Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.
Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.
Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]
Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.
Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Badai Berdarah
Kesunyian yang merayap di seluruh penjuru Konoha pagi ini tidak lagi terasa seperti ketenangan sebuah desa tersembunyi, melainkan keheningan pekat yang biasa menyelimuti kompleks pemakaman tua sebelum fajar menyingsing. Melalui pengeras suara publik di setiap sudut jalan, pihak administrasi desa telah menyebarkan pengumuman resmi: Seluruh distrik sipil luar diimbau untuk membatasi aktivitas malam hari karena adanya latihan taktis skala besar yang melibatkan Korps Anbu dan barisan pertahanan utama.
Sebuah kebohongan birokrasi yang dirancang dengan sangat rapi oleh sisa-sisa sekutu Hiruzen Sarutobi. Di dalam kamar kecilnya di pojok belakang panti asuhan, Ren duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Tirai jendelanya tertutup rapat menggunakan kain flanel ganda, mencegah kebocoran cahaya sekecil apa pun ke luar ruangan. Di atas meja rendah di depannya, deretan instrumen medis dan bahan kimia kimiawi telah tertata dengan tingkat presisi yang mengerikan, menyerupai meja persiapan seorang jagal laboratorium bawah tanah.
Tiga botol cairan glikol saline steril konsentrasi tinggi telah dibukanya sejak subuh tadi. Menggunakan pipa kapiler mikro, Ren mengalirkan cairan tersebut ke dalam enam buah vial kaca berwarna amber kedap udara. Sifat kaca amber yang menyerap radiasi ultraviolet akan memastikan struktur organik yang disimpan di dalamnya tidak mengalami mutasi radikal. Di samping deretan vial tersebut, selembar gulungan segel penyimpanan organik dengan sirkulasi beku telah terhampar, memancarkan pendaran chakra biru tipis yang konstan untuk mempertahankan stabilitas termal di sekitar kompartemen.
Ren mengangkat sebuah pisau bedah kecil berujung melengkung (curved scalpel). Jarinya bergerak dengan ketelitian seorang maestro anatomi, melakukan sinkronisasi motorik berulang kali untuk memastikan tidak ada getaran mikro pada otot lengannya saat mengeksekusi pemotongan saraf optik besok malam.
[Pemberitahuan Sistem: Proses Kalibrasi Wadah Organik Selesai]
[Kerapatan Cairan Saline: 1,042 g/cm³ (Spesifikasi Optimal untuk Preservasi Jaringan Saraf Ocular)]
[Rekomendasi Kecepatan Ekstraksi Target: < 1,42 Detik Per Kompartemen Mata]
[Catatan Kritis: Keterlambatan Ekstraksi di Atas 85 Detik Pasca-Henti Jantung Korban Akan Memicu Nekrosis Selular dan Membakar Struktur Tomoe]
Ren meletakkan pisau bedahnya tanpa menimbulkan riak suara sedikit pun di atas meja. Otaknya mengunci angka 1,42 detik dan 85 detik sebagai batas absolut antara keberhasilan evolusi atau kegagalan yang mematikan. Dia tidak melihat pembantaian klan Uchiha besok malam sebagai tragedi kemanusiaan atau genosida berdarah. Bagi mentalitas pragmatisnya yang sedingin es, ini hanyalah hukum alam yang bekerja. Sebuah klan predator yang terlalu angkuh dan buta oleh kejayaan masa lalu sedang berjalan menuju lubang jebakan yang digali oleh pemangsa yang lebih cerdas. Dan tugas Ren hanyalah menjadi burung bangkai tak kasat mata yang merampas sisa-sisa kekuatan terbaik dari medan pembantaian tersebut.
Ketika malam akhirnya menelan sisa-sisa warna jingga di langit Konoha, atmosfer desa merosot ke titik yang sangat mencekam. Sekitar pukul sepuluh malam, keheningan itu pecah secara mikro. Sudut perifer penglihatan Ren mendeteksi hilangnya getaran alami lingkungan di sekitar panti asuhan, disusul oleh riak energi tajam yang bergerak melintasi atap-atap bangunan sipil. Sepasukan unit sensorik elit Anbu reguler sedang melakukan pembersihan perimeter terakhir untuk memastikan tidak ada mata sipil yang berkeliaran di jalur eksekusi besok malam.
