NovelToon NovelToon
EMPAT SEKAWAN LOVE STORY

EMPAT SEKAWAN LOVE STORY

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Season 2 novel SANG PENGASUH

Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.

Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.

Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.

Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.

Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.

Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.


Cover free by pxfuel
Edit by me

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Jangan Ragukan Kesetiaanku

"Ma, apel walnanya apa?" Athaya menunjukkan buku bergambar untuk diwarnai. Gambar aneka buah-buahan yang masih putih polos, siap untuk dipoles.

"Apel warnanya ada yang merah dan hijau. Kakak pilih mau warna apa?" Dengan setia, Andina menemani si cikal belajar mewarnai.

"Melah aja ya, Ma?!" Athaya mendongak. Menunjukkan satu crayon berwarna merah yang diambilnya dari kotak. Anak itu sudah bisa mengetahui jenis warna-warna dasar.

"Boleh, sayang. Jangan lupa, gak boleh keluar garis ya!" Dengan penuh kesabaran, Andina mendampingi Athaya belajar mewarnai.

Duduk di karpet ruang keluarga, tangan kiri Athaya bertumpu pada meja lipat tempatnya belajar. Kepalanya miring ke kiri, jari tangan mungilnya memegang erat crayon, mengulasnya ke gambar apel.

Arya muncul dari kamar, ikut bergabung bersama anak istrinya di ruang keluarga dengan menenteng baby bouncer.

"Adek mau lihat kakak belajar katanya nih." Arya menaruh baby bouncernya di samping Athaya.

"Ciluk--Ba." Athaya sejenak mengalihkan perhatiannya, menyapa dan mengajak bicara sang adik yang mata beningnya mengerjap-ngerjap menatapnya. Senyum menggemaskan tersungging di bibir merah sang bayi sebagai respon sama kakaknya itu mengajak berbicara.

"Kakak sama Papi dulu ya. Mama mau mengambil buah ke dapur." Andina mengecup kepala Athaya sebelum beranjak. Sementara Arya melanjutkan mengajak bermain sang putri sambil mendampingi si cikal belajar.

.

.

.

Athaya menggelengkan kepalanya saat Andina akan menyuapi buah potong campuran melon, pear, dan apel. Ia asyik mengajak adeknya bermain usai mewarnai gambar apelnya.

"Kakak mau dengar cerita si Kancil mencuri mentimun?" Andina mencari siasat agar Athaya mau makan buah.

Anak gembul itu langsung berbinar, menganggukkan kepalanya dengan kuat dan duduk manis menghadap Mama Andin.

Hutan, tempat tinggalnya berbagai binatang sedang mengalami kemarau panjang. Sampai-sampai sumber bahan makanan di dalam hutan habis. Sungai juga mengering, tidak ada airnya. Hingga semua binatang turun dari hutan untuk mencari makanan, termasuk juga si Kancil.

"Binatangnya suluh beli aja di kantol Papi, kan buanyak makanannya." Athaya dengan polos memberikan sarannya.

Sontak Arya dan Andina terkekeh mendengar jawaban si cikal.

"Makanan di tempat Papi tidak cocok untuk binatang hutan, sayang." Arya menjawil pipi gembul anaknya itu dengan gemas.

"Mama lanjut ya."

Si Kancil terus berjalan jauh ke luar hutan, mencari makanan. Dia sudah sangat lapar. Hingga kemudian melihat ada kebun mentimun milik petani. Si Kancil sangat gembira, ia akan mengambil mentimun untuk mengganjal perutnya yang lapar.

Satu dua mentimun dimakan oleh si Kancil. Hmm, enak dan segar juga ya rasanya mentimun.

"Pih, Papi yang jadi si Kancil ya. A..." Andina menyuapi Arya buah potong dengan menggunakan garpu.

"Ihhh Mama-- jangan Papi! Kaka jadi si Kancil nya!" Si Kancil Athaya pun membuka mulutnya minta disuapi. Suap demi suap masuk ke dalam mulutnya bergiliran dengan Papi Arya.

Besok-besoknya, si Kancil datang lagi ke kebun mentimun petani. Ia makan mentimun lebih banyak lagi sampai perutnya kekenyangan. "Aku juga mau bawa buat bekal di hutan biar gak sering ke sini," kata si Kancil sambil memetik beberapa mentimun.

Petani yang mengetahui mentimunnya sering dicuri, menjadi marah. Dia mencari akal agar si pencuri tidak datang lagi ke kebunnya. Petani itu membuat orang-orangan sawah dari pakaian bekas, kepalanya dari kelapa lalu dipakaikan topi caping.

Andina kembali menyuapi Athaya yang masih antusias mendengarkan ceritanya.

Suatu hari si Kancil datang lagi karena perutnya kembali lapar. "Aku mau makan lebih banyak lagi mentimun," ujar si Kancil begitu bersemangat mendekati kebun.

