ZIRA FATASYA wanita dua puluh tahun, saat kecil dia mengenal seorang anak laki laki yang usianya tujuh tahun lebih tua dari Zira yang bernama Zico, yang mana memebuat Zira jatuh cinta pada pandangan pertama, namu saiapa yang mengiria saat mereka sudah tumbuh dewas Zico malah menjalin kasih dengan Kakanya Zahra Fatasya, hanya karna mengira jika Zahra adalah Zira gadis masa kecilnya, bahkan keduanya juga sudah hampir bertunangan.
Zira yang saat itu membenci keluarganya atas perlakuan tidak adilnya pada dirinya, dia nekat merebut Zico dari kakanya saat malam akan di langsungkan pertunangan Kakanya dan Zico, dengan cara menjebak Zico dan berakhir Zico menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hikss..
Hikss..
Hikss..
Zico menarik Zira yang terisak ke dalam pelukannya, dengan gerakan lembut Zico mengelus rambut panjang Zira, mencoba untuk menenangkannya, dia tidak menyangka jik kehidupan Zira sudah sulit sejak kecil. Mungkin memang Zahra butuh perhatian lebih, tapi bukan berarti sebagai orang tua melupakan perhatian pada putri yang lain, wajar jika Zira tumbuh menjadi gadis yang sangat dingin, karna sejak kecil dia sudah tidak tahu bagaimana rasanya di sayangi oleh orang tuanya.Zico terus mengelus pucuk kepala Zira, dia berjanji akan memberikan kasih sayangnya untuk Zira.
Zira yang sudah lelah menangis dia mulai terlelap di pelukan Zico yang menurutnya terasa hangat dan menenangkan, dan Zico segera meraih ponselnya untuk menghubungi Tomas agar menjemputnya di danau dimana dirinya dan Zira saat ini berada.
Tak butuh menunggu waktu lama kini Tomas sudah tiba dengan menaiki taksi, lalu dia segera menghampiri Tuannya yang sedang memeluk Zira di tepian danau.
''Tuan''
''Kamu bawa mobilku, aku akan mengemudikan mobil istriku'' ujar Zico sambil mengangkat tubuh Zira dan membopongnya.
Tomas melirik ke arah beberapa putung rokok yang ada di tanah, apa Tuannya merokok pikirnya.
''Bukan aku, tapi Zira'' tukas Zico yang paham akan tatapan Tomas. Sedangkan Tomas tersentak, dia tidak menyangka jika Nonanya bukan hanya pemabuk tapi juga perokok, tapi yang membuat Tomas salut pada Nonanya, meskipun Nonanya sering keluar masuk club tapi Nonanya masih bisa menjaga mahkotanya, sampai pada akhirnya di berikan pada Tuannya dengan suka rela.
Zico yang sudah berada di mobil Zira, dia menatap Zira yang terlelap di sampingnya, sebelum menjalankan kemudinya Zico mengecup dahi Zira sangat dalam, dia berharap setelah ini bisa membuat Zira selalu bahagia, dan melupakan rasa sakit yang sudah di torehkan oleh kedua orang tuanya.
''Aku benar benar mencintaimu Zira Fatasya'' gumam Zico setelah itu melajukan mobilnya meninggalkan area danau, Zico mengemudikan mobil Zira dengan santai agar tidur Zira tidak terganggu.
Tiga puluh menit kemudian mobil Zira yang di kemudikan oleh Zico sudah tiba di rumah mereka, sedangkan Zira yang berada di kursi samping kemudi masih terlelap, Zico mengangkat tubuh Zira dengan sangat hati hati, dan membawanya masuk ke dalam rumah menuju ke kamar mereka.
Saat sudah berada di dalam kamar Zico merebahkan tubuh Zira ke atas ranjang king sizenya, lalu Zico melepaskan sepatu yang di pakai Zira, setelah itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Zira samapi batas dadanya. Zico mengambil ponsel yang ada di saku celananya untuk mengirim pesan pada Tomas, jika dirinya tidak kembali ke perusahaan, dan meminta Tomas untuk menghandle pekerjaannya.
Setelah mengirim pesan pada Tomas, Zico meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu perlahan Zico naik ke atas ranjang, dan ikut merebahkan tubuh kekarnya di samping Zira, dan menarik Zira kedalam pelukannya.
Tepat pukul tiga sore Zira mulai mengerjapkan kedua matanya, dahinya mengerut saat menyadari jika kini dirinya berada di dalam kamarnya, dan saat menoleh ke sampaing dia tersentak saat melihat Zico berada di sampingnya duduk bersandar pada ranjang sambil memangku laptop, namun beberapa detik kemudian Zira tersenyum dan membalikkan badannya untuk memeluk perut sixpack Zico.
''Sudah bangun sayang, apa aku menganggu tidurmu'' ujar Zico mengelus lembut tangan Zira yang melingkar di perutnya.
''Tidak, oh ya, ini jam berapa?'' tanya Zira mendongakkan kepalanya.
