cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
koridor Fakultas Ekonomi terasa lebih lengang. Langit, yang biasanya sudah nangkring di depan lobby dengan kacamata hitamnya, hari ini absen total. Pesan singkatnya tadi pagi cuma bilang: "Sayang, hari ini gue dikunci Haikel di perpus pusat. Kalau tugas ini nggak kelar, kita nggak bisa lulus bareng. Pulang naik taksi online ya, atau bareng Felicia. I love you, Tembok Beton gue!"
Jelita menghela napas, ada rasa lega sekaligus rindu. Lega karena dia bisa sedikit bernapas tanpa pengawasan "bodyguard" posesifnya, tapi juga rindu pada aroma woody yang selalu menenangkannya.
"Jee, kantin yuk? Gue laper banget, tadi pagi nggak sempet sarapan," ajak Felicia sambil merangkul pundak Jelita.
Jelita mengangguk. "Yuk, gue juga butuh kafein."
sisa udara dingin Lembang seolah masih menempel di kulit jelita. hari ini, langkahnya di lorong Fakultas Ekonomi terasa sedikit lebih ringan, meski wajahnya masih sering merona sendiri setiap kali ingatan tentang "sesi tutor" di villa itu melintas. Langit benar-benar telah mengubahnya. Dari gadis yang kaku seperti beton, kini Jelita memiliki binar di matanya yang sulit disembunyikan.
"Jee, lo beneran sehat kan? Dari tadi senyum-senyum sendiri kayak orang menang lotre," celetuk Felicia sambil menyenggol bahu Jelita saat mereka berjalan menuju kantin.
Jelita tertawa kecil, mencoba menetralkan ekspresinya. "Sehat kok, Fel. Cuma lagi dapet asupan oksigen yang bagus aja di Bandung kemarin."
"Halah, asupan oksigen apa asupan kasih sayang dari si Bapak Posesif itu?" goda Felicia yang langsung disambut cubitan kecil di lengannya oleh Jelita.
Kantin pusat sedang dalam kondisi puncaknya. Aroma bakso, soto, dan obrolan mahasiswa yang riuh memenuhi udara. Jelita dan Felicia sibuk mencari meja kosong, tidak menyadari bahwa dari arah berlawanan, segerombolan mahasiswa Teknik sedang berjalan dengan langkah lebar.
BRAKK!
Karena terlalu fokus mencari tempat duduk, Jelita tidak melihat sosok tinggi yang melangkah terburu-buru dari arah belokan rak minuman. Tubuh mungil Jelita terhuyung ke belakang saat bahunya bertabrakan keras dengan dada bidang seseorang. Buku-buku di pelukannya nyaris jatuh jika sebuah tangan tidak dengan sigap menahan pinggangnya.
"Sori, sori... gue nggak liat," suara itu rendah, berat, dan sangat familiar di telinga Jelita.
Jelita mendongak, berniat meminta maaf, namun kata-katanya tertelan kembali ke tenggorokan. Seluruh saraf di tubuhnya mendadak lumpuh. Dunia seolah berhenti berputar tepat di depan gerai jus buah itu.
Di depannya, berdiri seorang pria dengan kaos hitam dan jaket denim. Wajah itu... wajah yang identik dengan pria yang baru saja memeluknya erat di Bandung. Tapi auranya berbeda. Tidak ada binar jahil, tidak ada tatapan sengklek. Yang ada hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan kerinduan yang begitu dalam hingga terasa menyakitkan.
"Jelita?" gumam laki laki itu pelan
Jelita membeku. Seluruh saraf di tubuhnya mengalami kelumpuhan total. Tembok beton yang sudah diruntuhkan Langit dengan susah payah selama satu tahun, mendadak kembali berdiri tegak dalam hitungan detik. Ia tidak bisa bicara, tidak bisa marah, bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. Yang ia rasakan hanyalah rasa dingin yang merayap dari kakinya hingga ke jantung.
MEMORI YANG MENYAKITKAN
Saat mata mereka bertemu, ingatan Jelita langsung terlempar ke lima tahun lalu. Ia teringat koridor SMA yang sepi, saat ia secara tidak sengaja melihat Yayan sedang berciuman dengan gadis lain di depan toilet. Ia ingat bagaimana gadis itu melepaskan tautan bibirnya hanya untuk memberikan senyum mengejek yang paling menghina pada Jelita.
Lalu, memori pahit lainnya muncul. Saat Jelita dilabrak oleh empat orang teman gadis itu, Yayan datang. Jelita sempat berharap Yayan akan membelanya, tapi kenyataannya lebih menyakitkan: Yayan justru menarik tangan gadis itu, berjalan melewati Jelita seolah ia hanyalah debu yang mengganggu jalan mereka.
