NovelToon NovelToon
Love After Married

Love After Married

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Dokter / Tamat
Popularitas:105.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengenal 2

*

Sekeras apapun membangun mimpi, akan ada kalanya terbangun untuk menerima kenyataan.

*

*

"Jadi kamu kenal DARK CHOCO Qis?"

Meski tangan dan tatapan Anin fokus pada mesin Sealer, tapi tidak menyurutkan rasa penasarannya.

Qistina menautkan alis, "Yang mana yang kamu maksud?" Ia balik bertanya.

"Itu, yang kamu panggil Pak Albie." terang Anin, tanpa menoleh.

Qistina mengangguk-angguk, ia paham siapa yang Anin maksudkan. "Oh... Jadi Pak Albie yang kamu bilang DARK CHOCO itu?" ujarnya.

"Iya, kamu kenal?"

"Kenal" sahut Qistina antusias, "...mereka berdua itu dokter di rumah sakit pusat." lanjutnya.

"Dokter?" tanya Anin heran "Kalo Albie sih aku percaya, tapi yang satunya?" lanjutnya sambil memicingkan mata.

"Naufal?" sela Qistina.

Anin mengiyakan dengan anggukan samar, ia menatap Qistina sebentar namun kembali fokus pada mesin Sealer. "Dia itu gimana ya..." Anin berhenti sebentar, ia sedang memilih kata yeng tepat untuk menggambarkan asumsinya mengenai Naufal.

"Kamu pernah denger suara ayam nggak?" tanyanya, kemudian.

Qistina mengangguk, jelas ia pernah mendengar suara Ayam.

"Kalau kucing pernah?" Anin kembali menanyakan sesuatu, yang jelas-jelas jawabannya pasti pernah Qistina dengar.

Qistina penasaran, sebenarnya maksud Anin ini apa? Kenapa ia melontarkan pertanyaan yang ia sendiri juga tahu jawabannya. Aneh, tapi Qistina tetap menjawab dengan sabar. "Meong, gitu kan suaranya?"

"Bener!" seru Anin "... nah kalau suara buaya kamu pernah denger nggak?"

"Buaya?" Qistina menautkan alisnya, "gimana tuh suaranya?" tanyanya penasaran.

"Kamu dengerin aja kalau si Naufal itu ngomong. Persis buaya yang lagi naik ke permukaan."

Jawaban dari Anin yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh Qistina, sontak membuat nya terpingkal.

"Kamu ada-ada aja Nin" ujar Qistina dengan menggelengkan kepala, di sela tawanya. "eh...tapi dia baik loh." imbuhnya.

Anin menaikkan bahunya, "Semua buaya emang baik kalau lagi deketin mangsa." ujarnya.

"Gitu ya?" tanya Qistina, dan tawanya pun mulai mereda "Pengalaman banget nih yang di deketin buaya." ucapnya dengan kerlingan menggoda.

"Gimana nggak pengalaman banget" Seru Anin " bokap kan buaya. Makannya nyokap sampe makan hati banget gitu." Imbuhnya, dengan senyum getir di wajah.

"Sampe kapanpun aku nggak bakal tertarik sama buaya modelan begitu. Walaupun ya, lumayan ganteng sih."

Anin memang seantipati itu dengan cowok yang menurutnya buaya. Karna trauma, melihat Ibunya sering di selingkuhi oleh Ayahnya. Ketahuan sekali, minta maaf dan di maafin. Tapi tetap saja mengulang lagi, mengulang lagi. Tapi anehnya orang tuanya tidak kunjung berpisah juga, demi anak katanya. Padahal kalo bisa milih, Anin lebih suka kalau Ibunya pisah saja. Seenggaknya bisa ngurangin polusi suara di rumah. Bosen dengar mereka berantem.

Alasan itu juga yang membuat Anin ilfeel sama gelagat buaya Naufal. But who know, bisa saja setelah ini buaya itu insyaf dan malah bikin dia jadi tergila-gila. We never know the future kan?.

"Jadi dia ganteng nih?" Qistina menyelidik.

