Menikah dengan Aris (28 tahun), seorang bos pertambangan yang wajahnya setampan aktor film tapi sedingin es di kutub utara, seharusnya membuat hidup Maya (24 tahun) tenang. Namun, pindah ke rumah mewah di pinggiran kota justru menjadi awal dari kegilaan hidupnya.
Aris itu aneh. Dia posesifnya bukan main, tapi bukan ke sesama manusia. Dia melarang Maya keluar rumah lewat magrib bukan karena cemburu, tapi karena takut Maya "disapa" oleh penghuni pohon kamboja depan rumah. Dia memasang CCTV di setiap sudut, bukan untuk maling, tapi untuk memantau pergerakan bayangan putih yang hobi duduk di ruang tamu mereka.
Maya yang aslinya penakut tapi hobi ngelawak dan hobi menebar gombalan "maut" ke suaminya yang kaku itu, mulai merasa ada yang tidak beres. Apalagi para tetangga—Geng Gibah Bu RT—mulai nyinyir. Mereka bilang Maya itu tumbal pesugihan Aris karena Aris kaya raya tapi istrinya seperti dikurung di istana berhantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hampir mati
Malam yang mencekam itu perlahan luruh saat cahaya fajar menyelinap di sela gorden. Maya masih terduduk di pojok kamar, memeluk lututnya dengan mata sembap. Tulisan di cermin sudah hilang, tapi rasa takutnya masih membekas nyata.
Tepat pukul setengah enam pagi, suara deru mobil Pajero itu terdengar. Namun, kali ini bunyinya tidak mulus. Ada suara decit ban yang kasar sebelum mesin dimatikan.
Maya langsung berlari menuju pintu depan, melupakan rasa takutnya demi melihat suaminya.
"Mas Aris!"
Begitu pintu terbuka, Maya mematung. Mas Aris berdiri bersandar pada mobil, napasnya tersengal. Kemeja biru tua yang kemarin tampak sangat rapi kini sobek di bagian bahu. Dan yang membuat jantung Maya seolah berhenti berdetak noda merah pekat yang sangat luas membasahi dada dan lengan kirinya.
"Mas! Mas Aris kenapa?!" Maya menghambur, mencoba menahan tubuh suaminya yang hampir ambruk.
Wajah Mas Aris pucat pasi. Ada luka goresan panjang di lehernya, seperti bekas cakaran kuku binatang buas. "Mas... nggak apa-apa. Masuk, Maya. Masuk sekarang."
"Gimana nggak apa-apa? Mas berdarah banyak begini!" Maya menangis, ia memapah tangan Mas Aris ke bahunya. Saat kulit mereka bersentuhan, Maya terlonjak.
Tubuh Mas Aris bukan panas karena demam, tapi sangat dingin, seolah-olah ia baru saja keluar dari lemari es.
Begitu sampai di dalam rumah, Mas Aris langsung terduduk di lantai ruang tamu, membelakangi pintu. Ia tidak mau dibawa ke sofa.
"Ambilkan air doa di botol hijau... di dalam laci meja kerja Mas," bisik Mas Aris parau.
Maya berlari secepat kilat dan kembali membawa botol itu. Dengan tangan gemetar, ia membantu Mas Aris membuka kemejanya.
Tangis Maya pecah saat melihat punggung Mas Aris. Ada lebam hitam kebiruan berbentuk telapak tangan besar yang membekas di kulit suaminya, seolah ada kekuatan raksasa yang mencoba meremuk tubuhnya.
"Siapa yang buat Mas begini? Apa orang di tambang?" tanya Maya sambil menyiramkan air doa itu ke luka Mas Aris.
Mas Aris meringis kesakitan. Saat air itu menyentuh lukanya, asap tipis berbau hangus keluar dari kulitnya. "Bukan orang, May. Pagar di hutan kota semalam... ada yang jebol. Mereka tahu kamu ada di sini."
Mas Aris menatap Maya dengan mata yang sayu namun penuh obsesi. Ia meraih tengkuk Maya, menarik istrinya mendekat sampai dahi mereka bersentuhan. "Kamu nggak apa-apa kan? Mereka nggak masuk ke kamar semalam?"
Maya teringat sosok wajah rata dan tulisan di cermin, tapi melihat kondisi Mas Aris yang hancur demi melindunginya, lidahnya kelu. "Aku... aku nggak apa-apa, Mas. Tapi Mas yang parah banget."
"Selama kamu aman, Mas nggak peduli," gumam Mas Aris. Ia mencengkeram lengan Maya, posesif. "Jangan pernah lepas kalung itu. Semalam, kalau bukan karena liontin itu, Mas nggak akan bisa pulang hidup-hidup untuk lihat kamu."
Maya terisak, memeluk kepala Mas Aris di dadanya. Di tengah rasa haru itu, Maya tidak sengaja melirik ke arah pintu depan yang sedikit terbuka. Di sana, di atas lantai marmer, ada bekas telapak kaki berlumpur hitam yang masuk ke dalam rumah.
Lumpur itu belum kering. Dan jejaknya berhenti tepat di belakang tempat mereka duduk.
Maya ingin berteriak, tapi Mas Aris tiba-tiba pingsan di pelukannya. Di saat yang sama, suara tawa lembut seorang wanita terdengar dari arah tangga lantai dua suara yang sangat tenang, tapi sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
“Aris... kamu tidak bisa menjaganya selamanya...”
kurang keras bantingnya, butuh parutan gk? ni aq ada
mayan buat marut kuyang🤣🤣🤣🤣