Ternyata, Aku Cinta Pertamanya!
Bagi Lettu Kowad dr. Shaneen Kamila Mari, cinta adalah masa lalu yang penuh luka dan benteng pertahanan yang harus dijaga ketat. Namun, dunianya yang kaku dan perfeksionis seketika runtuh saat Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel—seorang Komandan Batalyon raksasa, dingin, dan berkuasa—datang membawa taktik perang kilat untuk melamarnya secara resmi.
Shaneen mengira ini hanyalah perjodohan birokrasi militer biasa. Ia tidak pernah tahu, di balik ketegasan dan perlindungan senyap sang Letkol, ada rahasia besar yang tersimpan rapat sejak masa berseragam putih-abu-abu. Di balik labirin berkas pernikahan dinas yang kaku, Shaneen akhirnya harus menghadapi kenyataan manis yang tak pernah ia duga seumur hidupnya bahwa pria tangguh itu tidak sedang mampir, melainkan sedang menjemput takdir yang sempat tertunda.
Sebab bagi Letkol Reyes, Shaneen bukanlah sekadar pilihan. Sejak awal, ia adalah satu-satunya misi yang harus dimenangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Panggilan Tugas Mendadak
Matahari baru saja merangkak naik, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca besar sebuah rumah modern klasik bernuansa mahoni. Suasana di dalam rumah itu awalnya begitu tenang, hanya dipenuhi oleh aroma harum sisa masakan subuh. Namun, ketenangan pagi itu seketika pecah oleh dering nyaring yang intens dari ponsel milik Lettu dr. Shaneen.
Bukan, itu bukan lagi pesan konyol bin heboh dari Ayu dan Yunita di grup WhatsApp "Tiga Pendekar Tukang Gosip" yang biasanya sibuk membahas rumor markas atau skin care terbaru. Kali ini, nama yang tertera di layar ponsel adalah nama yang langsung membuat detak jantung Shaneen berpacu lebih cepat: Kepala Poliklinik Kesehatan (Kapolkes) Pusdikmil. Beliau adalah otoritas medis senior yang bertanggung jawab penuh atas seluruh jalannya uji kesehatan dan seleksi di ksatrian pendidikan tersebut.
Shaneen yang saat itu sedang duduk di tepi tempat tidur langsung menegakkan punggungnya. Refleks seorang prajurit tidak bisa berbohong walau hanya memegang ponsel, tubuhnya secara otomatis mengambil sikap siap sempurna.
"Siap. Selamat pagi, Dokter," ucap Shaneen dengan nada suara yang bulat, tegas, dan penuh hormat.
"Selamat pagi, dokter Shaneen. Maaf seribu maaf karena saya harus mengganggu waktu istirahat pasca-pernikahanmu yang seharusnya sakral," suara di seberang telepon terdengar agak panik, berat, dan dipenuhi latar belakang suara bising khas markas yang sedang sibuk. "Namun, kita baru saja dihantam situasi darurat di tim seleksi bintara remaja pagi ini. Dua dokter penguji fisik utama mendadak mengalami kecelakaan beruntun saat menuju markas dan saat ini harus dilarikan ke ruang perawatan. Mereka mengalami cedera yang membuat mereka tidak mungkin bertugas hari ini."
Kapolkes menghela napas berat sebelum melanjutkan, "Hari ini adalah tahapan krusial, dokter Shaneen. Ini penentuan kelulusan untuk pemeriksaan fisik, anatomi, dan rehabilitasi para calon anggota TNI. Kita dikejar tenggat waktu dari Komando Atas. Kami tahu statusmu di sini hanyalah personel BKO yang diperbantukan dari RSPAD. Namun, tidak ada dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi terbaik selain dirimu yang memiliki ketelitian setingkat intelijen dalam menyeleksi cacat fungsi otot, kelainan tulang, dan sendi bintara remaja. Hanya kamu satu-satunya dokter ahli yang bisa kami hubungi dan kami andalkan dalam radius sekompleks ini. Bisakah kamu merapat ke Pusdikkes sekarang juga?"
