NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Pagi itu Clara datang ke kantor dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Wajahnya memang tetap cantik dan rapi seperti biasa, tetapi sorot matanya tampak tidak bersemangat. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya bahkan merasa heran karena biasanya Clara selalu terlihat ceria setiap kali memasuki gedung utama Darmawan Group.

Padahal tadi malam adalah malam yang sangat membahagiakan baginya.

Tony akhirnya mengungkapkan perasaannya secara langsung. Pria yang selama ini diam-diam dia kagumi ternyata juga memiliki perasaan yang sama. Clara bahkan masih mengingat jelas bagaimana suara Tony terdengar begitu tenang dan tulus saat mengatakan bahwa dia ingin membangun masa depan bersamanya.

Namun justru karena itulah Clara merasa gelisah.

Tony memintanya merahasiakan hubungan mereka untuk sementara waktu. Tony ingin membuktikan dirinya terlebih dahulu tanpa bantuan siapa pun. Termasuk tanpa bantuan Clara sebagai putri pemilik perusahaan.

Clara sebenarnya tidak mengerti mengapa Tony harus bersusah payah seperti itu. Jika dia mau, Clara bisa dengan mudah membujuk ayahnya agar menerima Tony. Ayahnya memang keras dalam urusan bisnis, tetapi sangat menyayanginya. Clara yakin ayahnya tidak akan menolak permintaannya.

Tetapi Tony berbeda.

Pria itu ingin mendapatkan semuanya dengan kemampuannya sendiri. Dia ingin berdiri sejajar dengan keluarga Darmawan tanpa bergantung pada status Clara.

Hal itu memang membuat Clara kagum.

Namun di saat yang sama, Clara merasa semakin ingin membantu Tony mendapatkan posisi yang lebih kuat di perusahaan.

Karena itulah pagi itu dia langsung memeriksa beberapa laporan keuangan yang baru dikirim dari divisi pemasaran. Awalnya Clara hanya berniat melakukan pengecekan biasa. Tetapi semakin lama dia membaca dokumen itu, dahinya perlahan berkerut.

“Ini aneh...” gumamnya pelan.

Dia membalik beberapa halaman laporan sambil memperhatikan rincian pengeluaran iklan terbaru perusahaan.

Studio.

Sutradara.

Make up artist.

Kameramen.

Editor.

Biaya konsumsi.

Semua tercatat dengan nominal yang jauh lebih rendah dibanding standar produksi iklan biasanya.

Clara langsung bersandar di kursinya sambil menyipitkan mata.

“Mana mungkin semurah ini?” katanya pelan.

Dia pernah melihat sendiri bagaimana proses produksi iklan perusahaan berjalan. Bahkan untuk iklan sederhana saja biasanya membutuhkan biaya besar. Belum lagi jika menggunakan studio profesional dan sutradara berpengalaman.

Tetapi laporan dari divisi pemasaran itu justru terlihat terlalu murah.

Dan orang yang bertanggung jawab atas semua itu adalah Doni Permana.

Nama itu langsung membuat ekspresi Clara berubah dingin.

Sejak awal Clara memang tidak menyukai Doni. Menurutnya pria itu terlalu santai, terlalu percaya diri, dan sering kali terlihat tidak menghormati Tony. Beberapa kali dia juga melihat Doni berdebat dengan Tony dalam rapat direksi.

Bagi Clara, itu sudah cukup membuatnya kesal.

Kini melihat laporan yang menurutnya mencurigakan, pikirannya langsung dipenuhi dugaan buruk.

“Jangan-jangan dia memainkan anggaran...” gumam Clara.

Semakin dipikirkan, semakin masuk akal di kepalanya.

Bagaimana jika Doni sengaja membuat laporan biaya lebih rendah lalu menyimpan sebagian dana untuk kepentingan pribadi?

Bagaimana jika selama ini ayahnya tidak menyadari hal itu?

Clara langsung berdiri dari kursinya.

Tidak.

Dia tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.

Jika dia berhasil membongkar kesalahan Doni, maka posisi Tony di mata ayahnya pasti akan semakin baik. Tony akan terlihat lebih profesional dibanding Doni.