Ren bangkit berdiri di tengah kegelapan kamarnya. Momen ini adalah kesempatan sempurna untuk melakukan uji coba lapangan (dry-run) terhadap sistem pertahanan paling krusial miliknya sebelum menghadapi mata Sharingan milik Itachi dan Obito.
"Sistem, aktifkan protokol Corpse Resonance Mimicry tingkat penuh."
[Mengaktifkan Protokol: "Corpse Resonance Mimicry"!]
[Tindakan: Menghentikan Denyut Jantung, Memutus Aliran ATP pada Mitokondria, Mengurangi Suhu Tubuh hingga Hitungan 22°C]
Seketika itu juga, sebuah sensasi rasa sakit yang tumpul namun luar biasa dingin meledak dari pusat dada Ren, menjalar cepat ke seluruh jaringan kapiler darahnya. Proses penekanan energi ini bekerja dengan sangat ekstrem. Di dalam tubuhnya, mitokondria dipaksa berhenti memproduksi energi biologis, membuat pasokan oksigen ke otak menyusut hingga ke batas ambang kematian. Detak jantungnya melambat drastis dari enam puluh ketukan per menit, merosot ke angka tiga, dua, hingga akhirnya berhenti total secara linear.
Seluruh radiasi energi hangat yang biasanya dipancarkan oleh sirkuit meridian manusianya runtuh ke titik nol mutlak. Gelombang otaknya mendatar (flatline), menempatkan kesadaran Ren dalam kondisi suspensi mati suri yang mengerikan. Di atas lantai kamar, dia berdiri tegak bagai sesosok mumi yang diawetkan—sebuah materi organik mati tanpa emisi kehidupan sedikit pun.
Tepat pada detik kelima setelah protokol aktif, seberkas gelombang sensorik chakra berdaya tinggi menembus langit-langit kamar Ren. Ninja sensorik Anbu di atas atap sedang menyapu area panti. Selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat, gelombang energi itu meraba permukaan kulit Ren, memeriksa setiap sudut jaringan saraf dan sirkuit meridian tubuhnya.
Namun, di hadapan algoritma pelacak sang Anbu, Ren tidak terbaca sebagai entitas hidup yang sedang bersembunyi atau menekan chakra. Tubuhnya memantulkan gelombang sensorik dengan frekuensi yang 100% identik dengan struktur tumpukan kayu lapuk atau furnitur tua di pojok ruangan. Setelah memastikan bahwa area panti asuhan sipil tersebut bersih dari sisa-sisa kehidupan ninja, siluet pengawas Anbu itu melompat menjauh, melesat menuju pusat desa tanpa menaruh curiga.
Ren menarik napas panjang dengan sentakan kecil saat Sistem mengembalikan fungsi jantungnya ke ritme normal. Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun sudut bibirnya terangkat tipis. Fondasi taktik pertahanan pertamanya untuk menjadi hantu di depan mata Mangekyō Sharingan telah teruji secara mutlak.
Kembali ke posisi bersila, Ren memerintahkan asisten digitalnya untuk membuka visualisasi peta taktis makro Konoha. Layar retinanya segera menampilkan model tiga dimensi dari Distrik Uchiha yang terisolasi total di sayap timur desa.
[Sistem Menjalankan Simulasi Taktis: Operasi Pembersihan Uchiha]
[Topografi Distrik Teridentifikasi: Membagi Kompleks Menjadi Dua Sektor Utama]
Kluster A (Markas Kepolisian Militer Barat): Topografi: Kompleks bangunan beton ganda, barak pelatihan, dan pusat komando utama. Analisis Pergerakan: Jalur Overlap dengan Target S-2 (Entitas Bertopeng/Obito). Target S-2 Mengincar Mata 3 Tomoe Matang Melalui Pertempuran Jarak Dekat. Rekomendasi Sistem: Hindari Batas Radius 100 Meter. Risiko Kontak Fisik: 98,4%.
Kluster B (Zona Domestik Sipil Timur): Topografi: Pemukiman rumah tradisional kayu, jalur parit sekunder, dan area padat penduduk kelas bawah. Analisis Pergerakan: Garis Eliminasi Target S-1 (Itachi Uchiha). Target S-1 Bergerak dengan Efisiensi Tinggi Berdasarkan Pola Pembunuhan Senyap. Rekomendasi Sistem: Ambil Jalur Ekor dengan Jeda Waktu 45 Detik Post-Eliminasi Target S-1.
