Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Terapi Ekstreem
Arnold membuka map berwarna cokelat tua itu dengan perlahan. Suasana ruangan terasa hening karena pasien dan ibunya sedang fokus memperhatikan pria berjas putih itu.
Ibu Lova terus mengikuti gerakan tangan pria tersebut. Sedangkan Lova duduk diam menautkan jemari di atas pangkuannya.
Tak lama, Arnold terlihat sibuk mengisi lembar hasil observasi terlihat di dalan map itu. Setelah itu, ia menatapnya sekilas sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Kalau saya boleh jujur …” ucapnya pelan. “Kondisi Nona Zarisha tidak sesederhana trauma biasa yang dialami oleh orang lain.”
Ibu Lova sedikit tersentak dan menegang. “Maksud Dokter?”
Arnold menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. “Tubuh dan pikirannya sudah terlalu lama hidup dalam mode bertahan. Sehingga membuat … rasa takut itu berubah menjadi refleks dan itu akan terus berulang.”
Lova menunduk perlahan. Kepalanya dipenuhi oleh segala yang telah berlalu. "Hmmmfff ..."
Ia menghela napas panjang. Ia sangat tahu apa yang dimaksud oleh dokter ahli jiwa ini. Bahkan dirinya sendiri sudah merasa lelah hidup sebagai manusia biasa yang sehat, tetapi batinnya mengalami sakit yang tak memiliki obat.
“Selama satu jam observasi tadi,” lanjut Arnold, “saya mendapatkan sesuatu yang cukup unik.”
Kali ini mata pria itu beralih langsung pada Lova. Menyadari itu, Lova pun mengangkat wajahnya kembali.
“Nona Zarisha tidak mengalami penolakan besar terhadap saya.”
Deg.
Lova tertegun, tanpa sadar matanya terbuka dengan sangat lebar. Entah kenapa jantungnya malah berdegup sedikit lebih cepat, tetapi bukan karena rasa takut yang mucul kembali.
“Apa itu bagus, Dok?” tanya sang ibu cepat penuh harapan.
“Oh, tentu saja bagus. Sangat bagus.” Arnold mengangguk kecil. “Karena biasanya penderita trauma seperti Nona Zarisha yang bahkan tidak mampu berada dekat dengan laki-laki dalam kurun waktu yang lama.”
Sang ibu langsung menatap putrinya tak percaya. “Lova … Mama juga baru sadar semenjak tadi kamu benar-benar menurut pada semua yang dikatakan Dokter Arnold.”
Lova refleks gugup menggigit bibirnya. Tak hanya itu, ia menggaruk pelipis salah tingkah.
“A-aku tak mengerti …”
“Ya, jawabannya hanya satu. Karena kamu nyaman bersamaku,” sela Arnold cepat sambil menaikkan sebelah alisnya.
Wajah Lova langsung terasa panas. Ia juga merasa bingung, dan tak bisa memungkiri diagnosa yang disampaikan oleh Arnold. Hanya saja, ini terlalu mendadak membuat sesuatu yang menyesak di dalam dada.
“Dok!”
Melihat reaksi itu, Arnold justru terkekeh kecil.
Sementara itu, ibu Lova terlihat membeku. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
'Sudah sangat lama ... Bahkan tak pernah melihat Lova bereaksi layaknya seorang perempuan normal di depan laki-laki. Tapi ...'
Sang ibu menatap Arnold yang tak bisa dikatakan normal sebagai seorang pria.
'Bagaimana dengan Teddy? Teman masa sekolah Lova yang telah bertahun-tahun mencintai Lova? Namun, memang tak dipungkiri, Teddy tak bisa membuat putriku menjadi seperti ini,' batin sang ibu melihat Lova dan Arnold bergantian.
Arnold kembali membuka lembar di dalam map, di balik lembar observasi yang ia perhatikan dengan sangat serius. Ia diam, tetapi terlihat jelas hati dan pikirannya tengah sibuk memikirkan sesuatu. Namun, sekian waktu ...
“Karena itulah …” ucapnya perlahan. “Saya memikirkan metode terapi yang mungkin sedikit ekstrem.”
Raut wajah ibu Lova berubah tegang. Lova yang berada di sampingnya mulai merasa tidak tenang.
Arnold pun menarik sebuah lembaran dari dalam map. Lalu … meletakkannya tepat di atas meja.
Deg.
Kedua mata ibu Lova kompak membelalak. Terlebih pada Lova.
SURAT PENDAFTARAN PERNIKAHAN
Ruangan mendadak terasa sunyi. Kedua ibu dan anak itu terlihat bingung tak memahami maksud surat ini.
