NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Jakarta menyambut mereka bukan dengan pelukan, melainkan dengan cekikan. Begitu mobil tua Pak Kromo memasuki kawasan pemukiman padat di bantaran sungai, Nirmala merasa dunianya seolah-olah menyusut. Udara di sini tidak memiliki sisa-sisa oksigen yang segar, yang ada hanyalah uap timbal, aroma plastik terbakar, dan bau busuk dari sungai yang alirannya sudah lama mati tersumbat sampah.

Bagi manusia biasa, ini hanya polusi. Bagi Nirmala, ini adalah racun yang mencoba mematikan kristal garam di nadinya.

"Turun, cepat!" perintah Baruna, si pengamen misterius yang kini memandu mereka.

Ia membuka sebuah pintu besi berkarat yang menuju ke sebuah gudang tua di bawah kolong jembatan. Di dalam gudang itu, suara gemuruh kendaraan di atas kepala terdengar seperti detak jantung raksasa yang sedang gelisah. Arka membopong Nirmala yang sudah tidak berdaya. Kulit porselen gadis itu kini tampak kusam, dipenuhi retakan halus yang mengeluarkan serbuk putih tanda bahwa energi lautnya sedang dihisap habis oleh panasnya beton Jakarta.

"Dia tidak akan bertahan sampai besok jika terus begini." geram Arka. Mata hijaunya berkilat tajam, menatap Baruna dengan penuh ancaman. "Kau bilang kau bisa menolongnya!"

Baruna tidak gentar. Ia menunjuk ke arah sebuah tangki air besi raksasa di sudut gudang yang sudah berlumut tebal. "Air di Jakarta ini kotor, penuh dengan dosa manusia. Tapi air tetaplah air. Jika dia ingin bertahan hidup di sini, dia harus berhenti menjadi putri laut yang manja. Dia harus menjadi pemangsa di tengah limbah."

Aki membantu Arka mengangkat tubuh Nirmala dan memasukkannya ke dalam tangki air tersebut. Air di dalamnya berwarna kecokelatan, berbau logam karat dan kaporit yang tajam. Begitu tubuh Nirmala menyentuh permukaan air yang keruh itu, ia menjerit tertahan.

Celah insang di lehernya terbuka secara paksa, mencoba menyerap kelembapan. Namun, yang masuk bukanlah kemurnian garam, melainkan partikel mikroplastik, merkuri, dan bakteri busuk. Nirmala merasa paru-parunya seperti disiram air keras.

"Jangan dikeluarkan, Nirmala! Saring!" teriak Aki dari luar tangki. Beliau menaburkan sisa garam dari Parangkusumo ke dalam air, mencoba memberikan "jangkar" bagi energi Nirmala. "Kau adalah penguasa air! Jangan biarkan kotoran ini menguasaimu. Jadikan dirimu penyaring. Buang racunnya, ambil hidupnya!"

Di dalam kegelapan tangki, Nirmala mulai berjuang. Biji Purba di dadanya berdenyut liar, memancarkan cahaya biru yang menembus air keruh. Ia mulai memaksakan kekuatannya untuk bekerja. Secara mikroskopis, kristal garam di kulitnya mulai bergerak, menangkap setiap partikel logam berat dan zat kimia berbahaya, lalu mengikatnya menjadi gumpalan hitam yang padat.

Perlahan, keajaiban yang mengerikan terjadi. Air di sekeliling tubuh Nirmala yang tadinya cokelat pekat, perlahan-lahan menjadi bening transparan. Kerak-kerak hitam berminyak terdorong keluar dari pori-porinya dan mengendap di dasar tangki sebagai lumpur beracun.

Nirmala membuka matanya di bawah air. Matanya kini tidak lagi hanya biru, melainkan ada semburat perak yang tajam. Ia menarik napas panjang di dalam air limbah yang telah ia murnikan sendiri. Ia telah belajar satu hal penting, di Jakarta ia tidak butuh laut yang bersih. Ia adalah laut itu sendiri yang sanggup menelan segala kekotoran kota ini.

Setelah Nirmala pulih dengan kekuatan yang lebih "dingin" dan tajam, Baruna membentangkan sebuah peta usang di atas meja kayu yang lapuk. Peta itu bukan peta jalan raya, melainkan peta jalur drainase dan pipa bawah tanah Jakarta.

