NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasib Pak RT

Sudah empat minggu sejak Ustad Salim terbaring koma di rumah sakit. selama itu pula Pak RT Bambang tidak lagi bisa disebut manusia normal.

Tetangga yang dulu mengenalnya sebagai pria tambun dengan kemeja batik rapi dan senyum ramah, kini hanya bisa menggelengkan kepala setiap kali melihat sosok kurus kering berkeliaran di jalanan komplek pada malam hari.

Ia tidak lagi tinggal di rumahnya. Istrinya, Bu RT, sudah memutuskan untuk pindah ke rumah anaknya di kota lain seminggu yang lalu. Ia tidak tahan lagi.

Tidak tahan melihat suaminya berubah menjadi orang yang tidak ia kenal. Tidak tahan dengan teriakan-teriakan setiap malam.

Tidak tahan dengan bau anyir yang kini meresap ke setiap sudut rumah mereka. Ia pergi diam-diam, ketika Pak RT sedang berkeliaran di jalanan, hanya meninggalkan sepucuk surat yang ditulis dengan tangan gemetar.

"Pak, saya tidak kuat lagi. Maafkan saya. Saya akan mendoakan Bapak dari jauh."

Sejak itu, Pak RT benar-benar sendirian.

Setiap malam, ketika maghrib tiba, ia keluar dari rumahnya. Tidak dengan pakaian layak—baju tidur kusut yang sudah robek di beberapa bagian, kancing-kancingnya terlepas semua, memperlihatkan dada yang cekung dengan tulang rusuk yang menonjol.

Kain sarung yang ia kenakan sudah lusuh, warnanya tidak jelas lagi, bergelambir di ujung kaki. Ia tidak lagi memakai peci—rambutnya yang jarang dan kusut berdiri ke atas seperti orang yang baru tersengat listrik.

Tidak juga memakai sandal—kaki telanjangnya hitam kotor, kulitnya pecah-pecah, beberapa jarinya tampak bengkak dan berdarah karena menginjak batu atau pecahan kaca tanpa sadar.

Ia berjalan tanpa tujuan, tanpa arah. Kadang ke utara, kadang ke selatan. Kadang berhenti di tengah jalan, menatap kosong ke arah langit yang gelap. Kadang tiba-tiba berteriak, memekik, memecah kesunyian malam.

"ITU DIA! ITU DIA! LIHAT! DI BELAKANG POHON! MATANYA! MATANYA MERAH!"

Warga yang mendengar hanya bisa mengurung diri di dalam rumah. Mereka sudah belajar—jangan keluar setelah maghrib. Jangan mendekati Pak RT. Jangan mencoba menolong.

Karena setiap orang yang mencoba mendekati Pak RT, setiap orang yang mencoba menenangkannya, akan merasakan sesuatu yang aneh setelahnya. Mimpi buruk. Perasaan diawasi. Dingin yang tidak biasa di tengah malam.

Beberapa warga yang paling berani, yang masih memiliki rasa kepedulian, sesekali masih mencoba mendekat. Tapi tidak lagi untuk menolong. Hanya untuk memastikan Pak RT masih hidup. Hanya untuk memastikan ia tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.

Pak Dede, tetangga depan yang sudah lanjut usia, adalah salah satu dari mereka. Setiap malam, sekitar pukul sembilan, ia akan keluar rumah dengan senter di tangan, berjalan pelan menyusuri jalan komplek, mencari Pak RT. Ia tidak pernah mendekat—hanya melihat dari kejauhan, memastikan Pak RT masih berdiri, masih berjalan, masih bernapas.

Suatu malam, Pak Dede melihat sesuatu yang membuatnya ingin pindah dari komplek itu.

Ia sedang berdiri di teras rumahnya, senter di tangan, matanya menyusuri jalanan gelap di depan.

Bulan malam itu bersinar terang, purnama, membuat bayangan-bayangan pepohonan terlihat jelas di aspal. Udara dingin, seperti biasa. Tidak ada angin.

Dan kemudian ia melihat Pak RT. Berjalan pelan di pinggir jalan, sekitar lima puluh meter dari rumahnya. Tubuh kurus itu bergoyang-goyang seperti orang mabuk, kadang ke kiri, kadang ke kanan. Pak Dede sudah terbiasa melihat pemandangan itu.

Tapi malam itu, ada yang berbeda.

Di belakang Pak RT, ada bayangan. Bukan bayangan biasa yang terbentuk karena cahaya bulan. Bayangan itu hitam pekat, lebih hitam dari kegelapan malam itu sendiri.

