Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Pelakor Muncul
Akhirnya Bu Nimas menyerah. Dia tidak lagi cerewet atau mengomel supaya para tetangganya tidak langsung pulang. Bisa hancur berantakan acara pengajian nanti malam kalau dia terus-terusan membela diri dan terlihat emosian di depan orang banyak.
"Huh! Ini semua gara-gara Sekar! Semenjak dia tinggal di sini, hidupku nggak pernah tenang!" gerutu Bu Nimas dalam hati sambil membanting pelan sendok sayur di dapur.
Sementara itu, Sekar cekikikan di dalam kamar. Suara ribut-ribut dari dapur itu rupanya terdengar sampai ke kamarnya.
"Hihihi, rasain! Emang enak? Makanya jadi mertua tuh jangan sadis. Sukanya nge-bully menantu, kena batunya kan sekarang..." gumam Sekar puas.
Setelah itu, Sekar kembali fokus ke aplikasinya. Dia sedang mengejar setoran tulisan. Alhamdulillah, ceritanya sudah dapat kontrak. Semoga bulan depan dia sudah bisa memetik hasil dari kerja kerasnya ini secara mandiri.
Seharian Sekar tidak keluar kamar. Kebetulan dia sedang datang bulan, jadi dia punya alasan kuat untuk tidak perlu sering ke belakang untuk ambil wudhu atau shalat. Sekar juga sudah sedia payung sebelum hujan, dia sudah membeli banyak snack dan roti untuk mengganjal perut. Jadi, meski dia berpura-pura sakit dan mengunci diri seharian, dia tidak akan kelaparan.
Lagian, mertuanya itu memang keterlaluan. Sudah tahu menantunya sakit, jangankan membelikan obat, menawari makan saja tidak.
"Untung aku sudah siap siaga. Jadi nggak perlu ngemis makan ke mereka." gerutu Sekar yang mulai bosan mendekam di kamar.
Ternyata, seharian tidak melakukan apa-apa itu cukup menyenangkan. Anggap saja ambil cuti setelah hampir setahun penuh diperas tenaganya seperti pembantu di rumah ini.
"Tumben jam segini Mas Ferdi belum pulang?" Sekar melirik jam dinding. Sudah sore.
"Isssh, pasti dia lagi asyik pacaran sama cewek itu. Heran deh, padahal ada istri cantik begini di rumah, masih aja gatel cari yang lain. Awas aja kalau sampai macam-macam, aku potong beneran itu 'asetnya' baru tahu rasa!" Sekar kesal sendiri membayangkan suaminya sedang bermanja-manja dengan wanita lain.
Sekarang, tidak ada lagi air mata untuk Ferdi. Semua tangisnya sudah habis dia tumpahkan di bahu Amelia, sahabatnya. Sekar sudah bertekad untuk menyerah. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari suami dan keluarga yang hanya memanfaatkannya saja.
**
Pukul lima sore, Sekar akhirnya keluar kamar karena badannya terasa lengket dan ingin mandi.
"Udah sembuh kamu? Apa cuma pura-pura sakit???" bentak Bu Nimas yang tiba-tiba muncul di depannya.
Sekar terlonjak kaget. Dia tidak menyadari mertuanya ada di sana. Buru-buru Sekar mengubah raut wajahnya menjadi lesu dan tak bertenaga. Akting dimulai.
"Aku beneran sakit, Bu... Ibu tega banget nuduh aku. Lihat nih, wajahku pucat begini." ucap Sekar dengan nada lemas. "Ibu juga jahat, nggak urusin aku sama sekali. Aku kan sakit karena kecapekan ngurus rumah Ibu. Apa Ibu memang rencana mau bikin aku mati pelan-pelan ya?"
Bu Nimas langsung gelagapan. Dia salah tingkah karena di ruang tengah masih ada dua orang kerabatnya yang belum pulang.
"Aduh, kasihan banget kamu, Sekar. Bulek sampai lupa kalau kamu lagi sakit. Eh, Nimas! Kamu gimana sih, menantu sakit bukannya diperhatiin. Kasih makan, kasih obat dong!" tegur salah satu kerabat Bu Nimas yang bernama Bulek Indri.
Bu Nimas mendengus kesal. "Ya lupa aku, In. Kan seharian kita sibuk masak buat acara nanti malam." dalihnya.
Bulek Indri berdecak, tapi dia memang melihat betapa sibuknya mereka di dapur tadi. "Ya sudah, Sekar duduk dulu di sini. Biar Bulek ambilkan makan."
