Adeeva harus rela menikah dengan pria yang bernama Arion demi membantu perusahaan ayahnya yang sedang di ambang kehancuran.
namun di balik itu Adeeva bisa bernafas lega karena biaa keluar dari tempat yang di bakalan rumah namun menurutnya adalah neraka.
akankah Adeeva biaa mendapatkan kebahgiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
020
Typo masih berkeliaran di setiap sudut cerita.
__________
Adeeva merasakan dekapan yang hangat dan nyaman bahkan Adeeva enggan untuk membuka matanya. Adeeva kembali mengeratkan pelukannya mencari sebuah kenyamanan, namun semua itu tidak berlangsung lama ketika Adeeva mulai menyadari apa yang dipeluknya.
Bukan bantal atau guling yang Adeeva peluk melainkan Arion yang tertidur di sebelahnya.
Adeeva membulatkan matanya ketika membuka mata wajah Arionlah yang pertama di lihatnya, dan gilanya jarak wajahnya Dengn Arion sangat dekat. Adeeva mencoba memundurkan tubuhnya namun sebelum Adeeva bisa melakukannya ternyata tangan Arion lebih cepat dari Adeeva.
Tangan Arion kembali menarik tubuh Adeeva mendekat bahkan bisa di katakan menempel pada tubuh Arion.
Adeeva mencoba melepskannya namun pelukan Arion sangat kuat.
"Diamlah, aku butuh tidur" seru Arion. Matanya masih tertutup.
"Aku ingin ke kamar mandi" Adeeva mencoba mencari alasan.
"Aku tahu kau berbohong, sekarang diam lah aku ingin tidur "
"Tapi tidak dengan memelukku bukan"
"Semalam kau yang memelukku begitu erat bagai guling, dan sekarang giliranku yang melakukannya"
"Apa kau sedang balas dendam" Adeeva menatap Arion tidak percaya.
"Mungkin"
"Kau menyebalkan" gerutu Adeeva.
"dan kau menyusahkan" balas Arion.
Akhirnya Adeeva pasrah tubuhnya menjadi guling untuk Arion. Adeeva berterima kasih pada Arion karen ada untuknya di saat Adeeva sedang rapuh.
Adeeva kembali terbangun pukul sepuluh siang, dan di sampingnya Arion sudah tidak ada. Adeeva mendengus karena Arion tidak membangunkannya.
"Aku harus kembali bekerja hari ini" seru Adeeva mencoba turun dari tempat tidur.
Namun sebelum Adeeva menginjakan kakinya di lantai Pintu kamar terbuka dan dua orang pelayan masuk menghampirinya.
"Maaf nona, saya di suruh tuan Arion untuk membantu Nona" seru seorang pelayan yang Adeeva tahu namanya adalah Ara.
"Membantuku, untuk apa?"
"Untuk bersip sarapan, tuan sudah menunggu di bawah " seru Ara.
"Bukannya Arion sudah berangkat bekerja, ini sudah jam sepuluh bukan" seru Adeeva sedikit bingung.
"Tidak Nona, Tuan masih di ruang makan menunggu Anda, sebaiknya nona segera bersiap"
Adeeva di bantu oleh kedua pelayan yang di suruh Arion untuk bersiap. Setelah semuanya selesai Adeeva segera turun dari lantai dua menuju ruang makan. Dan benar saja di sana sudah ada Arion yang sedang duduk dengan ponsel pintar nya juga segelas kopi di tangannya.
"kau tidak bekerja" Adeeva duduk di sebelah Arion dan menatap suaminya tersebut.
Arion meletakan ponselnya, menatap Adeeva yang sudah segar dan cantik.
"Hari ini aku tidak bekerja, dan kau pun tidak aku bolehkah bekerja" seru Arion.
"Mengapa, aku harua bekerja hari ini, masih banyak pesanan yang harus aku buat dan selesaikan" Adeeva mulai protes.
Arion menggelengkan kepalanya. "aku sudah menugaskan Jonathan dan anak buahku yang lain untuk membantu tokomu" seru Arion.
"Kau " Adeeva menunjuk wajah Arion dengan jari teluntukmya.
"Sudahlah, sekarang kita makan, aku sudah lapar" seru Arion.
"Siapa suruh tidak makan lebih dulu, dan kenpa harus menungguku" gerutu Adeeva dan itu masih bisa di dengar oleh Arion. Namun Arion lebih memilih mengabaikannya.
"Hari ini kita akan ke rumah Nenek, dia memintaku membawa mu kesana." seru Arion.
"Mengapa mendadak sekali. Aku tidak membawa hadiah apapun"
"Kita akan membelinya ketika di perjalanan"
"Baiklah" merek kembali menyantap sarapan mereka tanpa ada yang berbicara sepatah katapun.
P.s
Selamat membaca. Jangan lupa vote like sama comment ya.