Tingginya menjulang, sekitar dua kali tinggi Pak RT. Bentuknya tidak jelas—kadang seperti manusia, kadang seperti gumpalan asap yang berusaha membentuk sesuatu. Dan di bagian atas bayangan itu, dua titik merah menyala. Mata. Mata yang menatap lurus ke arah Pak Dede.

Pak Dede merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Senter di tangannya jatuh ke lantai teras dengan bunyi keras. Ia berkedip. Sekali. Dua kali.

Bayangan itu hilang.

Pak Dede masuk ke dalam rumah tanpa mengambil senternya. Ia duduk di kursi ruang tamu, tubuhnya gemetar. Istrinya yang sedang menonton televisi menatapnya heran.

"Pak, kenapa? Wajah Bapak pucat sekali."

Pak Dede tidak menjawab. Ia hanya menggeleng, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lihat hanyalah kelelahan. Hanyalah sugesti karena terlalu sering mendengar cerita-cerita horor tentang Pak RT. Hanyalah bayangan biasa yang salah ia lihat.

Tapi di dalam hatinya, ia tahu. Apa yang ia lihat itu nyata. Dan ia tidak akan bisa tidur malam itu.

Minggu-minggu berlalu. Kondisi Pak RT semakin memburuk.

Ia tidak lagi hanya berteriak. Kadang ia tertawa. Tertawa keras, panjang, tanpa sebab. Tertawa yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Tertawa yang tidak terdengar seperti tawa manusia—lebih seperti suara pecahan kaca yang digesekkan satu sama lain.

Kadang ia menangis. Menangis tersedu-sedu, duduk di pinggir jalan, tubuhnya bergoyang maju mundur, tangannya menutup wajah yang sudah tidak karuan bentuknya. Tangis yang menyayat hati, tangis yang membuat warga yang mendengarnya ingin ikut menangis meskipun tidak tahu apa yang mereka tangisi.

Kadang ia berbicara sendiri. Berbicara dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Berbicara dengan suara pelan, seperti sedang berbisik, seperti sedang berunding.

Kata-katanya tidak jelas—kadang bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa, kadang bahasa yang tidak dikenal siapa pun.

Dan setiap kali ia berbicara dengan suara pelan itu, beberapa warga yang kebetulan lewat di dekatnya melaporkan hal yang sama: mereka melihat bayangan hitam besar berdiri di belakang Pak RT. Bayangan dengan dua mata merah yang menyala. Bayangan yang seolah sedang mendengarkan apa yang dikatakan Pak RT, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.

Suatu malam, Pak RT tidak lagi berteriak.

Warga yang sudah terbiasa dengan kegaduhan malam hari tiba-tiba merasakan keheningan yang aneh. Keheningan yang tidak biasa. Keheningan yang lebih menakutkan daripada teriakan-teriakan histeris yang biasa mereka dengar.

Pak Dede keluar rumah dengan perasaan tidak enak. Senter di tangannya menyorot ke kiri dan ke kanan. Tidak ada Pak RT di jalanan. Tidak ada suara. Hanya angin malam yang bertiup pelan, membawa aroma aneh—aroma yang tidak pernah ia cium sebelumnya.

Ia berjalan menyusuri jalan komplek, diikuti oleh beberapa warga lain yang juga merasakan keanehan. Mereka berkelompok, saling berdekatan, senter-senter mereka menyorot ke setiap sudut gelap.

Mereka menemukan Pak RT di halaman masjid.

Masjid An-Nur. Masjid yang dulu menjadi pusat kegiatan keagamaan komplek. Masjid tempat Rafiq pernah menjadi imam. Masjid tempat Pak RT pernah memfitnahnya. Masjid tempat Ustad Salim meruqyahnya dan berakhir koma.

Pak RT duduk bersila di tengah halaman masjid, tepat di bawah langit terbuka. Bulan purnama bersinar terang di atasnya, menyinari sosok kurus kering yang duduk dengan punggung tegak—terlalu tegak untuk seseorang yang sudah berminggu-minggu tidak bisa tidur dan makan dengan benar.

Warga mendekati pelan, takut. Senter-senter mereka menyorot ke arah Pak RT, tapi ia tidak berkedip. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke depan, ke arah pintu masjid yang tertutup. Tapi tidak ada yang ia lihat.

