Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.
Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.
Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat
Rinjani menyambut kedatangan Sastra seusai sarapan bersama keluarga kecilnya di meja yang sama. Nanang senang, Arunika bisa menerimanya walaupun akan tetap menjadi Budhe dan tidak akan pernah mengumumkan apapun kepadanya perihal siapa Rinjani baginya.
“Coba kamu pasang di gawangan, aku harus lihat hasilnya sebelum kamu lolos dari tanggung jawab ini.”
Sastra terlihat rikuh dan cengengesan sewaktu melihat sekeliling. “Apa karena Pak Nanang sudah menikah jadi sekarang jarang kumpulan, Bu? Ibu melarangnya?”
“Enak saja. Untuk apa aku melarangnya.”
“Siapa tahu Ibu minta ditemani tidur dulu gitu.”
“Lambemu.” Rinjani bersedekap. “Laksanakan saja tugasmu daripada buat gaduh rumah ini pagi-pagi.”
Huh... Sastra mengembuskan napas lewat mulut. “Ini sudah aku percepat pembuatannya, Bu. Kalau ada revisi tolong jangan minta cepat. Tanganku sudah tremor berkali-kali, sampai getar-getar gitu garap batik ini.”
“Iya percaya.” Rinjani menyaksikan kegiatan Sastra menggelar kain batiknya di tiang gawangan. Tetapi belum ada sedetik dia langsung mengamati kejanggalan dua angsanya.
“Seingatku angsa ini itu berhadap-hadapan, tatap-tatapan gitu, bukan angsa jantan cium keningnya angsa betina begini.” Rinjani mengamati Sastra. “Kamu apakan desain autentiknya? Imajinasi apa yang kamu tuang di sini? Salah ini kamu buatnya, salah banget.”
Sastra meringis sambil meneruskan kegiatannya mengeluarkan canting, lilin warna, wajan kecil, malam, kompor mini dan print-printnan desain batik dari tas karung goninya yang besar. Dia juga membawa kain untuk alas membatik.
“Itu terinspirasi dari kejadian waktu di kantorku, Bu. Angsa jantan mencium kening angsa betina.”
“Memangnya ada angsa di kantormu?”
“Angsanya Bu Jani dan Pak Nanang.”
Rinjani masih belum sampai ke tahap di mana Nanang menciumnya. Dia malah mengira memang ada angsa di rumah produksi batik.
“Memang siapa yang beli angsanya? Nanang yang minta?”
“Ya Allah... Bu.” Sastra yakin dia perlu penjelasan secara detail daripada nanti salah paham.
“Waktu Bu Jani tidur di kantorku Pak Nanang datang terus diam-diam cium kening Bu Jani.”
“Bukannya kamu kemarin sudah setuju tutup mulut?” sahut Nanang dari kamarnya.
Sastra menyunggingkan senyum. “Setelah aku pikir-pikir 50rb nggak cukup untuk beli rokok selama bikin dua batik ini, Pak. Jadi aku laporan saja ke Bu Jani biar Bapak di marahi.”
Rinjani seketika menatap Nanang dengan tatapan yang mengandung bara api.
“Kamu menciumku tanpa seizinku?”
“Lho... tunggu dulu.” Sastra mengangkat kedua tangannya untuk mencegah terjadinya serangan mendadak antar calon lansia itu. Dia pun juga takut menjadi saksi atas perkelahian keduanya jika sampai itu terjadi. Sastra menatap keduanya berganti.
“Memangnya cium istri sendiri harus izin?”
“Ya haruslah... Emang kamu asal cium yangmu tanpa izin dulu?” sembur Rinjani.
Sastra menggaruk pipinya sambil tersenyum geli. “Kalau aku ijin dulu pasti diketawain, Bu. Masa’ Nik Monik, aku mau cium kamu, boleh tidak?”
Nanang meloloskan tawanya yang tertahan dan itu memancing langkah Rinjani ke arahnya.
Nanang seketika waspada dan angkat tangan, tetapi Rinjani tetap melanjutkan langkahnya sampai Nanang terpojokkan.
“Berani kamu cium-cium aku tanpa bilang dulu? Itu penghinaan, Nanang.”
“Penghinaan bagaimana?” Nanang mengernyit dengan detak jantung yang mulai tidak aman. Dia waspada, sekaligus senang Rinjani terasa dekat dan akrab. Wanginya pun membelai indra penciumannya, sedang ia masih bau param semalam. Tidurnya nyenyak di depan televisi sampai bangun-bangun sudah ada anak dan istri.