Mata Bu Nimas melotot saat melihat Bulek Indri menyendokkan nasi dengan lauk yang sangat melimpah ke piring Sekar.
"In, jangan banyak-banyak! Itu paha ayam buat sajian tamu Yasinan nanti malam!" protes Bu Nimas pelit.
"Lah, kan masih banyak lebihnya, Nim. Dimakan Sekar satu potong doang nggak bakal bikin bangkrut. Sama menantu sendiri kok perhitungan..." Bulek Indri tetap menyodorkan piring itu ke Sekar. Tak hanya nasi, dia juga memberikan beberapa potong kue dan gorengan.
"In, kok dikeluarin semua sih? Sekar nggak bakal habis, dia kan lagi sakit!" Bu Nimas terus beralasan, padahal aslinya dia cuma nggak rela Sekar makan enak.
"Sekar habis kok, Bu. Kan seharian belum makan. Lagian kalau makan banyak terus minum obat, pasti cepat sembuh. Ya kan, Bulek?" sahut Sekar sambil mencari dukungan.
"Nah, bener itu! Makan yang banyak ya, Sekar.” dukung Bulek Indri.
Bu Nimas tidak bisa berkutik lagi. Dia hanya bisa menatap dengan tatapan tajam saat menantunya itu makan dengan lahap.
"Alhamdulillah, kenyang sekali. Makasih ya, Bulek..." seru Sekar setelah piringnya licin.
"Sama-sama, Sekar. Udah, sana minum obat terus istirahat lagi."
"Sekar mau mandi dulu, Bulek, biar seger. Makasih ya." pamit Sekar. Dia membawa piring kotornya ke dapur, tapi hanya meletakkannya di bak cucian.
"Huh, gaya benar kayak bos besar! Habis makan piring nggak dicuci!" gerutu Bu Nimas setelah Sekar pergi.
"Jangan gitu lah, Nim. Dia kan lagi sakit. Dimaklumi aja. Lagian biasanya kan Sekar yang ngerjain semuanya di rumah ini." celetuk Bulek Indri telak.
Sudah bukan rahasia lagi kalau keluarga Bu Nimas itu terkenal 'pelit jahe' alias meditnya minta ampun. Tetangga sekitar banyak yang prihatin melihat nasib Sekar. Bu Nimas hanya bisa bungkam dan melengos pergi.
**
Waktu pengajian Yasinan hampir dimulai. Sekar mulai gelisah karena sampai jam tujuh malam, suaminya belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Ngelayap ke mana sih Mas Ferdi?" gerutunya kesal.
Sekar akhirnya keluar bergabung dengan ibu-ibu grup Yasinan. Dia mengaku sudah merasa baikan setelah minum obat. Saat mereka sedang asyik mengobrol menunggu anggota lain lengkap, terdengar suara salam dari pintu depan.
"Assalamualaikum!"
Sekar menoleh, dan matanya langsung melotot sempurna. Bukan hanya karena Ferdi yang pulang, tapi karena di belakang suaminya ada sosok yang sangat dia kenal.
"Waalaikumussalam..." jawab ibu-ibu serempak.
Ferdi berjalan masuk dengan santainya, diikuti oleh Manda yang mengekor di belakangnya. Manda bahkan dengan percaya diri menyalami ibu-ibu pengajian satu per satu, seolah dia adalah bagian dari keluarga itu.
Wajah Sekar yang tadi berusaha ramah langsung berubah mendung. Hatinya panas membara.
Terakhir, Manda mengulurkan tangan untuk menyalami Sekar. Karena Sekar sedang dalam misi pura-pura sabar dan tidak tahu apa-apa, dia terpaksa membalas salaman si pelakor itu dengan tangan yang dingin.
"Bu, kenalin ini namanya Manda. Teman kerja aku di kantor. Pas tahu Ibu ada acara di rumah, Manda pengen ikut gabung. Kebetulan rumahnya nggak jauh dari sini. Nggak apa-apa kan kalau Manda ikut ngaji?" kata Ferdi memperkenalkan Manda dengan nada tanpa dosa.
"Wah... benar-benar ya. Sudah mulai terang-terangan mainnya. Oke, aku ladenin!" batin Sekar meradang.
"Mas, dia bukan selingkuhan kamu, kan?" celetuk Sekar tiba-tiba.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja seperti petir di siang bolong. Suasana yang tadinya riuh mendadak hening seketika. Ferdi dan Manda langsung pucat pasi dan salah tingkah di depan puluhan pasang mata ibu-ibu tetangga.
kapoooooooook