Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
POV Galang,
Saat membuka yang pertama aku lihat Alika dan ternyata dia sedang memandangi ku dan saat aku melihat ke arahnya dia tersenyum lebar dan barulah aku merasa lega ternyata bukan mimpi memang benar Alika sudah sadar.
"Aku lapar bang, " ucap Alika.
"Bentar abang tanya dokter dulu, takutnya ada pantrangan karena kamu baru sadar, " balas ku lalu keluar dan menemui dokter.
Setelah bicara dengan dokter ternyata tidak ada pantrangan sama sekali, Alik boleh langsung makan justru itu baik. Aku pun segera keluar rumah sakit dan mencari makan yang di sukai Alika. Setelah dapat aku pun kembali ke ruangan Alika namun saat tiba di ruangan ternyata mama dan papa sudah datang.
"Kamu dari mana? " tanya mama sambil mengambil kantong kresek makanan yang aku beli.
"Tadi aku cari dokter buat tanya apa Alika boleh makan dan apa saja yang gak boleh, " jawab ku.
"Terus? "
"Apa pun boleh dimakan agar Alika cepat sehat kembali, " jawab ku lalu duduk di depan Alika dan langsung menyuapinya.
Alika dia menerima suapan demi suapan dari ku dan bahkan aku bisa melihat raut bahagia di wajahnya. Aku tau Alika pasti senang dapat perlakuan istimewa dari ku karena dia sudah menerimaku sebagai suaminya namun aku selalu menolak. Namun saat teringat dengan hasil pemeriksaan dokter hati ku sakit.
"Kok abang nangis?" tanya Alika karena tanpa sadar air mataku keluar begitu saja.
Aku pun langsung menghapus air mata dan tersenyum pada Alika.
"Abang cuman senang saja karena akhirnya kamu sadar, " bohong ku.
"Abang jangan nangis, kalau abang sedih aku ikut sedih, " ucap Alika sambil memegang wajah ku.
Aku pun mengangguk lalu menyimpan sisa makanan karena Alika sudah kenyang.
"Bang,aku ingin pulang, " ucap Alika manja.
"Dokter belum memperbolehkan kamu pulang, kamu kan baru sadar, " balas ku sambil mengusap kepalanya.
"Ya udah deh, tapi abang harus temani aku ya! " pintanya.
"Iya abang pasti selalu temani kamu, " balas ku.
Akhirnya Alika pun di perbolehkan pulang namun dokter melarang Alika untuk melakukan aktivitas berat karena kondisi tubuhnya masih belum stabil. Alika sangat sengat senang karena akhirnya bisa pulang. Tibanya di rumah kami di buat terkejut dengan kehadiran nenek dan keluarga Doni.
"Alika, akhirnya kamu pulang, " ucap mamanya Doni yang memang sangat sayang pada Alika.
"Iya tante, aku udah baik-baik saja, " jawab Alika sambil terus memegang tangan ku.
"Tante aku bawa Alika ke kamar dulu biar dia istirahat, " ucap ku agar Alika tidak merasa nyaman karena kehadiran nenek dan Doni.
"Kami kesini buat jenguk Alika, sudah suruh dia disini aja, " ucap nenek.
Namun aku tidak menghiraukan nya walau Alika meminta tinggal juga. Aku pun masuk kamar dan menyuruh Alika berbaring.
"Bang, aku gak enak sama nenek, " ucap Alika.
"Udah kamu gak usah pikirin nenek, sekarang kamu istirahat. Kalau kamu gak nurut jangan harap aku bakal belain kamu, " ucap ku mengancam Alika karena kalau tidak seperti itu Alika bakal maksa untuk menemui nenek.
Alika pun akhirnya istirahat dan aku turun ke bawah untuk bertemu keluarga Doni.
"Kamu sama istri jangan terlalu memanjakan nanti malah ngelunjak, " ucap nenek sinis.
"Dia istri ku oma, terserah aku mau manjain dia toh itu udah tugas suami buat istrinya bahagia, " balas ku.
"Kamu, " kesal nenek karena aku membalas ucapannya.