Mendengar perintah kedinasan yang teramat penting demi masa depan calon-calon prajurit negara, jiwa Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) di dalam diri Shaneen langsung bergolak hebat. Rasa lelah pasca-resepsi pernikahan mewah kemarin seolah menguap begitu saja, digantikan oleh adrenalin dinas yang membakar semangatnya.
Sebenarnya, dinas harian tetap Shaneen adalah di RSPAD Ibu Kota Pusat Timur, Ibu Pertiwi sebuah rumah sakit pusat yang penuh dengan protokoler ketat. Namun, selama dua minggu terakhir ini dia memang sedang ditugaskan BKO di Pusdikmil. Secara geografis, letak markas Pusdikmil ini berada dalam satu kompleks militer yang terintegrasi dan bertetangga langsung dengan markas Yonif Para Raider—tempat di mana suaminya, Letkol Infanteri Reyes Adrian Miguel, bertugas sebagai pucuk pimpinan tertinggi batalyon.
"Siap, perintah dimengerti, Dokter! Tidak ada kendala. Saya segera merapat ke Polkes dalam waktu tiga puluh menit!" jawab Shaneen tanpa ragu sedikit pun.
Setelah sambungan telepon terputus, Shaneen langsung bergerak dengan kecepatan taktis. Langkah pertamanya adalah segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beruntung, ritual memasak di dapur bar lantai bawah sudah dia selesaikan sejak pagi tadi sebelum dia kembali ke kamar untuk bersantai sejenak.
Jangan salah, meskipun Shaneen dikenal sebagai dokter militer yang super sibuk dengan urusan klinis, stetoskop, dan tumpukan rekam medis pasien yang menggunung, dia adalah koki andalan yang sangat disegani. Di kalangan tim pencinta alam atau saat melakukan pendakian gunung, Shaneen selalu ditunjuk sebagai kepala dapur logistik. Masakannya selalu juara, kaya akan rempah-rempah nusantara, dan memiliki cita rasa kuat yang selalu berhasil mengundang selera di tengah dinginnya puncak gunung yang ekstrem.
Pagi ini, Shaneen telah mengeksekusi menu tumis daging sapi lada hitam dengan potongan daging yang empuk dan aroma lada yang sangat menggoda selera, dipadukan dengan sup sayur bening yang segar dan kaya akan vitamin. Awalnya, dia hanya berniat memasak untuk dirinya sendiri yang mengira akan ditinggal bertugas seharian oleh Reyes. Namun, entah dorongan dari mana, saat sedang mengemas makanan ke dalam wadah di dapur tadi pagi, jemarinya justru bergerak menyiapkan porsi besar.
Shaneen sengaja mengeluarkan kotak bekal ganda berbahan thermal yang mampu menjaga suhu makanan tetap hangat dalam waktu lama. Dia menata nasi putih hangat, tumis daging lada hitam, dan sup bening itu ke dalam dua porsi yang cukup untuk dimakan dua orang dewasa. Ada rasa tanggung jawab baru yang menggelitik hatinya. Sebagai seorang istri sah dari seorang Letkol, Shaneen merasa bertanggung jawab atas asupan energi suaminya. Meskipun singa jantan itu belum tahu sama sekali kalau hari ini Shaneen mendapatkan panggilan dinas dadakan dan batal beristirahat di rumah.
Sebenarnya, alasan Letkol Reyes memberikan memo dispensasi libur satu hari untuk Shaneen bukan hanya agar sang istri bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah berdiri berjam-jam di pelaminan kemarin. Hari ini seharusnya menjadi jadwal pengosongan dan pemindahan seluruh barang pribadi Shaneen dari Mess Kowad Pusdikmil—tempatnya menumpang selama masa BKO—untuk diangkut menggunakan truk logistik menuju Rumah Dinas Jabatan Danyon. Reyes ingin memastikan semua barang istrinya sudah tertata rapi di rumah dinas baru mereka sebelum masa cuti pernikahan mereka habis dan mereka benar-benar pindah dari rumah pribadi tersebut. Namun, panggilan darurat dari Kapolkes pagi ini jelas menjungkirbalikkan seluruh rencana logistik tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit pagi ketika Shaneen selesai bersiap. Penampilannya kini telah berubah total. Dia sudah tampil sangat rapi, anggun, sekaligus berwibawa dengan seragam Pakaian Dinas Harian Kowad yang melekat pas di tubuh proporsionalnya. Papan nama kuningan di dadanya berkilat bersih, dan tanda pangkat Letnan Satu terpasang sangat simetris di kedua pundaknya. Rambutnya disanggul kencang dengan gaya resmi, tanpa menyisakan sehelai pun rambut berantakan seperti penampilannya tadi subuh.
