Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilarang Ikut ke Bandara
Diatas perahu ditengah tenangnya air danau aku mencoba membuka obrolan dengan memastikan kembali asal usul Lady karena selama kenal dengan Celo sepengetahuanku hanya dialah keluarga Celo yang belum pernah aku temui.
Niatku pun terhenti sesaat mengingat kembali bagaimana mungkin seorang sepupu berani mesra sedemikian rupa di depan banyak orang, lagipula sungguh tak masuk logika jika dia tidak mengetahui kalau Celo sudah bertunangan.
"Apa kamu baik-baik saja kali ini, sayang? Aku perhatikan calon istriku yang cantik murung terus." Tanya Celo mencoba memulai obrolan.
Alih-alih meresponnya aku sengaja memakai headset untuk mendengarkan musik yang tersambung ke gadget ku.
"Kamu masih marah ya tentang kedatangan Lady, aku minta maaf jika lupa memberitahumu soal kepulangannya ke Indonesia." Lanjut Celo.
"Bukan masalah kedatangannya, tetapi masalah adegan-adegan yang kalian pertontonkan padaku." Jawabku Jutek.
"Aku juga minta maaf untuk itu, di keluarga kita memang menerapkan prinsip kasih sayang dan aku tahu perasaanmu saat ini." Lanjutnya menjelaskan.
"Sejak kapan Lady jadi sepupumu? Kenapa aku baru tahu dia?" Tanyaku kembali.
"Sayangku, maaf untuk kesekian kali untuk pertanyaan yang ini aku sengaja belum memberitahumu karena menurutku waktu itu ingin memperkenalkan mu padanya saat kalian bertemu langsung."
"Tetapi justru pertemuan pertama kalian sangat diluar dugaanku." Imbuhnya sembari menarik tanganku dalam pelukannya.
Anggukan kecilku sebagai respon untuknya, andai boleh jujur kali ini alasannya sangat tidak mendasar bagiku.
Sudah tahu jika kebiasaan keluarganya setiap bertemu adalah pelukan bahkan kecupan pipi sebagai wujud kasih sayang.
Tetapi kenapa dia mengenalkan ku kepada sepupunya itu menunggu momen bertemu tentu saja perempuan manapun akan kaget jika mengetahuinya secara mendadak.
Ingin sekali aku membantahnya sekarang, namun hal itu akan sia-sia dan perdebatan tentunya akan terjadi sementara aku dan Celo masih berada diatas air yang mungkin jika perahunya oleng kami pun akan jatuh ke danau.
Kendalikan diri sebelum ada bukti atas dugaan-dugaanku dan mungkin langkah yang tepat saat ini adalah meminta bantuan Rafka untuk berdiskusi aku harus mencari bukti hubungan yang sebenarnya terjadi antara Celo dan wanita itu.
Saat diatas perahu aku membalas sentuhan tangannya dengan menyenderkan tubuhku ke dada bidangnya agar dia tidak curiga jika aku sudah merencanakan misi untuk mengungkap fakta yang masih menjadi kecurigaanku saat ini.
"Sayang, aku janji untuk kedepannya akan selalu jujur kepadamu." Rayu Celo.
"Iya sayang, aku juga minta maaf jika aku sudah berprasangka buruk padamu." Jawabku polos.
Celo mengecup keningku, memang hal ini sering dia lakukan padaku apalagi setelah adanya perbedaan pendapat pada hubungan kita.
Tetapi jika dengan keluarga aku kurang yakin karena selama ini setiap ada acara bareng keluarganya pun justru Celo terkenal sebagai anak yang perhatian namun bukan dengan sentuhan fisik.
Dalam pelukannya aku masih terus berperang dengan pikiranku sendiri, kadangkala terlintas ingin mencecar pertanyaan kembali padanya karena sungguh sangat lama jika harus mengumpulkan bukti dan membagi asumsiku ini pada Rafka.
Rafka juga belum tentu mau jika aku libatkan karena bagaimanapun juga mereka adalah sahabat.
Tetapi jika aku menanyakannya kembali selain perdebatan pasti Celo juga punya alasan yang cukup kuat yaitu aku jarang sekali berkumpul dengan keluarganya jadi belum memahami secara detail.
Kebiasaan-kebiasaan keluarga mereka, lagipula wajar saja jika Lady terlebih dahulu yang menciumnya karena wanita biasanya lebih ekspresif dalam menunjukan rasa rindu pada orang-orang terdekatnya.