“Bibirmu yang sudah tua dan keriput itu menghina ketidakberdayaanku saat itu. Kamu lancang tau!”
Nanang memanyunkan bibirnya sejenak. “Kamu bahkan sudah mengamati bibirku, ya. Kamu seneng mengamatiku juga rupanya. Ah! Kita memang jodoh yang sangat terlambat.”
Sastra tergelak seraya minta ampun waktu Rinjani dan Nanang menoleh kepadanya.
“Aku pamit pulang, Pak, Bu.” Sastra mengatupkan kedua tangannya seraya mundur perlahan-lahan. “Permisi.”
“Kurang ajar.” Rinjani mendengus. “Sudah sana kamu berkemas-kemas ngurus beasiswa dan apa yang aku ucapkan kemarin.”
Nanang mendengus. Tatapannya pindah ke batik yang hendak Rinjani warnai.
“Aku bisa membantumu mengerjakan proyek itu karena aku suami yang baik lho, aku mengurangi bebanmu.”
Rinjani otomatis mengusap keningnya seolah mengusap bekas ciuman Nanang.
“Aku tidak suka kamu menyentuhku diam-diam!”
“Kalau terang-terangan?”
“Aku tetap tidak suka!”
“Kenapa tidak suka?”
“Rasanya beda.” Rinjani berbalik... pundaknya terlihat merosot. “Situasinya tidak baik, antara aku dan kamu itu butuh waktu yang sangat lama untuk bisa saling memiliki dengan utuh.”
“Makanya itu aku lebih suka mencuri sesuatu darimu. Kesempatan.” Nanang pergi mengambil kursi pendek di belakang rumahnya.
“Kamu jangan duduk di lantai. Dingin.” Nanang menaruh kursi kecil yang biasa disebut dingklik d “Terus, kalau kamu nggak suka sama angsa cium jidat itu, tidak perlu kamu miliki kain ini. Kamu bisa minta Sastra buat yang baru.”
Rinjani mencibir. “Kalau aku minta yang baru nanti bonusnya dobel, anak buahmu itu walaupun royal juga itung-itungan.”
“Seniman butuh makan!” sembur Nanang.
Rinjani pun terkejut. Dia memundurkan badannya. “Kok harus ngegas? Kurang sarapan kamu?”
“Enggak.” Nanang menggeleng. “Aku akan pergi ke makam Sakila hari ini setelah ke sekolah. Kamu tidak cemburu toh?”
Rinjani terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa sebab baru pertama kali Nanang menyebut hal itu. Tetapi dia tampak senang setelahnya.
“Kamu hati-hati.” Rinjani tersenyum.
“Itu sudah pasti.” Nanang mengamati Rinjani sambil berjongkok. “Kalau waktu bisa membuat kita kembali ke masa lalu, apa yang kamu inginkan dariku sebelum kita putus dulu.”
“Jalan-jalan keliling hutan dan tersesat di sana. Kita pulang setelah baikan.” Ekspresi Rinjani tampak tidak stabil. “Tapi itu tidak mungkin, motormu nggak mampu sampai hutan.”
Nanang menarik semua sudut bibirnya. Semakin lama, semakin jelas secercah cahaya itu. “Pergilah ke rumah utama hari ini selagi aku pergi.”
“Kamu tidak marah?” Rinjani menahan tangan Nanang agar tidak menjauh. “Aku lebih baik yang menyentuhmu daripada kamu yang menyentuhku.”
“Kenapa harus kamu? Oh...” Nanang mengamati tangan Rinjani yang tetap asyik di pergelangan tangannya. “Ladies first gitu?”
Rinjani menggeleng. “Aku tidak suka di curi, aku bukan Sinta. Kamu juga bukan Rahwana walaupun kamu memiliki cinta yang begitu megah.”
Nanang tergelak dan dia bertepuk tangan untuk alasan Rinjani yang tidak terduga itu.
“Biarlah ini mengalir dengan sebagaimana mestinya. Aku sudah senang kamu tidak membenciku dan anakku.”
Rinjani mengangguk dan mengibaskan tangannya. “Sana pergi, aku juga mau siap-siap ke rumah utama.”
“Mau apa kamu memangnya di sana? Nari?”
Rinjani betul-betul jengkel dengan Nanang. Nari tidak ada di daftar kegiatannya saat pulang. Dia hanya ingin mendengus masa lalu dengan cepat.
-