Saat melangkah terburu-buru menuruni tangga marmer menuju pintu utama sembari menjinjing paper bag cokelat berisi kotak bekal ganda dan tas medisnya, Kepala Pelayan rumah yang paruh baya buru-buru mendekat dengan raut wajah yang dipenuhi rasa cemas.
"Nyonya, apakah perlu saya bantu bawakan tasnya? Atau saya panggilkan sopir pribadi milik Tuan untuk mengantar Nyonya?" tanya sang pelayan dengan suara takzim.
"Tidak usah, Bi. Terima kasih banyak. Saya sudah sangat terbiasa melakukan segalanya sendiri," jawab Shaneen sembari memberikan senyuman tipis yang ramah namun menyiratkan ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Watak mandiri seorang Shaneen memang tidak bisa luntur begitu saja hanya karena dia sekarang sudah menyandang status sebagai istri seorang perwira menengah dan mendiami rumah mewah ini. Dia lebih memilih menyambar kunci mobil HR-V putih miliknya sendiri yang terparkir di garasi. Begitu masuk ke dalam kabin, Shaneen menyalakan mesin, menginjak pedal gas, dan membelah jalanan dengan ritme berkendara yang cepat, taktis, namun tetap aman.
Untungnya, letak rumah pribadi milik Reyes ini berada di kawasan strategis yang sangat dekat dengan kawasan ksatrian. Karena markas Pusdikmil dan markas Yonif Para Raider berada dalam satu kompleks militer yang luas dan saling terhubung, Shaneen hanya membutuhkan waktu kurang dari dua puluh menit untuk melewati gerbang pemeriksaan utama kompleks dan tiba di Polkes Pusdikmil.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, mobil HR-V putih milik Shaneen perlahan memasuki area parkir ksatrian Pusdikmil. Suasana di area pusat pemeriksaan kesehatan tampak sangat padat dan riuh. Udara pagi yang mulai memanas dipenuhi oleh ratusan pemuda berambut botak plontos yang hanya mengenakan celana pendek putih dan nomor dada—para calon bintara TNI yang sedang mengantre dengan rapi di bawah pengawasan ketat para sersan instruktur untuk menjalani tahapan seleksi fisik.
Shaneen turun dari mobilnya dengan langkah kaki yang tegap dan penuh percaya diri. Tangan kirinya menjinjing tas medis, sementara tangan kanannya mendekap erat paper bag cokelat berisi bekal makanan hangat. Karena terburu-buru mengejar waktu tenggat yang diberikan oleh Kapolkes, Shaneen berjalan setengah berlari menyusuri koridor luar gedung Staf Personel. Pandangannya lurus ke depan, fokus pada tujuannya, tanpa sempat melirik ke kanan atau ke kiri.
Namun, pergerakan terburu-buru dari sang dokter medis yang baru saja melewati malam pertamanya itu ternyata tidak luput dari pandangan sepasang mata tajam yang sedang berdiri di dekat area pos penjagaan dalam ksatrian. Pria yang sedang berdiri di sana adalah Letnan Satu Infanteri Yudha, ajudan pribadi tepercaya Letkol Reyes. Sebagai perwira muda yang mengurus seluruh agenda sang Danyon, Lettu Yudha terkenal memiliki mata setajam intelijen batalyon yang mampu menangkap detail terkecil di sekitarnya.
Lettu Yudha yang awalnya sedang mencatat sesuatu di papan dada refleks menegakkan tubuhnya. Dia mengucek matanya beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya di bawah terik matahari pagi ini tidak sedang salah arah.
Lho, itu kan Dokter Shaneen? Bukankah Komandan memberikan dispensasi libur khusus untuk Ibu Danyon hari ini untuk mengurus pindahan barang dari Mess Kowad? Mengapa beliau malah ada di sini dengan seragam PDH lengkap? batin Lettu Yudha dengan dahi berkerut heran.
