NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:92.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LOBSTER DAN UDANG BERHASIL TERJUAL

Pagi itu, angin laut menyapu lembut wajah Alvarez saat ia melangkah cepat menuju dermaga. Langit tampak mendung, menyimpan kesan kelabu, namun semangat di dadanya justru berkobar lebih terang dari matahari. Hari ini bukan waktu untuk ragu. Hari ini harus menjadi awal dari sesuatu yang besar.

Tujuannya jelas: desa Mosuh. Di sana, ia tahu ada sebuah toko yang menjual cool box—Styrofoam kapasitas 50 liter. Tanpa membuang waktu, ia menyalakan mesin perahunya, yang meraung melawan ombak, menyeberangi lautan seperti pelaut yang tahu apa yang ia cari.

Setibanya di dermaga, Alvarez segera melangkah cepat menyusuri jalan setapak menuju toko logistik. Nafasnya teratur, tapi sorot matanya tajam.

“Aku butuh lima belas cool box ukuran lima puluh liter,” katanya cepat. Suaranya tegas, tak membuka ruang untuk keraguan.

Pemilik toko yang semula sibuk menghitung karung pupuk terkejut. Lima belas cool box bukan angka kecil.

“Kebetulan masih ada di gudang. Kau ambil semuanya?” tanyanya, menunjuk ke arah tumpukan putih di sudut.

“Ya. Segera. Aku tak punya banyak waktu.” Alvarez langsung mengeluarkan lembaran uang dolar dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja.

Usai memuat semuanya ke perahu, ia tak langsung kembali. Tujuannya berikutnya: pasar. Ia mencari es—tapi bukan es balok biasa. Ia butuh gel pack dan dry ice, material penting untuk menjaga kualitas hasil panennya dalam perjalanan panjang.

Ia berhenti di depan kios pendingin laut yang sederhana. Tumpukan es balok menggunung di sudut, dan di dalam box biru besar, terlihat beberapa kemasan gel pack dan dry ice tersimpan rapi, seperti emas putih bagi pengusaha laut.

Tawar-menawar sengit terjadi. Harga dry ice melonjak karena pasokan langka. Tapi Alvarez tetap tenang, menimbang dengan kepala dingin. Ia tahu, pendinginan adalah garis hidup dari kiriman hari ini.

Seorang pria tua berkemeja lusuh dan topi lebar berdiri di belakang meja. Ia menatap curiga ketika Alvarez mendekat.

"Aku butuh dua puluh gel pack dan sepuluh kilogram dry ice," kata Alvarez lugas.

Pria itu menyipitkan mata. "Kau pikir ini barang pasar biasa, anak muda? Dry ice makin langka. Harga naik. Lima dolar per gel pack, dan sepuluh dolar per kilo dry ice."

Alvarez mengangkat alis, menatap lurus pada si penjual. “Lima dolar untuk gel pack? Itu harga hotel, bukan harga pasar. Aku butuh banyak, dan aku membayar tunai sekarang.”

Pria itu menyilangkan tangan. “Kalau kau beli banyak, harusnya kau tahu makin sulit nyetok dry ice di sini. Aku bahkan harus bawa dari kota. Jadi jangan ajak aku main angka.”

Alvarez diam sejenak. Ia menatap tumpukan es itu, lalu kembali ke mata si penjual.

“Kalau begitu kita buat begini,” katanya pelan, “Tiga dolar untuk gel pack, delapan dolar untuk dry ice. Aku ambil semuanya sekarang. Kau untung besar, aku tak harus keliling lagi. Kita sama-sama menang.”

Penjual menghela napas, matanya memperhatikan uang dolar yang mulai Alvarez keluarkan dari sakunya. Jemarinya terlihat ragu.

“Tiga dolar itu terlalu kecil, bocah. Tapi…” Ia mengangguk pelan. “Kau tampaknya tahu cara berbisnis. Baiklah, kesepakatan.”

Alvarez tersenyum tipis. “Kau tak akan rugi, Pak. Aku akan jadi pelanggan tetapmu kalau semua ini berjalan lancar.”

Tak butuh waktu lama, gel pack dan dry ice sudah terikat rapi dalam karung pendingin. Alvarez membayar $100 tunai, lalu mengangkat semua belanjaannya ke perahu dengan bantuan satu anak pasar.

Sebelum beranjak, pria tua itu memanggil, suaranya agak melembut.

“Kau mau antar barang ke mana?”

“Ke pulau. Dan kalau semuanya tiba di tujuan dengan kondisi segar, besok aku balik. Kali ini lebih banyak,” jawab Alvarez tanpa menoleh.

Setelah cukup mendapatkan yang dibutuhkan, ia kembali ke perahunya dan menatap laut lepas. Di balik riak ombak, ia melihat masa depan.

