SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Latihan Malam dan Dokter Anatomi
Malam di SMA Nusantara tidak pernah benar benar sunyi dan tenang. Setelah berhasil lolos dari teror di kamar 303, Arga dan Lintang harus menuruni tangga asrama dengan tingkat kewaspadaan dua kali lipat. Setiap bunyi derit lantai terasa seperti pengkhianatan yang bisa memanggil The Janitor kembali kapan saja. Namun tujuan mereka sudah sangat jelas. Laboratorium Biologi.
Masalah utamanya adalah lokasi laboratorium itu berada tepat di seberang lapangan utama. Itu adalah area terbuka yang paling dihindari oleh para penghuni Sisi Lain jika mereka ingin tetap bersembunyi dan tak terlihat.
"Kita harus memotong jalan lewat tengah lapangan," bisik Lintang saat mereka berdiri di ambang pintu keluar asrama yang menghadap ke ruang terbuka luas itu.
Arga menatap hamparan lapangan sepak bola yang biasanya digunakan untuk upacara bendera. Di bawah cahaya bulan yang anehnya berwarna ungu temaram, rumput rumput di sana tidak berwarna hijau. Warnanya hitam pekat dan terlihat bergerak gerak pelan seperti tentakel tentakel kecil yang hidup. Di tengah lapangan, kabut tebal menggumpal membentuk lingkaran lingkaran misterius yang berputar perlahan.
"Bukankah area terbuka itu berbahaya?" tanya Arga pelan. Tangannya meraba buku harian Raka yang ia selipkan rapat di balik seragamnya. "Kita akan jadi sasaran empuk di sana."
"Justru karena itulah kita aman untuk sementara," jawab Lintang. "Makhluk besar seperti Guru Piket biasanya lebih suka berpatroli di dalam koridor yang sempit. Di lapangan terbuka, aturannya berbeda. Ada sesuatu yang lebih... sistematis dan disiplin. Jika kita beruntung, kita hanya akan melewati Sisa Sisa Latihan."
Saat kaki Arga mulai menginjak permukaan rumput hitam itu, ia merasakan sensasi dingin yang menusuk tulang merayap naik ke betisnya. Rumput itu terasa lengket dan seolah olah sedang mencoba menghisap panas tubuhnya.
Tiba tiba...
DUARR! DUARR!
Lampu lampu sorot raksasa di pinggir lapangan menyala satu persatu secara bersamaan dengan dentuman keras. Cahaya putih yang menyilaukan membuat mata Arga buta sejenak.
Ketika pandangannya kembali jernih, pemandangan di sekelilingnya telah berubah total. Ia tidak lagi berdiri di lapangan kosong. Puluhan bayangan siswa kini berdiri rapi dalam barisan barisan yang teratur. Mereka mengenakan pakaian olahraga sekolah, namun tubuh mereka transparan dan terus mengeluarkan uap dingin putih.
Di depan barisan paling depan, berdiri seorang pria tubuh raksasa. Di lehernya menggantung peluit perak besar. Ia tidak memiliki tangan, namun dari bahunya menjuntai dua rantai besi tebal yang ujungnya memegang bola besi berat berlumuran noda darah kering.
"Itu Pak Gatot... guru olahraga yang hilang misterius pada tahun sembilan puluhan," bisik Lintang dengan wajah tegang. "Jangan pernah berhenti melangkah. Jika dia meniup peluitnya, kau harus mengikuti setiap gerakannya persis. Jika salah atau terlambat, rantai itu akan meremukkan kepalamu."
PRIIIIIIIIIT!
Suara peluit itu melengking tajam membelah keheningan malam, begitu nyaring hingga telinga Arga berdenging.
Seketika itu juga, seluruh barisan hantu siswa mulai melakukan gerakan pemanasan. Namun gerakan mereka sama sekali tidak wajar dan sangat mengerikan. Mereka memutar leher hingga seratus delapan puluh derajat, mematahkan tulang tangan mereka sendiri untuk bisa menyentuh punggung, dan melakukan lompatan hingga tulang kaki mereka hancur berserakan di tanah, hanya untuk menyatu kembali utuh dalam hitungan detik.
