Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Skandal Masa Lalu
Rahang Matteo mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Jika bukan karena satu utang budi di masa lalu—saat wanita ini membantunya menutupi jejak pelariannya yang kacau di Manila dua tahun lalu—Matteo bersumpah sudah akan melempar wanita ini keluar dari area M-Nexus sejak detik pertama dia menempel.
Namun, Cessie adalah tipe wanita yang tahu persis di mana titik lemah mangsanya.
"Lepaskan tanganmu, Cessie," desis Matteo, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. Ia masih memegang ponsel di telinga, mencoba fokus pada pembicaraan bisnis yang sebenarnya sudah kehilangan maknanya sejak Cessie datang merusak suasana.
"Kenapa? Takut istri misteriusmu itu lihat?" Cessie tertawa kecil, jemarinya justru semakin erat meremas lengan kemeja Matteo. "Atau kau takut aku akan membocorkan pada dunia tentang skandal memalukanmu di Manila? Tentang bagaimana seorang Matteo Smith yang terhormat hampir gila karena mengejar istri adik kembarnya sendiri?"
Matteo menutup teleponnya dengan kasar. Ia berbalik, menatap Cessie dengan tatapan ice blue yang sanggup membekukan darah. "Itu masa lalu yang sudah mati. Jangan pernah berani membawa-bawa nama Sheena di sini."
"Oh, jadi sekarang namanya sudah diganti menjadi Park Chae-young?" Cessie menyipitkan mata, suaranya mulai meninggi karena kecemburuan yang meluap. "Aku tidak percaya, Matt! Aku menemanimu dua tahun, menjadi bayanganmu, dan tiba-tiba kau mengklaim wanita butik itu sebagai istrimu? Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kau hanya butuh tameng untuk menutupi obsesi lamamu pada Sheena!"
"Diam!" bentak Matteo. Ia mencengkeram pergelangan tangan Cessie dan menyentakkannya menjauh dari lengannya. "Chae-young bukan tameng. Dia adalah ibu dari anak-anakku. Dan jika kau berani melangkah satu inci pun menuju apartemennya, aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang kau miliki di Filipina."
Cessie tertegun, nafasnya memburu. Ia melihat kilatan protektif di mata Matteo yang belum pernah ia lihat sebelumnya—bahkan tidak untuk Sheena. Ini bukan sekadar obsesi; ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, yang membuatnya merasa sangat kalah sebagai wanita.
"Kau... kau benar-benar menyukai wanita itu?" bisik Cessie dengan suara bergetar.
Matteo tidak menjawab. Ia hanya merapikan kerah jasnya yang berantakan akibat ulah Cessie, lalu berbalik tanpa memedulikan wanita itu lagi. Ia tidak tahu bahwa tepat saat ia sedang berdebat dengan Cessie, sebuah taksi yang membawa seluruh dunianya baru saja berputar balik karena patah hati.
Malam yang dingin di Mapo. Pukul sepuluh malam. Matteo berdiri di depan pintu apartemen Chae-young dengan perasaan yang tidak tenang. Teleponnya tidak diangkat, pesannya tidak dibalas. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang salah.
Begitu ia menekan bel, pintu terbuka sedikit. Namun bukan Chae-young yang menyambutnya.
Chan-yeol berdiri di sana. Bocah berusia empat tahun itu tidak mengenakan piyama, melainkan masih mengenakan kaus rumahan dengan tangan bersedekap di dada. Tatapannya dingin, persis seperti tatapan Matteo saat sedang menghadapi musuh bisnis.
"Daddy mau apa?" Tanya Chan-yeol to the point. Tidak ada lagi panggilan ceria, tidak ada lagi pelukan di kaki.
Matteo berjongkok agar sejajar dengan putranya. "Chan-yeol-ah, di mana Mommy? Daddy membawakan mainan yang Daddy janjikan tadi siang."
"Mommy sudah tidur. Dan mainan itu simpan saja untuk Aunty yang tadi siang memeluk Daddy," ucap Chan-yeol dengan nada datar yang menusuk.
Matteo membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Aunty? Chan-yeol, Daddy bisa jelasin?"
"Tidak ada yang perlu Daddy jelasin. Chan-yeol lihat semuanya. Mommy juga lihat tadi siang saat mau antar makanan untuk Daddy," Chan-yeol menatap lurus ke dalam mata biru ayahnya. "Mommy menangis di taksi. Chan-yeol benci Daddy."
Brak!
Pintu ditutup dengan keras tepat di depan wajah Matteo.
Matteo menyandarkan dahinya di daun pintu yang dingin. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Ia merasa menjadi pria paling bodoh di dunia. Ia terlalu sibuk menghadapi hantu masa lalunya sampai tidak menyadari bahwa ia baru saja menghancurkan kepercayaan yang dengan susah payah ia bangun bersama Chae-young.
Di dalam kamar yang gelap, Chae-young mendengar setiap patah kata putranya. Ia memeluk bantalnya erat, air mata kembali mengalir.
Skandal di Manila? Menyukai adik ipar sendiri?
Kata-kata Cessie yang sempat ia dengar samar saat ia mengintip dari kejauhan tadi, sebelum ia memutuskan putar balik kini terngiang-ngiang. Chae-young merasa dunianya runtuh. Ternyata pria yang ia pikir adalah pelabuhan terakhirnya, memiliki masa lalu yang jauh lebih rumit dan gelap daripada yang bisa ia bayangkan.
"Kenapa harus aku, Matteo?" Bisik Chae-young dalam isaknya. "Kenapa kau harus menarikku ke dalam kekacauan hidupmu?"
Di luar pintu, Matteo tidak beranjak. Ia duduk bersandar di dinding koridor, menunggu. Ia tahu, malam ini hanyalah awal dari badai yang jauh lebih besar, karena ia tidak hanya harus menghadapi rasa cemburu Chae-young, tapi juga luka di hati putra kecilnya yang baru saja belajar arti dari kata kecewa.