Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Vio..." panggil Rani sambil meletakkan nampan di atas meja. Gadis itu kemudian menghampiri Viona yang sedang berdiri di depan wastafel, mencuci cangkir dan gelas.
"Ada apa, Kak?" tanya Viona, melirik sekilas kearah Rani yang tengah berdiri di sampingnya, sementara tangannya tetap cekatan membilas cangkir.
"Bu Siska memintamu membuatkan jus pepaya untuk Tuan Agam dan mengantarnya langsung ke ruangannya."
Viona kembali menoleh. Dahinya berkerut, merasa ada sesuatu yang janggal. "Jus pepaya untuk Tuan Agam?" tanyanya memastikan.
Rani mengangguk mantap. "Iya... tadi, Bu Siska yang bilang," jawab Rani meyakinkan.
"Sejak kapan Tuan Arogan itu suka dengan buah pepaya," gumam Viona pelan. Saking pelannya, sampai Rani tidak mendengar gumamannya.
Selama bekerja di kediaman pribadi Agam, Viona tidak pernah melihat buah yang Rani maksud ada dalam daftar menu makanan yang diminta pria itu. Apalagi, setiap seseorang dari kediaman Mahardika datang untuk mengisi ulang bahan makan, Ia tidak melihat ada buah itu di sana.
"Tapi, kita tidak punya stok buah itu sekarang," ucap Viona. Nada bicaranya terdengar menahan kesal.
"Lagipula aku sudah mengantar kopi satu jam lalu ke sana... Sebelumnya juga aku sudah mengantar susu dan camilan, belum lagi pagi tadi, beliau memintaku membersihkan ulang ruangannya padahal aku sudah membersihkannya sebelum beliau datang," keluhnya panjang lebar. Terhitung sudah lebih dari tiga kali Viona bolak-balik ke ruangan pria itu hari ini.
Rani yang mendengar keluhan Viona ikut merasa kesal. Rani jelas paham bagaimana lelahnya Viona harus bolak-balik ke lantai atas sementara ia juga memiliki tugas lain yang harus dikerjakan.
"Kalau begitu, biar aku saja yang membuatnya," ucap Rani, menawarkan bantuan. "Kebetulan aku sedang tidak terlalu sibuk."
Viona menggeleng pelan. "Tidak perlu, Kak. Aku bisa dapat SP lagi dari Bu Siska kalau sampai tidak menjalankan perintah Tuan arogan itu," tolak Viona. Sebelumnya, ia memang sudah pernah mendapatkan teguran dari Bu Siska karna telat mengantar kopi ke ruangan Agam. Rupanya Pria itu sengaja mengadu agar Viona mendapat teguran.
"Kalau begitu, biar aku saja yang membeli buah pepayanya, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu dulu." Rani kembali menawarkan bantuan. Kali ini, Viona mengangguk setuju. Ia memang masih harus melanjutkan mencuci cangkir dan gelas kemudian mengelapnya.
Selang tiga puluh menit, Viona sudah siap mengantar jus pesanan Agam. Dengan nampan di tangan berisi jus, Viona berdiri di depan lift menunggu pintunya terbuka.
"Baru satu minggu bekerja saja, rasanya badanku remuk semua," gumamnya lirih. Ia bergeser sedikit ke samping, kemudian menyandarkan punggung ke dinding.
"Apa aku berhenti bekerja saja di sini, agar bisa fokus bekerja di kediaman Tuan Agam." Mulutnya bergumam, namun otaknya mendadak sibuk menghitung jumlah tabungannya saat ini.
"Tapi... TabunganKu masih belum cukup banyak," gumamnya sambil menggelengkan kepala, meralat keputusannya untuk berhenti bekerja di perusahaan. Ia merasa tabungannya belum cukup banyak untuk membawa ibunya keluar dari kekejaman sang paman. Viona yakin, sepasang suami istri mata duitan itu pasti akan meminta banyak uang sebagai ganti kebebasan sang ibu.
"Tapi tubuhku..." Viona kembali mengeluh. Rasa letih dan kantuk membuatnya bingung sendiri. Ia bahkan memejamkan matanya sejenak untuk sedikit meredakan mata yang terasa berat dan perih.
Sejak resmi bekerja di apartemen Agam, hidup Viona seolah tidak pernah lepas dari daftar tuntutan pria arogan itu. Setiap pagi, ia harus bangun lebih awal, membersihkan seluruh sudut unit apartemen, memastikan tidak ada secuil debu pun yang masih menempel. Selanjutnya ia harus berkutat dengan tiga jenis lauk berbeda yang harus dimasak dan disajikan sebelum pukul tujuh pagi.
