NovelToon NovelToon
SELINGKUHAN PAMAN

SELINGKUHAN PAMAN

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / POV Pelakor / Konflik etika / Tamat
Popularitas:55.6k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Tentang perselingkuhan Hamish dan Thania. Paman dan keponakan. Hamish pria yang kesepian di hubungan rumah tangganya, hadirnya Thania dihidupnya mengubah segalanya lebih berwarna. Dan sejak kejadian mendesak di bawah hujan Hamish dan Thania mulai menjalin cinta terlarang mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Usai menyuapkan potongan terakhir steak ke mulutnya, Thania menghela napas puas. Ia meletakkan garpu ke tepi piring, lalu mengusap bibirnya perlahan dengan tisu. Rasa senang masih menetap di dadanya—bukan hanya karena makanannya yang lezat, tetapi juga karena ia tahu, orang yang membelikannya adalah Hamish.

Sinar matahari mulai merambat masuk dari sela tirai dapur, membuat pencahayaan ruang dapur menjadi hangat. Thania berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk mencuci piring bekas makannya. Air mengalir pelan, menciptakan suara yang menenangkan di tengah rumah yang masih lengang.

Langkah kaki terdengar menuruni tangga.

Hamish muncul dari arah ruang tengah, rambutnya sedikit basah dan kemejanya belum sepenuhnya dikancingkan. Ia melihat Thania yang masih berdiri membelakanginya, lalu langsung menuju mesin kopi dan menyalakannya.

"Sudah selesai makan?" Tanyanya sambil mengambil cangkir bersih dari rak gantung.

"Sudah," Jawab Thania seraya membilas piring terakhir. Ia menoleh sebentar dan tersenyum tipis. "Terima kasih atas steik-nya, Paman."

"Sama-sama. Aku senang kau menyukainya." Balas Hamish.

Hamish menuang kopi ke dalam cangkir, aroma khasnya segera memenuhi dapur. Ia bersandar di kabin dapur, memperhatikan Thania yang kini sedang mengeringkan tangannya dengan handuk kecil.

"Kau ada kuliah hari ini?"

"Ada," jawabnya ringan, "tapi nanti pukul 3 sore."

"Aku masuk kerja siang ini, jam 1." Ia menyeruput kopinya perlahan. "Kalau kau mau, kita bisa berangkat bersama. Aku antar kau dulu ke kampus."

Thania mengangkat alis, sedikit terkejut tapi tidak menolak. "Baiklah, aku mau. Kalau begitu aku mandi dan siap-siap dulu."

"Ya sudah. Aku juga sedang bersiap-siap."

Thania mengangguk, lalu berjalan keluar dari dapur. Tapi langkahnya sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Mungkin karena senang bisa pergi bersama. Mungkin karena aroma kopi dan suara lembut Hamish masih mengiringinya menuju kamar.

Hamish menatap punggung Thania yang menghilang di balik lorong, lalu kembali menyeruput kopinya. Senyum tipis tergurat di wajahnya, pelan-pelan. Seperti seseorang yang diam-diam menikmati rutinitas kecil yang tak biasa.

***

Mobil hitam milik Hamish terparkir rapi di depan garasi, mengilap tertimpa cahaya matahari siang yang mulai menyengat. Mesin mobil sudah dinyalakan, udara di dalam kabin mulai terasa sejuk dari hembusan AC. Hamish duduk di balik kemudi, jari-jarinya mengetuk pelan setir sambil menatap ke arah pintu depan rumah.

Tak lama kemudian, Thania keluar dari rumah.

Langkahnya pelan, membawa aura yang berbeda dari biasanya. Gadis itu mengenakan kemeja putih yang diselipkan rapi ke dalam rok putih selutut. Rambutnya tergerai alami, dihiasi sepasang anting mutiara kecil yang berayun lembut setiap kali ia bergerak. Make-up-nya ringan, hanya sentuhan tipis di mata dan bibirnya berwarna pink lembut, seolah memantulkan cahaya sore yang mulai turun.

Hamish membeku sejenak.

Wajahnya tetap tenang, tapi pandangannya tak bisa mengelak dari sosok keponakannya itu. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dalam pikirannya—rasa tak biasa yang muncul setiap kali ia melihat gadis itu berdiri di hadapannya, kali ini lebih jelas dari sebelumnya.

Thania membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.

"Aku sudah siap. " Ucapnya sambil membetulkan rok dan menyampirkan tas kecil di pangkuan.

Hamish mengangguk, suaranya terdengar tenang meski pikirannya sedikit tak tenang. "Kau terlihat rapi hari ini."

Thania tersenyum sambil menatap ke luar jendela. "Aku hanya ingin terlihat lebih segar saat kuliah."

