NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Adea Kenapa?

Sore itu. Rumah mereka.

Angga pulang dengan tergesa-gesa.

Motor Kawasaki Ninja hitamnya masuk ke halaman dengan suara yang lebih keras dari biasanya—seolah mesinnya ikut merasakan kegelisahan pengendaranya. Ia mematikan mesin, melepas helm, dan menggantungkannya di stang tanpa peduli posisi.

Langkahnya cepat menuju pintu rumah.

Di ruang tamu, Seoul Lee sedang duduk di kursi dengan tangan bersilang. Wajahnya tegang. Begitu melihat Angga masuk, ia langsung berdiri.

"Adea mana?" tanya Angga. Napasnya masih sedikit memburu.

"Tadi aku cuma nemenin dia duduk di sini sebentar. Kita ngobrol dikit, tapi dia cuma jawab seperlunya. Terus dia ke dapur, nyeduh mi instan, trus masuk ke kamarnya." Seoul menunjuk ke arah lorong. "Udah sejam lebih, dia belum keluar."

Angga tidak menunggu Seoul selesai bicara. Ia sudah melangkah menuju lorong sempit, melewati pintu kamarnya sendiri, lalu berhenti di depan pintu kamar Adea.

Pintu itu tertutup.

Biasanya, pintu kamar Adea selalu sedikit terbuka. Bahkan saat ia tidur. Bahkan saat ia berganti baju. Cukup celah kecil agar Angga bisa mendengar jika gadis itu memanggil.

Tapi sekarang pintu itu tertutup rapat.

Angga meraih kenop pintu. Diputarnya perlahan.

Terkunci.

Dari dalam.

"Dea?" panggil Angga.

Tidak ada jawaban.

"De? Kamu di dalam kan? Buka pintunya~"

Angga mencoba membuat suaranya lembut. Tidak tegang. Tidak panik. Tapi jari-jarinya yang masih memegang kenop pintu terlihat sedikit gemetar.

Masih tidak ada jawaban.

Dari balik pintu, hanya terdengar suara helaan napas tipis atau mungkin imajinasi Angga sendiri.

"Tidur kali ya?" Seoul Lee menyusul dari belakang, berusaha menenangkan.

Angga diam sejenak.

Ia menempelkan telinganya ke pintu. Mendengar. Mencari suara. Napas Adea. Gerakan. Apapun.

Hening.

"Mungkin kecapean," ucap Angga akhirnya, melepaskan tangannya dari kenop pintu. "Ntar malem semoga aja dia keluar."

Ia berjalan kembali ke ruang tengah. Seoul mengikutinya.

"Dia emang sering kayak gini ya?" tanya Seoul.

Angga duduk di sofa. Kedua sikunya bertumpu pada lutut, wajahnya menunduk. Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Biasanya dia kayak gini pas lagi banyak pikiran."

"Banyak pikiran tentang apa?"

"Apa aja. Tugas. Ujian. Masa depan. Tapi yang paling parah..." Angga berhenti. Napasnya berat. "Dulu pas orang tuanya meninggal. Dia ngurung diri di kamar seminggu. Gak makan. Gak minum. Hampir..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Tapi Seoul mengerti.

Hampir meninggal.

"Lah..." Seoul duduk di kursi seberang. Wajahnya berubah pucat. "Sekarang dia kenapa? Jangan sampe dia ngurung diri seminggu lagi trus gak makan gak minum."

"Ntar deh. Kita liat nanti malem. Kalo dia gak keluar juga..." Angga menatap ke arah lorong. Matanya gelap. "...dobrak aja pintunya."

---

Malamnya.

Lampu-lampu rumah sudah dinyalakan. Di ruang tamu, televisi menyala tanpa suara. Hanya gambar bergerak yang tidak ada yang menonton. Seoul Lee duduk di kursi dengan ponsel di tangan, tapi matanya tidak fokus ke layar.

Angga berdiri di dapur.

Ia memasak nasi goreng.

Bukan nasi goreng biasa. Nasi goreng spesial dengan telur mata sapi setengah matang, kecap manis agak banyak seperti yang Adea suka, dan taburan bawang goreng yang melimpah. Menu moodbooster, begitu Adea biasa menyebutnya.

Angga menyendok nasi goreng ke piring putih kesukaan Adea. Ia menata telur di atasnya dengan hati-hati. Kuning telur masih utuh, sedikit bergoyang jika piring digoyang.

"Aku bantuin bawa susu," ucap Seoul dari belakang, mengangkat gelas berisi susu hangat.

Angga mengangguk. Ia mengambil piring nasi goreng, lalu berdua mereka berjalan menuju lorong.

Pintu kamar Adea masih tertutup rapat.

Masih terkunci.

Angga mengetuknya pelan. Tiga kali.

"Adeaa~! Makan malam kamu~! Ada telur setengah mateng, kesukaan kamu."

Suaranya lembut. Hangat. Seperti biasanya saat ia membangunkan Adea di pagi hari.

Tidak ada jawaban.

Angga hampir mengetuk lagi ketika-

Thud.

Suara kaki melompat dari kasur.

Langkah kecil terdengar mendekati pintu.

Klik.

Pintu terbuka sedikit, hanya selebar tangan Adea. Sebuah tangan mungil muncul, meraih piring nasi goreng dari tangan Angga. Begitu piring berpindah tangan, pintu hampir tertutup kembali.