"Gitu deh, di lihat dari segi mana juga mereka itu kayak saling menyempurnakan." Anin sambil menaikkan bahunya.

Qistina pun hanya bisa tersenyum menanggapinya. Lantas ia meraih nampan, berisi dua cup kopi pesanan Albie dan Naufal yang sudah siap. "Oke deh, aku anter kopi ini dulu ke meja mereka." ujarnya.

Anin mengangguk, dan menaikkan kedua alisnya "Hati-hati kecaplok buaya!" serunya.

Qistina menoleh sebentar, lantas kembali fokus pada jalan. "Lagi nggak minat jadi pawang buaya." timpalnya.

Seketika jempol Anin mengacung, seolah menunjukkan dukungan dengan apa yang Qistina katakan.

Qistina sendiri memang benar-benar belum memikirkan untuk menjalin hubungan lagi setelah Calvin memutuskannya. Lukanya masih basah, wajar masih baru. Belum juga satu Minggu.

***

"Segitunya liatin Qistina Bie, kenapa?"

Albie dan Naufal sudah duduk di meja yang agak jauh dari panggung akustik, sengaja agar tidak terlalu terasa hingar bingar dari soundsystem. Bukan tidak suka musik, hanya saja mereka lebih ingin menghabiskan waktu untuk mengobrol ketimbang larut dalam alunan lagu.

Ablie membenarkan duduknya, "Aku kira dia cuma bocil labil, nggak nyangka dia sekuat itu." sahutnya.

"Takjub nih ceritanya?" tanya Naufal dengan kerlingan menggoda. "Seberapa takjub pas sama Alya?" imbuhnya.

"Sama Alya aku juga takjub, tapi mimpi buat sama dia sudah di bangunkan kenyataan." ujar Albie dengan suara rendah "Mau gimana lagi."

Naufal menegakkan punggungnya "Jadi kemungkinan nyoba buat membangun mimpi sama Qistina udah ada plan nih?"

"Siapa bilang? mana bisa membangun mimpi cuma di dasari sama rasa takjub doang." timpal Albie.

"Ribet emang, tidur bareng kan pernah. Apa susahnya buat bangun mimpi bareng juga." sindir Naufal.

"Bisa diem nggak?" bentak Albie, kesal. "Aku tidur sama Qistina itu, nggak ada rencana apa-apa sebelumnya, no having sex, bahkan nggak sadar kalau dia di sebelah." terangnya.

Naufal menahan tawa, ia senang berhasil membuat Albie marah. "Iya, iya... Nyolot mulu, si Pak Albie ini." godanya.

Albie melotot, kata Pak Albie yang keluar dari mulut Naufal semakin menambah kekesalannya. Lantas ia menghela nafas dengan kasar, mencoba menetralkan emosinya sebentar.

"Tapi, kenapa Qistina kalau sama kamu nggak panggil Pak? Usia kita kan ngga ada bedanya." tutur Albie, heran.

"Kamu pake bahasa formal, pake saya. Jadi dia berasa ngobrol sama Bapak-bapak." terang Naufal.

"Makanya sama cewek jangan kaku, di kira orang sama kayak Pak Direktur Rumah Sakit apa." imbuhnya.

Albie menatap Naufal, serius. "Jadi harus, aku- kamu?" tanyanya.

"Iya kali, doi kan masih muda. Wajar dong." timpal Naufal. Namun kemudian terdiam karna melihat Qistina sudah berjalan ke arah mereka.

Dengan nampan berisi dua cup kopi, Qistina semakin lama semakin mendekat.

"Sory ganggu" ujarnya, seraya menaruh cup kopi itu di meja. "selamat menikmati." Imbuhnya.

"Terimakasih Qis" timpal Naufal sambil membenarkan duduknya. Dan di balas anggukan kepala dan senyum oleh Qistina.

Albie mendehem pelan, " Qis, kamu selesai kerja jam berapa?" tanyanya.

Qistina menatap canggung, Albie. "Sebentar lagi sih, Pak. Kalau nggak ada lembur udah bisa pulang." jawabnya kalem.