Wajahnya... wajahnya berubah. Tidak lagi histeris. Tidak lagi panik. Tidak lagi ketakutan. Wajahnya kosong. Kosong total. Seperti tidak ada lagi kehidupan di balik mata yang terbuka lebar itu. Seperti jiwa Pak RT sudah pergi meninggalkan, hanya cangkang yang duduk bersila di halaman masjid.

Dan ia tersenyum.

Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang aneh. Senyum yang tidak pernah warga lihat di wajah Pak RT sebelumnya. Senyum yang terlalu tenang. Senyum yang terlalu damai. Senyum yang seharusnya tidak mungkin menghiasi wajah seseorang yang telah menderita seperti dirinya.

"Pak RT... Pak RT, Bapak baik-baik saja?" Pak Dede berusaha mendekat. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti mendekati binatang buas yang bisa menyerang kapan saja.

Pak RT tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang aneh.

Tidak ada yang bisa dilakukan warga. Mereka hanya bisa berdiri di halaman masjid itu, menatap Pak RT yang duduk bersila dengan senyum aneh di wajahnya, tidak bergerak, tidak berkedip, tidak bernapas seperti manusia normal.

Beberapa warga memanggil ambulans. Beberapa warga mencoba mendekat, mencoba membangunkan, mencoba merespons. Tidak ada yang berhasil. Pak RT tetap di sana, duduk bersila, tersenyum, dengan mata terbuka lebar menatap ke arah pintu masjid yang tertutup.

Ambulans datang tiga puluh menit kemudian. Para medis memeriksa denyut nadi, memeriksa pernapasan, memeriksa refleks mata. Mereka saling berpandangan dengan wajah bingung.

Secara medis, Pak RT masih hidup. Jantungnya berdetak. Paru-parunya masih bernapas. Tapi tidak ada respons. Tidak ada kesadaran. Tidak ada kehidupan di balik mata yang terbuka itu.

"Katatonik," kata salah satu medis. "Kami harus membawanya ke rumah sakit."

Mereka mencoba mengangkat Pak RT. Tapi tubuhnya terasa berat. Sangat berat. Seperti ada beban yang menekannya ke tanah. Empat orang medis berusaha mengangkat, tapi tidak bisa. Warga membantu—enam orang, delapan orang, sepuluh orang. Akhirnya, dengan dua belas orang, mereka berhasil mengangkat tubuh kurus kering itu ke tandu.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Pak RT tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak berbicara. Matanya tetap terbuka, menatap langit-langit ambulans yang putih. Dan di sudut mulutnya, senyum itu masih tersisa.

Pak RT meninggal tiga hari kemudian di rumah sakit. Tidak ada yang tahu penyebab pastinya. Dokter mengatakan "kegagalan multi-organ" tapi tidak bisa menjelaskan mengapa organ-organ seorang pria yang tidak memiliki riwayat penyakit kronis bisa gagal secara bersamaan.

Warga komplek mengurus pemakamannya. Jenazah dimandikan, dikafani, dishalatkan di masjid An-Nur—masjid yang sama di mana ia ditemukan duduk bersila dengan senyum aneh.

Tapi ketika keranda diangkat untuk dibawa ke pemakaman, sesuatu yang aneh terjadi.

Keranda itu berat.

Sangat berat.

Delapan orang yang pertama kali mencoba mengangkatnya tidak bisa. Keranda itu seperti terpaku di tempat, seperti ada yang menahannya dari bawah. Warga menambah jumlah—sepuluh orang, dua belas orang, lima belas orang.

Akhirnya, dengan dua puluh orang, keranda itu terangkat. Tapi setiap orang yang mengangkat merasakan dingin yang aneh. Dingin yang menjalar dari telapak tangan ke lengan, ke pundak, ke tulang belakang. Dingin yang membuat mereka ingin melepaskan, tapi tidak berani.

Di pemakaman, ketika jenazah diturunkan ke liang lahat, warga kembali merasakan keanehan. Tanah di dasar kubur basah. Bukan basah karena air rembesan—tanah di sekitarnya kering, tapi di dalam kubur, air menggenang setinggi mata kaki. Air yang tidak berwarna, tidak berbau, tapi dingin. Dingin sekali.

"Kuburan ini sudah dipakai bertahun-tahun, tidak pernah basah seperti ini," kata penggali kubur yang sudah puluhan tahun mengurusi pemakaman desa. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar saat mengisi tanah ke atas keranda.

