Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 Yang Pertama
Tawa di kamar pengantin baru itu berderai. Malam pertama setelah pasangan menikah paksa itu mengubah panggilan mereka.
"Lucu banget ya, Mas, tadi liat ndak muka Gus Yasa dan Ning Sarah waktu Umi bilang aku nanti jadi MC kalau ada acara akhwat di Ndalem. Ijo keruh gitu, hahaha...”
Santaka terkekeh. “Adek hebat, ndak tersinggung dibegitukan sama mereka. Maaf ya, sayang. Harusnya mereka ndak begitu.”
Mereka sedang menertawakan aksi polisi Ndalem oleh Abyasa dan Sarah, saat makan malam bersama. Seperti biasa, pasangan tertua itu melakukan intimidasi terhadap pasangan termuda di Ndalem.
Setelah Lastri mengutarakan ide, Nandini menjadi MC di acara akhwat atau khusus perempuan di Ndalem, Sarah mengatakan pada Lastri agar sebaiknya Nandini di belakang layar saja. Santaka tak tinggal diam. Ia membela istrinya.
Sang gus mengatakan kalau sosok selucu Nandini sebaiknya menjadi ujung tombak acara. Menggaet jamaah muda, yang suka malas datang ke kajian. Dan itu diamini oleh Lastri dan Mansur.
“Terima kasih ya Mas, selalu bela aku.” Nandini menatap Santaka sambil tersenyum manis. Sesaat Santaka tersihir melihat senyum itu.
Sekeliling kamar jadi terlihat buram, hanya sosok Nandini yang terpindai jelas di mata Santaka. Bibir yang sedang tersenyum itu merekah sempurna. Santaka menggelengkan kepalanya.
“Sudah kewajiban aku, sayang” Santaka mengembuskan napas. Ia merasa udara kamar agak pengap malam ini. Ia berdeham.
“OK, kita setor hafalan dulu. Sebelum nanti disetor ke Umi besok pagi.”
Nandini mengangguk. “Siap Pak Ustad.” Nandini mengulum senyum. Santaka tersenyum simpul.
Mereka terduduk di pinggir kasur. Nandini di dekat kepala ranjang. Keduanya saling berhadapan.
Nandini memulai setorannya. Satu surat. Al Insyiqaq. Bagian dari surat pendek Juz Amma.
Mata Nandini melirik ke arah kiri tengah. Bibirnya membulat saat menghafal. Santaka menelan ludah.
“Alhamdulillah... Yey, lancar...” seru Nandini saat menyelesaikan tugas setorannya.
“Alhamdulillah. Pinter banget, istrinya siapa sih?” Santaka mengulum senyumnya.
“Siapa ya? Tau tuh, suami aku sih kalem-kalem gitu. Bukan om-om genit kayak situ.” Nandini mengerlingkan matanya.
“Genit? Kapan aku genit?” Santaka mengerutkan hidungnya.
“Ngaca Mas, tuh gede di tembok.” Nandini menunjuk cermin di dinding dengan dagunya. Santaka tergelak. Ia menjawil hidung bangir istrinya.
"Mas, untung idung aku asli. Kalau hasil oplas, udah penyok dipencet terus sama Mas." Nandini mengelus hidungnya.
Santaka terkekeh. Matanya tak putus menatap sang istri. "Kalau yang lain, ada yang hasil oplas ndak?" Santaka memindai Nandini atas sampai bawah.
Nandini mendelikkan matanya. "Asli lah. Garansi seratus persen. Boleh test drive." Gadis itu tertawa tapi kemudian terdiam. Giliran Santaka yang tergelak.
"Kenapa diem? Takut ya diajak test drive?" Santaka masih terkekeh geli melihat wajah gusar Nandini.
Gadis itu tersenyum malu. "Iya..." Nandini tertunduk.
"Kamu lucu, kalau bahas begituan, malah malu-malu. Biasanya garang, bahas menjurus langsung meleyot." Santaka kembali terkekeh.
Nandini menonjok pelan lengan Santaka hingga tubuh sang suami miring. Tanda-tanda salah tingkah.
Santaka tangkap tangan sang istri, ia genggam erat. Ia mengayun-ayunkan tangan mereka. Nandini membiarkannya.
Tiba-tiba Santaka mencium tangan Nandini, cukup lama. Istrinya itu terkesiap. Wajahnya memerah.
“Maaf, aku refleks. Sudah lama pengen cium tangan kamu.” Suara Santaka mencicit.
Nandini tersenyum. “Kalau ngulang kayak akad nikah, boleh ndak?” Nandini mengerutkan alis mendengar pertanyaan Santaka.
“Cium jidat...” desis Santaka.
“Oh... Hhmm... boleh...” Nandini menunduk.
Santaka memajukan duduknya. Kini lutut mereka saling menempel. Dada sang gus berdegup kencang.
Jantung Nandini bergoyang heboh. Ia menggigit bibir. Detaknya makin menggila saat Santaka mengangkat dagunya.
Wajah teduh itu kemudian mendekat ke arah Nandini. Bibir hangat nan tipis mendarat di dahi mulus sang istri.