Melihat bagaimana sang dokter membawa tas bekal besar dan berjalan dengan ritme taktis yang sangat terburu-buru memasuki ruang pemeriksaan fisik, insting loyalitas Lettu Yudha sebagai ajudan pribadi langsung menyala. Yudha tahu betul bagaimana watak komandannya yang teramat protektif jika menyangkut urusan sang istri. Tanpa membuang waktu sepeser pun, perwira senior itu melangkah ke area yang lebih sepi, meraba saku celana PDL-nya, mengambil ponsel pribadi, dan langsung mencari nomor kontak atasan tertingginya—Letkol Reyes.
Di seberang sana, di dalam ruang komando batalyon yang berjarak beberapa ratus meter dari posisi Yudha berdiri, suasana tampak kontras. Ruangan ber-AC itu terasa dingin namun menegangkan. Letkol Infanteri Reyes Adrian Miguel sedang duduk di kursi kebesarannya, memimpin rapat evaluasi taktis mingguan bersama para Komandan Kompi dan staf batalyon. Lembaran-lembaran peta taktis dan dokumen berserakan di ataS meja panjang.
Ketika ponsel pribadi Reyes yang diletakkan di atas meja jati bergetar pelan dan menampilkan nama "Lettu Yudha", Reyes langsung menaikkan satu alis tebalnya. Sebagai komandan, Reyes tahu betul watak ajudannya. Yudha tidak akan pernah berani mengganggu atau menelepon dirinya di tengah-tengah jam rapat dinas yang penting jika urusan tersebut tidak bersifat "darurat" atau melibatkan hal yang sangat krusial.
Reyes mengangkat tangan kanannya, sebuah gerakan pendek yang langsung membuat Danki Kompi Senapan A yang sedang memaparkan laporan seketika menghentikan kalimatnya. Seluruh perwira di dalam ruangan langsung menahan napas, suasana menjadi sunyi senyap. Reyes menggeser tombol hijau di layar ponsel, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Ada apa, Yudha? Laporkan," ucap Reyes dengan suara baritonnya yang berat, dingin, dan penuh otoritas.
"Siap, mohon izin melaporkan langsung, Komandan!" suara Lettu Yudha terdengar agak pelan dan setengah berbisik di ujung telepon, berusaha keras menjaga kerahasiaan informasi agar tidak terdengar oleh prajurit lain di sekitarnya. "Saya baru saja melakukan pengamatan visual dan melihat pergerakan dari Ibu Danyon, Dokter Shaneen, di area ksatrian Polkes pagi ini."
Mendengar nama Shaneen disebut oleh ajudannya, tatapan mata elang Reyes yang tadinya fokus pada peta taktis seketika menajam. Aura di sekitar tubuh jangkungnya mendadak berubah menjadi lebih intens. "Dokter Shaneen? Bukankah saya sudah memerintahkan dan menandatangani memo agar dia beristirahat di rumah?"
"Siap, betul Komandan. Perintah tertulis dari Komandan sudah sah. Namun berdasarkan informasi cepat yang saya himpun, tampaknya Ibu Danyon mendapatkan panggilan darurat langsung dari Kapolkes Pusdikmil sekitar satu jam yang lalu. Beliau diminta memimpin tim seleksi fisik bintara remaja pagi ini karena dua tim penguji utama mengalami kecelakaan beruntun dan tidak ada personel pengganti yang memiliki kualifikasi KFR di markas saat ini."
Yudha menarik napas sejenak sebelum menambahkan detail yang paling krusial, "Dan mohon izin menambahkan informasi bumbu visual, Komandan. Saya melihat Ibu Danyon datang dengan menjinjing sebuah paper bag cokelat yang cukup besar di tangan kanannya. Berdasarkan analisis jarak dekat saya, benda itu tampak sangat identik dengan wadah bekal makanan ganda berinsulasi hangat."