Hamish melirik sekilas. "Kau terlihat lebih dari itu."

Thania menoleh, alisnya sedikit naik. “Maksudmu?”

"Kau sangat cantik, Thania." Pria itu membatin dihati kecilnya. Tidak ada maksud untuk berterus terang memuji gadis itu. Hamish tidak ingin membuat kesalahpahaman. 

"Bukan apa-apa. " Jawab Hamish cepat, lalu menekan pedal gas perlahan. Mobil hitamnya mulai berjalan keluar dari pekarangan rumah; melaju tenang di bawah terik matahari, melewati jalan-jalan kota yang mulai ramai. 

Jam di dashboard menunjukkan pukul 12.15 siang. Di dalam mobil, Thania duduk diam sambil memandangi pemandangan luar jendela. Make-up tipis dan anting mutiara di telinganya memantulkan cahaya yang masuk, sementara Hamish tetap fokus mengemudi, sekali-kali mencuri pandang ke arahnya.

"Kita ke kantorku dulu, ya. " Ucap Hamish, memecah keheningan. Ia merubah pikirannya untuk mengantar Thania kekampus lebih awal.

Thania menoleh. "Baik. Kampusku juga dekat dari kantor Paman, kan?"

Hamish mengangguk. "Ya. Nanti sekitar pukul setengah tiga, aku antar kau ke sana."

Mobil itu akhirnya berbelok ke dalam sebuah kawasan perkantoran elit, lalu berhenti tepat di depan sebuah gedung tinggi berarsitektur modern dengan kaca-kaca besar yang memantulkan langit biru. Hamish  memarkirkan mobilnya didepan pintu utama gedung kantornya tanpa harus khawatir ditegur sekuriti; karena jabatan pria itu lumayan tinggi. 

Di lobi gedung, pegawai-pegawai menyapa Hamish dengan hormat, menyebut namanya dengan sopan.

Thania sedikit heran, tapi tetap mengikuti langkah sang paman menaiki lift hingga tiba di depan sebuah pintu besar berlabel:

"Direktur utama. Hamish Wiryawantara. " Monolognya ketika membaca tulisan yang tertempel pada pintu ruang kerja Hamish.

Mata Thania membesar sedikit. "Direktur…?"

Hamish meliriknya sambil tersenyum tipis. "Ya. Ini ruang kerjaku."

Ruangan itu terbuka, memperlihatkan interior luas dengan dinding berwarna netral, rak buku elegan, satu set meja kerja modern, dan sofa panjang di sisi kiri. Sebuah jendela besar memandang langsung ke arah taman belakang gedung. Thania melangkah masuk perlahan, merasa seperti tiba-tiba memasuki dunia yang berbeda.

"Tempatmu bekerja… besar sekali." Gumam Thania, kagum.

Hamish meletakkan map kerjanya di meja, lalu menanggapi ringan, "Tidak sebesar ekspresimu sekarang."

Thania menahan tawa, lalu duduk di sofa sambil masih memandangi seluruh ruangan. "Aku kira Paman hanya pegawai kantoran biasa."

Hamish hanya tertawa kecil, lalu melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya.

"Aku mau menyelesaikan beberapa hal sebentar. Kalau kau bosan, kau bisa lihat-lihat. Atau…" Ia menoleh. "Kau ingin bermain biliar?"

Thania mengerutkan kening. "Biliar?"

Hamish berjalan membuka pintu samping yang ternyata terhubung dengan ruang rekreasi pribadi di dalam kantor. Di sana terdapat sebuah meja biliar mengilap, minibar kecil, dan speaker yang memutar musik instrumental lembut.

"Kantor Paman benar-benar seperti hotel bintang lima." Ucap Thania, tak bisa menahan kekaguman.

Hamish tersenyum. "Anggap saja ini ruang rehat pribadi. Aku sering lembur di sini, jadi butuh tempat untuk rileks." Lalu pria itu berjalan ke sudut ruangan mengambil dua tongkat panjang yang tertata diantara kumpulan tongkat lainnya. "Mau mencobanya?" tawarnya.

Hamish memberikan satu stik biliar dan menyodorkannya kepada Thania. Gadis itu menerimanya ragu-ragu, lalu berdiri di sisi meja, memperhatikan bola-bola yang telah tersusun. Tangannya masih canggung memegang tongkat kayu itu, sementara matanya berkali-kali melirik ke arah pamannya, mencari petunjuk.

"Peganganmu masih terlalu kaku." Ujar Hamish, melangkah perlahan mendekat dari belakang.

Thania menoleh, "Aku… belum pernah benar-benar bermain."

