NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 20

Nadia melihat rekaman itu dengan napas tertahan. Sorot matanya tajam menatap layar ponsel, sementara jemarinya tanpa sadar mencengkeram ujung selimut. Cahaya redup dari lampu kamar membuat wajahnya terlihat pucat.

Di rekaman CCTV itu terlihat Ratna masuk ke kamar Nanda.

Di kamar itu ada Raka yang sedang tertidur pulas di samping Nanda. Tubuh pria itu bahkan tidak bergerak sedikit pun ketika Ratna masuk.

Namun yang membuat dada Nadia langsung dipenuhi amarah adalah kenyataan bahwa Ratna tidak membangunkan Raka untuk mengajaknya tidur bersama.

Ratna malah membangunkan Nanda.

Rahang Nadia mengeras. Otot di sekitar pipinya menegang.

Nadia paling tidak suka jika ada yang mengganggu waktu istirahat Nanda. Apalagi anak itu memang mudah kelelahan kalau jam tidurnya terganggu.

Di layar terlihat Ratna beberapa kali menepuk pundak Nanda pelan. Anak itu awalnya hanya menggeliat kecil sambil memeluk gulingnya lebih erat.

Namun Ratna terus membangunkannya.

Sampai akhirnya Nanda membuka mata dengan wajah mengantuk. Matanya sipit, rambutnya berantakan, lalu beberapa kali menguap sambil mengucek mata.

Kamera hanya menampilkan gambar tanpa suara.

Nadia tidak bisa mendengar apa yang Ratna katakan.

Namun dari gerak bibir dan ekspresinya, Nadia bisa melihat Ratna terus mengajak Nanda berbicara. Sementara Nanda beberapa kali menggelengkan kepala kecilnya.

Nanda terlihat tidak mau.

Namun Ratna tidak berhenti.

Wanita itu terus berbicara sambil sesekali mengusap kepala Nanda seperti membujuk.

Nadia mengepalkan tangan semakin kuat.

Ujung kukunya sampai menekan telapak tangannya sendiri.

“Astaga...” gumamnya lirih dengan napas berat.

Akhirnya, dengan wajah seperti terpaksa, Nanda turun dari tempat tidur. Anak itu berjalan pelan sambil masih setengah mengantuk mengikuti Ratna keluar kamar.

“Kurang ajar,” ucap Nadia kesal.

Dadanya naik turun menahan emosi.

Rasa bersalah langsung menghantam dirinya.

Tadi dia sempat berpikir buruk pada Nanda. Dia mengira anak itu sengaja melanggar aturan karena ingin bermain ponsel dan makan sembarangan.

Padahal ternyata Nanda dipaksa secara halus.

Nadia menutup mata sesaat sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.

“Ratna benar-benar ingin menghancurkan pola hidup Nanda,” bisiknya lirih. “Tidak akan aku biarkan.”

Tatapan Nadia kembali tajam ke layar ponsel.

“Ini bisa jadi bukti kalau Nanda memang tidak cocok diasuh Ratna.”

Dengan cepat Nadia menyimpan rekaman itu ke folder khusus, lalu mengirimkannya kepada Sindi agar disimpan dengan aman.

Setelah memastikan file terkirim, Nadia akhirnya merebahkan tubuhnya.

Meski pikirannya masih penuh amarah, tubuhnya terlalu lelah untuk terus terjaga.

Ia memejamkan mata perlahan lalu tertidur.

Pagi datang begitu cepat.

Nadia membuka mata dengan kepala terasa sedikit pusing. Tenggorokannya juga terasa kering karena semalam terlalu banyak menangis dan emosi.

Namun seperti biasa, setelah melaksanakan salat Subuh, hal pertama yang Nadia lakukan adalah menyiapkan sarapan sehat untuk Nanda.

Walau dunia terasa runtuh, memberikan makanan sehat untuk Nanda tetap menjadi prioritas utama baginya.

Di dapur, Nadia bergerak pelan menyiapkan sarapan. Tangannya cekatan memotong buah dan sayuran, meski sesekali pikirannya kembali mengingat rekaman semalam.

Rahangnya kembali mengeras.

Namun ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Setelah semua selesai, Nadia berjalan menuju kamar Nanda sambil membawa senyum tipis yang dipaksakan.

Seperti biasa, suara air terdengar dari kamar mandi.

Nanda sedang mandi.

Nadia duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu. Jemarinya saling bertaut gelisah di pangkuan.

Ada rasa bersalah yang terus menggerogoti dadanya karena semalam bertengkar di depan Nanda.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka.

