Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: JANGKAR DAN LAYAR
Tiga bulan setelah kelulusan SMA, suasana di apartemen lantai lima belas terasa lebih sibuk dari biasanya. Koper-koper besar tertata rapi di ruang tengah. Kirana sedang sibuk memeriksa daftar barang bawaan Nata, sementara Arya duduk di atas salah satu koper sambil memegang replika kapal pesiar kecil yang baru dibelikan Nata.
Nata memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Singapura. Mengapa tidak London atau New York? Karena bagi Nata, Singapura adalah pusat saraf keuangan Asia. Dari sana, ia bisa memantau pergerakan pasar modal dunia dengan selisih waktu yang minimal, sekaligus tetap bisa terbang kembali ke Jakarta dalam waktu kurang dari dua jam jika terjadi keadaan darurat pada Prawira Global.
"Kak, pastikan obat maag-mu dibawa. Aku sudah taruh di kantong depan tas ransel," ucap Kirana dengan nada cemas yang khas.
Nata tersenyum, menghampiri adiknya dan memegang bahunya lembut. "Kirana, aku hanya pergi belajar, bukan pergi berperang. Lagi pula, setiap dua minggu sekali aku akan pulang. Fasilitas private jet dari Nusa-Capital bisa kupakai kapan saja jika aku merindukan masakanmu."
Kirana tertawa kecil, meski matanya tetap berkaca-kaca. "Aku hanya tidak terbiasa rumah ini sepi tanpa Kakak. Tapi aku tahu, Kakak punya mimpi yang lebih besar dari sekadar apartemen ini."
"Bukan sekadar mimpi, Kirana. Ini adalah persiapan. Selama aku di sana, kamu akan memegang kendali atas operasional harian ruko di Jakarta Barat. Yuda akan membantumu soal teknis, dan Ibu Sari akan menjaga sisi hukumnya. Kamu sudah belajar banyak enam bulan terakhir ini. Aku percaya padamu," ucap Nata dengan nada yang sangat serius.
Nata sengaja melibatkan Kirana dalam bisnis sejak dini. Ia tidak ingin adiknya hanya menjadi penikmat kekayaan; ia ingin Kirana memiliki "taring" sendiri agar suatu saat nanti, jika terjadi sesuatu padanya, Kirana bisa melindungi dirinya sendiri dan Arya.
Keesokan harinya, Bandara Changi menyambut Nata dengan efisiensi yang luar biasa. Singapura tahun 2014 adalah kota yang sedang bersiap menjadi pusat teknologi finansial dunia. Nata tidak memilih tinggal di asrama universitas. Ia telah menyewa sebuah unit condominium di kawasan Marina Bay yang menghadap langsung ke arah pelabuhan.
Di unit itulah, Nata mendirikan "markas" keduanya.
"Yuda, bagaimana status enkripsi server di Jakarta?" tanya Nata melalui panggilan video terenkripsi, sesaat setelah ia merapikan barang-barangnya.
Di layar, wajah Yuda tampak penuh semangat. "Sempurna, Bos. Kita sudah berhasil memindahkan 40% aset digital ke dalam cold storage yang kuncinya hanya ada pada Anda di Singapura. Sistem pembayaran untuk logistik Nusa-Trans juga sudah mulai diuji coba terbatas di lima titik di Jakarta."
"Bagus. Ingat, jangan pernah meninggalkan jejak digital atas nama Prawira Global di server umum. Gunakan jalur satelit pribadi yang kita sewa lewat perusahaan cangkang di Panama," perintah Nata.
Langkah ini adalah Benteng Transnasional. Nata tahu bahwa semakin besar kekayaannya, semakin besar pula mata-mata pemerintah dan kompetitor yang akan mengincarnya. Dengan memecah asetnya di berbagai negara, ia menjadi target yang mustahil untuk dilumpuhkan sepenuhnya.
Kehidupan kampus di Singapura bagi Nata hanyalah formalitas. Ia mengambil jurusan Quantitative Finance, sesuatu yang sebenarnya sudah ia kuasai di luar kepala. Namun, tujuan sebenarnya adalah membangun jaringan.
Di salah satu seminar tentang investasi masa depan, Nata bertemu dengan Marcus Chen, putra dari salah satu taipan perbankan terbesar di Singapura. Marcus dikenal sebagai pemuda yang sombong dan sulit didekati, namun Nata melihat sesuatu yang lain: Marcus memiliki akses ke data arus kas masuk di Asia Tenggara.
Saat sesi tanya jawab, Marcus memberikan argumen bahwa investasi tradisional pada emas dan properti fisik akan tetap menjadi raja hingga lima puluh tahun ke depan.
Nata berdiri, memegang mik dengan tenang. "Saya setuju bahwa emas adalah sejarah, tapi data adalah masa depan. Properti fisik tidak bisa dipindahkan dalam hitungan detik saat terjadi krisis politik, tapi aset digital yang terdesentralisasi bisa melewati batas negara tanpa terdeteksi satu pun petugas bea cukai. Pertanyaannya, apakah bank keluarga Anda siap menjadi jembatan bagi kekayaan baru ini, atau hanya akan menjadi saksi sejarah yang tertinggal?"
