Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik Kotor Rina
Di sebuah lounge mewah di bilangan Jakarta Selatan, Rina duduk bersantai sambil menyeruput cocktail mahalnya. Di depannya, duduklah pria yang kemarin memapah Auna ke kamar hotel sebut saja Dani yang tampak sedikit gelisah (Dani ini suruhan selingkuhan Rina dan Dani ini masih kerabat dekatnya Rafka dan Rina, tapi Rafka tak diakui kerabat karena Rafka dianggap miskin oleh keluarga mereka).
"Lo tenang aja, Dani. Rencana kita sukses besar. Zhafran itu cowok emosional. Begitu lihat foto, dia langsung percaya 100 persen. Sekarang dia udah nggak ngontak Auna, bahkan ngilang," kata Rina dengan nada sombong, senyum sinis terukir di bibirnya.
Dani menggaruk tengkuknya. "Tapi, Rin, lo yakin Zhafran nggak bakal selidikin? Itu hotel bintang lima, pasti CCTV-nya kuat. Lagian, obat yang lo kasih ke Auna itu... lumayan keras, lho."
Rina terkekeh, meremehkan. "CCTV? Udah gue bereskan. Siapapun yang lihat rekaman 24 jam itu, yang mereka lihat cuma gue yang panik nemuin Auna pingsan, terus manggil security dan Loh. Setelah Zhafran pergi, file di server itu udah terhapus permanen kok, santai. Gue nggak sebodoh itu, kali."
"Terus, Zhafran sekarang gimana? Dia udah urus cerai, kan?" tanya Dani.
Wajah Rina tiba-tiba mengeras. Dia meraih ponselnya, mengecek aplikasi tracker khusus yang dia pasang di mobil Zhafran (sebelum ia 'ngilang' di apartemen pamannya).
"Nah, ini yang bikin gue kesel," desis Rina, matanya menatap tajam layar ponsel. "Zhafran masih di apartemen itu. Dia nggak gerak ke mana-mana, nggak ada tanda-tanda ke pengadilan agama. Dia cuma ngumpet dan mikir. Kalau kelamaan, Zhafran itu bisa mikir jernih lagi, dan bahaya kalau dia mulai ragu sama fotonya!"
Rina tahu betul karakter Zhafran (Zhafran ini pernah satu kelas dengan Rina waktu SMP dulu.) Pria itu butuh kejutan emosional yang final, yang membuat amarahnya membatu. Foto perselingkuhan mungkin memicu amarah, tapi belum cukup untuk memutus ikatan pernikahan.
"Gue butuh sesuatu yang lebih menusuk, Dani. Bukan cuma bukti fisik, tapi bukti pengkhianatan emosional," gumam Rina sambil menggeser-geser layar ponselnya.
Dia kemudian membuka sebuah aplikasi khusus yang bisa membuat tampilan pesan instan palsu yang sangat realistis. Dia mulai mengetik, menciptakan sebuah skenario chat seolah-olah Auna dan Rafka sedang bercakapan mesra setelah kejadian di hotel.
— Fake Chat Scenario —
Rafka: Lo yakin, Au? Zhaf pasti hancur banget lihat foto itu.
Auna: Ya mau gimana lagi, Raf? Gue udah capek pura-pura bahagia. Gue juga nggak bisa nolak lo. Gue benci jadi istri Zhafran.
Rafka: Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi semua selesai. Setelah lo bebas, kita bisa mulai hidup baru.
Rina menyeringai puas melihat hasil screenshot palsu itu. Pesan-pesan itu terlihat begitu nyata, penuh penyesalan palsu dari Auna dan janji-janji romantis dari Rafka. Ini akan membuat Zhafran bukan hanya marah, tapi merasa dikhianati habis-habisan.
"Oke, Dani. Tugas lo sekarang," kata Rina sambil menyerahkan sebuah amplop kecil. "Lo pergi ke alamat ini. Ini alamat apartemen si Zhafran. Pastiin amplop ini ditaruh di bawah pintu apartemennya. Jangan sampai ketahuan orang, apalagi sama Zhafran. Lakukan malam ini juga. Ini akan jadi dorongan terakhir buat dia."
Dani mengambil amplop itu dengan wajah tegang. "Siap, Rin. Semoga kali ini benar-benar tuntas."
Setelah Dani menghilang dari pandangan, Rina bersandar di kursinya. Dia meneguk sisa minumannya, matanya memancarkan kepuasan dingin. Dia tahu, Zhafran sedang berada di titik terendah. Ditambah dengan 'bukti pengkhianatan' yang baru ini, Zhafran pasti akan menyerah.
"Selamat tinggal, Auna. Selamat datang, Nyonya Zhafran," bisik Rina pada dirinya sendiri, yakin bahwa mahkotanya sebagai istri Zhafran hanya tinggal menunggu waktu. Rina sama sekali tidak menyadari kalau, di waktu yang sama, rekaman CCTV dan hasil lab Rohypnol sudah berada di tangan Rafka.