"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 21
Setelah menerima telepon dari adik bungsunya, air mata Mila tak hentinya mengalir. Kedua saudara kandungnya tak tahu kalau ia dan Hardi sudah berpisah. Karena Rahman dan Maya tak memberitahu mereka. Adik-adiknya sadar ketika hari raya tiba sang kakak tak datang berkunjung.
Hampir 30 menit, Mila dan adik bungsunya yang masih sekolah SMA mengobrol. Mila menceritakan semua yang terjadi dan alasan perpisahannya. Bahkan, Mila sengaja memblokir nomor orang tuanya, adiknya dan orang-orang terdekat keluarganya. Hal itu dilakukan untuk menjauhi diri sejenak dari rasa kecewa dan sakit hati. Satu jam berlalu, akhirnya Mila dapat tertidur.
Tepat jam 3 pagi, Mila kembali terbangun. Ia melangkah ke kamar mandi mengambil wudhu. Diatas sajadah, ia mengadu kepada Sang Pencipta agar hati kedua orang tuanya luluh. Ia merindukan memeluk dan mengecup punggung tangan keduanya. Mila juga berdoa meminta kemudahan jodohnya, walaupun ia tak memaksa segera dipertemukan.
Hampir 30 menit di atas sajadah, terdengar suara keributan dari luar. Mila membuka mukenanya dan bergegas keluar. Ternyata, tetangga depan rumahnya sedang panik sebab anak bungsu laki-lakinya mengalami demam tinggi. Seluruh penghuni kos-kosan yang beberapa telah kembali tampak keluar dan mendekat.
"Bawa ke rumah sakit yang lebih besar aja!" saran Mila.
"Naik apa ke sana? Rumah sakitnya sangat jauh!" kata ibu si anak.
"Apa ada yang bisa mengendarai mobil? Kami baru saja sampai, suamiku sangat kelelahan!" seru seorang ibu muda lainnya, kebetulan dia dan keluarganya tiba pukul 10 malam.
"Hasbi aja, dia bisa menyetir!" sahut seorang pria paruh baya.
Mila mendekati Hasbi dan menatapnya, "Mas, bisa nyetir?"
Hasbi mengangguk kecil.
"Tolong, ya, Mas Hasbi!" mohon ayah si anak.
"Baiklah, aku akan mengantarkan kalian!" kata Hasbi.
Ibu muda pemilik mobil gegas ke kamarnya begitu juga dengan Hasbi mengambil dompet dan jaket. Ibu muda kembali ke kerumunan lalu menyerahkan kunci kendaraannya kepada Hasbi.
"Mila, ikut aku!" pinta Hasbi.
Tanpa menolak, Mila ke kamar mengambil cardigan dan menggunakannya tak lupa tasnya ia selempangkan.
Mila duduk di samping Hasbi yang bertugas menyetir. Sepasang suami istri dan anaknya berada di bangku penumpang belakang.
Selang 20 menit mereka tiba di rumah sakit. Jika di waktu padat lalu lintas perjalanan bisa menghabiskan waktu 45 menit.
Hasbi dan Mila menunggu di luar IGD, keduanya duduk bersebelahan dengan sedikit jarak.
Hasbi membuka jaketnya dan menyerahkannya kepada Mila.
Mila berhenti sejenak mengusap telapak tangannya dan menoleh ke arah Hasbi. "Buat apa, Mas?"
"Pakai!"
"Aku udah pakai ini!" Mila menyentuh ujung cardigan panjangnya.
"Tapi, masih terasa dingin 'kan?" Hasbi menatapnya.
"Lalu Mas Hasbi bagaimana?" tanya Mila apabila dia menggunakan jaket.
"Jangan khawatir 'kan aku, pakai aja!" jawab Hasbi.
Mila mengambil jaket itu dan memakainya, tubuhnya mulai menghangat. Padahal, tadi sudah memakai 2 lapis. Ya, dia tak sempat mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang lebih layak dan hangat.
Beberapa menit kemudian, ayah si anak menghampiri Hasbi dan berkata, "Mas Hasbi, terima kasih sudah mengantarkan kami. Mas Hasbi dan Mbak Mila pulang saja. Anak kami harus dirawat beberapa hari disini untuk memastikan penyakitnya."
"Bagaimana dengan si kakaknya, Mas?" tanya Mila mengenai anak pertama pria dihadapannya yang tadi tak dibawa dengan alasan masih terlalu pagi dan tempat dikunjungi adalah rumah sakit.
"Kalau adeknya udah dipindahkan ke ruangan inap, saya akan menjemputnya!" jawab pria itu. "Sekalian mau ambil pakaian dan kebutuhan yang mau dibawa ke sini!" lanjutnya.
Hasbi dan Mila saling pandang sejenak.
"Maaf, sudah mengganggu waktu tidurnya!"
"Tidak apa-apa, Mas. Kita 'kan ini bertetangga, bukankah harus saling tolong menolong?" kata Hasbi.
"Aku mau bertemu si adek dulu sebelum pulang!" izin Mila kepada Hasbi.
Setelah diizinkan, Mila masuk ke ruangan IGD menemui tetangganya itu.
"Mbak Mila, terima kasih, ya!" ibu muda itu tampak sedikit lega perlahan anaknya mulai tenang dan tertidur.
"Sama-sama, Mbak. Ini ada sedikit uang buat kebutuhan selama di rumah sakit!" Mila menyodorkan uang 200 ratus ribu.
"Mbak Mila, enggak usah repot-repot!" ibu muda itu tampak segan.
"Enggak apa-apa, Mbak. Terima aja!"
"Terima kasih banyak, ya, Mbak." Ibu muda itu memeluk Mila karena merasa terharu.
Mila balik menghampiri Hasbi yang masih bicara dengan ayah si anak selang 10 menit.
"Mas, kami balik, ya. Kalau butuh sesuatu telepon saja!" kata Hasbi berpamitan.
"Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih!" ucap ayah si anak.
Hasbi dan Mila kini sudah berada di dalam mobil. Mesin dihidupkan dan perlahan meninggalkan rumah sakit.
"Seperti itu, ya, kalau anak lagi sakit?" Hasbi dapat melihat raut wajah kekhawatiran tetangganya.
"Aku juga pernah melihat temanku panik saat anaknya demam tinggi dan kejang," kata Mila. Ia ingat ketika menemani Della membawa anaknya ke rumah sakit.
"Bagaimana jika aku ada posisi mereka? Mungkin aku juga akan panik seperti itu?" Hasbi menoleh sejenak ke arah Mila, lalu kembali fokus ke depan. Ia memberikan kode kepada wanita disampingnya itu.
"Aku juga, Mas. Aku berharap kalau itu terjadi kepada anakku, aku berusaha tetap tenang. Tapi, sepertinya enggak tau juga, deh. Punya anak aja belum pernah!" kata Mila tertawa kecil.
"Makanya, segera nikah!" singgung Hasbi.
"Aku nikahnya nanti aja, tunggu Mas Hasbi duluan menikah!" celetuk Mila.
"Bagaimana kalau jodohnya aku itu kamu?" ceplos Hasbi.
"Ya, enggak apa-apa juga. Mau bagaimana lagi? Memangnya bisa ditolak, enggak juga, 'kan."
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