Cinta hadir menjadi orang ketiga diantara cakra dan tasya.
Cinta awalnya adalah gadis tangguh namun kehilangan seorang sandaran hidup mampu melemahkannya.
kisah antara cakra dan cinta yang menjalani hari-hari bersama dan menumbuhkan cinta antara mereka, namun tak mendapat restu dari keluarga.
Cakra berniat untuk membawa cinta pergi jauh meninggalkan keluarga untuk menjalani hidup berdua.
Apa yang ada di fikiranmu?Kenapa kamu bilang akan meninggalkan segalanya demi hidup bersamaku?Apakah kau juga akan meninggalkan keluargamu?Dan perusahaanmu, bagaimana?Apakah kita bisa hidup bersama? Aku memang akan pergi tapi tak akan mungkin untuk mengajakmu bersamaku.
Jangan lupa sediakan tissu yah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Tasmin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Ibu
Cinta berjalan memilih bahan makanan diikuti cakra dengan stroller belanjanya. Cinta menghentikan langkah kakinya ketika pandangannya mendapati seorang pria yang ia kenal.
Cinta berjongkok seolah mencari barang di rak paling bawah. Cakra yang tidak melihat cinta sedang berjongkok terus berjalan mendorong trolinya hingga menabrak tubuh cinta sampai hingga dia terduduk.
“Aduh!"
Cinta yang awalnya ingin bersembunyi dari seseorang akhirnya menjadi pusat tontonanan. Sementara Cakra merasa bingung kenapa cinta bersembunyi ?
Terdengar suara yang menyapa dari belakang.
“ Cinta, ” Evans menatap sosok cinta yang masih duduk dilantai, dia mengulurkan tangannya untuk membantu cinta berdiri, “kamu g apa-apa?”.
“ Gak papa kak, ” Cintapun berdiri dibantu oleh evans.
Cakra mengingat pria ini pernah berjalan bergandengan tangan dengan cinta di kantornya. Cakra memang tak mengenali seluruh karyawannya, hanya beberapa orang saja yang cukup dengannya.
“ Kamu kesini sama siapa?” Tanya evans lagi.
“ Ah, itu, gak sama siapa-siapa kak.” Cinta terlihat gugup.
Entah dia harus mengaku datang bersama DIRUT atau pura-pura lupa aja. Cakra yang mendengar itu sedikit tersinggung dengan apa yang di ucapkan cinta.
“apa dia malu ketahuan jalan sama aku?Apa aku memang terlalu tua untuknya. Cih, dasar anak ingusan.” dia berjalan mendekati cinta dan Menyentil dahinya.
PLETAK, “Ayo pulang!” cakra sedikit membentak cinta.
“ Kak, aku duluan yah!” Cinta langsung menyusul cakra yang sedikit jauh meninggalkannya.
Bukannya tadi itu pak cakra? Ada hubungan apa pak cakra sama cinta? Batin evans.
Suasana canggungpun tercipta antara cakra dan cinta. Bahkan lirikan matapun tak berani satu sama lainnya. Mulut diam membisu, pandangan mata lurus kedepan.
Dan suasana itu bertahan sampai mobil yang membawa mereka telah berada di depan rumah cinta. Cakra memberanikan dirinya membuka keheningan diantara mereka, “Kamu malu jalan sama saya?”
Cinta tertunduk sambil memutar otaknya untuk mencari jawaban agar pria disampingnya ini tidak tersinggung,“ Bu, bukan begitu.”
“ Lalu?”
“Saya takut nanti ada gossip yang g enak tentang saya dan bapak” cinta memanggil cakra dengan formal.
“ Saya takut di bilang mendekati bapak agar bisa mendapatkan jabatan yang lebih tinggi atau karena bapak yang kaya, bapakkan DIRUT pasti uangnya banyak. Sedangkan saya hanya karyawan baru di itupun hanya staff biasa. Pasti pandangan orang terhadap saya akan berubah.” Jawaban polos cinta
“ Oh, Kirain?”
Hah, gitu doang? Udah jawabannya panjang dibalasnya Cuma 2 kata.
“ Ayo turun!” Ucapan cakra menyadarkan cinta yang masih duduk di dalam mobil.
Mereka mengeluarkan barang belanjaan dari dalam bagasi. Lima kantong besar, lumayan banyak meskipun berbelanja dengan keheningan seperti tadi.
“G usah pak, biar saya saja!” Cinta meraih kantongan yang kini berada di tangan cakra.
“ Memang bisa?” Cakra meragukan cinta dengan tubuh kurusnya mau membawa semua belanjaan mereka.
“ Ya diusahain."
Meskipun tertatih cinta membawa 2 kantongan besar yang lainnya masuk ke dalam rumahnya yang sederhana.
Ibunya merasa heran kenapa cinta belanjaannya banyak banget dan semua itu hanya bahan makanan saja.
“Duduk dulu nak, kamu pasti capek, ibu buatkan minum dulu yah”
“Iya bu, makasih,” Cakra sedikit menunduk lalu duduk di sofa sederhana itu.
“Duh, kok malah duduk sih, bukannya langsung pulang aja. Di mobilkan duduk juga. Tadi juga sempat beli minum mall.”
Tak berapa lama, ibu datang membawa 2 cangkir teh hangat dengan kue bronis tentunya buatan cinta dan meletakkannya di meja kemudian ikut duduk di dekat cinta.
“Diminum tehnya, hanya ada ini nak, maaf yah!” ibu memulai percakapan.
“ Iya bu, terimakasih.”
“Itu belanjaan kok banyak banget yah nak cakra?”
“ Gak papa bu, buat persiapan. Katanya cinta suka masak, dan masakannya enak bu. Dia sering bawain saya makan siang,” cakra.
Apa-apaan? Kan udah dibilangin yang masak ibu. Dan itu, makan siangnya kan hukuman dari bapak bos. Wah…wah…bener-bener licik nih orang.
“Oh…. Yang makan siang itu ibu yang masak nak, tapi cinta juga bantuin kok,” Ibu.
“Wah….. jadi masakan ibu yah? Pantesan rasanya enak banget. Ternyata dari ahlinya” Cakra dengan senyuman mautnya.
Idih, pintar cari muka nih orang.
Cinta hanya diam memperhatikan ibu dan cakra, tak terlihat kecanggungan antara mereka berdua.
“ Kalian udah makan?” Tanya ibu, membuat cakra dan cinta saling bertatapan. Pasalnya karena insiden tadi mereka melupakan makan siang.
To Be Continued
semangat thor,,, ceritanya bagus bgt,,, aku tunggu karya baru mu thor,,,
klo kisah ku malah mencintai dan d cintai tp nggk bs saling memliki,,,😥
semoga kebahagiaan menantimu cinta