"Ikuti gerakannya sekarang!" perintah Lintang cepat.
Arga terpaksa menggerakkan tubuhnya mengikuti irama pemanasan sadis itu. Setiap kali ia terlambat hanya sepersekian detik, Pak Gatot akan menoleh ke arahnya. Mata guru hantu itu tidak memiliki bola mata, melainkan hanya dua kobaran api biru yang menyala terang. Arga merasakan otot ototnya ditarik oleh kekuatan gaib yang memaksanya melakukan peregangan hingga batas maksimal yang menyakitkan.
"Lari pendek... MULAI!" teriak Pak Gatot. Suaranya berat dan keras seperti runtuhan bebatuan.
Seluruh barisan hantu itu langsung berlari kencang mengelilingi lintasan. Arga dan Lintang terpaksa ikut berlari di tengah tengah kerumunan arwah tersebut agar tidak terlihat mencolok.
Tapi ini bukan lari biasa. Di sepanjang lintasan, rintangan rintangan mematikan bermunculan terus menerus. Kawat berduri yang bergerak turun naik, lubang lubang di tanah yang penuh dengan tangan tangan yang mencoba mencengkeram kaki, hingga gawang gawang sepak bola yang terbakar api biru.
"Lintang, aku tidak bisa bertahan lama kalau begini terus!" seru Arga sambil melompati kawat tajam yang nyaris menyambar betisnya.
"Lihat ke depan sana! Gedung Lab Biologi sudah ada di ujung lintasan!" teriak Lintang membalas, napasnya sudah mulai tersengal sengal. "Kita harus keluar dari barisan tepat saat mencapai tikungan terakhir!"
Saat mereka hampir sampai di tikungan, Pak Gatot tiba tiba meniup peluitnya lagi.
PRIIIT!
"Latihan Kekuatan! Cari pasangan!"
Tiba tiba salah satu hantu siswa yang berlari tepat di samping Arga menoleh cepat. Wajahnya tidak memiliki kulit sama sekali, hanya terlihat otot otot merah yang berdenyut kencang. Sosok itu mencengkeram bahu Arga dengan kekuatan yang luar biasa.
"Jadilah... beban... angkatku..." desis hantu itu.
Ia mencoba mengangkat tubuh Arga ke atas kepala seolah olah Arga adalah sebuah barbel besi. Arga meronta sekuat tenaga, namun cengkeraman tangan hantu itu sedingin es dan sekuat baja. Dalam kepanikan, Arga teringat akan lencana perak di dadanya. Ia segera menyentuh lencana itu dan memfokuskan seluruh amarah serta keinginannya untuk tetap hidup.
SYUUUT!
Lencana itu tiba tiba bersinar terang benderang dan mengeluarkan gelombang panas yang dahsyat. Hantu tanpa kulit itu menjerit kesakitan saat tangannya melepuh terbakar energi itu dan ia terhempas jauh ke belakang.
"Sekarang, Arga! Lompat keluar!" teriak Lintang.
Mereka berdua melompat keluar dari barisan lintasan dan berguling guling di atas rumput hitam yang tajam menusuk kulit. Pak Gatot menyadari ada murid yang nekat melarikan diri dari kelasnya. Ia meraung marah dan mengayunkan rantai raksasanya. Bola besi itu menghantam tanah tepat di belakang tumit Arga, menciptakan lubang kawah yang dalam dan berdebu.
BUM!
"LARI KE PINTU BELAKANG!"
Arga dan Lintang memacu sisa tenaga yang ada di kaki mereka. Pak Gatot melempar bola besi keduanya dengan kecepatan tinggi menuju kepala Arga. Namun tepat sebelum benda itu menghantamnya, Arga secara naluriah mengeluarkan kunci perak dari sakunya dan mengacungkannya ke depan.
BIR!
Sebuah perisai transparan tipis muncul sekejap membelokkan arah bola besi itu hingga menghantam keras dinding samping gedung laboratorium. Arga tidak sempat berhenti untuk takjub. Ia dan Lintang berhasil mencapai pintu belakang laboratorium yang terbuat dari besi tebal.