"Lembur? Sampe jam berapa?" tanya Albie pelan.

Qistina memegang nampannya erat "Sampe tutup jam 12" jawabnya.

Albie terdiam, namun tatapannya masih jatuh pada Qistina. 'dia kerja sampe jam 12, besoknya masih harus kuliah. Segitu kuatnya ternyata.' batinnya.

"Boleh nggak kamu nggak usah lembur?" tawar Albie, "kamu duduk bareng di sini." imbuhnya.

Qistina memutar bola matanya, sejenak "Ehm... gimana ya, aku berharapnya lembur sih Pak. Biar ada bonusnya." ujarnya.

"Bonusnya, aku ganti" timpal Albie tanpa ragu "Gimana?" lanjutnya.

Qistina mengerjapkan mata,"Beneran Pak?" tanyanya memastikan kalau ia tidak salah dengar.

"Iya, beneran aku ganti. Bila perlu sekarang juga." timpal Albie, tanpa nada main-main.

Qistina menunduk, ia berfikir sejenak. Teringat dengan semua kebutuhan yang sudah siap untuk segera di lunaskan, akhirnya Qistina menyerah. Dengan sadar kepalanya mengangguk, pertanda setuju dengan apa yang Albie katakan.

"Oke" seru Albie "aku tunggu kamu sampai selesai jam kerja" imbuhnya.

Qistina mengangguk, lantas tanpa sadar senyuman sedang terukir samar "Iya Pak, aku balik kerja dulu." ujarnya.

Qistina sudah hampir melangkah kan kakinya, tapi kemudian terhenti. Saat ia dengar Albie memanggilnya lagi.

"Qis,"

Qistina menoleh, "Iya Pak?" tanyanya.

"Aku sudah nggak pake 'Saya'. Jadi kamu nggak perlu panggil Bapak." ujar Albie, terang-terangan.

Qistina mengangguk, dan menyadari kesalahannya karna sudah memanggil Albie dengan sebutan Bapak, bukankah Albie tidak sebapak-bapak itu?

"Eh... Iya Pak, eh anu. Jadi manggilnya gimana?" Qistina sampai gugup menimpalinya.

"Mas" seru Albie "Panggil aku Mas aja." lanjutnya.

Qistina mengangguk, ragu-ragu. Meski sebenarnya ia merasa sangat segan, karna wibawa Albie yang begitu kental. Qistina diam sejenak, lantas mengikuti saran Albie akhirnya. "Iya, Mas...Mas Albie." tuturnya.

Abie tersenyum tipis,"Itu lebih cocok buat kamu."

Qistina mengangguk samar, kemudian ia memilih untuk cepat-cepat berlalu. Pergi dari situasi canggung itu.

Naufal mana bisa diam, derai tawanya mengalir begitu mendengar apa yang Albie katakan barusan.

"Mas Albie, sudah nggak pake 'Saya' nih?" godanya.

Albie menatapnya tajam "Diem, berisik!" bentaknya.

Sekali lagi Qistina menoleh, sebelum melangkah lagi ke meja konter.

'Dia bilang cocok buat kamu. Bukannya dia yang minta di panggil Mas. Aneh banget.' batinnya.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis🤍

