Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Ujian Tangga Awan
Berita mengenai pembukaan gerbang Sekte Puncak Awan menyebar layaknya api yang membakar padang rumput kering, melintasi ribuan gunung dan jutaan sungai di Benua Tengah.
Dari sisa-sisa kerajaan kuno yang hancur hingga ke klan-klan tersembunyi di dalam gua es abadi, setiap pasang telinga mendengar titah yang sama: Sekte Puncak Awan mencari sepuluh ribu monster yang berani menantang takdir.
Hanya dalam waktu singkat, tanah di bawah Benua Melayang Puncak Awan tidak lagi terlihat. Lautan manusia—mulai dari pangeran yang mengenakan sutra emas hingga rakyat jelata dengan pakaian compang-camping—berkumpul di sana. Mereka menatap ke atas, ke arah pulau raksasa yang melayang di atas awan, dengan mata yang dipenuhi oleh campuran antara teror dan harapan yang gila.
"Lihat! Itulah Benua Melayang yang legendaris!" seru seorang kultivator muda dari Wilayah Barat, tubuhnya gemetar karena kepadatan Qi spiritual yang turun dari atas. "Hanya menghirup udaranya saja sudah membuat hambatan kultivasiku bergetar!"
Di atas Benua Melayang, tepat di depan Gerbang Pemecah Langit, tiga sosok berdiri tegak layaknya pilar yang menopang langit.
Ye Fan dengan aura pedang yang terkendali namun mematikan, Su Yue yang dikelilingi oleh pendaran cahaya rasi bintang yang mistis, dan Lin Tian yang berdiri dengan tangan bersedekap, matanya yang sehitam jurang menyapu lautan manusia di bawah sana.
"Terlalu banyak lalat yang tidak tahu diri," gumam Lin Tian dingin. "Guru menginginkan monster, tapi yang datang kebanyakan hanyalah gandum yang menunggu untuk diirik."
"Sabar, Adik Lin," ucap Ye Fan tanpa menoleh. "Di antara jerami, pasti ada beberapa butir emas yang tersembunyi. Tugas kita adalah menyaring mereka."
Su Yue melangkah maju ke tepi benua melayang. Suaranya, yang diperkuat oleh Hukum Bintang, turun dari langit dengan kelembutan yang mematikan.
"Sekte Puncak Awan tidak menerima mereka yang hanya memiliki keberanian tanpa fondasi. Di hadapan kalian, terdapat Tangga Awan Sembilan Ribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan."
Su Yue menjentikkan jarinya.
WUSSHHH!
Dari tepi Benua Melayang, ribuan anak tangga yang terbuat dari kristal transparan turun dan menancap ke bumi. Setiap anak tangga memancarkan tekanan spiritual yang berbeda-beda.
"Hanya sepuluh ribu orang pertama yang berhasil mencapai puncak sebelum matahari terbenam dalam waktu tiga hari yang akan diterima sebagai Murid Pelataran Luar," lanjut Su Yue. "Ujian ini tidak menilai ranah kultivasi kalian, melainkan kemurnian Akar Dao dan ketangguhan tekad kalian. Silakan dimulai."
Mendengar instruksi tersebut, jutaan orang serempak menerjang maju. Suara deru langkah kaki mereka mengguncang bumi.
Namun, begitu kaki mereka menyentuh anak tangga pertama, jeritan keputusasaan mulai terdengar. Banyak dari mereka yang langsung terpental, memuntahkan darah karena tidak kuat menahan tekanan gravitasi yang secara instan menghimpit tulang mereka.
Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda berpakaian compang-camping dengan wajah yang penuh luka bakar melangkah perlahan. Namanya adalah Jiang Han. Dia tidak memiliki latar belakang keluarga yang mulia, bahkan Akar Roh-nya sebelumnya dianggap sebagai sampah di desanya. Namun, di matanya, ada api ketekunan yang sama dengan yang dimiliki Lin Tian dahulu.
"Aku... tidak akan kembali ke lumpur itu," bisik Jiang Han, giginya berderit saat ia menapakkan kakinya di langkah ke-seratus.
Di atas sana, di dalam Aula Pencerahan Surga, Lin Chen sedang duduk bersila, memantau seluruh proses melalui cermin air kosmik. Ia tidak melihat para pangeran yang membawa pusaka pelindung, melainkan matanya tertuju pada pemuda bernama Jiang Han itu.
"Menarik," gumam Lin Chen sambil menyesap tehnya. "Akar Roh Sampah, namun memiliki Hati Dao Besi Karat. Jika dia bisa bertahan, dia bisa menjadi anjing penjaga yang cukup baik untuk pintu belakang sekte."
Tiba-tiba, sebuah keributan terjadi di barisan depan tangga.
Seorang pemuda yang mengendarai kereta terbang kecil mencoba memintas tangga tersebut. Dia adalah putra dari seorang gubernur wilayah yang masih memiliki sedikit kekuasaan.
"Minggir kalian semua sampah! Dengan statusku, aku seharusnya langsung menjadi Murid Inti!" teriaknya sambil memecut kuda spiritualnya.
Namun, sebelum keretanya bisa melewati langkah ke-lima ratus, sebuah bayangan hitam melintas.
DUAARR!
Kereta itu hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pemuda sombong itu terlempar dan jatuh berguling-guling kembali ke dasar gunung.
Lin Tian mendarat di anak tangga tersebut dengan wajah tanpa ekspresi. Beliung hitamnya masih memancarkan asap tipis.
"Di Sekte Puncak Awan," suara Lin Tian terdengar berat dan penuh ancaman, "Hanya ada satu hukum: Kata-kata Guruku. Siapa pun yang mencoba menggunakan trik picik, Kursi Ini akan menelan jiwanya sebelum dia sempat memohon ampun."
Kesunyian mencekam melanda jutaan peserta ujian. Mereka menyadari bahwa sekte ini bukan hanya tempat yang diberkahi, tetapi juga sarang monster yang tidak mengenal ampun.
Lin Chen tersenyum tipis melihat ketegasan muridnya.
"Biarkan mereka berjuang sedikit lebih keras," batin Lin Chen. "Dunia luar mungkin menganggap mereka jenius, tapi bagiku, mereka hanyalah tanah liat yang harus dibakar dalam tungku penderitaan sebelum bisa dibentuk menjadi senjata."