Hamish mengangguk pelan, lalu tanpa berkata-kata lebih banyak, tangannya menjulur ke depan dan menyentuh tangan Thania—membimbingnya untuk memegang stik dengan posisi yang benar. Jari-jarinya menyentuh kulit tangan gadis itu, dan seketika, Thania merasakan semacam getaran halus menjalar dari ujung jarinya hingga ke dada.

"Begini…" Bisik Hamish, suara berat dan rendahnya terdengar dekat di telinga Thania.

Tubuh pria itu kini berdiri begitu dekat di belakangnya, hanya menyisakan ruang napas di antara mereka. Hamish melingkarkan sedikit tubuhnya, satu tangan mengoreksi pegangan Thania di ujung stik, dan tangan lainnya menyentuh lembut bagian siku Thania agar arah pukulannya sejajar.

Thania tidak mampu bergerak. Napasnya menahan. Seluruh tubuhnya menegang dalam diam, dan mata gadis itu hanya terpaku ke atas meja. Ia tahu Hamish terlalu dekat. Bahkan nafas hangat pria itu menyentuh sisi pipinya.

Dan saat Hamish menunduk sedikit, sekilas aroma lembut dari rambut Thania tercium samar. Wangi. Bersih. Seperti bunga yang baru mekar setelah hujan. Ia tak menolak, sesuatu dalam dirinya bergeser perlahan, pelan tapi pasti, menuju arah yang tak bisa ia jelaskan.

"Tenang saja." Nada suara pria itu membisik rendah, masih dalam posisi yang sama. "Jangan tegang."

Tapi justru itulah yang Thania rasakan—ketegangan yang tak biasa. Gugup yang membekukan lidah. Seluruh pikirannya kacau oleh jarak yang begitu dekat dan aroma tubuh pria itu yang kini mulai ia hafal diam-diam. Juga suara berat pria itu, yang selalu berhasil membuat tubuhnya meremang.

"A-aku… bisa coba sendiri." Lirihnya cepat, nyaris berbisik, berusaha mundur selangkah.

Hamish menyadari perubahan ekspresi Thania. Ia segera melangkah mundur pelan, memberi ruang, tapi tak sepenuhnya mengalihkan tatapan.

"Maaf," Katanya tenang. "Terlalu dekat, ya?"

Thania menunduk, mengangguk pelan. "Sedikit."

Hamish menghela napas, mengambil jarak dan bersandar di sisi meja. "Aku hanya ingin membantumu. Tapi kurasa… aku terlalu larut."

Thania masih menunduk. "Tidak apa-apa. Aku hanya… belum terbiasa."

Hening sejenak. Lalu Hamish mengubah suasana dengan senyum samar. "Kalau begitu, biar aku jadi penontonnya sekarang. Tunjukkan kalau kau bisa memasukkan bola tanpa bantuanku."

Thania mengangkat wajah, tersenyum kecil. "Baik. Tapi jangan salahkan aku kalau stik ini terbang."

Keduanya tertawa, dan ketegangan pun perlahan mencair. Thania menarik napas panjang, menunduk sedikit, lalu membidik bola putih dengan penuh konsentrasi. Ia menarik stik biliar ke belakang, siap untuk memukul. Namun saat ia mengayunkan pukulannya ke depan—

Tok! ~Suara pukulan tongkat

Tongkatnya justru meleset. Bola putih tetap diam di tempatnya, bahkan sedikit pun tidak bergerak.

"Astaga!" Thania mengerang frustasi, memutar badan, menatap Hamish dengan wajah kesal. "Kenapa ini susah sekali?!"

Hamish, yang sejak tadi berdiri di sisi meja sambil bersandar santai, tertawa kecil. Tawa pria itu dalam dan hangat, seperti suara senja yang turun perlahan. Matanya menyipit geli melihat reaksi Thania.

"Bukan begitu cara memukulnya, " Ucapnya dengan senyum lebar. “Kau terlihat seperti sedang memukul nyamuk, bukan bola biliar."

Thania mendengus, lalu menggigit bibir bawah dengan kesal. "Jangan mengejek. Aku serius, tahu."

"Aku tahu," Balas Hamish santai, mendekat. "Justru itu yang membuatmu lucu.

Gadis itu menatap pria di depannya dengan tatapan menyipit, seperti ingin membantah, tapi pipinya justru memerah sendiri. Ia membuang muka cepat, pura-pura memeriksa stiknya.

Hamish tersenyum lagi. "Mau ku ajarkan lagi, hmm?"

Thania menggeleng cepat. "Tidak! Kau terlalu dekat tadi. Aku—aku jadi salah fokus."

Hamish mengangkat alis, seolah sengaja memancing. "Salah fokus?"

Thania membelalakkan mata, lalu buru-buru melambaikan tangan. "Maksudku… karena posisimu… dan suaramu… ya begitu."