Santaka dan Nandini sama-sama memejamkan mata. Menikmati sensasi yang berbeda dibanding saat mereka akad nikah. Santaka membiarkan bibirnya berlama-lama menempel di jidat Nandini.
Santaka akhirnya mengakhiri aktivitas di dahi. Ia tersenyum. Mereka saling menatap dalam.
Mata Santaka mengarah ke bibir Nandini. Ia menipiskan bibirnya. Nandini menunduk.
“Kamu pernah ciuman?” Netra Santaka tak lepas dari organ berwarna merah alami milik istrinya.
Nandini menggeleng. Walaupun pernah berpacaran dengan Alex, ia tak mengizinkan sang mantan melakukannya.
Padahal Alex dulu kerap meminta. Mungkin itu salah satu penyebab sang mantan tak mau mengakui Nandini sebagai pacar ke hadapan publik. Merasa rugi, tak mendapat apa-apa.
“Mas pernah? Eh, ndak mungkin pernah ya?” Nandini terkekeh.
Santaka juga tertawa kecil. “Aku masih gres. Kamu bakal jadi yang pertama coba.”
Santaka menaik-turunkan alisnya. Nandini kembali tertawa. Menutupi tegangnya juga.
“Mau coba?” Suara Santaka berubah lebih berat. Nandini bergeming. Ia mau, hanya malu. Haruskah ia menjawab? Hajar sajalah Santaka.
Mendapati sang istri tak menjawab, Santaka menipiskan bibirnya. “Ndak apa-apa, aku masih bisa sabar kok.” Santaka membalikkan badannya.
Belum sempat lelaki itu bangkit dari duduknya, tangannya ditahan oleh Nandini. “Mau ke mana?”
Santaka kembali ke posisinya. “Ya, mau nanam sabar lagi, seperti biasa. Kan kamu belum mau. Ndak apa-apa.”
Nandini mengulum senyum. “Kata siapa ndak mau? Tapi... cukup sampe sini ya Mas. Aku belum siap lebih.”
Mata Santaka membulat, berbinar-binar. Dadanya kembali jumpalitan.
Sang Gus semakin merangsek ke arah Nandini. Ia tarik tubuh Nandini ke atas pangkuannya. Tak mau jika hanya berhadapan.
Mereka melakukan rekonstruksi adegan saat digerebek di mobil. Kali ini tanpa kecoa, tanpa telur, dan statusnya halal.
Santaka menarik jarum pentul di kerudung Nandini. Ia tusukkan sembarang di kasur. Ia lemparkan kerudung istrinya. Nandini terkikik.
Jari telunjuk besar Santaka menempel di bibir Nandini. “Sstt...” Nandini terdiam. Ia menelan ludah. Degup jantungnya sungguh berisik.
Santaka membelai rambut istrinya. Tangannya terus merambat ke arah rahang Nandini. Ibu jarinya membelai lembut bibir sang istri.
Bibir yang kerap Santaka elus jika sedang menyuapi sang istri. Sebentar lagi ia akan mengetahui derajat manisnya lengkung itu.
Kedua tangan Nandini mengelus dada Santaka. Ia salurkan tegang, ragu dan takut lewat sentuhan itu.
Wajah mereka saling mendekat. Setelah hidung mereka beradu, keduanya refleks memiringkan wajah. Mereka mengandalkan insting alami.
Akhirnya keduanya merasakan sensasi ciuman pertama. Bersama pasangan halal. Halal yang awalnya dipaksa.
Namun kini mereka tak lagi terpaksa, terutama dari sisi Santaka. Nandini sudah semakin menerima, sangat nyaman. Walau belum bisa lebih jauh.
Tautan mereka terlepas. Napas mereka terengah. Dahi mereka saling menempel.
Tak tahu siapa yang memulai, mereka mengulang tautan tadi. Menjadi pengalaman yang kedua.
Ketika tangan Santaka terprovokasi oleh bibir dan menyentuh kulit di balik kaus tangan panjang sang istri, Nandini langsung menarik diri. Santaka menurunkan tangannya.
“Maaf Mas, aku belum bisa. Maaf, jangan marah....”
Santaka mengembuskan napas. “Ndak apa-apa....”
“Besok malem bisa kita coba lagi....” Nandini memeluk leher sang suami. Tak tega memandang wajah Santaka. "Maaf, aku jahat ya...."
Santaka memejamkan mata. Mengatur gejolak dalam dirinya. "Iya sayang, ndak apa-apa. Aku ngerti. Kamu ndak jahat. Tapi kalau minta yang tadi lagi boleh? Aku janji tangan aku ndak akan maen jauh lagi."
Nandini melepaskan pelukannya. "Dasar genit!" Mereka tertawa. Nandini kemudian menarik tengkuk Santaka dan mengabulkan permintaan sang suami.
Sepanjang malam sang gus dan sang montir saling mencecap manisnya lengkung senyum pasangannya. Manis yang meledakkan hati mereka. Membuai rasa yang tertunda hampir dua bulan lamanya.
Malam itu, untuk pertama kalinya mereka tidur berpelukan. Nandini melabuhkan kepalanya di dada Santaka, seperti saat bulan madu. Kali ini dengan penuh kesadaran dan kerelaan.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj