#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#
Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.
Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.
Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ada Kejelasan
Nayla menatap ke bawah. “Karena aku pengecut, Ra. Karena aku takut kamu benci aku. Karena aku tahu kamu sayang banget sama dia… lebih dari yang kamu akui.”
Rara memejamkan mata.
Sakit sekali rasanya.
Lalu ponselnya bergetar.
Rara membuka perlahan.
Satu pesan baru masuk.
Rara menatap layar ponselnya yang baru saja menyala. Nama pengirimnya membuat jantungnya serasa berhenti sesaat. Nama itu adalah nama orang yang sedang membuat Rara bimbang. Iya dia adalah Dhian.
Dhian:
“Maaf by, aku baru sempat ngirim pesan ke kamu. Tadi aku nggak sempat kirim apa-apa, kemarin juga enggak. Lagi banyak kerjaan. Dan tadi aku meeting sampe sore,Jangan salah paham ya by,"
Rara terpaku.
Tangannya yang memegang ponsel terasa dingin.
Seolah tubuhnya tidak siap menerima kata-kata itu.
Nayla yang masih duduk di sofa depan Rara melihat perubahan ekspresi Rara.
“Ra… kenapa? Ada pesan dari siapa?”
Rara menyerahkan ponselnya tanpa kata.
Nayla membaca.
Dan matanya langsung menyala marah.
“SERIOUSLY?!” bentak Nayla pelan tapi tajam. “Ra, dia masih bisa bilang begitu setelah—”
Rara memijat pelipisnya. “Nay… mungkin dia memang sibuk.”
Nayla memutar bola matanya. “Sibuk boleh. Tapi kalau sampai bilang nggak ngirim pesan? Ra, itu udah—”
“Nayla, tolong…” Rara menunduk.
“Aku lagi bingung.”
Nayla menghela napas keras, tak bisa menahan amarahnya.
“Bingung? Ra… dia bilang nggak ngirim apa-apa? Padahal dia—”
Kalimat itu tidak selesai. Dia sebal bukan hanya karena Dhian, tapi karena ia tahu sesuatu yang Rara belum siap dengar. Sesuatu yang membuat semua alasan “sibuk” itu terdengar seperti lelucon yang menyakitkan.
“Kalau kamu mau bales, bales,” kata Nayla akhirnya.
“Tapi jangan biarin dia ngerasa bersih padahal kamu yang disakitin.”
Rara mengangguk dan kemudian mengetik singkat:
“Iya”
Nayla menatapnya tidak percaya. “Ra… Kamu terlalu baik,"
Rara hanya tersenyum sedih. “Aku capek, nay. Aku cuma… nggak mau ribut.”
Nayla ingin berteriak, tapi yang keluar hanyalah napas berat.
Ia terlalu marah pada Dhian, pada keadaan, bahkan pada dirinya sendiri karena menyembunyikan sesuatu yang besar dari Rara Kemarin.
Malam itu, tidak ada dari mereka yang merasa baik-baik saja.
" Kamu butuh istirahat Ra," ucap Nayla sambil mengelus punggung Sahabatnya
Nayla menggigit bibirnya. Ia tahu Rara sedang berusaha tetap rasional. Ia tahu Rara tidak gampang percaya tapi ketika sudah sayang, Rara selalu ingin memberi kesempatan terakhir untuk menjelaskan.
“Aku bukan marah sama kamu,” ujar Nayla lirih. “Aku cuma… nggak habis pikir kenapa dia masih bisa bilang sibuk, sementara—”
Ia berhenti.
Rara menatapnya, menunggu, tetapi Nayla menutup mulutnya.
Belum sekarang, pikir Nayla.
Belum.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Di tempat lain, Tepatnya di rumah Seorang laki laki yang sedang berdiri di depan cermin untuk merapikan rambutnya. Dia adalah raka. Ia akan menjemput Kristiana. Lalu Ia mengambil kunci mobil di atas meja kerjanya. Kemudian Ia turun untuk berpamitan ke orang tuanya.