Ruangan itu mendadak hening. Marcus Chen menatap Nata dengan mata menyipit. Setelah seminar usai, Marcus menghampiri Nata.
"Kamu punya nyali besar untuk bicara seperti itu di depan saya," ucap Marcus dengan nada dingin.
Nata tidak gentar. Ia menyerahkan sebuah flashdisk kecil. "Di dalam itu ada analisis saya tentang volatilitas mata uang di Asia Tenggara untuk enam bulan ke depan. Jika prediksi saya benar lebih dari 80%, hubungi saya. Saya ingin bicara soal kerja sama pengelolaan likuiditas digital."
Marcus menerima flashdisk itu dengan ragu, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Nata tahu, Marcus tidak akan bisa menahan rasa penasarannya. Perencana yang baik tidak pernah memaksa orang untuk percaya; ia membiarkan data yang berbicara.
Bulan-bulan pertama di Singapura berlalu dengan cepat. Nata menjalani kehidupan ganda yang melelahkan namun memuaskan. Pagi hari ia adalah mahasiswa yang rajin, namun malam hari ia adalah pengatur serangan di pasar global.
Suatu malam, saat ia sedang memantau harga BitCore yang mulai mengalami fluktuasi tajam di angka 650 dolar AS, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Hendra Wijaya di Jakarta.
"Nata, Pamanmu... Danu Prawira. Dia ditemukan meninggal di fasilitas perawatan mental sore tadi," suara Hendra terdengar berat.
Nata terdiam, menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang menghadap ke laut Singapura. Tidak ada rasa sedih, tidak ada pula rasa gembira yang meledak. Hanya sebuah perasaan hampa yang aneh.
"Bagaimana penyebabnya?" tanya Nata datar.
"Gagal jantung. Sepertinya tekanan mental dan kebangkrutan total merusak fisiknya terlalu cepat. Dia tidak meninggalkan apapun kecuali tumpukan hutang yang kini sudah dihapusbukukan karena dia tidak punya aset lagi untuk disita," jelas Hendra.
"Terima kasih atas kabarnya, Pak Hendra. Tolong bantu urus pemakamannya secara layak, tapi jangan gunakan nama saya atau Kirana. Gunakan dana dari yayasan sosial kita."
Nata menutup telepon. Ia menarik napas panjang. Musuh besar dari masa lalunya kini benar-benar telah menjadi debu. Danu Prawira meninggal tanpa pernah tahu bahwa keponakan yang ia tindas adalah orang yang secara sistematis meruntuhkan kerajaannya.
Ia segera menghubungi Kirana. Ia harus menjadi orang pertama yang memberi tahu adiknya sebelum berita itu sampai lewat media atau orang lain.
"Kirana... ini soal Paman Danu," Nata memulai dengan nada yang sangat lembut.
Setelah mendengar penjelasan Nata, Kirana terdiam cukup lama di seberang telepon. Nata bisa mendengar isak tangis kecil adiknya. Bukan tangis kesedihan karena kehilangan sosok paman, tapi tangis pelepasan atas trauma bertahun-tahun yang akhirnya benar-benar berakhir.
"Sudah selesai sekarang, Kak? Benar-benar selesai?" tanya Kirana dengan suara bergetar.
"Benar-benar selesai, Kirana. Tidak ada lagi yang bisa menyakiti kita dari masa lalu. Sekarang, kita hanya punya masa depan," jawab Nata meyakinkan.
Kematian Danu Prawira bagi Nata adalah penutupan satu lingkaran hidup. Kini, ia bisa fokus sepenuhnya pada ekspansi. Seminggu kemudian, Marcus Chen menghubunginya.
"Analisis di flashdisk itu... bagaimana kamu bisa tahu devaluasi Rupiah dan Baht akan terjadi sedalam itu bulan ini?" suara Marcus di telepon terdengar sangat terkejut, sekaligus penuh rasa hormat.
"Pola, Marcus. Semuanya hanyalah pola. Jadi, apakah kita bisa mulai bicara soal pendirian perusahaan manajemen aset di Singapura?"
"Datanglah ke kantor pusat perbankan keluarga saya besok jam empat sore. Ayah saya ingin bertemu denganmu," jawab Marcus.
Nata tersenyum tipis. Jangkarnya di Jakarta sudah kokoh, dan sekarang layarnya di Singapura mulai mengembang sempurna. Ia bukan lagi sekadar remaja yang ingin bertahan hidup. Ia sedang bertransformasi menjadi seorang maestro keuangan yang akan mengatur detak jantung ekonomi kawasan.
Sambil mematikan lampu apartemennya, Nata menatap ke arah pelabuhan yang sibuk di bawah sana. Kapal-kapal besar datang dan pergi, membawa komoditas dari seluruh dunia. Namun Nata tahu, komoditas paling berharga saat ini sedang mengalir di kabel-kabel bawah laut dalam bentuk bit dan data—dan ia adalah pemilik kuncinya.
"Prawira Global tidak akan pernah berhenti di sini," gumamnya pada kegelapan malam.
Garis takdir baru ini bukan lagi sekadar peta pelarian. Ini telah menjadi blueprint sebuah imperium yang tak terlihat namun menguasai segalanya.
Bersambung.....