Tanpa berpikir panjang lagi, Clara langsung mengambil dokumen itu lalu berjalan cepat menuju ruang kerja ayahnya.

Beberapa pegawai menatap heran saat Clara berjalan melewati lorong dengan wajah serius.

Biasanya Clara masih sempat tersenyum atau menyapa orang-orang di kantor. Namun pagi itu dia terlihat seperti sedang menuju medan perang. Ironis sekali manusia kantoran. Baru jam pagi sudah siap menghancurkan karier orang lain hanya karena rasa curiga dan urusan cinta. Perusahaan besar memang kadang lebih mirip drama keluarga mahal daripada tempat bekerja.

Begitu sampai di depan ruang direktur utama, Clara langsung membuka pintu tanpa banyak berpikir.

Agung Darmawan yang sedang membaca dokumen langsung mengangkat kepala.

“Pagi-pagi sudah datang dengan wajah seperti itu,” katanya tenang. “Ada masalah?”

Clara langsung meletakkan map laporan di atas meja ayahnya.

“Ayah harus lihat ini.”

Agung mengambil map itu lalu membuka beberapa halaman dengan santai.

Clara berdiri di depan meja sambil melipat tangan.

“Divisi pemasaran membuat laporan biaya iklan yang tidak masuk akal,” katanya tegas. “Biayanya terlalu murah. Tidak mungkin produksi sebesar itu menghabiskan dana sekecil ini.”

Agung masih membaca laporan tersebut tanpa banyak perubahan ekspresi.

Clara semakin kesal melihat sikap ayahnya yang terlalu tenang.

“Ayah tidak merasa aneh?” tanyanya.

Agung akhirnya menutup map itu perlahan lalu menatap putrinya.

“Tidak.”

Clara langsung mengerutkan dahi.

“Tidak?”

“Doni memang pandai menekan biaya produksi.”

Clara menatap ayahnya tidak percaya.

“Ayah serius membelanya lagi?”

“Bukan membela,” jawab Agung tenang. “Saya hanya menjelaskan fakta.”

“Tapi ini tidak masuk akal!”

Agung bersandar di kursinya.

“Doni sudah melaporkan semuanya pada saya sejak awal produksi iklan dimulai.”

Clara tampak semakin emosi.

“Jadi Ayah sudah tahu laporan ini?”

“Tentu saja.”

“Dan Ayah tidak curiga sedikit pun?”

Agung menghela napas pelan.

“Clara, Doni mendapatkan harga murah karena menggunakan koneksi studio lama yang pernah bekerja sama dengannya. Sutradara iklannya juga kenalannya sendiri. Bahkan beberapa kru mau menurunkan tarif karena hubungan profesional mereka sudah lama.”

Clara langsung membuang muka dengan kesal.

“Ayah selalu punya alasan untuk membela dia.”

Agung menatap putrinya beberapa detik.

“Kamu terlalu emosional.”

“Aku hanya tidak ingin perusahaan dirugikan!”

“Dan saya menghargai itu,” jawab Agung. “Tetapi menuduh seseorang tanpa bukti juga bukan tindakan yang benar.”

Clara mengepalkan tangannya.

“Kalau memang tidak ada masalah, kenapa tidak lakukan audit saja?”

Agung mulai terlihat kehilangan kesabaran.

“Karena saya tidak melihat alasan untuk melakukan audit besar hanya berdasarkan prasangka.”

“Prasangka?” Clara tersenyum sinis. “Ayah bahkan lebih percaya Doni daripada aku.”

“Ini bukan soal percaya siapa.”

“Ini jelas soal itu!”

Suasana ruangan mulai memanas.

Beberapa staf di luar ruangan bahkan saling melirik karena suara Clara mulai terdengar cukup keras.

Agung akhirnya berdiri dari kursinya.

“Clara,” katanya tegas. “Fokus pada pekerjaanmu di divisi finance.”

“Tapi—”

“Cukup.”

Clara terdiam sesaat, tetapi wajahnya masih penuh kekesalan.

“Ayah selalu menutup mata kalau soal Doni.”

“Dan kamu selalu mencari kesalahan Doni.”

“Aku hanya realistis!”

