarnya tempat makan yang enak ada di depan, tapi sepertinya hari ini tidak buka.” Ucap orang yang tadi menjadi pemandu mereka, beliau juga salah satu warga desa setempat.
“Sayang sekali. Apa ada tempat lain?” Tanya orang itu lagi.
“Sepertinya kita harus kembali ke penginapan dan makan di tempat di sana saja.” Usul salah satu dari mereka.
Devan hanya diam, tubuhnya masih lelah apalagi di tambah cuaca yang begitu panas hari itu.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan pasar menuju penginapan mereka kembali.
Dalam perjalanan Devan hanya diam sambil melirik keluar jendela mobil.
Tanpa sengaja Devan melihat siluet seorang wanita yang sangat mirip dengan wanita yang selama ini ia cari.
Posisi wanita itu membelakangi jalan, wanita itu sedang menunduk ke bawah seperti sedang melakukan sesuatu pada anak kecil di depannya.
Mobil melewati wanita dan anak kecil itu. Mata Devan terus memperhatikan mereka, bahkan Devan sampai harus memutar kepalanya ke belakang hanya untuk melihat dua orang itu.
Entah kenapa Devan seperti tertarik dan penasaran pada kedua orang itu. Devan hanya bisa melihat wajah anak kecil itu tapi wanita itu tidak bisa Devan lihat karna wanita itu sedang menunduk dengan rambut yang tergerai menutupi sisi-sisi wajahnya.
Postur wanita itu begitu mirip dengannya.
Ada apa dengan diriku, apa aku sudah gila karna terus memikirkan Vina.
Devan masih terus menatap wanita itu sampai perlahan bayangan mereka hilang karna mobil yang terus melaju ke depan.
***
“Selesai.” Ucap Vina sambil berdiri dari posisi jongkoknya.
Vina dan Naya sedang berjalan pulang dari sekolah, hari itu sesuai janjinya Vina menemani Naya di sekolah hingga selesai.
Tadi dalam perjalanan tali sepatu Naya sempat lepas hingga hampir membuat gadis itu jatuh terjungkal ke depan, untung saja Vina sigap menangkap Naya dan langsung jongkok untuk memperbaiki tali sepatu Naya dan mengikatnya dengan erat.
“Ayo jalan. Kita harus segera sampai di rumah dan memasak untuk kakek.” Ucap Vina lagi.
“Siap bunda. Hari ini Naya mau bantu bunda masak.” Seru wanita itu senang. Hari ini suasana hati gadis kecil itu sedang bahagia karna di temani oleh Vina.
“Anak baik.” Balas Vina tersenyum.
Ibu dan anak itu kembali melanjutkan langkah mereka menuju rumah sederhana nan nyaman yang selama ini menjadi tempat mereka berlindung.
Sepanjang jalan pulang Naya terus bersenandung menyanyikan lagu anak-anak yang ia ketahui.
“Kami pulang.” Ujar Vina setelah sampai di rumah.
“Kakek.” Sapa Naya sambil berlari memeluk Adi.
“Ganti baju dulu sayang, katanya mau bantu bunda masak.” Ucap Vina mengingatkan gadis kecil itu.
“Oh iya, maaf lupa bunda.” Cengir Naya.
Vina pun langsung berjalan ke dapur, sementara Naya ke kamar untuk menganti seragam sekolahnya.
Vina mulai mengeluarkan keahlian memasaknya, tangannya dengan lincah memotong dan mengupas bahan-bahan makanan.
“Bunda, Naya bisa bantu apa?” Ucap Naya yang baru saja tiba di dapur.
“Tolong cuci sayurnya ya sayang.” Pintah Vina dengan lembut.
Gadis kecil itu langsung meraih loyang yang berisi potongan-potongan sayur. Sementara Vina kembali fokus pada ikan yang sedang ia goreng.
***
Kembali pada Devan.
Lelaki itu tidak fokus pada makanannya, pikirannya masih terpaut pada anak kecil dan wanita yang hanya ia lihat dari belakang tapi berhasil membuat hatinya tidak tenang.
“Apa makanannya tidak enak pak Devan?” Tanya salah satu rekan kerja Devan yang melihat Devan sedari tadi hanya diam melamun dengan tangan yang sibuk mengaduk-aduk makanan yang ada di dalam piringnya.
“Ha, tidak. Ini enak.” Elak Devan sambil menyendok kan makanan ke dalam mulutnya.
Masing-masing kembali fokus pada makanan mereka.
❤️
Karna udah puasa jadi author ubah jam terbitnya jadi 19:00.
Jangan lupa like, komen dan vote🙏
Follow Ig author @sofya_del16
Siapa tau author bakal umumin semua informasi tentang novel di situ🙏