Tapi Adea tidak menutupnya.

Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.

Matanya yang tadinya tidak terlihat kini muncul dari balik celah pintu. Mata itu menatap Seoul Lee yang berdiri di samping Angga, lalu jatuh ke gelas susu di tangan pria berambut ungu itu.

Adea mengulurkan tangan lagi.

Meminta.

Seoul Lee menatap Angga sekilas. Angga mengangguk kecil.

Seoul memberikan gelas susu itu ke tangan mungil Adea. Jari-jarinya menyentuh jari Seoul sebentar...dingin.

"Makasih," bisik Adea. Suaranya serak, seperti orang yang belum bicara seharian.

Lalu pintu tertutup kembali.

Klik.

Terkunci dari dalam.

---

Angga masih berdiri di depan pintu.

Ia menatap kayu di hadapannya. Pintu kamar yang sama yang ia kenal sejak pertama kali gadis itu tinggal bersamanya. Pintu yang biasa ia buka tanpa mengetuk, hanya untuk memastikan Adea tidak mati gaya tidur.

Sekarang pintu itu terasa asing.

"Damn..." Seoul Lee berdiri di sampingnya. Suaranya pelan. "Dia cuma ambil makanannya. Tapi dia gak ngajak kamu masuk."

"Gue lihat."

"Dia gak marah?"

"Dia gak pernah marah ke gue. Dia lebih suka diem dan ngurung diri."

Seoul Lee menghela napas. "Itu lebih parah dari marah."

Angga tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menuju dapur. Seoul mengikutinya, tidak tega meninggalkan Angga sendirian.

Di dapur, Angga membersihkan bekas masakan. Mencuci wajan, spatula, dan panci kecil untuk susu. Tangannya bergerak otomatis mencuci, membilas, mengeringkan.

Tapi matanya kosong.

Seoul duduk di meja makan, menonton.

"Ngga."

"Hm."

"Ada apa sebenarnya? Adea baik-baik aja pas pagi. Malah semangat banget. Terus kenapa tiba-tiba jadi kayak gini?"

Angga berhenti mencuci. Air masih mengalir dari keran, membasahi tangannya yang berhenti bergerak.

"Gue gak tahu."

"Kamu gak tanya dia?"

"Dia gak mau buka pintu. Lo liat sendiri."

"Sebelum dia ngunci diri. Di kantin. Atau di kampus. Apa gak ada yang aneh?"

Angga mematikan keran. Ia mengeringkan tangannya dengan handuk kecil di bahu, lalu berbalik menghadap Seoul.

"Gue gak di kampus kedokteran tadi. Gue ada urusan sama dosen."

"Sepanjang siang?"

"Iya. Sampe jam setengah empat."

Seoul menyandarkan punggung di kursi. Tangannya bersilang di dada.

"Jadi Adea dari jam setengah tiga sampai jam setengah empat... sendirian?"

"Gue minta lo jemput."

"Iya. Tapi pas aku jemput, dia udah beda. Matanya kosong. Dan dia gak nanya soal kamu sama sekali. Padahal seharusnya kan...pertanyaan pertama dia adalah 'Angga mana?'"

Angga tidak menjawab.

Ia hanya menunduk, menatap lantai dapur yang ubinnya mulai retak di beberapa bagian.

"Ada sesuatu yang terjadi di kampus," ucap Seoul pelan. "Dan Adea gak mau cerita ke kamu."

Angga mengangguk pelan. "Gue tahu."

"Kamu gak akan tanya?"

"Nanti. Kalo dia udah tenang. Kalo dia buka pintu."

"Kalo dia gak buka pintu?"

Angga mengangkat wajahnya. Menatap Seoul dengan mata yang gelap. Tapi bukan gelap karena marah. Gelap karena takut.

"Gue dobrak."

---

Jam 10 malam.

Pintu kamar Adea masih terkunci.

Piring nasi goreng sudah kembali ke dapur hampir habis, hanya tersisa sedikit nasi di pinggir piring dan kuning telur yang sudah pecah. Gelas susu kosong.

Adea makan.

Itu kabar baik. Setidaknya ia tidak mengulang masa lalu di mana ia tidak makan dan minum selama seminggu.

Tapi pintu masih terkunci.

Angga duduk di sofa ruang tamu. Cumi di pangkuannya. Kucing itu mendengkur pelan, sesekali mengangkat kepala menatap wajah Angga yang murung, lalu kembali tidur.

Seoul Lee sudah masuk kamar, kamar Angga yang ia tempati sementara. Tapi pintunya sedikit terbuka. Ia tidak tidur. Ia hanya berbaring di kasur sambil memainkan ponsel, telinganya tetap waspada mendengar suara dari ruang tamu.

Di lorong, lampu kecil menyala redup.

Angga menatap ke arah lorong itu. Ke arah pintu kamar Adea yang masih tertutup.

"Dea," bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Gue di sini. Gue gak kemana-mana. Buka pintunya, ya."

Tidak ada jawaban.

Tapi dari balik pintu, terdengar suara isak tipis.

Hanya sesaat. Lalu hening.

Angga memejamkan mata.

Cumi mendengkur lebih keras, seolah mencoba menghibur.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!