Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Berhasil
Saat ini Nan Wei berada di rumahnya, dia pulang dengan alasan ingin mandi terlebih dahulu. Dia juga sudah menolak ajakan Ibu Xia yang memintanya untuk makan.
Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, Nan Wei duduk di dalam kamarnya dan mengeluarkan roti dan pisang.
"Wah rotinya lumayan besar!" Nan Wei sangat senang melihat rotinya yang lumayan panjang.
Dia segera membagi dua, dan akan memakan sisanya besok pagi.
Nan Wei merasa sudah kenyang setelah menghabiskan roti dan pisang. "Sabar! Tidak lama lagi kita makan nasi putih yang wangi!" katanya sambil mengusap perut.
Setelah beristirahat sejenak, Nan Wei beranjak dan pergi ke rumah orang tuanya. Dia takut, Kakak ipar pertama mengaduknya sampai gosong.
***
"Kenapa kalian berkumpul?" tanya Nan Wei setelah masuk halaman dan melihat semua anggota keluarga mengelilingi tempat di mana dia mengaduk.
Tiba-tiba Nan Wei meraskan firasat buruk, jangan-jangan benaran gosong, atau kakak ipar pertama menumpahkannya.
"Ibu datang...!" seru Zhao Yu dengan gembira sambil berlari mendekat, tapi kemudian berhenti dari jarak satu meter.
Namun hatinya lega saat Nan Wei menggenggam tangannya sambil tersenyum. Dia hanya belum terbiasa, jadi perasaan was-was masih dia tunjukkan.
"Nan Wei airnya berubah jadi minyak!" kata Kakak ipar pertama sambil menunjuk kuali yang sudah dia angkat dari atas api.
"Nak apa yang terjadi?" tanya Ibu Xia dengan takjub.
"Kamu bilang, kelapa ini akan menghasilkan hal yang sangat berguna. Maksudmu minyak ini?" tanya Ayah Nan Wei.
Nan Wei tersenyum puas, ternyata mereka berkumpul karena sudah melihat hasil dari kerja kerasnya.
"Ya inilah hasilnya, dan minyak goreng sangat berguna. Apa Kakak ipar akan memujiku?" tanya Nan Wei dengan bercanda.
Kakak ipar tanpa ragu langsung mengangguk, karena siang tadi Nan Wei berkata bahwa dirinya akan memujinya wanita yang pintar.
"Ya. Kamu ternyata sangat pintar. Bisa menemukan cara membuat minyak goreng!" pujinya dengan tulus.
"Nak bagaimana kamu bisa tahu kepala tua menghasilkan minyak?" tanya Ayah Nan Wei mewakili yang lainnya.
Nan Wei terdiam, untung dia sudah menyiapkan alasannya. Jika mereka tidak percaya, itu bukan urusannya, karena tidak mungkin dia mengatakan jika dirinya berasal dari dunia maju.
"Ayah, saat kepalaku terbentur, aku bertemu dengan seseorang lelaki tua berbaju putih dan berjenggot panjang. Dia memintaku untuk berubah, karena perbuatan Kepada kalian tidak akan membawa keberuntungan. Dan dia juga memberitahuku banyak hal!"
Semua orang memandang Nan Wei dengan mata terbelalak. Karena hal yang disebutkan Nan Wei perna dikatakan oleh seorang peramal.
"Jika seseorang bertemu laki-laki tua berambut putih dalam mimpinya, maka dia sangat beruntung Karena orang itu adalah guru agung yang keberadaannya tidak diketahui"
Nan Wei sedikit bersalah, karena sudah berbohong, apalagi melihat wajah mereka sangat terkejut, seolah-olah mendapat harta karun.
"Nak apa kamu melihat wajahnya?"
"Aku tidak tahu. Setelah terbangun, aku sudah tidak bisa mengingat bagaimana wajahnya!" jelas Nan Wei dengan lugas.
"Nak. Kamu jangan ceritakan mimpimu ini kepada orang lain. Dan kalian juga, cukup kita saja yang tahu!" pinya Ayah Nan Wei dengan tegas.
"Baik Ayah!"
"Baik Kakek!"
"Tentang Nan Wei yang menemukan cara menghasilkan minyak juga jangan sampai diketahui oleh orang lain. Ini bisa kita gunakan untuk mendapatkan uang!" kata Ibu Xia.
"Kami mengerti!" katanya dengan serempak. Bagaimana mungkin mereka memberitahu orang lain.
Nan Wei hanya terdiam, karena dirinya sudah mengarang cerita. Tapi untuk masalah minyak, dia setuju.
Sebelum banyak yang mengetahui caranya, dia harus menghasilkan banyak uang lebih dulu.