Tapi langkahnya terhenti dan langsung bersembunyi, ketika melihat ada orang yang menjaga kebun mentimun. Sampai lama menunggu, orang itu tidak pergi-pergi juga dari kebun. Akhirnya si kancil memilih kembali ke hutan karena tidak berhasil mencuri mentimun.

"Kakak, perbuatan si Kancil gak boleh ditiru ya! Mencuri itu perbuatan yamg tidak baik. Bukan hanya dibenci oleh orang lain tapi juga oleh Allah." Andina mengusap bibir Athaya dengan tisu. Berakhirnya cerita, habis pula buah yang ada di dalam mangkuk.

****

Andina masuk ke ruang kerja Arya membawa dua gelas teh hijau yang masih panas, untuknya dan suaminya. Kedua anaknya sudah tertidur di kamar. Jadi ia leluasa berduaan dengan sang suami sambil ada hal yang ingin ditanyakannya.

"Duduknya di sini, sayang." Arya menepuk pahanya usai Andina menyimpan gelas di atas meja sofa.

"Mas Arya selesaikan aja dulu pekerjaannya. Aku pengen ngobrol di sini." Andina duduk di sofa dan menepuk tempat di sisinya.

Arya mengerutkan keningnya sejenak menatap sang istri. Sepertinya ada hal serius yang mau di bicarakan, pikirnya.

"Tunggu 15 menit lagi ya, sayang!"

"Iya. Santai aja Papi." Andina menanggapi sambil memainkan hp nya, mengecek sosmednya dan melihat chat grup yang rame dengan candaan dan bahasan reuni.

Arya menghampiri istrinya usai mematikan laptop. Diteguknya sampai tandas teh hijau yang hangat di gelas miliknya.

"Lihat apa sih, sampe senyum-senyum sendiri." Arya melongokkan wajahnya, penasaran dengan apa yang dilihat Andina di layar hp nya.

"Ini di grup. Biasa, anak-anak pada becanda. Aku sih cuma nyimak aja, jarang ikut komen." Andina menutup aplikasinya dan menyimpan hp di atas meja.

"Mama cantik mau ngobrol apa hm?" Arya mendaratkan ciumannya di kening dan rambut halus dan wangi Andina yang menyandarkan kepala di bahunya.

"Papi tadi meeting sama siapa?" Andina bsrtanya dengan posisi yang masih bersandar.

"Oh tadi meeting dengan kakak beradik, Steve dan Laura. Steve teman aku di komunitas moge, dulu. Mereka berminat mau membuka resto Korea di Galaksi pusat." Arya menceritakan apa adanya kepada sang istri.

"Aku sempat dikenalkan dengan Steve oleh Kak Iky. Kalau Laura yang berambut panjang coklat pakai mini dress bukan?"

"Iya. Kamu kenalan juga?" Arya merebahkan kepala Andina di pangkuannya sehingga menjadi tidur telentang berbantalkan paha.

"Gak kenalan sih. Cuma berpapasan saat di dekat toilet. Arah langkahnya dia mau ke ruanganmu. Cantik dan seksi ya tamunya." Andina menatap datar wajah Arya yang sedang menunduk menatapnya juga. Terlihat dirinya fokus menyimak perkataan sang istri.

"Whatever."

Arya mencolek hidung mancung Andina, tangannya membelai pipi halus mulus istrinya itu dengan sayang.

"Dengar ya, istriku sayang. Jangan pernah ragukan cinta dan kesetiaanku. Seberapa cantik dan seksinya perempuan di luaran, aku tidak akan tergoda. Aku sudah punya bidadari cantik berhati mulia, ibu dari anak-anak yang membuatku selalu ingin cepat pulang memeluknya. Jadi untuk apa 'bermain-main' di luar rumah."

Telunjuk Arya usil mencolok-colok lesung pipi yang timbul, karena Andina tersenyum lebar setelah mendengar penuturan sang suami.

"Papi gombal ih." Andina memainkan jarinya di dada Arya. Semburat rona merah tak bisa disembunyikan dari wajah putihnya.

Ada sesuatu yang menggeliat mengeras dirasakn Andina di bawah kepalanya. Arya tampak gemas dan terpancing hasratnya memandang ekspresi istrinya itu. Ia mulai memagut bibir pink alami yang lembut dan kenyal, berpadu dengan hangat bibirnya.

"Aku pengen, sayang. Kapan buka puasanya?" Arya berucap serak dengan nafas yang memburu usai melepas pagutannya. Hasratnya benar-benar sudah naik ke ubun-ubun.

"Sabar, kurang dari seminggu lagi bisa buka puasa." Andina memiringkan tubuhnya, menyingkap kaos Arya hingga nampak permukaan perut ratanya. Dengan sengaja Andina menggoda sang suami, memancingnya dengan memberikan kecupan-kecupan di area itu.

Arya menghembuskan nafas keras dan mengerang serta meremas rambut Andina, menikmati sensasi akibat perlakuan istrinya itu.

"Argh, sayang. Kamu harus tanggung jawab sampai akhir."

"Hm."

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖p
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!