Yang membuat tubuh Viona semakin letih, Ia juga harus kembali memasak dan menyajikan lima jenis lauk yang berbeda untuk makan malam, sementara ia baru tiba kembali di apartemen sekitar pukul lima sore, setelah seharian bekerja sebagai office girl. Waktu dua jam terasa begitu sempit. Ia harus bergerak cepat berpacu dengan waktu yang terus berjalan sementara tubuhnya sudah lelah sedari pagi. Belum lagi, di perusahaan tempatnya bekerja, Agam seolah sengaja membuatnya bertambah lelah dengan memberi pekerjaan yang mengharuskannya bolak-balik ke ruangannya. Entah mengantar makanan, minuman atau memintanya membersihkan ulang ruangan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara seorang pria mengagetkan Viona. Gadis itu refleks membuka mata, menoleh dan menatap sekilas pria tampan bermata sipit yang tiba-tiba tengah berdiri tegak di sampingnya.
"Tuan Hyun..." sapanya pelan.
"Wah, kau ini hebat sekali, bisa bekerja dengan mata terpejam," seloroh Hyun dengan gaya tengilnya.
Viona mengerucutkan bibir, lalu menggeleng pelan. "Tidak... aku tadi hanya bosan menunggu pintu lift terbuka," jawabnya singkat. Bertepatan dengan itu, pintu lift yang ditunggu akhirnya terbuka. Bergegas Viona melangkah masuk ke dalam lift, diikuti Hyun yang juga ikut masuk.
"Ah... aku tahu. Saat kau memejamkan mata tadi, kau pasti sedang membayangkan wajah tampanku." Hyun kembali berseloroh, berusaha mencairkan suasana hening di dalam lift.
Viona tidak menanggapi. Tubuhnya yang lelah dan kantuk yang semakin menyerang, membuat gadis itu menguap alih-alih menjawab.
"Kau mengantuk?" tanya Hyun penasaran. Pria itu terkejut saat melihat Viona menguap, apalagi gadis itu terlihat tidak bersemangat. Sebelumnya, ia juga melihat Viona memejamkan mata.
Saking penasarannya, Hyun yang berdiri di samping Viona refleks memutar tubuh ke samping, kemudian mencondongkannya untuk menatap Viona lebih dekat. "Apa Agam sudah membuatmu begadang semalam? Apa pria menyebalkan itu memaksamu melakukan banyak gaya? berapa ronde yang dia minta?" Rentetan pertanyaan Hyun membuat Viona sontak menoleh.
Menatap Hyun, dahi Viona berkerut bingung. Matanya mengerjap, tidak mengerti dengan rentetan pertanyaan yang baru saja Hyun lontarkan padanya. "Apa maksudnya?" tanyanya polos. Benar-benar tidak paham dengan ucapan Hyun.
Hening sejenak.
Selanjutnya, sambil kembali menarik tubuh, Hyun berdecak keras. Rupanya, ia sudah salah menduga. Gadis yang berdiri di depannya tampak masih begitu polos, hingga tidak mengerti apa yang ia maksud tadi.
"Ah... sudahlah. Jangan dipikirkan," ucapnya segera menghentikan pembicaraan tadi.
Ting.
Pintu lift terbuka, membuat keduanya refleks menoleh ke arah pintu. Viona lebih dulu berpamitan pada Hyun sebelum melangkah keluar dari dalam lift.
Baru beberapa langkah Viona menjauh dari pintu lift, tangan Hyun meraih lengan Viona. Seketika nampan di tangannya bergoyang, nyaris kehilangan keseimbangan, begitu pula dengan gelas jus di atasnya yang juga ikut bergoyang hampir tumpah, beruntung Viona cepat bereaksi hingga gelas itu kembali tenang.
"Tuan Hyun... hampir saja jusnya tumpah," protes Viona. Sedikit kesal dengan apa yang pria itu lakukan. Karena jika sampai jus itu tumpah, ia harus kembali ke lantai bawah, membuat ulang jus itu. Semua itu tentu memakan banyak waktu, bonusnya ia akan kembali mendapat sindiran pedas dari Agam plus teguran dari Bu Siska.
Hyun melepas tangannya dari lengan Viona. Lantas menatap wajah lelah gadis itu dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Ikutlah denganku!" pintanya.
"Tuan, tolong jangan bercanda. Aku harus segera mengantar jus pepaya ini pada Tuan Agam, beliau pasti sudah menunggunya," ucap Viona. Menolak halus ajakan Hyun.
"Tidak perlu mengantar jus itu ke sana. Sahabat sintingku itu tidak menyukai buah pepaya. Ia hanya sedang mengerjaimu." Hyun mencoba menjelaskan apa yang ia ketahui. Karena sepengetahuan Hyun, Agam tidak menyukai buah bertekstur lembek itu.
Mata Viona membulat, ia menatap jus di tangannya. "Lalu jus ini?"
"Sudahlah... aku yang akan meminumnya. lagipula aku sedang sembelit sejak kemarin," jawab Hyun. "Lebih baik, sekarang kau ikut denganku... dan untuk Agam, biar aku yang mengurusnya."
Tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. Akhirnya Viona menerima ajakan Hyun, ia berjalan mengekori Hyun menuju ke sebuah ruangan.
Sementara di ruangan Agam, Pria itu tampak menggeram dengan tangan terkepal erat saat melihat layar laptop di depannya menunjukan sesuatu yang entah mengapa berhasil menyulut kekesalan.
*****