Aletta Nanda Saraswati yang awalnya bermimpi dan membayangkan menjadi istri CEO dari perusahaan barunya, terwujud tanpa ia duga-duga. Namun, ternyata menjadi seorang istri dari Pengusaha Sukses (CEO) bukanlah hal yang mudah seperti yang mereka lihat. Banyak air mata yang tumpah karena keegoisan, pertikaian, dan perselingkuhan...
Bahkan ketika Aletta merasa semua sudah berubah, ia kembali mendapatkan cobaan yang menguras kesabarannya...
Inilah kisah Aletta Nanda Saraswati istri CEO kaya raya bernama Eric Sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Aletta Sakit
...
Awan yang mulanya kelabu kini mulai menjatuhkan butiran air dengan derasnya. Eric yang berada di luar bersama Dewi akhirnya memilih untuk kembali ke apartemen.
Dengan sedikit berlari ia menuju pintu apartemen yang saat itu masih terbuka.
"Aletta?!" teriak Eric yang sudah masuk ke dalam apartemen.
Ia mencari sosokku yang saat itu tidak dapat ditemui matanya. Ia segera berlari menuju kamar dengan terus memanggil namaku.
Aku mendengar samar-samar suara Eric memanggil namaku, namun rasa keputus asa-an kini telah menguasaiku.
"Aletta! Kamu dimana!" itulah yang Eric ucapkan berkali-kali.
Sampai pada akhirnya, ia menemukan diriku yang mulai dingin di dalam bathup. Ia meraih kepalaku yang saat itu tenggelam oleh air.
"Aletta, apa yang kamu lakukan!" tegas Eric sembari mengangkat tubuhku.
Ia segera membawaku yang tak sadarkan diri ke atas kasur dan dengan cepat ia melilit tubuhku dengan selimut karena saat itu aku tak memakai apapun. Ia sangat panik dan mulai menelpon ambulance. Sembari menunggu datangnya ambulance, Eric terus mengecek detak jantung dan napasku. Bahkan ia sering memberiku napas buatan dan berusaha untuk menyadarkanku dengan caranya.
"Aletta, kenapa kamu lakukan hal seperti ini?" tanya Eric sambil mendekap tubuhku yang semakin dingin.
"Aletta, aku minta maaf!" ungkapnya yang mendekapku dalam-dalam.
Ambulance yang telah lama ditunggu akhirnya datang dan membawaku. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menempati ruang unit gawat darurat untuk penanganan. Eric hanya menggenggam tanganku dan merasa amat takut.
-Eric POV-
"Bagaimana ini, apa yang udah gue lakuin?" sesalku.
Aku terus memandangi Aletta yang belum juga tersadar. Wajahnya yang pucat, dan bekas luka dari Dewi, membuat batinku terus merasa bersalah. Aku merasa bahwa aku benar-benar kejam pada istriku sendiri.
"Aletta, aku janji setelah kamu sadar, aku akan berhenti berhubungan dengan Dewi," tuturku dengan menggenggam tangan Aletta yang saat ini benar-benar dingin.
"Tuan, maaf. Kami harus segera mengambil tindakan untuk pasien, dikarenakan detak jantungnya yang mulai lemah. Mohon untuk menunggunya di luar ruangan," jelas dokter yang tengah menangani Aletta.
Aku pun dengan perasaan yang bercampur antara bersalah dan takut akan kehilangan Aletta, melangkah keluar meninggalkannya di dalam ruangan.
"Aletta," ujarku dengan perasaan amat cemas.
Aku juga takut untuk menghubungi papa dan mama, apa yang harus aku katakan pada mereka dengan kondisi Aletta yang seperti ini. Aku terus mondar-mandir sambil menunggu kabar baik dari dokter. Aku tidak mau Aletta mati karena perbuatanku. Jika itu terjadi, maka pasti aku akan menjadi seseorang yang merasa bersalah di sisa hidupku nanti.
*****
"Ayah, kenapa perasaan Ibu enggak enak ya? Apa terjadi sesuatu dengan Aletta?" tanya Ibuku kepada Ayah.
"Apa kita telfon saja, Bu?" tawar Ayah.
"Nomornya tumben enggak aktif, Ayah." Ibuku semakin khawatir.
"Eric?"
Ibu pun mulai menelpon Eric dengan ekspresi wajah yang harap-harap cemas.
"Halo, Eric?"
"E ... Iya, halo, Bu." Eric mengangkat telfon dengan sangat gugup.
"Apa, Aletta baik-baik saja?"
Eric hanya terdiam, karena tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya.
"Halo, Ric. Kamu ke mana? Aletta mana? Ibu mau bicara dengannya."
"Ibu, maaf ..." Eric menjelaskan bahwa anak mereka sedang berada di rumah sakit. Setelah mendengar kabar buruk dari Eric, Ibu dan Ayah bergegas menuju rumah sakit bersama kedua adikku, Putri dan Alfarezza.
Mereka juga tak lupa untuk mengabari keluarga Baron, atau orangtua Eric.
"Bu, kak Aletta kenapa?" tanya Alfarezza.
"Iya, kenapa dengan dia? Bukankah hidupnya yang sekarang ini dia seharusnya bahagia dengan laki-laki kaya seperti kak Eric?" timpal Putri.
"Putri, suatu kebahagiaan itu tidak bisa diukur karena uang banyak ataupun kaya raya," tutur Ibu.
"Tuh, dengerin Put!" seru Alfarezza.