"Kalau nenek datang kesini cuman untuk mengkritik atau ngatain aku lebih baik nenek pulang deh jangan buat aku marah, " ucap ku jutek.
"Galang, " bentak mama karena ucapan ku yang terlalu kasar.
"Aku capek ma. Sikap nenek sama Alika itu beda. Padahal jelas-jelas disini orang yang gak tau diri itu dia, " ucap ku sambil menunjuk Doni dan istrinya.
"Maksud lo apa? " bentak Doni gak Terima.
Aku melangkah mendekati Doni dan menatapnya tajam.
"Jangan lupa lo, lo yang udah buat malu keluarga ini dengan cara membatalkan pernikahan karena harus tanggung jawab sama selingkuhan lo yang udah hamil, " ucap ku sinis.
"Kurang ajar ko, " Doni emosi namun belum sempat dia mukul aku papanya Doni langsung menahan Doni.
"Diam kamu, apa yang di ucapkan Galang itu benar. Padahal yang kami mau itu Alika yang jadi menantu di rumah bukan dia, " ucap papanya Galang sambil menunjukkan Rindu.
"Pa, " ucap Doni.
"Sudah Doni, kami kesini buat jenguk Alika bukan cari masalah, " tegur mamanya dan langsung diam.
Aku langsung naik ke atas dan tujuan ku adalah balkon dan langsung mengeluarkan rokok buat di hisap. Aku kesal setiap kedatangan mereka karena mereka datang bukan dengan niat baik apa lagi kalau sampai mereka tahu yang sebenarnya mereka pasti akan semakin jadi.
"Mama tau kamu kesal sama mereka, " ucap mama tiba-tiba menghampiri ku dan aku pun langsung mematikan rokok ku.
"Namun kamu harus ingat dia itu nenek kamu, ibu dari papa, " lanjut mama.
"Aku tua ma, tapi kenapa nenek pilih kasih padahal jelas-jelas Alika itu istri aku dan menantunya, " ucap ku.
"Nenek seperti itu karena dia kecewa sama Doni tapi dia gak bisa melampiaskan amarahnya pada Doni jadi kamu jadi sasarannya, "balas mama.
"Aku tau ma, " balas ku.
"Ya sudah kami temani Alika, tapi ingat ganti baju sama sikat gigi kamu sudah merokok, sekalian aja mandi, " ucap mama lalu pergi.
Aku pun masuk ke kamar dan ternyata Alika sedang tertidur. Aku pun memutuskan untuk mandi dan selesai mandi aku ikut berbaring di samping Alika. Entah kenapa aku selalu senang melihat wajah Alika yang tertidur karena bawaannya tenang. Namun tiba-tiba Alika membuka matanya dan dia langsung bangun saat melihat aku disampingnya.
"Mau kemana? " tanya ku sambil menarik tangannya dan membuat dia jatuh dalam pelukan ku.
"Abang lepasin ih, " pinta Alika namun aku menolaknya dan akhirnya Alika pun diam.
"Aku sayang kamu, " ucap ku membuat Alika kaget dan langsung bangun begitu saja membuat bibirku berdarah karena ke gigit.
"Aw.. sakit, " lirih ku dan Alika langsung kaget saat melihat bibirku terluka.
"Maaf bang aku gak sengaja, " ucap Alika ketakutan.
"Iya gak apa-apa, aku ke kamar mandi dulu, " ucap ku dan langsung turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.
"Abang aku minta maaf, " teriak Alika dari luar sepertinya dia merasa bersalah.
Aku pun keluar dan berdiri di hadapan Alika.
"Oke aku maafkan tadi kamu harus obati bibir ku, " ucap ku.
"Baik, " jawab nya lalu hendak pergi namun aku tarik dan sekarang dia berada dalam pelukan ku.
"Abang, aku kan mau ambil kotak obat, " ucap Alika.
"Jangan pakai obat itu, " ujar ku.
"Terus? " tanya Alika bingung.
Aku pun langsung memajukan wajah ku dan Alika terdiam tidak menghindar aku pun mulai beraksi dan aku bisa melihat reaksi kaget Alika di wajah nya.