Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanda Baik
“Maaf Pak, ada apa ya bapak panggil saya?” tanya Jia penasaran.
“Akhir-akhir ini, Al selalu saja pulang malam. Ada apa ya sama dia? Dan, kamu juga, sepertinya sudah jarang ke rumah,” lugas Pak Wijaya.
Jia tercekat, tenggorokannya terasa kering. Ia pun menarik napasnya dalam-dalam, dan mulai merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan Pak Wijaya.
“Hmm... sebelumnya saya minta maaf Pak, saya baru mengabari Bapak. Saya belum bisa bantu bapak lagi, karena saya harus menemani Ayah saya yang sedang di rawat di rumah sakit Pak,” jelas Jia.
Pak Wijaya menghembuskan napasnya, “Tidak apa-apa, semoga Ayahnya cepat sembuh,” ucapnya.
“Kalau ada waktu, tolong bantu saya lagi ya!” sambung Pak Wijaya.
“Baik Pak, pasti saya akan berusaha bantu Bapak lagi sebisa mungkin. Kalau begitu, saya pamit Pak. Assalamu’alaikum,” Jia pun akan selalu membantu Pak Wijaya, karena ia tidak bisa melupakan bantuannya begitu saja.
“Baik, wa’alikumsalam,” sahut Pak Wijaya. Jia pun meninggalkan Pak Wijaya di ruangannya.
Di luar, Nana sedang menunggu cemas. Ia sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan Jia dan Pak Wijaya. Saat Jia membuka pintu dan keluar ruangan, Nana pun langsung menarik tangan Jia dan menanyakan apa yang telah terjadi.
“Gimana Ji?” tanya Nana penasaran.
“Pak Wijaya bilang, akhir-akhir ini Al selalu pulang malam,” jawab Jia.
“Memangnya dia selalu kemana?”
“Aku juga gak tahu Na. Aku takut kalau gara-gara aku, sikap Al berubah lagi seperti dulu.” wajah Jia memurung.
“Jangan gitu dong Ji, semua ini bukan salah kamu kok!” Nana berusaha menenangkan Jia.
Bagaimana Jia tak menyalahkan dirinya, karena Al masih saja tidak bisa mempertahankan perubahannya. Selama ini Jia sudah berusaha untuk merubah Al semaksimal mungkin, dan sekarang Al malah menyia-nyiakan semuanya.
Jia pun semakin memikirkan keadaan Al, rasanya ia ingin sekali berbicara baik-baik pada Al. dan berusaha untuk jangan membawa perubahannya dalam masalah yang sedang terjadi pada diri Al.
***
Saat diperjalanan menyusul Nana yang sedang di kantin, Jia tak sengaja melihat Al sedang di taman bersama seorang perempuan. Ia pun melangkah lebih dekqt ke arah mereka untuk memastikannya.
“Itu kan cewek yang waktu itu di kantin sama Al, lagi ngapain ya mereka?” tanya Jia pada dirinya sendiri.
“Al maafin semua kesalahan gue ya!?” ucap Vina—mantan pacarnya Bima.
“Udahlah Vin, lo jangan ganggu gue lagi!”
“Tapi Al, gue minta tolong banget sama lo. Maafin gue, dan gue juga pengen banget ketemu sama Bima buat minta maaf sama dia,” ucap Vina memohon-mohon.
“Itu kan urusan lo, gue udah gak ada urusan lagi.”
“Gue tahu Al, tapi kan setidaknya sekarang lo bisa ketemu sama Bima. Dan gued juga udah berusaha buat ngehubungi dia, tapi dia selalu nolak gue.”
“Dia juga pasti nolak gue Vin, karena sampai sekarang dia masih benci sama gue. Sorry banget ya.” Al pun meninggalkan Vina sendirian di taman. Dan Vina menutupi wajah sedihnya.
Dari kejauhan, Jia tidak terlalu jelas mendengarkan percakapan mereka. Tapi, ia sempat mendengar mereka menyebutkan nama Bima. ‘Apa dia mantan pacarnya Bima?’ ucap Jia dalam hati.
Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk menghampiri perempuan itu saat Al sudah pergi jauh.
“Permisi,” ucap Jia hati-hati. Dengan cepat, Vina pun mengusap pipinya yang basah.
“Maaf kalau aku mengganggu,” sambung Jia.