Reyes terdiam sejenak di kursi kebesarannya. Mulutnya tidak mengeluarkan suara, namun otak taktisnya yang biasa digunakan untuk merancang strategi pertempuran kini bekerja dengan kecepatan penuh untuk mencerna laporan sang ajudan. Sebuah senyuman tipis—yang teramat tipis hingga hampir tidak terlihat oleh para Danki di depannya—terukir di sudut bibirnya yang kokoh.
Gadis imut itu... sudah dibilang istirahat dan tunggu barang-barangnya dipindahkan dari mess kowad, malah nekat datang dinas karena panggilan darurat. Bahkan sampai membawa bekal ganda segala, batin Reyes. Ada rasa gemas yang luar biasa membuncah di dadanya, namun di sisi lain, ada rasa bangga yang mendalam atas dedikasi tinggi istrinya yang tidak pernah mengabaikan tugas negara, sekecil apa pun itu.
Sebagai seorang perwira menengah yang bijaksana dan sangat paham hukum militer, Reyes tahu betul bahwa dia tidak boleh menggunakan otoritas jabatannya untuk menginterupsi atau mengganggu jalannya seleksi negara yang sedang dipimpin oleh istrinya di Pusdikmil. Proses seleksi bintara adalah hal yang sakral bagi institusi TNI.
"Baik, Yudha. Laporan diterima," perintah Reyes dengan nada suara bariton yang kembali merendah, namun kali ini terdengar teramat protektif, dingin, dan penuh penekanan. "Tetap pantau posisinya dari jarak aman tanpa mengganggu jalannya proses seleksi fisik. Pastikan tidak ada perwira muda, instruktur, atau bintara remaja yang bertindak kurang ajar, melirik, atau menatap terlalu lama ke arah istri saya selama proses pemeriksaan berlangsung. Mengerti?"
"Dan satu lagi," Reyes mengetukkan jemarinya ke meja kerja. "Begitu seluruh urusan pemeriksaan fisik Dokter Shaneen di Pusdikmil selesai siang ini, perintahkan dia untuk tidak langsung pulang ke rumah, melainkan langsung menghadap saya ke Mako Batalyon. Jelas?"
"Siap, perintah teramat dimengerti dan siap dilaksanakan, Komandan!" jawab Lettu Yudha dengan nada tegas sebelum Reyes memutus sambungan telepon secara sepihak.
Reyes meletakkan kembali ponselnya di atas meja jati, lalu mengedarkan pandangan mata elangnya yang kembali dingin ke arah para perwira komandannya yang sejak tadi menunggu dengan sikap takzim dan penasaran. Atmosfer di dalam ruang rapat yang tadinya kaku dan menegangkan, entah mengapa mendadak terasa sedikit berbeda karena kilat mata sang Letkol yang tampak lebih hidup.
"Kita percepat rapat evaluasi taktis ini menjadi lima belas menit selesai," ujar Reyes sembari mengetukkan pulpennya ke atas meja dengan ritme yang konstan dan tegas. "Paparkan poin-poin pentingnya saja. Setelah rapat ini selesai, kembali ke kompi masing-masing dan lakukan pengawasan internal."
Para perwira komando kompi hanya bisa saling berpandangan sekilas dan mengangguk serempak, menyadari bahwa perubahan ritme rapat yang mendadak dari sang komandan batalyon raksasa mereka tidak lain dan tidak bukan adalah karena urusan sang dokter militer cantik yang baru saja sah menjadi belahan jiwanya semalam. Taktik pengepungan total Letkol Reyes tampaknya akan kembali berlanjut, namun kali ini areanya bergeser ke dalam teritorinya sendiri di Markas Komando siang nanti.
Sementara itu, di dalam aula pemeriksaan fisik Pusdikmil yang berukuran luas dan berudara cukup gerah, Shaneen sedang berada di puncak profesionalismenya. Jas putih dokternya kini melapisi seragam PDH kowadnya. Sepasang mata sayunya yang biasanya terlihat lembut kini berubah menjadi teramat tajam, fokus, dingin, dan tidak melewatkan detail anatomi sekecil apa pun.
Sebagai dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR), tugas Shaneen hari ini benar-benar menjadi benteng pertahanan terakhir. Dia harus mengecek satu per satu dari ratusan calon bintara yang berdiri tegap di hadapannya. Jari-jarinya yang ramping namun kuat dengan cekatan memeriksa ruang gerak sendi, kesimetrisan tulang belakang (skoliosis atau lordosis), fungsi refleks saraf ekstremitas atas dan bawah, hingga cara berjalan serta tumpuan kaki para calon prajurit.