Bunda Raka menatapnya dari sofa. Disampingnya ada Ayahnya Raka sedang membaca koran. Diruang keluarga.
“Bun....yah…” suara Raka hati-hati. “Aku… mau keluar bentar. Mau makan sama Kristiana.”
Ibunya mengalihkan pandangannya dari Tv lalu menatap anak sematang wayahnya. “Kamu yakin?”
Raka mengangguk. “Aku harus ketemu dia. Ada yang… harus dibicarakan.”
Ayahnya menatapnya lama, penuh makna.
“Kamu hati-hati, Rak.”
“Iya, yah”
Ibunya menambahkan, lembut namun tegas, “Raka… apa pun yang kamu hadapi nanti, jangan musuhin diri kamu sendiri ya nak,”
Raka tersenyum kecil, meski hatinya tidak setenang itu. “Iya, Bun.”
Ia keluar rumah, masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin.
Ada sesuatu di udara malam itu sesuatu yang membuat dada Raka terasa sesak.
Raka sampai di rumah Kristiana beberapa menit kemudian.
Kristiana duduk sendirian di teras, menatap layar ponselnya dan entah membaca pesan atau hanya berpura-pura sibuk.
Begitu melihat Raka turun dari mobil. Saat melihat itu, Kristiana langsung berdiri.
“Hai,” ucap Kristiana, suaranya kecil.
“Hai. Kamu udah nunggu lama ya?," tanya Raka yang tak enak hati
"ngga kok, Ayo?” jawab Kristiana tersenyum
Raka mengangguk pelan. Setelah masuk kedalam mobil . Ia pun menancapkan gas menuju ke tempat tujuan mereka yaitu makan malam.
Restoran itu tenang, lampunya hangat, tapi suasananya tidak seramah dulu.
Raka menarikkan kursi untuk Kristiana.
Kristiana pun bercanda “Kamu ini pacar atau pelayan restoran sih?” sambil tertawa dan Raka hanya tersenyum lembut.
Setelah makanan datang, Kristiana belum menyentuh apa pun.
Ia hanya menggenggam sendok sambil menatap meja.
“Kris… kamu kenapa?” tanya Raka lembut.
Kristiana menelan ludah.
Suaranya hampir bergetar.
“Rak… aku mau ngomong sesuatu.”
Raka langsung menegakkan tubuh, bersiap. “Bilang aja.”
Kristiana memejamkan mata sebentar, lalu membuka perlahan.
“Ini penting. Dan… aku nggak tahu kamu siap atau nggak.”
“Coba aku dengar dulu.”
Meski jantung Raka mulai memukul dadanya dengan keras.
Kristiana menunduk. “Kemarin aku—”
BRUKKK. Ada anak kecil yang jatuh didepan meja kasir. Dan Seorang waitress membantunya bangun.
Beberapa pengunjung melirik.
Tapi bukan karena suara itu yang membuat pembicaraan terhenti.
Melainkan ekspresi Kristiana.
Ia menggenggam sendok lebih erat.
Tangannya gemetar.
“Rak…” suaranya hampir tak terdengar.
“Kita makan dulu, ya. Setelah itu aku… aku baru cerita.”
Raka menatapnya, bingung dan cemas.
“Kris… kamu gapapa?”
Kristiana tidak menjawab.
Ia hanya memaksakan senyum kecil.
Senyum yang sama sekali tidak membuat hati Raka tenang.
Dan justru itu yang paling menakutkan.
Karena apa pun yang belum keluar dari bibir Kristiana…
Itu adalah sesuatu yang bisa mengubah seluruh arah hubungan mereka.
Sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
( BERSAMBUNG.........)
Ikuti kisahnya di bab selanjutnya ✨
Jangan lupa beri komentar, saran, dan like
Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️