NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Malam itu, di ruang makan besar keluarga Anderson, dentingan sendok dan garpu menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Tiga orang duduk di meja panjang yang dipenuhi makanan mewah-Yoshi Anderson, Marrie, dan Nadine.

Yoshi menyandarkan punggung ke kursi setelah meneguk wine-nya. "Marrie, kau tahu di mana Thalia sekarang?" tanyanya dengan nada datar.

Marrie, yang sudah mahir bermain peran, langsung menghela napas panjang. Wajahnya dibuat sesedih mungkin. "Entahlah, Sayang... sejak terakhir kali aku melihatnya, dia sudah tidak pulang. Aku... khawatir sebenarnya," ucapnya pura-pura, sambil menunduk seolah menahan tangis.

Nadine ikut masuk ke dalam permainan.

"Papa... jangan-jangan dia kabur karena cemburu lagi padaku," ujarnya sambil menatap ayahnya dengan mata polos yang penuh kepura-puraan. "Sejak dulu dia selalu membenciku. Padahal Mama dan aku selalu memperlakukannya seperti prioritas keluarga..."

Marrie menepuk tangan putrinya, memberi dukungan pada akting itu. "Benar, Nadine. Kau sudah bersikap sangat baik padanya."

Mendengar perkataan dua rubah licik itu, wajah Yoshi mengeras. "Anak itu... memang tidak tahu berterima kasih. Sudah kuberi tempat tinggal dan makan, malah pergi seenaknya. Kalau sampai dia membuat masalah di luar sana dan mempermalukan nama keluarga Anderson, aku tidak akan memaafkannya."

Marrie pura-pura menunduk, tapi sudut bibirnya tersenyum licik. Inilah yang mereka inginkan-Yoshi semakin membenci anak kandungnya sendiri.

Yang Yoshi tidak tahu, kenyataannya sangat berbeda. Selama ini Thalia hidup seperti pembantu di rumahnya sendiri. Ia disiksa secara fisik dan mental, bahkan pembantu bawahan Marrie dan Nadine pun berani merundungnya. Semua itu terjadi di rumah yang dulunya dibangun bersama mendiang istrinya, Renatta.

Renatta-lah yang dulu dengan kecerdasan dan kesabarannya membantu Yoshi membesarkan bisnis Anderson dari nol. Tanpa Renatta, Yoshi tak akan hidup semewah sekarang. Sayangnya, semua jasa itu dilupakan begitu saja setelah Marrie masuk ke hidupnya.

Yoshi juga tak tahu fakta sebenarnya Thalia bukan kabur, melainkan diusir oleh Marrie dan Nadine. Ia luntang-lantung di jalan selama berhari-hari, hingga suatu malam ia menyelamatkan Reya Maverick-nenek Aiden-dari kecelakaan. Dari situlah hidupnya berubah. Ia dipaksa menikah dengan sang cucu, Aiden, dan berakhir menjadi istri rahasia sang CEO.

Bagi dua rubah licik, semakin Yoshi membenci Thalia, semakin mudah mereka menyingkirkannya dari warisan keluarga.

Makan malam selesai, Yoshi pergi ke ruang kerjanya untuk menandatangani beberapa dokumen. Marrie beralasan ingin menyiapkan teh untuknya. Nadine pun berjalan santai ke kamarnya.

Begitu sampai, Nadine langsung menyalakan laptop dan membuka situs resmi kampusnya, Mave University. Matanya berbinar ketika melihat pengumuman besar di halaman depan: Penyambutan Tahun Ajaran Baru - Pemilihan Duta Kampus.

Dua minggu lagi, acara itu akan diadakan. Seperti biasa, setiap fakultas akan memilih satu perwakilan untuk tampil menampilkan bakat mereka. Penonton-mahasiswa baru dan lama-akan melakukan voting, dan pemenang akan dinobatkan sebagai Duta Kampus selama setahun penuh.

Tahun lalu, Nadine mewakili Fakultas Seni Rupa dengan penampilan piano klasiknya. Sayangnya, ia hanya menempati posisi kedua, kalah dari Agatha-mahasiswi Fakultas Hukum yang kini sudah lulus.

"Kalau Agatha sudah tidak ada, kemenangan tahun ini milikku," gumamnya dengan senyum puas.

Namun, kemenangan saja tidak cukup memuaskan Nadine. Ia ingin ada tontonan yang bisa ia nikmati... sebuah penghinaan yang akan membuatnya tertawa puas. Dan sasarannya, tentu saja, Thalia.