1
kinkin
ok
_Nic: Terimakasih 🤍🤍🤍
total 1 replies
SANG
Keren💪👍
SANG: Masama dek💪👍
total 2 replies
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
_Nic: Terimakasih untuk ekspresinya kak, semoga cerita ini mampu menghibur kakak🙂
total 2 replies
Ifana
hadeuh pikiran mu pal
Ifana
papa gk tu 😭😭🤣🤣
💕⃝🕊️♥♨ αi Ra4➈ ☯♤
semangat autor
_Nic: Terimakasih banyak kak, Author senang sekali di semangati begin🫠💕Kakak juga semangattt yaaa🔥
total 1 replies
neny
alhamdulillah happy ending,,terima.kasih kak othor,, cerota nya menarik untuk di baca,,smg sukses selalu,,🤲🤍
_Nic: Maasyaallah terimakasih banyak akak, sudah menemani perjalanan Albie & Qistina. Semoga cerita ini menghibur akak. Nantikan cerita mereka selanjutnya ya kak💕
total 1 replies
Herman Lim
wahh ada extra part nya donk Thor
_Nic: Insyaallah, Author sedang menyiapkan cerita lanjutannya kak💕 Do'a kan semuanya lancar dan cerita Albie & Qistina kembali jadi teman di sela aktivitas akak.
Jangan lupa kasih ulasan dan rating 5 untuk cerita ini ya kak. Terima kasih sudah menemani perjalan sejauh ini💕
total 1 replies
..dheenda..
belum tamaaat kan kaa
_Nic: Tamat kak, do'a in Author untuk kelancaran karya lanjutannya ya💕 Jangan lupa kasih ulasan dan bintang 5 untuk cerita ini kak.
Insyaallah Author sedang siapkan cerita lanjutannya
total 1 replies
neny
gini kan enak,,dlm rmh tangga tuh komukasi,,saling percaya,saling terbuka,,itu kunci nya
neny: eehh,,skrng malah dituduh bapak nya anak alya,,qis,,qis,,ada2 ajh km mah🤣🤣🤣
total 2 replies
neny
yasudahlah,,mau gmn lg,,niat menolong malah menjdi kesalah fahaman,,mknya lain kali apa2 tuh cerita biee,,
neny
kapookk km bieee,,makanyaa,,jd orang jng terlalu baik,,sdh tau alya itu pernah nyakitin qistina,,eeh malah mau2 nya bujukin alya,,orang tua nya jg ngapain udh dibantu,malah nge jelasin segala ke qistina,,mana ngejelasin nya setengah2 lg🤦🤦
neny: emng iya kak,,klau dia gk berharap gk mungkin dia ngmng gtu sm qistina,,kan dia yg minta tlng spy alya bs tenang,dan ktnya cuma albie yg bs nenangin alya🤦
total 2 replies
Herman Lim
waduh moga aja gpp sama janin qis setelah ini kamu harus tegas albie jgn jadi lelaki yg plin-plan KLO mank niat bantu tapi ya harus tegas
Herman Lim: hooh kak pengen bgt aku pites dia da syukur dapat bini bgs malah sok paten
total 2 replies
Anonim
Up nyaa kok lama sih kak doubel dong
_Nic: Maaf ya kak, kemarin dan hari ini ada kendala dengan server platform nya, jadi ada kendala untuk up bab. Insyaallah kalau sudah normal, akan up seperti biasanya. Terimakasih sudah mengikuti dan memberi dukungan untuk cerita ini ya kak. Kalau kakak berkenan silahkan baca kisah dokter Naufal di karya yang berjudul Ajari Aku Percaya Cinta. Sudah Up 36 bab. Sekali lagi terimakasih banyak kak💕
total 1 replies
..dheenda..
nunggu updatenya semoga kehamilannya baik2 aja .
dan qistina dibawa kabur daddy aja deh🤭 gemes abisnya
_Nic: Sabar ya akak, mau update masih belum bisa. Karna PF lagi eror, belum bisa up Bab🥲
total 1 replies
Herman Lim
kapok u kan albie maka jgn pendam sdr ngomong
_Nic: kalang kabut kan dia, ya kak/Shy/
total 1 replies
neny
koma lama deh qistina,, biar albie kapookkk
neny: kan ada kak,,koma tp bayi nya masih hidup,,ya kka nya 4 bulan nan ajh,,biar kapok albie nya🤭
total 4 replies
neny
mah kan,,repot klau udh kyk gini,,,angel lah🤭🤭
neny
klau sekedar ucapan mah mungkim qistina jg gk masalah,,tp km hrs jujur sm qisrina,spy gk ada kesalah fahaman ,,
Herman Lim
ayo kabur qis biar albie kalang kabut 🤪🤪🤪
_Nic: Iya juga ya kak, mestinya Albie tuh mikir. Baik sih baik tapi nggak mengorbankan rumah tangga sendiri juga.🔥
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!