"Hendrawan, pemilik Menara Kencana, bukan sekadar pengusaha sukses." Baruna memulai penjelasannya. "Dia adalah inang utama. Dia membangun menara itu tepat di atas sebuah sumur kuno yang dulu digunakan untuk ritual penguburan massal di zaman kolonial. Akar Sandiwayang merambat lewat pipa-pipa AC dan kabel serat optik ke seluruh gedung. Setiap orang yang bekerja di sana secara tidak sadar sedang menyumbangkan sedikit demi sedikit energi hidup mereka untuk membesarkan Pohon Induk di bawah tanah."

Arka memperhatikan Menara Kencana yang terlihat dari celah jendela gudang. Gedung itu menjulang angkuh, diselimuti lampu neon biru yang cantik, namun di mata Arka, gedung itu adalah nisan raksasa yang sedang bernapas.

"Penjagaannya bukan hanya satpam." tambah Baruna. "Hendrawan memiliki 'keamanan' khusus. Manusia-manusia yang sudah sepenuhnya dikendalikan oleh serat kayu hitam. Mereka tidak butuh tidur, tidak merasa sakit, dan mereka bisa mencium bau kita dari jarak satu kilometer."

"Lalu bagaimana kita masuk?" tanya Ibu Lastri sambil memeluk tasnya erat-erat.

"Lewat arteri terbawah." jawab Baruna. "Pipa pembuangan raksasa yang mengalirkan limbah gedung langsung ke sungai ini. Jalannya gelap, sempit, dan penuh dengan Limbah Hidup, makhluk gagal bentukan Sandiwayang yang terbuang ke selokan. Tapi itu satu-satunya jalan yang tidak dijaga oleh sensor teknologi."

Aki berdiri, mengencangkan ikatan kain di kerisnya. "Kita berangkat saat tengah malam, saat energi kota ini berada di titik terendah. Nirmala, kau akan menjadi pemandu kami di dalam air. Gunakan nadimu untuk merasakan di mana jantung gedung itu berdetak."

Mereka meninggalkan gudang itu lewat pintu rahasia yang langsung menuju ke gorong-gorong besar di bawah jalan raya Sudirman. Suara bising kendaraan di atas mereka perlahan meredup, digantikan oleh suara tetesan air yang bergema di dinding semen yang lembap.

Nirmala berjalan di depan. Setiap kali kakinya menyentuh air selokan yang mengalir di bawah kaki mereka, air itu seketika menjadi jernih dan membeku menjadi kristal garam yang menyediakan pijakan bagi Arka dan yang lainnya.

Namun, semakin jauh mereka masuk ke dalam labirin pipa itu, udara semakin berbau seperti darah tua yang membusuk. Di dinding-dinding pipa, Nirmala mulai melihat pemandangan yang memuakkan, ribuan kabel listrik yang dibungkus oleh akar hitam yang berdenyut seirama dengan detak jantung.

"Kita sudah masuk ke dalam wilayah akarnya." bisik Arka. Tangannya meraba dinding, merasakan getaran energi yang sangat besar di balik beton.

Tiba-tiba, dari kegelapan di depan mereka, muncul suara seretan kaki yang berat. Sesuatu sedang menunggu di dalam pipa raksasa itu. Sosok itu perlahan muncul ke dalam jangkauan cahaya senter Arka, sesuatu yang dulunya manusia, tapi kini tubuhnya dipenuhi oleh sampah plastik yang menyatu dengan daging dan serat kayu hitam.

Makhluk itu membuka mulutnya, mengeluarkan cairan hitam kental yang berbau seperti tanah kuburan.

"Selamat datang... di rumah... kami..." desis makhluk itu.

Nirmala melangkah maju, tangannya berpendar biru menyilaukan. "Ini bukan rumah kalian. Ini adalah tempat pembuangan. Dan aku adalah pembersihnya."

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
bacaaa ahhh, jika tidak lanjut baca berarti mentalku nggak kuat😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣 aku yakin pasti kuat mentalmu
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mungkinkah gempa selama ini karena pertarungan itu? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga gk tw😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Gak kebayang kalo aku ikut blusukan kek mereka, pasti asma ku lgsg kambuh🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Bisa nih aku pinjam Nirmala buat bersihin air laut yg butek di daerahku/Proud/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Sip.... Kalo gak dibolehin nanti ku culik Nirmala nya🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tiga puluh hari itu sebentar lho, gak bisa apa waktunya ditambah🙄
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dih dia nego😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Oh Nirmala... Hidupmu tidak pernah di berikan nafas lega sebentar saja
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk semua cast dan para kru di balik cerita Nirmala, Mohon maap lahir dan Batin...

Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!