Dan bau. Bau anyir, bau manis, bau yang mengingatkan pada sesuatu yang busuk. Bau yang tidak bisa dijelaskan. Bau yang keluar dari dalam kubur, dari tanah basah itu, dari kain kafan yang membungkus jenazah Pak RT.

Warga saling berpandangan. Tidak ada yang berani bertanya. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka hanya mengisi tanah lebih cepat, ingin segera menyelesaikan, ingin segera pulang.

Selesai pemakaman, mereka berjalan cepat meninggalkan kuburan. Tidak ada yang berani menoleh ke belakang.

Malam itu, di komplek perumahan, tidak ada yang berani keluar rumah. Setiap rumah mengunci pintu, menutup rapat jendela, menyalakan lampu di setiap ruangan.

Tapi beberapa warga yang rumahnya dekat dengan pemakaman melaporkan hal yang sama: dari arah kuburan, sekitar pukul dua belas malam, mereka mendengar suara. Suara orang tertawa. Tertawa pelan, tertawa panjang, tertawa yang tidak seperti tawa manusia.

Tawa itu terdengar semalaman.

Dan di atas kuburan Pak RT, tanah yang baru saja ditimbun itu selalu basah. Setiap pagi, warga yang lewat melihat genangan air di atas pusarannya, meskipun malamnya tidak hujan. Dan bau anyir itu tidak pernah hilang. Tidak pernah.

1
Afri
kafir .. Rafiq telah kafir ..
d balut dendam yg tak berkesudahan
TPI memang mereka yg jahat itu hrus dbalas
Afri
Thor tolong donk ada arti bahasa Indonesia nya .. GK semua org ngerti bahasa Jawa 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Bp. Juenk: siap. diusahakan berikutnya dibuatin terjemahan nya 🙏
total 1 replies
Afri
bagus .. saya suka
Afri
d terpa badai yg terus menerus .. akhirnya .. iman pun terkikis
sakit yg d luar batas merengut akal nya
kuat ya Rafiq💪💪💪
La Rue
aku bacanya siang hari karena kalau malam hih jadi merinding ,seram
Mila helsa
mntappp bget ceritanya,.byk pljrnbyg bisa d ambil..
mmng sgt sulit utk ikhlas pasrah PD ujian yg bertubi tubi,.melawan RS sakit hati,mnhdpi runtuhnya dunia,.dendam dn kecewa mengambil alih😭
tp utk mngmbil jln sesat jg akibatnya g main main,.yg ad hidup sudah hancur mlh mkin hancur,rugi dn menderita dunia akhirat, astaghfirullah
Mila helsa
wah kerasukan th c Tono
Mila helsa
penasaran siapa sbnernya mbh jaya ini,dn py hubungan AP SM kluarga c Rafiq ini,.kt nya dia mmng udh d tunggu.,ahh seruu penasarn
Mila helsa
astaghfirullah,itu berani muncul sndiri,.pasti jdi buronan itu lma²,d luar prediksi bmkg🤣kirain ngambilnya dr jarak jauh,busyett deh g main2 ini setan kerjanya terang²n🤭
La Rue
semakin mengerikan 😱
Mila helsa
merindinggg
Mila helsa
seru bget kl d ank ke luar lbar
Mila helsa
ceritanya seruu bget,.ayo kawan² baca,.byk hikmah yg bisa kita ambil d kisah ini,.ayo Thor .promosiin cerita ini,biar mkin rame
Bp. Juenk: gak tau cara promosi nya kk 🤭
total 1 replies
Tamirah
Cerita awal yg menyedihkan, dikala anaknya demam tinggi kok tega tega berbagi keringat dgn sahabat suami.bahkan putranya dititipkan pada mertua nya.istri model begini baik' nya diceraikan saja dan ambil hak asuh nya. karena gak layak jadi seorang ibu.
Rani Saraswaty
swkaranh kamu sudah tahu, nak
ini dunia yg sesungguhnya, yg menghujat karna matanya masih tertutup, skarang matamu sdh terbuka dan kamu tdk takut, itu yg jd kekuatanmu
Rani Saraswaty
tutup pintunya
Rani Saraswaty
kamu tidak bisa kembali seperti dulu
Rani Saraswaty
tidak ada jalan mundur, setelah ini
Rani Saraswaty
jadi, kamu sudah yakin?
Rani Saraswaty
sholat iku yang menghubungkan kamu dan tuhan mu, sholat itu yg menjagamu. selama kamu sholat kamu dalam lindunganNya. caraku tidak bisa jalan apabila kamu masih sholat, kamu hrs memilih Alloh atau balas dendam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!