Deteksi dini yang dilakukan oleh Shaneen akan menentukan masa depan mereka. Jika dia meloloskan calon yang memiliki cacat fungsi otot tersembunyi, calon tersebut dipastikan akan tumbang atau mengalami cedera fatal yang bisa berujung cacat permanen saat menahan beban latihan tempur yang super ekstrem di lapangan kelak. Shaneen bekerja tanpa lelah, memberikan instruksi dengan suara yang lantang, tegas, dan penuh wibawa khas perwira medis. Fokusnya tidak terpecah sedikit pun, konstan memeriksa barisan demi barisan hingga calon bintara terakhir selesai dievaluasi tepat saat jarum jam menunjukkan pukul satu siang.
Begitu Shaneen selesai menandatangani berkas rekam medis final, menyerahkannya kepada staf administrasi, dan berpamitan secara resmi dengan Kapolkes Pusdikmil yang berulang kali mengucapkan terima kasih, dia akhirnya bisa menghela napas lega. Shaneen melangkah keluar dari aula pemeriksaan yang riuh itu sembari menyeka peluh tipis yang sempat muncul di dahinya menggunakan selembar tisu.
Namun, baru beberapa puluh meter Shaneen melangkah menyusuri koridor luar gedung yang beralaskan semen, langkah tegap seragam PDH-nya langsung dihadang oleh sosok perwira yang sudah sangat familier. Lettu Yudha sudah berdiri di sana dengan sikap siap sempurna, menghalangi jalur jalannya dengan senyuman formal yang tertahan.
"Selamat siang, Ibu Danyon. Mohon izin," ucap Lettu Yudha dengan nada suara yang teramat takzim dan penuh hormat. Panggilan baru itu tak pelak membuat Shaneen sedikit kikuk dan salah tingkah, mengingat statusnya yang baru berubah dalam hitungan jam.
"Selamat siang, Lettu Yudha. Ada apa?" tanya Shaneen sembari merapikan posisi tas medis dan paper bag cokelat yang masih setia berada di dekapannya.
"Siap, mohon izin menyampaikan perintah langsung dari Komandan Batalyon, Ibu. Berhubung seluruh urusan pemeriksaan dan dinas darurat Anda di Pusdikmil telah selesai dilaksanakan, Anda diminta untuk segera merapat dan menghadap beliau di gedung utama Markas Komando Yonif Para Raider sekarang juga," ujar Yudha dengan tegas namun tetap sopan.
Shaneen sempat menghentikan langkahnya, dahinya berkerut tipis penuh keheranan. "Menghadap? Di jam seperti ini? Apakah ada urusan dinas atau masalah rekam medis prajurit yang bersifat darurat yang harus saya tangani di Mako, Lettu Yudha?"
"Siap, untuk detail urusannya saya kurang tahu, Ibu. Namun Komandan menegaskan bahwa ini adalah perintah dinas resmi dan beliau saat ini sudah menunggu kehadiran Anda di dalam ruang kerja transit pribadi beliau," jawab Yudha, berusaha keras menahan kedutan di sudut bibirnya agar tidak membongkar rencana manis sang komandan.
Shaneen hanya bisa menghela napas panjang, pasrah pada keadaan. Dia tahu betul bahwa di dalam kompleks militer ini, perintah dari seorang Letkol berkedudukan Danyon seperti Reyes adalah hukum mutlak yang tidak bisa didebat oleh seorang Lettu seperti dirinya.
Sembari kembali mendekap erat paper bag cokelatnya—yang untungnya wadah bekal berbahan thermal di dalamnya bekerja dengan sangat baik sehingga makanan berupa tumis daging lada hitam itu dijamin masih berada dalam kondisi hangat dan segar—Shaneen melangkah kaki meninggalkan area Pusdikmil. Dia berjalan kaki menyusuri jalan aspal kompleks militer yang menghubungkan kedua markas tersebut, mengingat jaraknya yang memang bertetangga dekat.