“Oh, enggak,” Jawab Vina singkat.
“Kenalin namaku Syajia, aku temennya Al.” Jia menjulurkan tangannya.
“Oh gue Vina, temen Al juga waktu di SMA.” mereka pun bersalaman. Lalu, Jia ikut duduk di samping Vina.
“Hmm... jadi, kamu bukan pacarnya Al?” Jia bertanya dengan hati-hati.
Vina tersenyum, “Bukan, gue cuma temsennya Al kok,” jawabnya ringan.
Mereka pun terdiam sejenak.
“Jadi, kamu mantan pacarnya Bima?” tanya Jia spontan.
Vina terperanjat, “Lo tahu dari mana?”
“Dari Al, maaf ya kalau aku lancing,” ucap Jia merasa bersalah.
Vina pun terdiam. ‘Mungkin Jia orang yang paling dekat sama Al, sampai masalah ini pun dia tahu,’ Batin Vina.
Vina pun memakluminnya kalau Al menceritakan semuanya pada Jia. Dan Vina juga menganggap Jia orang yang baik.
“Lo juga tahu sama Bima?” tanya Vina.
“Iya aku tahu, dia juga temen kelasku.”
“Gue benar-benar nyesal banget udah ngelakuin semua ini ke Bima. Dan gue baru sadar, kalau gue sayang banget sama Bima.”
Ya, memang penyesalan selalu datang di akhir. Dan memang, kita harus hati-hati dalam melakukan sesuatu agar tidak ada penyesalan didalamnya. Jia pun tidak ingin merasakan penyesalan, bagaimanapun caranya ia akan membantu mereka meredakan masalah ini.
“Tapi kayaknya, Bima gak akan pernah maafin gue." Vina menundukan kepalanya.
“Bima juga belum bisa maafin Al,” sahut Jia.
“Iya, sebenarnya Al gak salah apa-apa, semua ini emang salah gue. Dan salah gude juga, Al sama Bima berantem."
Kelihatannya, Vina sudah berubah. Dan sepertinya Vina sangat menyesali perbuatannya. Vina memang harus menanggung semua kesalahannya dan berusaha untuk memperbaiki semuanya sendiri.
Tapi, Jia bukan orang yang membiarkannya begitu saja. Ia senantiasa selalu membantu orang lain meskipun sangat besar resikonya. Bisa saja ia dibenci oleh Bima karena mencampuri masalahnya, tapi Jia sangat yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Aku bisa kok bantu kamu,” ujar Jia tesenyum pada Vina.
“Lo serius, mau bantu gue?” Vina memastikan.
“Iya serius, kalau gitu aku minta nomorf kamu ya. Nanti aku kabari lagi.”
“Makasih banyak ya,” ucap Vina.
“Sama-sama, semoga semuanya baik-baik aja ya. Kalo gitu, aku pergi dulu.” Jia pun meninggalkan Vina yang masih duduk di taman.
Vina sangat senang sekali bisa bertemu dengan Jia, ia tak menyangka akan ada orang yang membantunya. Vina pun sangat berharap semuanya bisa terselesaikan.
“Pasti beruntung banget cowok yang bisa dapetin orang kayak Jia yang baik banget, dia benar-benar baik,” gumam Vina.
Meskipun Vina tak bisa lagi dengan Bima, ia mengikhlaskannya. Asalkan Bima mau memaafkan semua kesalahannya, dan mau berbaikan kembali dengan Al. Karena Vina sudah mendapatkan balasannya, ia pun selalu disakiti oleh orang-orang yang ia sayang.
Beberapa hari kemudian, di kelas.
Jia menghampiri Bima dan mengajaknya untuk pergi ke taman dekat kampus. Mereka pun duduk di kursi tempat favorit Jia. keduanya duduk bersampingan, menatap langit yang cerah dan menghirup udara sejuk di taman itu.
Bima pun mengikuti kemauan Jia, meskipun ia heran dengan sikap Jia hari ini. Tak biasanya Jia mengajaknya ke taman seperti ini, dan Bima mengira mungkin Jia sudah mau menerima perasaanya.
Bima merasa sangat senang, akhirnya Jia bisa menerimanya. Tapi, apakah Jia benar-benar menerima perasaannya? Bima pun terus berusaha meyakinkan keadaan hari ini. ‘Semoga, ini pertanda baik,’ batin Bima.