"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 - Mediasi Pertama
Hari mediasi pertama di Pengadilan Agama Jakarta Selatan datang lebih cepat dari yang Alina kira.
Ia bangun pukul lima pagi, bukan karena alarm, melainkan karena tubuhnya terlalu tegang untuk tidur. Apartemen kecilnya masih belum sepenuhnya rapi. Kardus terakhir berisi buku dan sketsa lama belum dibongkar. Kulkas baru datang kemarin sore. Di meja lipat, map dokumen tersusun rapi.
KTP.
Buku nikah.
Surat kuasa.
Daftar harta bersama.
Bukti komunikasi.
Jadwal panggilan Arka.
Foto kalung ibu.
Alina menatap semuanya seperti menatap potongan hidupnya yang dipisahkan ke dalam plastik bening.
Ia memakai kebaya sederhana warna abu muda dan rok hitam. Bukan karena ingin terlihat lemah. Bukan juga karena ingin terlihat terlalu kuat. Ia hanya ingin datang sebagai dirinya sendiri.
Nadia menjemput pukul tujuh.
Di mobil, Nadia melihat wajahnya. "Tidur?"
"Sedikit."
"Makan?"
"Roti."
"Bagus. Banyak klien saya datang mediasi dengan perut kosong lalu gemetar."
"Saya tetap gemetar."
"Tapi lebih elegan."
Alina tersenyum tipis.
Ia membuka tas untuk memeriksa map sekali lagi. Nadia tidak menghentikannya. Pengacara itu hanya membiarkan Alina menghitung ulang dokumen seperti orang menghitung napas.
"Kalau nanti mediator meminta kamu mempertimbangkan rujuk, jawab seperlunya," kata Nadia.
"Mereka pasti meminta?"
"Hampir selalu."
Alina menatap jendela mobil. "Dulu aku yang selalu mempertimbangkan. Sekarang biar pengadilan yang mendengar aku sudah selesai."
Nadia tidak menjawab. Ia hanya menyalakan lampu sein ketika mobil mendekati jalan utama. Keheningan itu membantu. Alina tidak membutuhkan pidato keberanian. Ia hanya perlu seseorang yang duduk di sebelahnya dan tidak menyuruhnya kembali demi nama keluarga.
"Kalau aku gemetar nanti, pura-pura tidak lihat," kata Alina setelah beberapa menit.
"Tidak bisa," jawab Nadia. "Aku pengacara. Tugasku melihat semuanya, lalu membuatnya tetap terlihat terkendali."
Alina tertawa kecil. "Baik. Lihat secukupnya."
Setidaknya pagi itu, hari ini, ia tidak masuk sendirian.
Di jalan, Jakarta sudah macet. Motor menyelip di antara mobil, pedagang kopi keliling mendorong gerobak, orang-orang berangkat kerja seperti hari ini bukan hari seseorang mengubur pernikahannya.
Hidup memang begitu.
Kehancuran satu orang jarang membuat kota berhenti.
*****
Adrian tidak datang tepat waktu.
Mediasi dijadwalkan pukul sembilan.
Pukul delapan lima puluh, Alina sudah duduk di ruang tunggu bersama Nadia.
Pukul sembilan lewat lima, Hendra datang sendirian.
Wajah pengacara itu rapi, tapi ada ketegangan kecil di matanya.
Nadia melihat jam. "Pak Adrian?"
Hendra tersenyum profesional. "Sedang dalam perjalanan."
Alina menatap lantai.
Sedang dalam perjalanan.
Kalimat yang ia dengar berkali-kali selama menikah.
Adrian sedang dalam perjalanan ke makan malam ulang tahunmu.
Adrian sedang dalam perjalanan ke rumah sakit saat kamu demam.
Adrian sedang dalam perjalanan ke acara sekolah Arka.
Tapi selalu ada sesuatu yang lebih penting di tengah jalan.
Pukul sembilan lewat dua puluh, mediator memanggil mereka.
Nadia berdiri. "Kami siap. Tapi prinsipal pihak tergugat belum hadir."
Hendra berkata, "Mohon waktu sebentar."
Mediator, seorang perempuan paruh baya bernama Ibu Salma, menatap Hendra dengan datar. "Mediasi membutuhkan kehadiran para pihak."
"Kami memahami, Bu. Pak Adrian benar-benar..."
Ponsel Hendra berbunyi.
Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.
Alina memperhatikan.
Nadia juga.
Hendra menjauh beberapa langkah, menerima telepon dengan suara rendah. "Pak? ... Sekarang? Tapi jadwal mediasi... Baik. Saya mengerti."
Ia kembali dengan wajah lebih kaku.
"Mohon maaf, Pak Adrian mengalami keadaan mendesak. Kami meminta penjadwalan ulang."
Nadia langsung bertanya, "Keadaan mendesak apa?"
"Urusan medis."
Alina mengangkat wajah.
Ia sudah tahu sebelum Hendra menyebut nama.
Hendra menatapnya sebentar, lalu berkata, "Ibu Vania mengalami penurunan kondisi saat menuju pemeriksaan awal."
Tentu saja.
Vania.
Hari mediasi pertama.
Hari ketika Adrian seharusnya hadir untuk menyelesaikan rumah tangga sahnya.
Vania jatuh sakit.
Nadia menoleh ke Alina, menunggu instruksi.
Ibu Salma bertanya, "Apakah pihak penggugat bersedia dijadwalkan ulang?"
Alina merasa ruangan itu mengecil.
Sebagian dirinya ingin tertawa. Sebagian ingin berdiri dan pergi. Sebagian lagi, yang paling tua dan paling lelah, hampir berbisik, mungkin benar dia sakit, jangan terlalu keras.