''Jam tiga sore'' jawab Zico membuat Zira tersentak dan langsung beranjak duduk.
''Kenapa sayang?'' tanya Zico ikut tersentak.
''Kak Zico sudah makan siang?'' Zira balik bertanya, membuat Zico mengembangkan senyumnya dan mengacak acak rambut Zira dengan gemas.
''Sudah, tadi ada sisa bekal makan siang yang kamu buat, aku minta Dina untuk menghangatkannya'' jawab Zico dan Zira bernafas lega, karna tadi bekal makan siang yang ia bawa ke perusahaan sudah di buang oleh Zahra tanpa perasaan, jadi dia hawatir kalau Zico belum makan siang sampai sekarang.
''Kamu tidak lapar?'' tanya Zico menatap istrinya.
''Tidak terlalu'' jawab Zira yang kembali memeluk tubuh Zico dengan erat.
Malam hari Zico menikmati makan malam yang di buat oleh istrinya, yang menurutnya sangat nikmat dan lezat.
''Sayang, kamu ingin punya anak berapa?'' tanya Zico tiba tiba, yang mana membuat Zira tersedak kuah sup yang ia teguk dari sendoknya.
Uhukk
Uhukk
Uhukk
''Astaga sayang, pelan pelan dong kalau makan'' tukas Zico menyodorkan air putih untuk Zira, dan Zira langsung meneguknya hingga tandas.
''Gara gara Kak Zico ih,,,'' sahut Zira kesal.
''Kok aku?'' tanya Zico menunjuk dirinya sendiri.
''Ya iyalah gara gara Kak Zico, orang lagi enak makan, malah bahas anak'' sembur Zira.
''Ya, maaf, aku kan cuma tanya'' ujar Zico dengan wajah tak berdosanya.
''Huh'' decak Zira kembali melanjutkan makannya.
''Sayang, gimana?'' tanya Zico.
''Apanya yang gimana?'' Zira balik bertanya.
''Ya kamu mau punya anak berapa, lima apa sepuluh'' jawab Zico dengan santainya.
''Gila!, Kak Zico pikir aku pabrik anak, satu aja atau dua anak cukup'' sahut Zira ketus.
''Bercanda sayang, meskipun satu asal itu lahir dari kamu aku sudah sangat bahagia '' ucap Zico tersenyum.
Zira termenung dia memang sudah berhenti mengosumsi pil penunda kehamilan, tapi apakah wanita penderita kanker seperti dia masih bisa hamil pikirnya.
''Sayang'' panggil Zico melambaikan tangannya di depan wajah Zira.
Zira tersentak dan seketika kesadarannya kembali. '' Ada apa Kak?'' tanya Zira.
''Kenapa melamun, apa ada yang mengganggu pikirkanmu?'' Zico balik bertanya.
''Em, Kak Zico benaran ingin punya anak?'' Tanya Zira.
''Ya tentu lah sayang, makanya kita harus rajin membuatnya, sekarang tidak jadi, besok buat lagi, pokoknya jangan pernah berhenti'' ucap Zico dengan semangat yang mana langsung mendapat geplakan di tangannya.
Plakkk
''Aduhhh,,, kok aku di geplak si sayang, KDRT nih'' ujar Zico pura pura kesakitan.
''Makanya, pikirannya jangan mesum terus'' sahut Zira ketus.
''Siapa yang mesum sih sayang, aku ini bicara fakta loh'' tukas Zico membela diri.
''Halah, modus, bilang aja doyan''
''Hehe,, itu salah satunya, lagian sama istri sendiri juga'' kekeh Zico yang mana membuat Zira berdecak, dia tidak menyangka jika suaminya ternyata sangat suka dengan olah raga ranjang.
''Jangan jangan, sebelum melakukan denganku Kak Zico udah sering begituan ya'' bisik Zira dengan mata menyipit, yang langsung mendapat sentilan di dahinya dari Zico.
Tukkk
Auhhhh
''Enak saja, suamimu ini masih perjaka ting ting saat itu, malah kamu orang pertama yang mengambil keper,,,,.''
''Stopppp!!'' Pekik Zira sambil menutup mulut Zico, dia malu kalau Zico mengingatkan kelakuan gilanya malam itu, padahal saat itu dirinya sangat berani sekali.
Zico terkekeh melihat wajah malu istrinya, lalu perlahan mendekat ke arah istrinya.
''Sayang , aku ingin melihatmu merobek bajuku juga melepaskan celanaku seperti malam itu lagi'' goda Zico yang mana membuat telinga Zira memerah.
''Mimpi saja sana'' sahut Zira beranjak berdiri dan berlari ke kamaranya dengan wajah malunya.
Sedangkan Zico dia tertawa terbahak bahak, karna sudah berhasil menggoda istrinya, yang menurutnya sangat lucu ketika malu.
Kalo seandainya SAD ENDING GA MASALAH.😅
semangat kk
semangattt