Dalam kesunyian ini, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang terasa mendominasi.
Lova menatap kertas itu tanpa berkedip. Kepalanya perlahan terasa kosong.
“A-apa maksudnya ini, Dok?” tanya sang ibu terbata. "Siapa yang harus menikah?"
Arnold terlihat tenang. “Baik lah, saya akan menjelaskan semuanya.”
Pria itu melipat kedua tangannya di atas meja.
“Sebenarnya, trauma Nona Zarisha ini, sudah terlalu dalam. Jadi, jika melakukan terapi biasa, bisa memakan waktu yang sangat lama. Bisa bertahun-tahun … atau bahkan tak akan ada perkembangan sama sekali.”
Ibu Lova mulai terlihat pucat. Justru karena Lova tak bisa mendekat dengan pria itu, maka Lova tak ada harapan menikah dengan siapa pun.
“Tapi …” sambung Arnold yang kembali melirik Lova.
“Ternyata alam bawah sadar Nona Zarisha, menerima keberadaan saya.”
Kalimat itu membuat napas Lova tercekat pelan. Kepalanya mencoba memaknai sendiri penjelasan pria ini.
Akan tetapi, ia sendiri tak bisa menyangkalnya. Semenjak awal pertemuan, ia sama sekali tidak merasa takut padanya. 'Apakah maksud surat ini dengan dia? Menikah dengannya?'
'Ini aneh. Sangat aneh.' Lova menggeleng cepat. 'Mungkin aku salah,' ucapnya dalam perang batin.
“Dalam ilmu psikologi,” lanjut Arnold tenang, “rasa aman adalah kunci utama terapi trauma.”
“Tunggu …” sang ibu mulai kebingungan. “Jadi maksud Dokter …”
“Saya akan menjadikan diri saya sebagai media terapi paling dekat untuk Nona Zarisha.”
krik
krik
krik
Lalu beberapa detik kemudian...
“HAH?!”
Ibu Lova refleks bangkit dari duduknya.
Sedangkan Lova terlihat membeku total. Ternyata, apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
Namun, Arnold tetap terlihat tenang.
“Kalau terapi ini berhasil, maka perlahan otak Nona Zarisha akan belajar bahwa tidak semua laki-laki itu jahat dan menyadari ada pria yang bisa membuatnya nyaman."
“Tapi kenapa harus menikah?” suara sang ibu meninggi tak percaya. “Ini terlalu mendadak, Dok!”
Arnold mengangguk kecil.
“Memang.”
“Lalu bagaimana dengan Teddy?” lanjut wanita paruh baya itu cepat. “Dia sudah bertahun-tahun mengharapkan Lova!”
Nama itu membuat jemari Lova langsung saling menggenggam erat.
'Teddy…' Hampir saja ia melupakan nama itu
Pria itu masih ada. Diam-diam memperhatikannya. Memberinya ruang. Mengharapkannya untuk sembuh.
Tangan Lova tergenggam, kepalanya terpakur dan ia hanya bisa memejamkan mata.
Namun, dengan perlahan … ingatannya justru kembali pada satu jam terakhir bersama Arnold. Di saat mereka berjalan berdampingan. Di saat ia memegang tangannya. Di saat mereka berbicara. Di saat ia berani menatap pria itu dengan langsung.
Dan anehnya … Ia tak merasa takut.
Hal itu membuat Lova semakin bingung terhadap dirinya sendiri.
Arnold memperhatikan perubahan ekspresi wanita itu tanpa berkata apa-apa.
Lalu ia kembali bersandar santai.
“Begini saja,” ucapnya ringan. “Saya tidak akan memaksa keputusan hari ini.”
Ibu Lova menghela napas lega.
“Tapi …” Arnold kembali menatap Lova lurus-lurus. “Saya merasa Nona Zarisha sendiri sudah menyadari sesuatu.”
Lova tersentak.
“Menyadari … apa?” bisiknya pelan.
Sudut bibir Arnold terangkat tipis.
“Bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupmu …” suaranya melembut perlahan, “kamu merasa aman berada di sisi seorang laki-laki.”
Deg.
Kalimat itu menghantam tepat ke dalam dada Lova.
Karena … itulah yang paling membuatnya takut sekarang.
Lova sempat mematung selama beberapa waktu. Namun, akhirnya ia bangkit dan menggeleng cepat. Ia menarik tangan ibunya dan membuka pintu.
Namun, Arnold menyunggingkan senyum misterius ...
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