“Kamu terlalu dipengaruhi perasaan pribadi.”

Kalimat itu langsung membuat Clara semakin kesal.

“Ayah pikir aku melakukan ini karena tidak suka padanya?”

Agung tidak langsung menjawab.

Namun tatapannya sudah cukup membuat Clara merasa tersinggung.

“Ayah benar-benar tidak adil.”

Agung menghela napas panjang.

“Doni bekerja sangat baik untuk perusahaan ini.”

“Tony juga bekerja keras!”

Agung sedikit menyipitkan mata mendengar nama itu disebut tiba-tiba.

Clara langsung sadar dirinya terlalu cepat bicara. Dia segera mengalihkan pembahasan.

“Maksudku... banyak direktur lain juga bekerja keras. Tapi Ayah selalu memuji Doni.”

“Karena hasil kerjanya memang bagus.”

Jawaban singkat itu justru membuat Clara semakin emosi.

“Aku tidak peduli. Aku tetap ingin ada audit internal.”

“Tidak.”

“Ayah bahkan belum memeriksa lebih jauh!”

“Saya sudah memeriksanya.”

“Aku tidak percaya!”

Agung mulai benar-benar kesal.

“Clara.”

Namun Clara tetap keras kepala.

“Kalau Ayah tidak mau melakukan audit, aku akan meminta Kak Rendra melakukannya.”

Ruangan langsung menjadi hening beberapa detik.

Agung menatap putrinya dengan wajah serius.

“Kamu mengancam saya?”

“Aku hanya ingin kebenaran.”

“Kamu sedang bertindak konyol.”

“Aku tidak peduli.”

Clara bahkan mulai merasa matanya panas karena emosi. Sejak kecil dia memang keras kepala jika merasa pendapatnya benar.

Agung berjalan perlahan mendekati jendela ruangannya sebelum akhirnya berbicara lagi.

“Kamu tahu kenapa saya menempatkanmu di finance?”

Clara diam.

“Karena saya ingin kamu belajar menggunakan logika sebelum emosi.”

Clara langsung menjawab cepat.

“Dan aku sedang menggunakan logika sekarang.”

“Tidak,” jawab Agung tegas. “Kamu sedang menggunakan perasaan.”

Clara menggigit bibir bawahnya dengan kesal.

Baginya ayahnya memang selalu seperti itu. Selalu tenang. Selalu terlihat benar. Sangat menyebalkan menghadapi orang yang berbicara seperti sedang membaca laporan rapat sepanjang waktu.

“Ayah boleh menganggap aku emosional,” katanya pelan tetapi tajam. “Tapi aku tetap merasa ada yang salah.”

Agung kembali duduk di kursinya.

“Kalau begitu lakukan saja apa yang kamu inginkan.”

Clara sedikit terkejut.

“Ayah mengizinkan?”

“Saya sudah lelah berdebat.”

Clara langsung menatap ayahnya penuh harapan.

“Jadi akan ada audit?”

“Ya.”

Wajah Clara mulai berubah senang.

“Tapi ada syaratnya.”

Ekspresi Clara kembali serius.

“Apa?”

“Kalau hasil audit membuktikan tidak ada masalah, kamu harus berhenti mempersoalkan Doni.”

Clara terdiam sesaat.

Agung menatapnya tajam.

“Dan setelah itu kamu tidak boleh lagi membantah saya soal masalah ini.”

Clara mengepalkan map di tangannya.

Dia sebenarnya yakin Doni pasti menyembunyikan sesuatu. Tidak mungkin semua biaya produksi bisa ditekan serendah itu tanpa permainan.

Karena itu Clara akhirnya mengangguk mantap.

“Baik.”

Agung masih menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan,

“Saya harap setelah ini kamu mulai belajar membedakan antara kecurigaan dan bukti.”

Namun Clara sudah terlalu yakin dengan pikirannya sendiri.

Baginya audit itu hanya tinggal menunggu waktu untuk membuktikan bahwa Doni memang tidak sebersih yang terlihat.

Dan jauh di dalam pikirannya, Clara juga berharap satu hal lain.

Jika Doni jatuh...

Maka jalan Tony untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari ayahnya akan semakin terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!