Nadine mulai menyusun rencana. Ia akan "mendorong" Thalia untuk menjadi perwakilan Fakultas Ilmu Komunikasi. Caranya? Ia bisa menyuap atau memanipulasi panitia voting di fakultas itu untuk memilih Thalia.

"Nanti, semua orang akan menonton penampilan si cupu itu," bisiknya sendiri sambil tertawa kecil. "Biar seluruh kampus mencemooh wajah dan penampilannya yang norak. Biar dia hancur di depan ribuan mahasiswa."

Nadine sudah membayangkan Thalia berdiri di atas panggung, gugup, dengan suara sumbang atau tarian kaku, lalu disoraki penonton. Semua akan diabadikan dalam video dan tersebar di media sosial. Bagi Nadine, itu akan menjadi kehancuran total Thalia.

Tak lama kemudian, Marrie masuk ke kamar putrinya. "Apa yang kau kerjakan, sayang?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjang.

Nadine memutar laptopnya agar Marrie bisa melihat. "Ini, Ma. Dua minggu lagi acara pemilihan Duta Kampus. Tahun lalu aku juara dua, tapi kali ini aku pasti juara satu."

Marrie tersenyum bangga. "Bagus. Mama yakin kau bisa."

"Tapi aku juga punya rencana tambahan." Nadine menurunkan suaranya, seolah berbagi rahasia besar. "Aku akan membuat Thalia menjadi perwakilan fakultasnya. Biar semua orang melihat betapa memalukannya dia."

Marrie tertawa pelan. "Itu ide yang brilian, sayang. Tapi pastikan dia tidak punya kesempatan untuk menolak. Kita harus buat seolah-olah dia tidak punya pilihan selain tampil."

Malam itu juga, Nadine mulai mengirim pesan ke beberapa kenalannya di Fakultas Ilmu Komunikasi-fakultas yang Thalia masuki. Beberapa di antaranya adalah pengurus BEM dan panitia penyambutan mahasiswa baru.

"Kalau kalian pilih Thalia Anderson jadi perwakilan, aku akan beri hadiah," tulis Nadine di chat grup yang ia buat khusus.

Beberapa mahasiswa yang memang tergiur dengan uang langsung mengiyakan. Bagi mereka, ini hanya permainan kecil yang menguntungkan. Mereka tidak peduli jika hasilnya akan mempermalukan seseorang.

Sementara Nadine sibuk dengan rencananya, Marrie kembali ke ruang kerja Yoshi sambil membawa teh. "Aku khawatir soal Thalia," ucapnya dengan nada sedih. "Kalau dia terus berkeliaran di luar tanpa pengawasan, bagaimana kalau ada yang memanfaatkan dia untuk menjatuhkan nama baik kita?"

Yoshi mengangguk. "Aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu keberadaannya. Kalau dia membuat masalah, aku akan memutus semua hubungan dengannya."

Marrie tersenyum dalam hati. Itu artinya, jika waktunya tepat, Thalia akan benar-benar terhapus dari hidup mereka.

Sementara Nadine yang menatap layar laptopnya puas, sudah membayangkan kemenangan dan kehancuran Thalia sekaligus. Di luar rumah, angin malam bertiup kencang-seolah mengabarkan bahwa badai besar akan segera datang di Mave University.

Jarum jam sudah melewati angka dua belas. Lampu kamar Thalia masih menyala, memandikan ruangan dengan cahaya kekuningan yang hangat. Namun, hangatnya cahaya itu tidak mampu mengusir kegelisahan di kepalanya.

Ia berbaring telentang, menatap langit-langit, pikirannya berkelana ke berbagai arah. Rencana-rencana untuk kembali ke dunia hiburan berputar-putar seperti film yang diputar ulang.

Kalau aku mau sukses lagi, aku harus punya strategi masuk. Aku butuh nama, butuh eksposur, dan yang paling penting-aku butuh langkah awal yang tepat.

Ia menghela napas panjang. Meskipun punya uang bulanan dari Aiden, Thalia tahu itu bukan jaminan selamanya. Dengan hubungan mereka yang dingin, potensi perceraian itu selalu ada di depan mata. Dan ia tidak ingin suatu hari terbangun tanpa apa-apa, kecuali wajah cantik yang... tidak menghasilkan uang.

Tepat ketika ia memutuskan untuk berhenti memikirkan semuanya malam ini, ponselnya bergetar di nakas. Thalia mengulurkan tangan dan meraihnya. Layar menyala, menampilkan nama yang cukup familiar-Zea.

Zea Amara, satu-satunya teman yang dimiliki Thalia di kampus. Seorang kutu buku yang sama sekali tidak peduli pada popularitas, lebih suka tenggelam dalam dunia novel dan catatan kuliah.

