Seorang mahasiswi yang harus rela menikah dengan brondong.
Karena kejadian yang tidak mengenakkan. Di grebek warga saat di toilet. Dan menjadikannya harus menikah di saat itu juga.
Dia yang sudah berumur 21 tahun semester VI dan dengan terpaksa harus menikah dengan brondong 18 tahun. Masih SMA kelas 3.
Bagaimana kelanjutannya...?
Pantengin di sini ya??
Makasih sudah mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
.
.
.
"Aku mau kita--- ciuman," ujar Jo dengan wajah mupengnya.
"Hah????" Nesa terkejut bukan main. Hanya matanya yang sesekali mengerjap yang membuat Jo jatuh hati. Bulu mata Nesa begitu panjang dan lentik secara alami. Tanpa tanam bulu mata atau lainnya. Dan Jo baru menyadarinya sekarang. Ternyata istrinya ini begitu cantik. Jo harus banyak-banyak bersyukur dalam sholatnya, karena dia telah diberikan perempuan yang secantik bidadari.
"Boleh ya... aku mau mencobanya, please," ucap Jo sambil terus mendekatkan wajahnya.
Nesa hanya diam. Dia tak bisa menolak lagi, Jo adalah suaminya. Biarkan saja dia melakukan apa yang ia suka.
Jo terus mendekatkan wajahnya ke wajah Nesa. Sesaat hidung mereka sempat bersentuhan. Jo memiringkan wajahnya. Mendekatkan bibirnya ke bibir Nesa.
Sedetik kemudian kedua bibir itu saling menempel. Nesa hanya memejamkan matanya dan mencoba menahan nafasnya. Fikirannya melayang tak terkontrol lagi. Menyerahkan semuanya pada Jo.
Tiba-tiba bibir Nesa terasa disedot-sedot. Jo memang sedang menikmati manisnya bibir istrinya itu. Jo sendiri baru merasakan ini, tapi sensasinya begitu menggairahkan. Rasanya Jo ingin melakukan lebih tapi belum tahu, dengan insting sendiri Jo mencoba memainkan lidahnya, menyapu bibir Nesa.
"Uuuhhhm..." tanpa sadar Nesa mendesah. Jo semakin lincah menjilat-jilat bibir Nesa Dan setelah itu ciumannya ia sudahi. Jo hampir kehabisan nafas, begitupun Nesa. Nafas keduanya saling memburu. Tanpa mereka sadari, keduanya saling melemparkan senyum kemudian tertawa bersamaan.
"Gimana rasanya???" tanya Jo dengan tatapan sedikit menggoda.
Nesa membuang muka, dia belum bisa berkata apa-apa. Nafasnya masih belum normal. Kejadian yang baru saja terjadi membuat darahnya berdesir aneh. Seperti ada kupu-kupu di dalam perutnya. Aneh sih, tapi menggiurkan.
"Mau lagi???" goda Jo sambil mengedipkan sebelah matanya.
Nesa menggeleng. "Aku ngantuk."
"Yaudah, bobok gih," titah Jo sambil menarik tangan Nesa. Nesa berjalan dan langsung merebahkan diri, begitupula dengan Jo.
"Kamu melakukan itu dapat pengalaman dari mana???" tanya Nesa tiba-tiba. Kini keduanya sudah tidak memakai pembatas guling lagi. Jo yang sudah melemparkan guling itu asal.
"Youtube... drama korea... kamu mau liat???" tawar Jo yang membuat Nesa berbinar. Dia juga ingin menontonnya, tapi dia teringat akan sesuatu.
"Lain kali aja," tolak Nesa dan Jo manggut-manggut paham.
"Oya... kamu tau sesuatu gak??"
Pertanyaan Nesa ini sukses membuat Jo bingung. Bagaimana tidak bingung? Belum tahu apa-apa tapi sudah ditanya. Jadi bingungkan??.
"Itu... tentang Ayah dan Papa??" lanjut Nesa yang membuat Jo sedikit paham.
"Kenapa ayah dan papa?? Bukankah mereka sahabatan??" jelas Jo yang juga balik bertanya.
"Kamu udah tau itu???" jawab Nesa yang juga balik bertanya. Kehidupan mereka malam ini saling lempar pertanyaan.
Jo langsung memiringkan badannya. Menatap lawan bicaranya. "Tau,,, Papa sempat cerita. Karena aku penasaran banget. Soalnya Papa kelihatan akrab banget gitu sama Ayah, dan ternyata, mereka memang sohib." Cerita Jo yang diangguki setuju oleh Nesa.
"Dan satu lagi,, apa kamu tau tentang perjanjian mereka???" tanya Nesa memastikan. Siapa tau Jo bersikap manis padanya karena dia sudah tahu kalau mereka akan dijodohkan.
"Perjanjian apa?? Papa gak ada cerita tentang itu. Kenapa??" tanya Jo penasaran. Nesa menggigit bibir bawahnya karena gugup sendiri, apa dia harus cerita sama Jo??
