NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Jam istirahat akhirnya tiba. Suasana kantor yang sejak pagi dipenuhi suara ketikan keyboard dan nada dering telepon perlahan berubah lebih santai. Beberapa staf marketing mulai meregangkan badan setelah duduk terlalu lama di depan komputer. Ada yang langsung berdiri sambil membawa dompet, ada yang sibuk membuka aplikasi pesan makanan di ponselnya, dan ada juga yang masih bertahan di kursi sambil mengeluh soal pekerjaan pagi tadi. Dunia kantor memang aneh. Lima menit sebelumnya semua terlihat seperti sedang menyelamatkan negara, lalu tiba-tiba berubah menjadi rapat darurat menentukan makan siang.

Shinta yang duduk di mejanya memilih membuka tas kain kecil yang ia bawa dari rumah. Dari dalam tas itu keluar kotak makan berwarna biru muda. Ia tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa karyawan lain yang sibuk memperdebatkan promo ongkir.

Rara yang sejak tadi berdiri di dekat meja sebelah melirik ke arah Shinta. Wanita itu kemudian berjalan mendekat sambil membawa ponselnya.

“Kamu mau makan di luar tidak, Shin?” tanya Rara santai. “Kalau mau aku temenin.”

Shinta menggeleng pelan.

“Aku bawa bekal.”

“Serius?” Rara tampak penasaran. “Boleh lihat?”

Shinta membuka kotak makannya. Aroma ayam goreng langsung tercium samar. Di dalamnya tersusun cukup rapi ayam goreng, tahu, tempe, dan sayur sop dalam wadah kecil terpisah.

Rara langsung menatap isi kotak makan itu dengan ekspresi tertarik.

“Ini bekal rumahan sekali.”

“Iya. Ibuku yang masak.”

“Kelihatannya enak.”

Shinta tersenyum kecil.

“Kalau mau coba juga tidak apa-apa.”

Rara tertawa pelan lalu menggeleng.

“Aku takut nanti malah minta nambah.”

“Kebanyakan orang memang begitu kalau lihat makanan gratis.”

“Kamu cepat sekali belajar sifat manusia di kantor.”

Shinta hanya tersenyum tipis sambil mengambil sendok.

Rara kembali melihat layar ponselnya.

“Aku mau pesan nasi Padang saja.”

Belum sempat ia mulai memesan, suara langkah mendekat terdengar dari belakang mereka.

Andika muncul sambil membawa ponselnya di tangan. Ekspresinya datar seperti biasa. Sejak pagi ia memang lebih banyak fokus bekerja dibanding mengobrol.

“Ra,” katanya singkat. “Titip sekalian.”

Rara langsung menoleh.

“Kamu juga nasi Padang?”

Andika mengangguk.

“Oke.”

Rara mulai mengetik pesanan di ponselnya. Shinta yang sejak tadi berusaha fokus pada makanannya justru tanpa sadar memperhatikan percakapan mereka.

Rara lalu melirik Shinta.

“Kalau kamu suka lauk apa di nasi Padang?”

Shinta menelan makanannya lebih dulu sebelum menjawab.

“Telur dadar.”

Rara langsung menunjuk setuju.

“Nah, sama. Aku juga paling suka telur dadar.”

“Kalau telur dadar Padang memang beda,” ujar Shinta. “Tebal dan gurih.”

“Benar sekali. Aku juga suka paru.”

Shinta mengangguk kecil.

“Paru enak kalau kering.”

Rara tampak makin semangat membahas makanan. Barangkali bagi sebagian orang makan siang hanyalah jeda kerja. Namun bagi pegawai kantor, makan siang sering berubah menjadi ritual sosial yang lebih serius dibanding rapat evaluasi bulanan. Peradaban manusia mungkin dibangun dari diskusi makanan dan gosip. Sisanya hanya dekorasi.

Shinta tanpa sadar melirik Andika sekilas.

“Kalau dia pasti rendang double.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Beberapa detik suasana langsung terasa hening.

Shinta baru sadar apa yang baru saja ia katakan.

Rara perlahan menoleh ke arah Andika dengan mata menyipit penuh rasa ingin tahu.

“Andika.”

“Hm?”

“Kamu pesan rendang double?”

Andika terlihat biasa saja.

“Iya.”

Rara langsung memandang Shinta dengan ekspresi seperti menemukan potongan puzzle penting.

“Kok bisa tepat?”

Shinta buru-buru mengambil gelas minumnya.

“Cuma nebak.”

“Tapi tepat sekali.”

“Beruntung saja.”

Rara masih belum melepaskan tatapannya.

“Orang tidak langsung nebak rendang double begitu saja.”

Shinta mulai merasa tidak nyaman.

Ia sebenarnya tahu sekali kebiasaan Andika. Dulu setiap mereka makan nasi Padang bersama, Andika hampir selalu menambah rendang. Bahkan kadang membeli bungkus tambahan untuk dimakan malam hari. Kebiasaan kecil yang dulu terasa biasa kini malah menjadi jebakan memalukan.

Shinta segera menyendok sayur sop agar terlihat sibuk.

Namun Rara justru tampak makin tertarik.

“Kalau begitu,” katanya sambil menyilangkan tangan, “coba tebak pesanan orang-orang kantor.”

Shinta langsung mengangkat kepala.

“Hah?”

“Iya. Seru ini.”

“Itu tidak mungkin.”

“Coba saja.”

Rara kemudian menunjuk beberapa karyawan yang sedang duduk tak jauh dari mereka.

“Itu Dimas. Menurutmu dia pesan apa?”

Shinta menoleh ke arah pria bertubuh besar yang sedang tertawa keras bersama temannya.

Ia berpikir sebentar.

“Nasi campur mungkin.”

