NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan

"No! Masih banyak yang perlu kita bicarakan! 2 Minggu kamu menghindar untuk membicarakan ini! Sekarang mau menghindar lagi? Sampai kapan? Sampai kapan, hah? Sampai perut kamu membesar?" Suara Adam semakin keras, membuat hatiku bertambah panas, apalagi mendengar tuduhan itu kembali di ucapkan.

Aku katup rahang kuat-kuat, coba menahan diri.

"Sampai kapan, Winda? Sampai semuanya sudah terlambat? Kalau kamu tidak mau memikirkan tentang hubungan itu, tapi coba pikir tentang bayi dalam kan-"

"DEMI TUHAN! AKU GAK HAMIL!" Pengakuan itu akhirnya meluncur juga di mulutku. Bersamaan dengan itu aku menangkup wajah dengan sebelah tangan dan isakan tangisku pecah. Turun naik bahuku ketika tangisku itu mulai pecah'

"Winda-"

Adam coba menarik tanganku, tapi buru-buru ku-tepis."jangan sentuh aku!" teriakku, lalu melepaskan koper di tangan dan melangkah ke arah meja kerjanya mengambil kertas yang aku kemasi tadi.

"Ini apa, hah? Bahkan kamu belum tau hal sebenarnya, tapi kamu sudah punya rencana ingin menceraikan-ku!" teriakku, bersamaan dengan itu, semua kertas di tangan aku lempar hingga bertaburan kelantai. Lalu aku terduduk di kursi kerjanya, menangis terisak.

"Lalu bagaimana dengan tanda-tanda itu?" tanya Adam pelan.

Aku menoleh padanya yang masih terpaku di pintu.

"Kamu ingat gak? 2 Minggu lalu kamu bawa aku ke klinik dekat kampus?" tanyaku sambil menyeka air mata dan Adam mengangguk pelan. "Waktu itu dokter mengatakan kalau aku mengalami DBD dan ada beberapa dugaan lainnya. Dia menyuruh aku agar memeriksa kerumah sakit yang lebih besar untuk melakukan tes secara menyeluruh, tapi aku gak mau pergi. Aku hanya minum obat yang dia berikan."

Mata Adam membulat mendengar pengakuanku. Perlahan dia berjalan dan duduk di pinggir ranjang, dengan mata masih memandangku, "dan kamu rahasiakan ini dari saya?" gumamnya pelan.

"Kamu tahu sendiri bagaimana aku kan? Aku gak ada niat untuk merahasiakan ini. Bahkan aku gak mau memikirkan kalau aku mengalami DBD. Aku yakin dokter salah diagnosa, dan itu terbukti karna sampai sekarang aku baik-baik saja," jawabku membela diri. Aku tidak suka di salahkan dan tidak ingin di salahkan.

"Tapi saya suami kamu, Winda! Saya berhak tahu, meski itu hanya diagnosa!" balas Adam dengan suara lebih tinggi. "Lihat sekarang apa yang terjadi karna kamu rahasiakan ini dari saya? Bukan saya sendiri yang menduga kamu hamil, tapi Sarah, Mama, Papa? Semua menduga kamu hamil! Dan kamu tidak bisa menyalahkan kami untuk itu." Adam meraup wajah kasar.

"Sekarang tolong jujur, apa lagi yang kamu rahasiakan dari saya?" desak Adam seolah tau aku masih punya rahasia lain, tapi aku diamkan saja.

"Berapa Minggu kamu demam? Muntah-muntah tidak bergairah? Rasanya semua itu tidak mungkin semata-mata di karnakan demam berdarah. Gejala demam berdarah tidak seperti itu, Winda. Keadaannya akan semakin buruk pada minggu kedua. Jadi tolong jujur apa lagi yang kamu rahasiakan dari saya? Selama 2 Minggu ini kita memang tidak saling bicara, tapi saya memperhatikanmu, Winda," desak Adam lagi dengan argumennya.

Cukup lama kupandang dia, mencari kekuatan untuk membongkar 1 lagi rahasia yang tidak dia ketahui. Sejarah pahit itu sudah lama kulupakan, tapi beberapa Minggu ini malah singgah lagi dalam diri. Kuangkat kedua kaki dan memeluknya. Kepala kubenamkan disana, coba menguatkan diri menghadapi ketakutanku.

"Waktu kecil, aku ada masalah dengan berat badan, tapi belum termasuk obisitas. Aku selalu di ejek, di buli, sampai aku tertekan. Akhirnya selera makanku hilang dan kalau makan pun, akan kumuntahkan lagi. Aku takut gemuk. Aku gak mau di ejek lagi! Hingga akhirnya mama menagajaku kensultasi ke dokter Rina, dan beliau menyatakan kalau aku mengidap bulimia nervousa."