"Bibirnya gak usah digigit gitu bisa gak sih??? Aku jadi pengen lagi tau gak," celoteh Jo tapi jujur. Nesa langsung manyun. Melihat ekspresi Jo yang seperti itu, kayaknya Jo memang beneran belum tahu. Biarkan sajalah, biar waktu yang membuka semuanya.
"Gak usah mesum bisa gak sih?? Sekali aja serius tanpa mesum," protes Nesa sewot.
"Hidup itu gak usah serius-serius amat lah Nes... Sersan tau gak? Serius tapi santai," timpal Jo dengan santainya.
"Itu mah tulisan yang ada di kaos Bali Jo... dasar gak kreatip," cibir Nesa yang membuat Jo memicingkan matanya. Dia langsung mendekap Nesa.
"Sudah malam.. mending bobok aja. Muuuuaaah..." Jo mencium pipi Nesa tanpa permisi. Dan kemudian langsung memejamkan matanya. Nesa pun juga ikut terlelap dalam dekapan suaminya. Darahnya menghangat seketika.
***
Pagi hari tanpa keberadaan pak Wahyu membuat mereka sedikit bebas. Seperti saat ini, Jo dan Nesa menggunakan dapur dengan seenaknya. Karena sedari tadi Jo terus-terusan menjaili dan mengusili istrinya. Sampai-sampai Nesa gagal memasak. "Jo... jangan kayak anak kecil deh!!! Sayurnya jadi kebuang kan??" sungut Nesa sambil memunguti daun sawi yang berserakan di lantai gara-gara ulah Jo tadi yang main lempar-lemparan.
"Gak apa, aku kan masih kecil... pengen dicium teyyuuuus," rengek Jo menirukan gaya anak kecil.
"Kumat deh mesumnya..." desis Nesa sambil melirik Jo tajam.
"Iya-iya gak mesum lagi deh.. sini ku bantuin nyapu." Jo langsung meraih sapu yang baru saja diambil Nesa dari sudut tembok dapur.
"Kamu bisa???" selidik Nesa heran.
"Bisa, aku sering nyapu kok. Tapi gak tiap hari," jelas Jo yang sudah mulai menyapui lantai dapur.
Nesa sempat terpana dengan jawaban Jo. Tapi kemudian dia melanjutkan aktifitas memasak pagi.
"Mau masak apa?? Mau dibantuin gak??" tanya Jo yang ternyata sudah selesai menyapu.
"Cuma nasi goreng. Gak usah dibantuin, nanti diberantakin kamu lagi."
"Gak kok Nes," melas Jo.
"Sudah mandi sana, nanti telat sekolahnya," usir Nesa sambil mengibas-kibaskan tangannya.
Jo sempat manyun, tapi tetap dilakuin juga perintah dari sang istri.
Begitupun juga Nesa, setelah selesai memasak dia juga harus segera mandi karena hari ini masuk pagi.
Setelah beres urusannya, kini keduanya saling duduk berhadapan di ruang tamu.
"Nes,,,"
"Hmmmm..."
"Kepikiran punya anak berapa??"
Uhuk.. uhuk...
Nesa tersedak dengan makanannya sendiri saat Jo bertanya seperti itu. Dengan sigap Jo mengambilkan segelas air putih dan menyodorkannya ke Nesa.
"Makan yang pelan-pelan bisa gak sih Nes??" omel Jo yang tanpa merasa bersalah sedikitpun.
'Ni anak kenapa jadi ngelantur sih???' batin Nesa terheran-heran.
"Gak ada topik lain apa??" timpal Nesa setelah membaik.
"Ya udah sih, maem dulu aja diabisin."
Suasana hening seketika. Hanya terdengar bunyi sendok yang mengenai piring di masing-masing mereka.
"Hari ini ku antar ya," ucap Jo setelah acara makannya selesai.
"Gak usah, udah setengah 7 tuh, entar kamu telat..." tolak Nesa sambil bercermin mengamati dandanannya. Soal dandanan Nesa selalu tampil dengan baik. Jadi dia tak mau ada yang kurang.
Jo terus menatapnya dari samping. "Udah cantik kok Nes," komentar Jo yang merasa Nesa terlalu berlebihan menatap cermin yang gak ada abisnya.
"Oh ya.. makasih..." jawab Nesa sekenanya.
"Nes..." Jo membalikkan tubuh Nesa. Dan ciuman seperti tadi malam akhirnya terulang kembali. Jo merasa kecanduan, padahal baru sekali merasakan. Tapi rasanya sangat berbeda. Ada getaran-getaran aneh, bahkan darahnya seperti menghangat. Dadanya bergemeruh jika mengingat tentang sensasinya.
Nesa hanya menikmatinya, jujur dia juga suka diperlakukan Jo seperti itu.
.
.
DN OTHOR SNANG BANGET BUAT CERITA KONFLIK YG GK HABIS2
BETUL KATA JO, KLO GK ADA YG JAWAB SAJA