“Oke.” Rara lalu menunjuk pria berkacamata di dekat jendela. “Kalau Heru?”

“Mie pedas.”

“Dan Rini?”

Shinta melihat wanita berambut pendek yang sedang sibuk memainkan ponselnya.

“Kayaknya suka makanan manis. Mungkin beli kue.”

Rara langsung tertawa puas.

“Tunggu di sini.”

Sebelum Shinta sempat menghentikan, Rara benar-benar berjalan menghampiri mereka satu per satu. Shinta langsung memejamkan mata sebentar.

“Aduh…” gumamnya pelan.

Ia benar-benar berharap tebakannya benar minimal satu. Harga dirinya sudah cukup babak belur karena keceplosan soal rendang Andika. Kalau semuanya salah, ia akan terlihat makin aneh.

Andika sendiri masih berdiri di dekat meja sambil melihat layar ponselnya. Ekspresinya tetap tenang seolah tidak tertarik dengan semua itu.

Shinta meliriknya diam-diam.

Namun pria itu sama sekali tidak memandang ke arahnya.

Hal kecil itu justru terasa mengganggu.

Dulu Andika pasti langsung meledeknya kalau ia salah menebak sesuatu. Atau sengaja membuat wajah sok serius untuk mengerjainya. Sekarang pria itu bahkan terlihat tidak peduli apakah Shinta ada di dekatnya atau tidak.

Perasaan itu membuat dada Shinta terasa sedikit sesak.

Sementara itu Rara kembali dengan wajah penuh kemenangan.

“Aku sudah tanya.”

Shinta menelan ludah.

“Terus?”

“Kamu salah semua.”

Shinta langsung menunduk kecil.

“Tuh kan…”

“Dimas ternyata mau pesan soto.”

Shinta menghela napas pelan.

“Heru mau beli ketoprak.”

“Makin parah.”

“Dan Rini sedang diet. Dia beli buah.”

Shinta memijat pelipisnya sendiri.

“Sudah kuduga.”

Rara malah tertawa makin keras.

“Tapi lucu juga.”

“Lucu dari mana?”

“Kamu percaya diri sekali tadi.”

“Aku tidak percaya diri. Aku dipaksa nebak.”

“Itu benar juga.”

Shinta segera kembali makan, berharap pembicaraan itu selesai. Namun Rara masih duduk di samping mejanya sambil terus memperhatikan.

“Tapi aneh,” ujar Rara pelan.

“Apa?”

“Kamu cuma benar soal Andika.”

Shinta pura-pura fokus pada ayam gorengnya.

“Itu kebetulan.”

“Hmm.”

“Serius.”

“Kalian sebelumnya pernah ketemu?”

Pertanyaan itu membuat tangan Shinta berhenti sesaat.

Untungnya Rara terlalu sibuk berpikir sehingga tidak menyadari perubahan ekspresinya.

Shinta segera menjawab santai.

“Belum pernah.”

“Yakin?”

“Iya.”

Rara memicingkan mata seolah sedang menganalisis kasus kriminal besar.

“Kalian auranya aneh.”

Shinta hampir tersedak mendengarnya.

“Aura apaan?”

“Sulit dijelaskan.”

“Itu karena kamu kebanyakan nonton drama.”

“Bisa jadi.”

Rara tertawa lagi lalu akhirnya berdiri ketika pesanan makan siang mereka datang.

Dua kotak nasi Padang diletakkan di meja kosong dekat pantry kecil kantor.

Rara langsung membuka bungkus makanannya dengan antusias.

“Nah ini baru hidup.”

Andika duduk tak jauh dari sana sambil mulai makan dengan tenang.

Dan benar saja.

Rendang dua.

Shinta yang melihat itu langsung mengalihkan pandangan sambil meminum airnya cepat-cepat.

Sial sekali.

Kenapa hal kecil seperti itu masih ia ingat?

Rara yang sedang makan tiba-tiba kembali bersuara.

“Shin.”

“Hm?”

“Kamu yakin cuma nebak?”

Shinta mengangguk cepat.

“Iya.”

“Karena tepat sekali.”

“Kebetulan.”

Rara masih terlihat belum puas, tetapi akhirnya memilih fokus makan.

Shinta diam sambil menyendok sayur sop perlahan.

Sesekali matanya melirik ke arah Andika.

Pria itu terlihat biasa saja. Tenang. Sibuk makan. Kadang membuka ponselnya. Tidak ada ekspresi aneh sama sekali.

Seolah semua yang pernah terjadi di antara mereka benar-benar sudah selesai.

Dan justru sikap itulah yang paling mengganggu Shinta.

Ia tidak tahu mana yang lebih menyebalkan. Dibenci oleh mantan sendiri atau dianggap seperti orang asing.

Paling tidak kalau marah berarti masih ada rasa peduli.

Namun Andika terlihat benar-benar netral.

Benar-benar biasa.

Seakan hubungan bertahun-tahun mereka hanya catatan kecil yang sudah dihapus begitu saja.

Shinta menatap ayam goreng di kotak makannya cukup lama.

Tiba-tiba selera makannya sedikit hilang.

Di sisi lain ruangan, beberapa karyawan mulai tertawa membahas pelanggan sulit pagi tadi. Ada juga yang sibuk bertukar camilan. Suasana kantor tetap ramai dan santai seperti biasa.

Hanya Shinta yang mendadak merasa tidak nyaman di tengah keramaian itu.

Ia awalnya berpikir bekerja di tempat yang sama dengan Andika bukan masalah besar. Mereka sudah putus. Sudah selesai. Harusnya sederhana.

Namun kenyataannya jauh lebih rumit.

Karena ternyata yang paling sulit bukan melupakan seseorang.

Melainkan bersikap biasa saat orang itu benar-benar mulai hidup tanpa memikirkan dirinya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!