Nanda keluar dengan handuk melilit tubuh kecilnya.

Saat melihat bundanya sudah ada di kamar, tatapan mata Nanda langsung berubah sendu. Anak itu tampak ragu melangkah.

“Sayang...” ucap Nadia pelan.

Nanda mendongak.

Begitu melihat Nadia merentangkan tangan, wajah kecil itu akhirnya tersenyum tipis. Ia langsung berjalan menghampiri lalu memeluk bundanya erat.

Hampir saja Nadia menangis.

Namun ia menahannya mati-matian.

“Maafin Nanda ya, Bund,” ucap Nanda lirih.

Suara polos itu membuat dada Nadia terasa diremas.

“Maafin Bunda juga, Sayang,” jawab Nadia dengan suara bergetar.

Nadia membantu memakaikan seragam sekolah Nanda dengan gerakan lembut. Sesekali ia merapikan rambut anak itu sambil mencuri pandang ke wajah kecilnya.

“Semalam kan Nanda sudah tidur,” ucap Nadia hati-hati. “Kenapa bangun lagi dan main ponsel?”

Nanda langsung diam.

Anak itu menunduk sambil memainkan ujung bajunya sendiri.

“Jangan takut,” ucap Nadia lembut sambil membelai kepala Nanda. “Ada Bunda di sini. Bunda juga enggak marah kok, asal Nanda jujur.”

Nanda mengangguk pelan.

“Mamah semalam bangunin Nanda,” ucapnya lirih. “Terus minta ditemenin di kamar Mamah.”

Nadia diam mendengarkan.

“Kata Mamah, Bunda terlalu bikin Nanda makan makanan yang enggak ada rasanya terus.”

Napas Nadia langsung terasa berat.

“Nanda sudah nolak kok, Bun,” lanjut Nanda cepat seolah takut dimarahi. “Nanda bilang enggak boleh makan sembarangan.”

“Terus?” tanya Nadia pelan, meski sebenarnya emosinya mulai mendidih.

“Nah... terus Mamah bilang kalau Nanda enggak ikut makan, nanti Mamah sedih terus sakit.”

Jawaban itu membuat Nadia mengepalkan tangan di samping tubuhnya.

“Nanda enggak mau Mamah sakit, Bun,” lanjut Nanda polos. “Jadi Nanda makan deh. Tapi minuman sodanya enggak Nanda minum kok, Bund.”

Nadia langsung membelai pipi Nanda lembut.

“Terima kasih, Sayang...” suaranya melemah. “Maafin Bunda ya.”

Nanda hanya menganggukkan kepala kecilnya.

“Nanda juga sudah nolak main ponsel, Bun,” ucapnya lagi.

“Terus?”

“Kata Mamah, Nanda jangan jadi anak bodoh dan kurang pergaulan. Nanti dibully gara-gara enggak main ponsel.”

Dada Nadia terasa makin panas.

Ada keinginan besar untuk kembali memarahi Ratna.

“Terus?”

“Ya... Nanda jadi lihat ponsel,” jawabnya pelan. “Nanda kelupaan karena filmnya seru.”

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan suara kecil penuh rasa bersalah.

Nadia mengusap kepala Nanda pelan.

“Selama ini ada yang bully Nanda di sekolah karena enggak main ponsel?”

Nanda langsung menggeleng cepat.

“Enggak ada, Bun. Malah kata guru-guru, teman-teman harus meniru Nanda karena jarang main ponsel.”

Nadia tersenyum tipis.

“Kata Bu Guru, boleh main ponsel kalau sudah cerdas,” lanjut Nanda semangat. “Kalau belum cerdas terus kebanyakan main ponsel nanti jadi bodoh.”

“Anak pintar,” puji Nadia sambil mengusap kepala Nanda dan memberi dua jempol.

Wajah Nanda langsung berbinar bangga.

“Jadi Nanda nurutin Mamah Ratna karena takut Mamah sakit?”

Nanda mengangguk pelan.

“Nanda mau semua orang di rumah sehat semua, Bun,” jawabnya polos. “Biar Nanda bisa main sama semuanya.”

Nadia langsung memeluk Nanda erat.

“Kamu anak baik,” bisiknya tulus.

Namun di dalam hati Nadia merasa khawatir.

Nanda terlalu memikirkan perasaan orang lain.

Ia takut suatu hari nanti sifat itu justru dimanfaatkan orang.

“Sekarang sarapan yuk,” ajak Nadia sambil tersenyum.

“Ayok!” jawab Nanda semangat.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!