Mentari mulai mengintip dari balik awan saat Alvarez kembali ke pulaunya. Sesampainya di tambak, ia segera turun dan menatap air asin yang tenang. Di bawah permukaannya, lobster Boston dan udang tiger berenang lincah. Kulit mereka mengilap, hidup, dan penuh nilai.

Satu per satu, Alvarez memanen dengan hati-hati. Setiap ekor ia perlakukan seolah benda pusaka. Ia tahu, harga mereka bukan hanya soal dolar, tapi juga reputasi dan harapan. Setelah itu, ia mulai mengisi cool box dengan es dan gel pack, menatanya dengan cermat agar suhu tetap stabil.

Pikirannya sibuk menghitung:

Lobster Boston: $17 per kilogram.

Udang tiger: $12 per kilogram.

Jika semuanya sampai dengan baik, ia bisa meraup lebih dari $2.000 hari ini.

Selesai memuat semuanya, Alvarez menyalakan mesin dan kembali menyeberang ke dermaga Mosuh. sebelumnya ia menelpon paman Jao, meminta bantuan seorang sopir untuk mengantar kirimannya ke kota F, dengan imbalan $25.

Sesampainya di dermaga, seorang pria berbadan besar dalam jaket kulit menunggu di samping mobil pickup.

“Maaf membuatmu menunggu, Paman,” sapa Alvarez.

“Ah, santai saja, Al. Ayo kita naikkan barang-barangmu ke atas mobil,” jawab pria itu—Johan, sopir andalan paman Jao.

Mereka menaikkan semua box ke atas mobil. Butuh waktu sepuluh menit sebelum semuanya tersusun rapi di bak pickup.

“Ini biaya pengirimannya, Paman,” kata Alvarez, menyerahkan $25.

Johan menerima uang itu dengan anggukan. “Baiklah. Saya berangkat sekarang. Mungkin sampai di kota F sekitar jam satu siang.”

“Hati-hati di jalan, Paman,” sahut Alvarez, menatap kepergian mobil yang perlahan menghilang di tikungan. Ia kembali ke pulaunya. Tambaknya masih penuh dengan udang dan lobster.

“Semoga Mr. Franky puas. Kalau dia suka, mungkin dia akan minta lebih banyak,” gumamnya.

Keletihan mulai merayap di tubuhnya. Ia berjalan ke bawah pohon kelapa, membaringkan tubuh di atas ayunan gantung, dan dalam hitungan menit, tertidur lelap diiringi suara debur ombak.

Tepat pukul satu siang, Johan tiba di tempat Mr. Franky. Para pekerja sibuk menurunkan kiriman ikan dari truk-truk lain. Johan memarkir mobilnya, lalu masuk ke dalam gudang pendingin.

“Woi! Bos Franky ada?” serunya.

“Johan! Masuk aja, dia di dalam,” sahut seorang pekerja.

Johan masuk dan bertemu langsung dengan Mr. Franky. Beberapa menit bicara, Mr. Franky ikut keluar untuk memeriksa barang kiriman. Ia membuka tutup cool box satu per satu. Matanya langsung membelalak melihat isi di dalam: lobster Boston dengan warna merah gelap yang menggoda, dan udang tiger besar, segar, dan tampak baru dipanen.

“Johan… kau yakin ini dikirim oleh anak muda itu? Ini bukan dari Jao?” tanyanya heran.

“Seratus persen dari Alvarez. Bos saya sendiri bilang, dia yang membudidayakan semua ini sejak tahun lalu,” jawab Johan mantap.

Mr. Franky tak bisa menyembunyikan kekaguman. “Anak itu tahu betul cara membudidayakan.”

Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan cool box ke truk miliknya. Barang-barang ini akan dikirim langsung ke perusahaan besar yang bergerak di bidang ekspor hasil laut.

Sekitar pukul setengah tiga, ponsel Alvarez berdering. Ia terbangun dari tidurnya dan buru-buru menjawab.

“Halo, Mr. Franky,” ujarnya.

“Hahaha! Kualitas kirimanmu luar biasa. Kirimkan nomor rekeningmu. Aku akan transfer sekarang juga,” jawab Mr. Franky dengan tawa puas.

“Terima kasih atas kepercayaannya, saya kirim sekarang,” sahut Alvarez cepat.

Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk di ponselnya:

Transfer masuk: $2.050.

Alvarez menatap layar ponsel itu sambil tersenyum. Bukan karena angka di rekening, tapi karena hari ini, ia telah membuktikan bahwa ia bisa mengambil kepercayaan dari pelanggannya.

......Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"......

1
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
Swikong
Oke
Swikong
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!