Penghinaan itu... rasa malu itu... semuanya kembali menyerbu Jelita sekarang.
"Jee... ini beneran lo?" Yayan bergumam, matanya menyisir wajah Jelita dengan tatapan yang sangat haus akan kehadiran gadis itu.
Jelita tersentak. Kesadarannya kembali. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah lari sejauh mungkin. Ia mencoba melepaskan diri dari dari Yayan, bermaksud kabur dan menghilang di antara kerumunan mahasiswa. Namun, Yayan jauh lebih cepat.
Begitu Jelita melangkah mundur, Yayan meraih tangan Jelita, menahannya dengan genggaman yang kuat namun lembut.
"Tunggu, Jee. Tolong... jangan pergi dulu," pinta Yayan. Suaranya terdengar sangat putus asa.
Jelita terdiam. Ia tidak mengeluarkan kata-kata makian. Ia tidak marah-marah seperti biasanya. Ia hanya diam, memasang wajah sedingin es, kembali menjadi "patung cor-coran" yang dulu selalu dikeluhkan Langit. Ia menatap tangannya yang digenggam Yayan dengan tatapan kosong.
"Lepas," hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Jelita. Suaranya sangat kecil, tapi tajam.
Yayan menggeleng pelan. "Gue nggak bakal lepasin lo lagi sebelum lo denger penjelasan gue. Kenapa lo lari di Alfamart waktu itu? Kenapa lo selalu menghindar?"
Jelita akhirnya mendongak, menatap Yayan tepat di bola matanya. dan lagi tatapan mereka saling mengunci, Yayan tersentak melihat tatapan itu. Tidak ada benci, tidak ada marah, hanya ada kehampaan yang sangat dalam. Dan bagi Yayan, kehampaan jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.
"Karena lo nggak penting lagi, kak," bisik Jelita.
Yayan merasa jantungnya diremas. "Nggak penting? Setelah apa yang kita laluin di SMP? Setelah ribuan tatapan mata itu?"
"Tatapan mata itu berakhir di koridor toilet SMA, saat lo milih cewek lo daripada gue," balas Jelita telak. "Lo udah buat pilihan lo lima tahun lalu. Dan sekarang, gue udah buat pilihan gue."
Jelita menatap pergelangan tangannya yang masih di pegang yayan
suasana riuh itu seolah penuh keheningan bagi mereka berdua. pekikan Felicia tidak terdengar bagai mengambang di dalam air dan tatapan teman teman yayan yang mungkin saja paham.
"..OMG" pekik Felicia
Felicia kira tadi yang memegang tangan jelita itu langit.. tapi aroma ini aroma aroma buku usang yang telah lama tertutup terbuka lagi seolah debu debu berterbangan.
"jee.. dia bukan langit lo? kok bisa mirip banget sama cowok lo" bisik Felicia yang tak di hiraukan jelita
"tapi gue pengen ngomong sama lo jee.. sebentar aja.. "
Jelita tidak menjawab. Ia memberikan sentakan keras pada tangannya hingga terlepas dari genggaman Yayan. Kali ini, Yayan tidak menahannya lagi. Ia berdiri mematung, melihat Jelita berbalik dan berjalan pergi dengan langkah kaki yang gemetar namun dipaksakan tetap tegak.
Felicia segera mengejar Jelita, meninggalkan Yayan yang masih mematung. ini lah yang bikin yayan prustasi otak nya selalu gak bisa sinkron sama apa yang dia mau. dia ingin mengejar dan tidak akan membiarkan jelitanya pergi lagi. tapi kakinya tetap tertanam di tempat yang sama.
"Jee! Tunggu!" Felicia merangkul pundak Jelita yang ternyata sudah sangat dingin. "Lo nggak apa-apa? Gila, itu cowok beneran mirip banget sama Langit! Gue hampir pingsan liatnya!"
Jelita tidak menjawab. Begitu sampai di taman fakultas yang sepi, kaki Jelita mendadak lemas. Ia terduduk di kursi taman, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan tangisnya pecah begitu saja. Ia menangis bukan karena rindu pada Yayan, tapi karena ia takut. Takut masa lalunya akan merusak kebahagiaan indahnya bersama Langit.
...----------------...
Yayan pulang ke rumah dengan kondisi yang sangat berantakan. Ia langsung masuk ke kamar tanpa menyapa siapa pun. Di dalam kamar, ia memukul tembok dengan frustrasi.
"Jelita... lo beneran udah benci sama gue?" gumamnya lirih.
"tapi gue gak bisa biarin lo pergi lagi jee.. " suaranya rendah
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