Dengan cepat Arga memasukkan kunci peraknya, memutarnya, dan mereka menerjang masuk ke dalam ruangan. Begitu pintu besi itu tertutup rapat, suara raungan Pak Gatot dan dentuman rantai perlahan meredup, seolah terhalang oleh dinding dimensi yang berbeda.
Suasana di dalam laboratorium biologi ini sangat berbeda. Ruangan itu gelap gulita dan berbau menyengat. Campuran aroma bahan kimia formaldehida bercampur dengan bau busuk yang sangat spesifik. Bau organ dalam tubuh manusia yang mulai membusuk dan terurai.
Cahaya ungu dari senter Arga menyapu seluruh ruangan. Di atas meja meja panjang, berjajar deretan toples toples kaca besar. Isinya bukan katak atau ikan seperti laboratorium biasa. Di dalam cairan bening itu terdapat potongan potongan tubuh manusia yang diawetkan. Telinga, jari, lidah, hingga bola mata yang semuanya tampak masih hidup dan bergerak gerak pelan di dalamnya.
"Kita sudah sampai," bisik Lintang sambil mengatur napasnya yang memburu. "Laboratorium Biologi. Tempat di mana segala sesuatu yang rusak... diperbaiki dengan cara cara yang salah dan mengerikan."
Arga berjalan mantap menuju bagian paling belakang ruangan. Di sana terdapat sebuah pintu baja kecil yang menuju ke ruang penyimpanan bawah tanah. Tepat di atas pintu itu tertulis sebuah peringatan besar dengan tinta hitam tebal.
"HANYA UNTUK TUBUH YANG BELUM SELESAI"
Arga merasakan getaran hebat menjalar dari lencana di dadanya. Ia tahu pasti bahwa di balik pintu inilah Jantung kakaknya berada. Namun ia juga merasakan ada kehadiran lain di ruangan ini. Sesuatu yang jauh lebih tua, lebih cerdas, dan jauh lebih berbahaya daripada Pak Gatot.
Tiba tiba terdengar suara gesekan roda kursi kayu di lantai. Dari balik lemari pajang anatomi, muncul seorang pria tua mengenakan jas putih laboratorium yang sangat bersih. Terlalu bersih untuk ukuran tempat yang seburuk ini. Ia memakai masker bedah yang menutupi sebagian wajahnya, namun sepasang matanya yang berwarna kuning pucat menatap Arga dengan binar rasa ingin tahu yang menyeramkan.
"Ah... murid baru yang membawa kunci," ujar pria itu pelan. Suaranya halus dan lembut, persis seperti bisikan seorang dokter tepat sebelum melakukan sayatan pertama pada pasiennya. "Kau datang tepat waktu. Aku baru saja akan memulai prosedur penyambungan kembali."
Di atas meja operasi di belakang punggung pria itu, terdapat sebuah gundukan yang tertutup kain kafan putih. Bentuknya sangat jelas menyerupai tubuh manusia. Dan di sampingnya, terdapat sebuah wadah kaca besar berisi cairan bening. Di tengahnya, ada sesuatu yang berwarna merah pekat yang sedang berdenyut pelan namun pasti.
Deg... deg...
Itu adalah jantung Raka. Dan jantung itu masih berdetak hidup.
"LEPASKAN KAKAKKU!" teriak Arga meledak. Amarahnya memuncak hingga suhu udara di sekitarnya terasa naik drastis.
Dokter itu terkekeh pelan. "Lepaskan? Anak muda yang naif. Di sekolah ini, tidak ada satu pun yang benar benar lepas dan bebas. Kita semua hanyalah bagian bagian kecil yang menunggu untuk dirakit kembali menjadi mahakarya sempurna bagi Sang Arsitek."
Dokter itu perlahan mengangkat sebuah pisau bedah perak yang berkilau tajam di bawah cahaya senter.
"Nah sekarang, berikan padaku lencanamu itu. Atau... aku akan menggunakan tubuhmu sebagai donor pengganti."