Lalu ia mengingat malam ulang tahunnya.
Kue dingin.
Kalung ibunya.
Arka berkata Tante Vania lebih cocok.
Bimo di depan pintu.
Adrian berkata ia tidak punya tempat.
Alina mengangkat mata.
"Kami bersedia dijadwalkan ulang satu kali," katanya.
Hendra tampak lega.
Alina melanjutkan, "Namun mohon dicatat bahwa pihak tergugat tidak hadir pada mediasi pertama karena memilih mendampingi pihak ketiga yang menjadi salah satu sumber konflik perkawinan."
Wajah Hendra berubah.
Nadia tersenyum tipis.
Ibu Salma menatap Alina beberapa detik, lalu menulis.
"Dicatat."
Hendra berkata, "Dengan hormat, frasa itu..."
Nadia memotong, "Faktual."
Alina berdiri.
"Kami juga meminta agar jadwal berikutnya tidak diubah kecuali ada bukti medis resmi yang disampaikan sebelum sidang."
Ibu Salma mengangguk. "Akan dipertimbangkan."
Hendra tidak bisa berkata apa-apa lagi.
*****
Di rumah sakit Medika Senayan, Adrian berdiri di depan ruang tindakan.
Vania duduk di ranjang, wajah pucat, tangan memegang dada. Dokter muda baru saja memeriksanya dan berkata tekanan darahnya turun karena stres dan kurang makan. Tidak ada kondisi gawat.
Adrian menatap hasil pemeriksaan itu.
Tidak gawat.
Ia meninggalkan mediasi untuk kondisi tidak gawat.
Vania menangis pelan. "Maaf. Aku benar-benar tidak tahu akan seperti ini. Aku sudah mencoba kuat."
Adrian tidak menjawab.
Ia menerima panggilan Hendra beberapa menit kemudian.
"Pak, mediasi dijadwalkan ulang. Tapi pihak Bu Alina meminta catatan ketidakhadiran Bapak dimasukkan."
Adrian menutup mata. "Apa catatannya?"
Hendra mengulang kalimat Alina.
Memilih mendampingi pihak ketiga yang menjadi salah satu sumber konflik perkawinan.
Kalimat itu tidak panjang.
Tapi seperti stempel di wajahnya.
Vania menatapnya. "Adrian?"
Ia mematikan telepon.
"Dokter bilang kamu tidak gawat."
Vania terdiam.
"Aku panik," katanya lirih. "Aku takut."
"Aku ada mediasi."
"Aku tahu. Karena itu aku tidak ingin menghubungimu. Tapi Bimo..."
Nama itu membuat Adrian menoleh tajam. "Bimo?"
Vania langsung sadar ia salah bicara.
"Maksudku, Bimo menelepon. Dia khawatir. Dia bilang aku harus memberitahumu kalau tubuhku tidak kuat."
Adrian menatapnya lama.
"Jadi Bimo tahu kamu drop sebelum aku?"
Vania membuka mulut, lalu menutupnya.
Adrian merasa sesuatu yang dingin turun ke dadanya.
Ia tidak bodoh.
Mungkin selama ini ia hanya memilih tidak melihat.
Hari ini, pilihan itu membuatnya kehilangan posisi di mediasi pertama.
"Istirahat," katanya.
"Kamu mau ke mana?"
"Pengadilan."
"Mediasinya sudah selesai."
"Aku tahu."
"Lalu untuk apa?"
Adrian menatapnya. "Untuk memastikan aku tidak terlambat lagi lain kali."
Ia keluar sebelum Vania bisa menangis lebih keras.
*****
Alina tidak langsung pulang setelah meninggalkan pengadilan.
Ia duduk di bangku kecil dekat halaman, di bawah pohon yang daunnya bergerak pelan. Nadia pergi membeli air mineral. Orang-orang berlalu-lalang membawa map, sebagian wajahnya marah, sebagian lelah, sebagian kosong.
Pengadilan bukan tempat romantis.
Di sini cinta diterjemahkan menjadi jadwal, bukti, tanda tangan, nafkah, hak asuh, dan alasan pisah.
Mungkin itu baik.
Karena ketika cinta sudah terlalu sering dipakai sebagai alasan untuk melukai, fakta menjadi tempat berlindung.
Ponsel Alina bergetar.
Adrian.
Ia menatap nama itu.
Nadia kembali dan melihat layar. "Mau diangkat?"
Alina menggeleng. "Tidak."
Panggilan berhenti.
Pesan masuk.
Adrian:
Maaf. Aku akan hadir di jadwal berikutnya.
Alina membaca pesan itu sekali.
Lalu membalas:
Kirim melalui pengacara.
Ia mematikan layar.
Nadia menyerahkan air mineral. "Kamu baik?"
Alina membuka botol. Tangannya masih gemetar sedikit.
"Aku dulu pernah menunggu dia di restoran sampai makananku dingin. Menunggu di rumah sakit. Menunggu di sekolah Arka. Menunggu di hari ulang tahunku. Hari ini aku menunggu di pengadilan."
Nadia diam.
Alina menatap halaman pengadilan.
"Bedanya, hari ini penantianku dicatat."
Ia berdiri.
"Ayo pulang."
Di tempat lain, Adrian terlambat datang ke gedung pengadilan yang sudah hampir sepi. Ia berdiri di lobi, mencari sosok Alina, tapi perempuan itu sudah pergi.
Untuk pertama kalinya, keterlambatannya tidak hanya membuat seseorang kecewa.
Keterlambatannya menjadi bukti.
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