Sepanjang dalam pelukannya, Celo terus memainkan rambutku yang melambai karena terkena angin, setiap ku pandang wajahnya terlihat rasa penyesalan yang terpancar dibalik ketampanannya itu.
"Apapun yang terjadi aku berharap kamu tetap percaya padaku, cintaku." Ucapnya.
"Sudahlah jangan dibahas, saatnya kita nikmati momen berdua ini." Bisikku manja.
Celo lantas mengecup pipiku dengan lembut, aku pun membalasnya. Kita beradu dalam suasana hangat diatas perahu sambil diiringi desiran air danau berpadu dengan suara angin dan juga suara burung yang begitu merdu.
"Kenapa lagi-lagi keraguan selalu muncul padaku? Apa sebaiknya aku batalkan niatku untuk meminta tolong pada Rafka jika melihat Celo sepertinya sudah berusaha jujur?" Batinku.
Saat larut dalam kebimbangan, aku dikagetkan dengan air yang membasahi wajahku rupanya Celo yang melakukannya, dia tertawa riang melihat ekspresi yang aku tunjukan.
"Ish.... Jahil banget sih." Rengek ku.
"Hahaha... Kamu selalu lucu sayangku, aku suka melihatnya." Jawabnya.
"Jadi kamu suka melihat cewek secantik aku ini teraniaya, apa kamu setega itu?" Tanyaku seraya membalas kejahilannya.
"Bukan teraniaya juga dong, cuma suka melihatmu seceria ini." Imbuhnya.
Tawa kita berdua pun pecah hingga tak kita sadari jika hal-hal yang terjadi rupanya disaksikan oleh bapak-bapak pemilik kapal, beliau tampak ikut tertawa riang melihat tingkah laku dua sejoli yang sedang dilanda butterfly era.
"Malu sayang dilihat bapaknya loh sedari tadi kemesraan kita." Celetuk ku.
"Bapaknya juga pernah muda, lihat geh beliau ikut bahagia sayangku." Ledek Celo.
"Maaf ya pak pacar saya memang suka becanda." Imbuhku.
"Hehehe... Gak apa-apa nak, yang diucapkan benar karena cinta itu indah." Jawab bapaknya.
"Benar banget sayang, cinta itu indah." Timpal Celo dengan penuh rasa percaya diri.
Aku hanya bisa menepuk jidat ketika mendengar respon dari kedua laki-laki itu, ternyata mau muda ataupun tua sifat gombal sudah sangat melekat pada kaum para manusia pemilik jakun itu.
Momen kebahagiaan ini pun terjeda karena ponsel Celo berdering dengan sigap dia membalikkan badan untuk menjawab.
Panggilan itu sempat sekilas aku melihatnya ada sebuah emoticon diujung nama kontak yang menelponnya, tetapi aku juga tidak terlalu jelas emoticon apa yang tertera.
"Halo, kenapa?" Tanya Celo kepada seseorang dibalik telepon.
"Besok jadwal ke dokter, aku mau kamu menemaniku disana." Jawab orang itu.
"Okey, kalau gitu sekarang tolong matikan dulu teleponnya nanti aku hubungi lagi." Sambung Celo sebelum menekan tombol merah di ponselnya.
Mendengar obrolannya ataupun suaranya seperti aku tidak terlalu asing dengan siapa orang itu.
Daripada aku bertambah pusing untuk menebak suara dibalik benda pipih yang baru saja Celo masukkan ke kantong celananya itu lebih baik aku tanyakan saja langsung.
"Sayang, siapa menelepon mu?" Tanyaku lembut.
"Lady, dia mau aku menemaninya berobat ke London dan berangkat lusa." Jawabnya yang membuatku terkejut.
"Sesuai dugaanku, kenapa harus kamu? Sakit apa dia? Dimana kedua orang tuanya?" Pekikku.
"Sayang, aku mohon untuk kali ini kamu harus mengerti dia gak ada siapapun lagi dan sekarang dia sedang sakit parah, dokter memvonisnya kanker serviks stadium lanjut." Imbuh Celo.
"Kalau memang hanya kamu yang harus menemaninya, aku harus ikut ke London juga." Timpal ku.
"Jangan sayang, bagaimana dengan butik kamu jika harus ikut aku untuk waktu yang belum jelas berapa lama." Jelasnya.
Aku mendengus kasar mendengar penjelasannya karena baru saja hubungan kita kembali harmonis.
Tetapi lagi-lagi aku dihantui kecurigaan kepada tunanganku sendiri hanya karena seorang wanita yang aku sendiri belum cukup jelas mengenalnya.
..