"Nak jadi apa yang ingin kamu lakukan dengan minyak ini?" tanya Ibu Xia dengan wajah berseri-seri, entah sejak kapan terakhir kali mereka memiliki minyak goreng di rumah, itupun dari hasil lemak.
"Ibu. Minyaknya disaring dulu! Kita lanjutkan besok pagi saja!" kata Nan Wei. Karena saat ini sudah jam 10 malam, semua warga Desa sudah tidur.
"Ya benar. Ibu hampir lupa.!"
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah, dan menunggu hari esok dengan perasaan tidak sabar.
Nan Wei juga mengajak ketiga anaknya untuk pulang, dia juga sudah sangat lelah seharin bekerja.
Setelah melihat anak-anaknya sudah bersih, Nan Wei meminta mereka untuk segera tidur. Dan dirinya juga masuk kamar untuk beristirahat.
Tapi setelah beberapa menit, dia merasakan seseorang di depan pintu kamarnya. Suasana yang sepi, membuat pendengaran Nan Wei sangat tajam.
Dia beranjak, dan mengintip dari lubang kecil. Nan Wei melihat Zhao Xi berdiri di depan kamarnya.
Tanpa menunggu lama, Nan Wei membuka pintu yang membuat Zhao Xi sangat terkejut sehingga dia melangkah mundur.
"Ibu..!" Suaranya bergetar. Entah dia takut atu gugup.
"Kamu? Ada apa, kenapa belum tidur?" tanya Nan Wei.
Zhao Xi mendongak, dia menatap wajah ibunya di kegelapan. Dia hanya bisa melihat dengan bantuan cahaya bulan.
"Maaf!" katanya dengan lirih.
Nan Wei tertegun, dia dengan cepat mengetahui arah pembicaraan Zhao Xi. "Kenapa kamu minta maaf?" tanyanya penasaran.
Jika di masa depan anak ini tetap menjadi Psikopat, tentu Nan Wei tidak akan tinggal diam. Dia tidak takut, dia bisa beladiri. Dan yang lebih penting, bukan dirinya yang menyiksanya.
"Aku sudah salah paham!" katanya sambil menunduk. "Kamu bisa menghukumku!" lanjutnya.
Nan Wei mengangkat tangan lalu mengusap kepala Zhao Xi dengan pelan. Anak ini sudah mengerti yang namanya tanggung jawab, dia berani mengakui kesalahannya..
"Tidak masalah. Itu juga karena Ibu yang selalu berbuat jahat dengan kalian. Jadi, apa kamu mau memaafkan ibu?"
Zhao Xi yang masih menikmati usapan tangan Ibunya segera tersadar. Dia akhirnya merasakan yang Zhao Yu rasakan.
Zhao Xi mendongak sambil menatap ibunya dengan intens. Dia merasa, orang yang berdiri dihadapannya bukanlah ibunya, tapi wajahnya sangat mirip. Dan jujur saja, dia lebih suka Ibunya yang sekarang.
"Ya. Jangan memukul kami lagi!"
Nan Wei tiba-tiba memeluk Zhao Xi, hatinya sangat sakit mendengar permintaan anaknya. Itu berarti, kesabaran Zhao Xi sudah habis.
Jika pemilik tubuh masih sempat menghukum atau memukulnya sekali lagi, mungkin Zhao Xi tidak akan pernah memaafkannya.
Dalam alur cerita, Zhao Xi akan berlatih bela diri setelah berumur 10 tahun. Dan orang yang melatihnya tidak dijelaskan dengan rinci.
Tapi yang pastinya, orang itu sangat hebat. Sampai Zhao Xi dijuluki Dewa perang saat dewasa nanti.
Namun, Nan Wei tidak akan membiarkan Zhao Xi belajar bela diri hanya karena ingin balas dendam, dia akan menerapkan hal baru kepada anak-anaknya.
"Ibu janji tidak akan pernah memukul kalian lagi." kata Nan Wei setelah melepaskan pelukannya sambil mengusap air mata di sudut mata Zhao Xi.
"Ibu...!"
Tiba-tiba terdengar panggilan dari arah belakang, saat keduanya menoleh mereka melihat Zhao Xu berdiri di ambang pintu kamar.
Zhao Xu terbangun untuk buang air kecil, dan dia mendapati tempat tidur Zhao Xi yang kosong. Tapi saat membuka pintu, dia melihat Zhao Xi dan Ibunya sedang berpelukan.
Nan Wei tersenyum, dia meminta Zhao Xu untuk mendekat, dan langsung memeluk kedua anaknya, dia sudah menyadari Langkah kaki Zhao Xu dari awal.
"Ternyata begini rasanya memiliki seorang anak!" gumam Nan Wei dalam hati.
.
.
.
.