Ren memicingkan matanya, mengunci fokus komputasi otaknya pada Kluster B. Keputusannya untuk mengabaikan markas militer dan memilih mengekor di belakang jalur Itachi didasarkan pada kalkulasi sains biologi klan yang sangat kejam—sebuah fenomena genetik yang ia sebut sebagai efek Trauma Gland.
"Sistem, tampilkan data probabilitas mutasi seluler pada warga sipil Uchiha saat eksekusi terjadi," perintah Ren dalam hati.
[Analisis Medis Efek "Trauma Gland" pada Sektor Sipil:]
Warga sipil atau Genin Uchiha yang belum pernah membangkitkan Sharingan memiliki akumulasi sel leluhur pasif di dalam saraf optik mereka. Ketika Target S-1 (Itachi) melakukan penyerangan mendadak di depan mata anggota keluarga, trauma psikologis instan berskala ekstrem akan memaksa kelenjar otak belakang melepaskan chakra kegelapan berdaya kejut tinggi.
Proses biologis ini akan memicu kebangkitan paksa Sharingan (1 atau 2 Tomoe) tepat 3 hingga 5 detik sebelum napas terakhir korban habis. Target S-1 tidak akan membuang waktu untuk memanen mata kelas bawah ini karena fokus utamanya adalah pembersihan cepat, meninggalkan jasad mereka begitu saja di lantai rumah.
Inilah celah taktis terbesar yang akan dieksploitasi Ren. Sektor sipil Uchiha adalah ladang emas tersembunyi yang diabaikan oleh Obito karena dianggap terlalu lemah, dan ditinggalkan oleh Itachi yang jiwanya sedang didera siksaan mental yang luar biasa. Tugas Ren hanyalah bergerak di balik bayang-bayang Itachi, melangkah masuk ke dalam rumah yang baru saja sunyi, dan mengekstraksi mata yang baru saja mekar akibat trauma kematian tersebut dalam jendela waktu kritis sebelum sel saraf optiknya mati total karena kekurangan oksigen.
Ren bangkit dari posisi duduknya, berjalan perlahan mendekati celah jendela kamarnya. Dia mendorong papan kayu sedikit ke samping, menatap ke arah Tebing Batu Hokage yang menjulang tinggi di bawah siraman cahaya bulan tua yang suram.
Menggunakan Indra Pelacak Tahap Tiga, dia mengarahkan fokus sensoriknya ke titik tertinggi di atas kepala patung Hokage Keempat. Di sana, di balik bayangan tebing yang curam, berdiri sesosok siluet kurus berambut panjang yang dikuncir rendah. Jubah hitam dengan pelindung dada logam khas Anbu miliknya berkibar pelan ditiup angin malam yang membawa aroma karat besi.
Itachi Uchiha.
Bahkan dari jarak sejauh ini, Sistem Ren bisa menangkap betapa masif, tajam, namun bergolak penuh dengan distorsi kesedihan getaran chakra yang memancar dari tubuh remaja genius tersebut. Itachi sedang berdiri statis, menatap distrik klannya sendiri untuk terakhir kali, menggenggam gagang katananya dengan kepasrahan seorang martir yang bersiap mengutuk namanya sendiri ke dalam api neraka sejarah demi kedamaian palsu desa.
Ren menurunkan pandangannya, kembali menutup rapat tirai jendelanya tanpa ada rasa gentar atau belas kasihan sedikit pun. Baginya, kehancuran Uchiha adalah tangga pertama yang harus runtuh agar dia bisa memanjat ke puncak tertinggi dunia ninja ini. Semua pion telah berdiri di posisi masing-masing, instrumen pemanenan telah steril di dalam tas kain, dan peta jalur eliminasi telah terkunci sempurna di dalam memori Sistem.
Tepat saat Ren membaringkan tubuhnya di atas kasur tipis panti asuhan, jam digital di sudut retinanya berkedip sekali lagi, mengubah angka takdir di atas dunianya menjadi sebuah hitungan mundur yang mutlak.
[Pemberitahuan Sistem: Seluruh Variabel Lingkungan Telah Tersinkronisasi]
[Status Perimeter Konoha: Isolasi Total Aktif]
[Hitungan Mundur Menuju Fase Eksekusi Mutasi: 24 Jam]
Dua puluh empat jam. Satu hari terakhir sebelum tirai panggung berdarah itu disingkap, dan Sang Hantu di dalam panti asuhan telah siap untuk merengguk seluruh kekuatan dari sisa-sisa klan Uchiha yang akan punah.