Tiba-tiba ada yang mengaku sebagai ayah kandungku!
Dia masih muda, dan kaya raya. apa dia benar ayah kandungku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oyi_jy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di salah satu restoran kota S, Erik sedang duduk bersama seorang wanita.
Wanita tersebut adalah rita.
"Jadi kau yang di kirim ardi ke sini?" Tanya Erik
"Benar tuan" jawab Rita
Erik membaca sebuah file yang di berikan rita sebelumnya.
"Namamu adalah rita, dulu kau tinggal di negara ini, lalu kau pindah ke negara X karena kau kuliah di sana." Ucap Erik
"Benar tuan" jawab Rita
"Apa kemampuanmu bisa di perhitungkan?" Tanya Erik
"Tentu saja tuan, saya bisa melakukannya" jawab Rita
"Baiklah, kita liat bagaimana kau bekerja nanti. besok kau sudah mulai bekerja, datang tepat waktu" ucap Erik
"Baik tuan" jawab Rita
"Ah iya, ini adalah apartemen untukmu tinggal dan kartu kredit untuk kau gunakan keperluan mu" ucap Erik, memberikan sebuah kartu dan kunci apartemen .
"Baik, terima kasih tuan" jawab Rita
"Pertemuan kita sampai di sini, aku akan menghubungimu nanti" ucap Erik, berdiri dan meninggalkan Rita di sana.
Rita hanya mengangguk.
"Tampan juga, sama tampannya dengan tuan ardi. Baiklah kau harus bersiap-siap Rita" batin rita
-------
Di kediaman arthur, endra baru saja tiba bersama arfi dan rida.
Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga, setelah makan siang bersama.
Pagi tadi, setelah video call dengan alana, endra mengatakan pada rida bahwa alana ingin makan masakannya, akhirnya rida memasak cukup banyak hari ini, dan membawanya ke rumah arthur untuk di makan bersama-sama.
"Kakakmu di mana nak?" Tanya endra.
"Di kamar kek" jawab alana fokus kembali ke TV.
"Kalo begitu, kakek ke kakakmu dulu ya" ucap endra
"Oke" jawab alana
Endra beranjak dari duduknya, dan menuju ke kamar alan.
Rida yang sedari tadi duduk di samping arfi, pindah posisi duduk di samping alana.
"Alana, dari pada kita di sini cuma jadi penonton dan pendengar, kenapa kita gak bikin kue saja. Alana mau gak?" Ajak rida.
"Wah.. boleh tante ayok... alana juga udah bosan nonton TV, di tambah lagi para laki-laki nalendra cuma ngomongin soal bisnis doang" ucap alana
"Hahah... Tante juga sama tau, ya udah ayo kita ke dapur " ajak rida
-------
Di kamar alan, endra baru saja masuk ke dalam kamar, di liatnya alan sibuk dengan laptopnya.
"Aduhh.... cucu kakek kenapa di kamar sendirian, sibuk banget" ucap endra
Alan sedikit terkejut, melihat kakeknya sudah ada di dalam kamar tanpa dia sadari.
"Kakek, sejak kapan kakek di sini?" Tanya alan
"Hm.. sangkin fokusnya ke laptop, kakek masuk aja gak liat, lagi ngerjain apa?" Tanya endra, ikut duduk di samping alan.
"Hanya tugas untuk besok kek" jawab alan, menutup laptopnya
"Begitu ya, kalo udah selesai kita latihan yuk" ajak endra
"Latihan apa kek?" Tanya alan
"Latihan karate lah, Gini-gini kakek juga bisa sedikit karate loh" ucap endra
"Alan gak percaya tuh " ucap alan
"Ayo, kakek buktikan kalo gitu. Kita liat siapa yang lebih jago karatenya" ucap endra
"Oke, alan gak takut tuh" ucap alan
Alan dan endra menuju ke halaman belakang, dimana semua perlengkapan karate alan berada di sana, alan memang ingin latihan karatenya di tempat yang terbuka.
Di dapur, alana melihat alan dan endra berada di halaman.
"Loh, kakek sama kakak ngapain. Latihan karate?" Batin alana
"Tante, kakek bisa karate ya?" Tanya alana
"Emm.. tidak tahu, kenapa memangnya?" Tanya rida, fokus dengan bahan-bahan kue brownis yang ada di meja.
"Tuh, kakek sama kakak lagi latihan karate" tunjuk alana, mengarah ke halaman. Rida melihat ke halaman
"Loh iya, tapi kenapa latihan seperti berkelahi begitu?" Ucap rida
"Iya ya.. kok gitu sih, biasanya kakak kalo latihan gak kaya gitu kok" ucap alana.