Mereka punya kesamaan: sama-sama menjadi korban favorit geng Aurora.

Thalia membuka pesan itu dengan malas.

Namun, begitu membaca isinya, matanya langsung menyipit.

Zea: "Thal! Lihat ini! Kamu dapet vote terbanyak buat perwakilan fakultas kita ke Pemilihan Duta Kampus!!"

Alis Thalia terangkat. "Vote terbanyak?"

gumamnya. Ia mengetik balasan.

Thalia: "Kamu yakin? Aku?"

Zea: "Iya! Aku juga kaget. Aku kirain nggak mungkin. Tapi ini pengumuman resmi di grup BEM fakultas."

Thalia menatap layar ponsel lebih lama.

Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, tidak pernah sekalipun namanya masuk ke acara seperti ini. Ia bahkan tidak pernah ikut organisasi kampus, apalagi tampil di acara penyambutan mahasiswa baru.

Kenapa tiba-tiba sekarang? pikirnya. Apakah ini kebetulan... atau permainan seseorang?

Dalam pengalaman hidupnya yang tiga puluh dua tahun di kehidupan pertamanya, Thalia sudah cukup sering melihat pola-pola seperti ini. Ia tahu ketika sesuatu tampak "terlalu kebetulan" untuk menjadi kenyataan, biasanya ada tangan licik yang mendorongnya dari belakang.

Thalia menutup matanya sebentar, mencoba menyusun potongan puzzle. Pemilihan Duta Kampus adalah acara besar. Setiap fakultas memilih satu perwakilan untuk tampil dan penonton akan melakukan voting. Pemenang akan menjadi duta kampus selama setahun.

"Ini pasti jebakan," gumamnya. Ia duduk di ranjang, menyandarkan punggung pada headboard.

Siapa yang ingin menjebakku?

Hanya butuh satu detik bagi nama itu untuk muncul di kepalanya. Nadine. Si kakak tiri manis di depan ayahnya, tapi iblis di belakangnya. Perempuan itu selalu punya cara kreatif untuk mempermalukannya. Dan acara sebesar ini? Adalah panggung sempurna untuk menjatuhkannya di depan banyak orang.

ini?" Thalia: "Zea, kamu tahu siapa yang mulai voting

Zea: "Kayaknya panitia BEM. Tapi... aneh sih, kok tiba-tiba banyak banget yang vote kamu."

Thalia: "Kamu curiga juga?"

Zea: "Banget. Kayaknya ada yang mau berniat buruk sama kamu. Hati-hati, ya."

Thalia tersenyum tipis. Paling tidak, masih ada satu orang di dunia ini yang tidak memandangku seperti musuh.

Thalia: "Tenang, Zea. Kalau memang ini permainan, kita akan balikkan keadaan. Aku nggak akan jatuh cuma karena panggung murahan."

Thalia meletakkan ponselnya dan berdiri, berjalan menuju cermin besar di kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya yang baru saja berubah-tidak lagi pucat dan kusut seperti beberapa hari lalu.

Mahasiswa-mahasiswi itu cuma kumpulan anak labil yang sedang mencari jati diri, pikirnya sambil merapikan rambut. Aku? Aku sudah melewati fase itu. Aku adalah wanita dewasa yang sudah merasakan kerasnya dunia. Mereka mau menjebakku? Silakan. Tapi aku tidak akan jadi korban yang sama seperti dulu.

Ingatan tubuh asli ini-Thalia Anderson-hanya berisi ketakutan, rasa malu, dan penderitaan. Tapi dirinya yang sekarang adalah Thalia Alexandria, artis papan atas yang terbiasa tampil di hadapan kamera dan ribuan pasang mata. Ia pernah menghafal dialog sepanjang puluhan halaman, melakukan adegan berbahaya, bahkan mengendalikan emosi dalam wawancara langsung.

Berhadapan dengan mahasiswa kampus? Itu seperti bermain di kolam anak-anak.

Thalia kembali ke ranjang, menarik selimut sampai ke pinggang. Kali ini, senyum kecil terbit di wajahnya. Kalau Nadine memang ada di balik ini, dia akan menyesal. Aku akan membuatnya berpikir dua kali sebelum menggangguku lagi.

Malam itu, ia menutup matanya bukan dengan rasa takut, melainkan dengan rasa antusias. Bagi Thalia, setiap panggung adalah kesempatan. Dan ia tahu, panggung yang dimaksud Nadine sebagai perangkap... bisa ia ubah menjadi batu loncatan.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!