"Bulimia?" tanya Adam memastikan.

Kuberanikan mengangkat wajah memandang padanya, lalu mengangguk.

"Tapi saya rasa tubuhmu sempurna? Kamu cantik?"

Aku hanya tersenyum kecil dengan pernyataan Adam.

"Coba kamu lihat Winda waktu berusia 13 tahun, kamu gak akan pernah menyangka itu aku. Waktu itu aku masih doyan makan, bisa di bilang rakus. Bila Sarah makan gak habis, maka Winda lah yang akan menghabiskan sisa makanannya itu." Aku tersenyum sinis saat ingat kenangan itu.

"Baru-baru ini aku kembali menemui dokter Rina karna takut gejala bulimia itu akan datang lagi. Kamu masih ingat, aku muntah-muntah waktu kita makan malam di rumah Oma?"

Adam mengangguk.

"Semua itu juga kuceritakan pada dokter Rina. Awalanya aku menduga semua itu di sebabkan karna aku gak mau memakan makanan yang di buat Sarah, tapi dokter Rina bilang, itu semata-mata aku lakukan karna aku takut gemuk."

Adam masih diam mendengar ceritaku.

"Dokter Rina memberikan aku obat dan selama seminggu ini aku makan obat itu rutin. Dan kabar baiknya, gejala itu sudah berangsur hilang dan aku gak ada muntah lagi," sambungku mengakhiri cerita.

Untuk yang tidak tahu apa itu bulimia nervous, ialah gangguan makan yang berpotensi mengancam nyawa. Orang dengan kondisi ini, awalnya adalah orang yang makan tak terkendali. Mereka kemudian mengambil langkah-langkah untuk menghindari kenaikan berat badan. Paling umum, di lakukan adalah muntah atau membuang isi perut. Tetapi juga bisa berarti berolahraga atau puasa berlebihan.

Aku menghela nafas lega setelah menceritakan semua itu pada Adam. Tapi kenapa wajahnya seakan ragu akan semua itu?

"Jujur Winda. Susah untuk saya percaya orang secantik kamu mengidap bulimia. Saya perlu bukti, kalau kamu muntah-muntah itu bukan di sebebkan hamil," ucap Adam mengungkap keraguannya.

Kecewa. Ya, aku sangat kecewa dengan keraguannya itu. Susah payah aku menceritakan 2 rahasia yang kusembunyikan darinya, tapi responnya malah meragunkanku. Lalu aku berdiri dan menghentak meja.

"Kamu gak percaya sama aku? Kamu pikir aku berbohong?" bentakku dengan hati yang hancur.

"Entahlah, Winda. Dalam keadaan buntu begini, susah untuk saya percaya hal yang bertentangan dengan logika. Saya perlu bukti."

"Kamu mau aku buktikan bagiamana?" tanyaku dengan suara meninggi. Udah syukur aku mau cerita malah dia gak percaya. Malah minta bukti. Makin melunjak, di kasih hati minta jantung. Tau gini, buat apa juga aku cerita? Apa perlu keserahkan perawanku padanya? Baru dia percaya.

"Kamu bilang, kamu mengalami gejala DBD dan bulimia relapse, kan? Jadi mana, resep obat yang di berikan dokter? Dan mana bungkus obatnya? Berikan pada saya, saya mau lihat."

Aku gelagapan. Tidak kusangka dia malah minta bukti itu. Resep yang di berikan dokter dan bungkus obat yang telah habis, sudah kubuang sejak obatku habis.

"Udah kubuang! Lagian siapa juga mau nyimpan resep sama bungkus obat!" jawabku ketus, menyembunyikan perasaan cemas.

"Kenapa di buang?" Adam masih menjawab tenang.

Kuhembuskan nafas kasar. Dia udah kayak detektif konan, sampai bungkus obat pun di tanyain. Hufh!

"Tolonglah, Adam. Kamu tau aku bagaimana kan? Gak mungkin aku menyimpan barang-barang yang bisa mengingatkan aku pada semua itu! Dan asal kamu tau, semua foto foto saat aku gemuk pun, semua sudah kubakar! Aku gak mau mengingat masa ketika aku jadi monster."

"Oke. Kalau begitu, saya mau dengar dari dokter Rina sendiri."

Haih! Ligat sekali otaknya memikirkan cara untuk membuktikan kebenaran dari cerita yang kusampaikan.

"Oke, besok aku bawa kamu bertemu dengan dokter Rina!" jawabku menerima tantangannya, tapi dia malah menggeleng.

"Saya tidak mau besok. Saya mau mendengar sekarang."

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!