"Yee, gue mah kalo jadi kak Aletta, pasti udah seneng-seneng, shopping sana-sini, Za," celoteh Putri tak mau tau.
Mereka pun sampai ke rumah sakit dan segera berlari ke ruang unit gawat darurat.
"Eric, ada apa dengan anak kami?" tanya Ibu dengan nada khawatir.
"E ..." Eric tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan Ibu.
"Apa yang terjadi?" gantian Ayah yang bertanya sembari menepuk lengan Eric.
"Eng, jadi Pak, Bu. Aletta begini..." "Eric!" terdengar seruan dari Mama Eric yang memotong penjelasan Eric.
"Eric! Apa yang terjadi? Kenapa Aletta bisa masuk rumah sakit begini? Kamu apakan dia? " cetus mama Eric dengan memukuli lengan anaknya.
"Mah, tenang dulu. Ini juga mau Eric jelasin."
"Iya, Mah. Tenang dulu biar Eric jelasin," timpal Pak Baron yang terlihat tenang.
"Coba segera jelaskan pada kami, nak," ujar Ibu.
Kini Eric betul-betul bingung, apakah ia harus jujur dan menerima konsekuensinya atau harus berbohong dan terus berbohong. Ia hanya bisa terdiam beberapa saat setelah papa Baron dengan penuh wibawa, bilang, "Apa yang sebenarnya terjadi, Eric?"
"Eh ... Jadi selama ini aku dan Aletta..." "Permisi, dengan keluarga Ny. Aletta?" seru dokter memotong penjelasan Eric.
"Saya Ibunya dok," saut Ibu.
"Baiklah, sekarang Aletta sudah bisa di jenguk. Dia sempat mengalami sesak nafas karena terlalu lama berada di dalam air dan jika saja dia telat dibawa oleh suaminya mungkin hampir separuh dari paru-parunya berisi air. Untung saja masih bisa diselamatkan," penjelasan dari dokter membuat Eric sedikit merasa lega.
"Terima kasih, dok," ungkap Ayah.
Mereka pun segera masuk dan melihat keadaan Aletta yang masih terbaring dengan bantuan alat pernapasan.
"Aletta!" seru Ibu sambil mengelus pipi anak pertamanya itu.
Eric juga ikut menghampiri dan menggenggam tanganku kembali. "Eric, jadi bagaimana kronologisnya sampai dokter bilang dia terlalu lama di dalam air?" tanya Pak Baron pada putra tunggalnya.
Dengan wajah seperti menahan tangis, Eric pun mulai duduk tegak dan menatap papanya dalam-dalam. Ia pun berkata, "Maafkan Eric, Pah."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Eric tidak bisa menjaga Aletta, justru Eric-lah penyebab semua ini terjadi," ungkap Eric dengan menggenggam erat tanganku.
Baron berusaha menahan amarahnya dan berkata, "Apa kamu selingkuh?"
"Tidak."
Semua orang kaget karena mendengar satu kata yang keluar dari bibirku yang sudah sadarkan diri.
"Aletta..."
"Maafkan aku yang membuat kalian khawatir," ungkapku dengan pelan.
"Iya, Pah. Aku selingkuh!" tegas Eric dan membuat semua mata tertuju padanya.
Eric, batinku yang tak percaya akan ucapan dari mulut Eric.
"Aletta bohong, Eric memang selingkuh! Dan semua kejadian ini terjadi karena perbuatan Eric yang selingkuh di depan mata Aletta!"
"Aletta..." ujar Ibu sembari memelukku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eric! Apa yang kamu pikirkan sampai berbuat seperti itu!" sontak mama Eric dan kemudian ia terjatuh pingsan.
"Kakak kenapa bisa sejahat itu, sama kak Aletta!" gertak Putri.
Kondisi mulai memburuk setelah kejujuran yang diucapkan Eric. Tangis dan rasa kecewa memenuhi ruangan saat itu juga.
"Eric, setelah Mamahmu bangun. Kamu harus ikut dengan Papah!" gertak Pak Baron pada putra tunggalnya itu.
"Iya, Pah." Eric pasrah dan mulai melepaskan genggaman tangannya.
"Pah, Eric mau dibawa kemana?" tanyaku dengan nada yang lemah.
"Papah akan memberi dia pelajaran, atas balasan perbuatannya yang hampir saja merenggut nyawamu," ujar Pak Baron padaku.
Aku hanya bisa terdiam dan menatap wajah Eric yang saat itu terlihat penuh dengan penyesalan. Jangan pergi jauh dariku, ungkap batinku yang mendadak mellow tak ingin kehilangan suaminya. Eric yang menyadari tatapanku, ia pun kemudian menoleh ke arahku.
"Maafin aku, Aletta. Jika nanti berpisah adalah keputusan yang terakhir maka bersenang hatilah, karena kamu akan dapatkan yang lebih baik daripada aku," tutur Eric sembari mencium keningku. Aku merasakan sesuatu yang hangat tengah menetes dari matanya.
Aku hanya bisa menangis mendengar ungkapan Eric, haruskah sebuah perceraian akan datang kepadaku. Aku tidak menyangka bahwa pernikahan yang selama ini aku dambakan akan berbuah pahit seperti ini. Namun, aku juga tak mampu bertahan lebih lama lagi untuk melihat Eric bersama Dewi.
.....
teh juga ada kafeinnya jg bahaya klo lg kambuh
eaaaaaaaa🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Salut sama Rendy cintanya ga pernah pudar untuk alleta😢