Pria itu terkekeh pelan. "Baiklah. Aku tidak akan mendekat lagi. Tapi jika bola itu tak bergerak lagi setelah lima kali pukulan, jangan salahkan aku kalau harus turun tangan."

Thania hanya mendengus kecil, meski sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia menunduk lagi ke arah meja, bersiap mencoba sekali lagi. Dan di antara tawa, kehangatan, serta pukulan biliar yang masih meleset, ruang kecil itu menyimpan getar halus yang perlahan mengisi udara di antara mereka.

Sesuatu yang samar. Sesuatu yang belum bernama. Tapi terasa nyata.

.

.

.

.

.

.

To be continue....

Vote gengs🥺

1
Nda
ditunggu novel selanjutnya thor
Nda
novel mu luar biasa thor
zanizen_: wahh terimakasih yahh😍
total 1 replies
mila.mil_
hebat zanizen_ 👍👍👍👍👍👍👍 gue salut banget sumpah. gue bener bener gak nyangka ada novel yang bisa mengombang ambing emosi pembaca 🤭. bakal gue baca series selanjutnya kok
zanizen_: thanks... aku juga gak nyangka ada yang baca Ampe ending sampai terkesan begini... makasih lhioo😍
total 1 replies
mila.mil_
nangis gueee ayolah Thania! Nathan SE cinta itu sama Lo! masa Lo mau ambil resiko sih dengan milih Hamish
zanizen_: udah bucin banget sama Hamish Thania nya🤭
total 1 replies
mila.mil_
pasti aku baca thor👍👍👍👍
zanizen_: mantap👍🤭
total 1 replies
mila.mil_
ya ampun Hamish! mau ngapain ini cuy🤣🤣🤣🤣🤣
zanizen_: adalah pokoknya🤭
total 1 replies
mila.mil_
ngakak ya ampun! di tawarin gituan dong
zanizen_: ngejar target penjualan staff nya🤣
total 1 replies
mila.mil_
yahhh udah mau habis aja ceritanya. penasaran endingnya Thor! semangat habisin nih novel! sikat teros ceritanya Thania sama Hamish! 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
zanizen_: Udah end nih, happy reading ya🤭
total 1 replies
Irma Luthfah
gak tega bangettt baca nya .😭😭😭
mila.mil_
tambah panassssss... gila lu Thania.... pelakor beneran baru muncul cuy. yok lanjut Thor! 👍👍👍🤭🤭🤭🤭💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
mila.mil_
udah mulai ketahuan nih. yok Tara! ungkap terus! sekalian tuh cerai in Hamish biar nanti nikah sama Thania 🤣🤣🤣🤣🤣 🤭🤭🤭🤭👍👍👍👍👍👍👍👍👍
mila.mil_
sumpah kasihan banget Tara. gue kalau jadi Tara sih, udah bener bener curiga banget kenapa bisa Hamish hilang gitu aja bahkan tanpa kabar. ini antara ke Thania atau Tara ya, gue rasa mereka berdua emang gak cocok banget buat cowok se bejat Hamish. OMG! gue Sampek nangis pas baca penderitaannya Tara. gak bisa bayangin gimana hancurnya harapannya. 💪💪💪💪💪💪💪💪 semangat lanjut Thor! bagus banget ini novel 💪💪💪👍👍👍👍
mila.mil_
sumpah sih, ini perasaan gue rada gak enak ke Thania. jangan jangan Thania ada rasa lebih berharga di mata Hamish. waduhhh Thania udah mode gak polos lagi
zanizen_: namanya juga selingkuhan 🤭
total 1 replies
Zeona
Bikin penasaran banget sama alurnya, semangat Thor💕💕
Irma Luthfah
ikut deg degan bangettt
mila.mil_
lanjut Thor! ku tunggu update nihh 🤭🤭🤭💪💪💪💪💪💪💪💪💪
mila.mil_
gila Thor!!!! udah mulai aja nih... i want to be inside you🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau nyebur kolam aja gue pas baca ini🤣🤣🤣🤭🤭🤭👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
zanizen_: wkwkwk mantap👍🤭
total 1 replies
mila.mil_
parah ya. cuman gara gara Thania, banyak yang terluka. ini nih, persaingan ketat antara Nathan sama Hamish. 👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪😍😍😍😍
mila.mil_
kasihan Nathan 🤣🤣🤣🤣🤣padahal udah mau ni nu ni nu sama Thania, lah malah di gagalin sama Hamish.🤭🤭🤭🤭🤭 semangat lanjut thor
zanizen_: posesif hamish
total 1 replies
mila.mil_
lanjut Thor! sumpah sih ini seru banget. gue kepo korbannya nanti Nathan apa Hamish ya...🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍👍👍👍
zanizen_: adalah pokoknya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!