"Jangan-jangan, mereka lagi berantem.. " ucap alana dan rida bersamaan.
"Alana kesana dulu ya tante" ucap alana.
"Oke, ini tante aja yang ngelanjutin. Alana pisahin kakek sama alan ya" jawab rida
Alana sedikit berlari menuju halaman.
"Kak alaaaaaan...jangan berantem sama kakek, jangan pukul kakek keras-keras, Kasihan kakek" teriak alana, di depan pintu.
Alan yang mendengar teriakan alana merasa bingung.
"Emang nya kita berantem kek??, kita kan lagi latihan" Ucap alan.
"Haha.. biarin saja, ayo lanjut lagi. Pukulan sama tendangan mu itu gak kerasa di kakek" jawab endra
"Oke.. jangan salahkan alan ya, kalo habis ini badan kakek sakit semua" ucap alan
"Tenang saja, gak akan terjadi seperti itu. Kakek kuat" jawab endra
Sementara semua orang yang ada di dalam rumah mendengar alana berteriak, menoleh bersamaan kecuali rida.
"Berantem??, jangan pukul keras-keras?? Maksudnya??" Tanya indra, menatap ke arthur dan arfi.
Arthur dan arfi tak menjawab, beranjak dari duduknya dan menuju ke halaman, indra juga mengikuti arthur dan arfi.
"Alana ada apa nak?" Tanya arthur
"Hm, itu kakak lagi berantem sama kakek" jawab alana
"Berantem??...." ucap arthur, lalu melihat alan dan endra .
"Haaaahhh... itu bukan berantem alana, kakek sama alan cuma sedang latihan " ucap arthur
"Kok gitu latihannya?.. biasanya kakak latihannya gak kaya gitu yah" ucap alana
"Mungkin kakek pengen tau, sudah di tahap mana kakak mu menguasai karatenya. Jadinya ya begitulah latihannya" jawab arthur
"Emmm... begitu ya, ya sudah deh. Alana mau ke dapur lagi aja, bantuin tante rida bikin kue" ucap alana, kembali lagi ke dapur.
"Ck... kirain berantem beneran" ucap arfi, duduk di bangku yang berbada di halaman.
"Ya kali, kakek sama cucu berantem" ucap arthur, ikut duduk di samping arfi.
"Aku tidak menyangka, ayah yang dulunya tidak merestui mu kini bermain dengan anak-anak mu dengan tersenyum seperti itu" ucap arfi
"Sudah kubilang kan kak, ayah sudah berubah. Dulu ayah juga sudah janji akan menerima anak-anakku, dan ayah menepati janjinya" ucap arthur
"Ya, bisa di liat dari dia yang selalu merengek ingin datang ke rumahmu dan bermain bersama alan dan alan" ucap arfi
"Haha.. benar kan, dulu waktu alan dan alana baru datang ke sini ayah selalu minta, agar aku tinggal di rumahnya bersama alan dan alana, dia gak mau jauh-jauh dari cucu-cucunya" ucap arthur
"Tapi kau menolaknya, benarkan?" Tanya arfi
"Iya, setelah 10 tahun. arthur juga kan butuh waktu bersama mereka. Jadi ya arthur menolaknya," ucap arthur
"Hm.... ya terserah kau saja. Kau kan ayahnya. Adikku melihat alan kemarin yang bisa meretas dengan mudah, aku jadi ingin memberinya hadiah" ucap arfi
"Hadiah?. Hadiah apa?" Tanya arthur
"Belum aku pikirkan" jawab arfi
"Ya sudah. Ngomong-ngomong tentang anak kak, kau tidak ingin punya anak?" Tanya arthur
"Sedang proses" jawab arfi
"Haha... begitu ya, semangat ya kak" ucap arthur
"Semangat apa?" Tanya arfi
"Semangat bikin anak lah, apa lagi" jawab arthur
"Baiklah, aku ke dalam dulu ya kak" ucap arthur
"Hm" jawab arfi
"Hei, kak.. kenapa kau tidak membantu istrimu saja di dapur, membantu istri di dapur itu romantis loh kakak ipar pasti senang tuh di bantuin suami tercinta" ucap arthur
"pergi sana!!" Jawab arfi
"Aku bukan tipe romantis seperti mu" batin arfi
Arthur meninggalkan arfi dengan gelak tawa.
Bersambung...