Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis otak licik
"Cie...cie.. yang ngaku punya Istri." Goda Luna saat keduanya sudah masuk kedalam mobil.
Raditya melirik sekilas Luna yang tersenyum mengejek membuatnya tidak peduli.
"Om, biasanya pria seperti Om ini suka body yahudi dada Mesir." ledek Luna lagi sambil membulatkan tangannya di depan dadanya.
Raditya yang melihat tingkah Luna tersenyum miring.
"Kamu ingin tahu dada kesukaan saya?" tanya Raditya sambil menatap Luna dengan tatapan menggoda.
Melihat wajah Raditya Luna sontak menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Jangan punya saya Om, ini masih orisinil." ketus Luna dengan tatapan memperingati.
Raditya menaikkan sudut bibirnya, "Memangnya punyamu seperti apa? bukan orisinil lagi bukan kah-"
"Om!!"
Pekik Luna suara yang membahana didalam mobil Raditya.
*
*
"Om aku mau makan itu." Luna menunjuk sebuah warung tenda dipinggir jalan yang tidak jauh dari rumahnya.
"Yakin di sana?" tanya Raditya yang memang tidak pernah makan di tempat seperti itu.
"Kenapa?" mata Luna memicing manatap Raditya. "Jangan bilang Om tidak pernah makan ditempat seperti itu?" Katanya lagi sambil menunjuk wajah Raditya.
Kepala Raditya menggeleng, ia memang tidak pernah makan di tempat seperti itu.
"Aku lupa kalau Om ini sultan, yang terlahir dengan sendok emas." Katanya dengan tatapan mencibir.
Raditya memilih menghentikan mobilnya tidak jauh dari tempat makan yang Luna minta, di sana ada beberapa stan pedagang kaki lima yang sedang mangkal.
"Kalau begitu Om harus coba, kalau ngak enak aku yang traktir Om, tapi kalau enak semua orang yang beli disana Om yang bayarin." Dengan senyuman mengembang Luna menatap Raditya yang berekspresi datar.
"Ck, muka tembok." Gumam Luna yang menarik tangan Raditya dengan tidak sabaran.
Raditya yang tanganya di tarik menatap tangan kecil Luna yang sangat kecil menggenggam tangannya, ia tersenyum kecil.
Sampainya di dalam tenda mata Luna mengedar untuk mencari tempat duduk, dan hanya tersisa di ujung yang bagian lesehan.
"Kita kesana Om." Lagi-lagi Luna menarik tangan suaminya seperti anak kecil yang akan hilang jika tidak di tuntut membuat beberapa orang yang melihatnya sempat menatap terpesona dengan Raditya.
"Mau pesan apa?" Tanya seorang ibu separuh baya, "Eh mbak Luna to?" ucap ibu itu yang baru melihat wajah gadis yang tadinya menunduk.
"Iya Bu, Luna mau pesen seperti biasa, dan-" Luna melirik Raditya yang tampak sedang membersihkan meja dengan tisu. membuat Luna meringis menatap pemilik tenda ibu tadi.
"Om mau makan apa?" tanya Luna sambil menoel lengan Raditya dengan jari telunjuknya.
Raditya mendongak seketika membuat ibu tadi terlihat sumringah.
"Ya ampun mbak Luna, dapet cowok ganteng begini dari mana?" Suara ibu itu cukup keras membuat semua orang jadi mengarah pada mereka.
"Eh Bu, kok jadi pusat perhatian kayak selebritis." Ujar Luna sambil tertawa.
"La ya mas ini gantengnya kebangetan, es skuteng aja lewat. Mbak Luna pintar cari pacar." Pujinya lagi membuat Luna senyum-senyum tidak jelas.
"Terserah kamu saja," Ucap Raditya menatap Luna tanpa ekspresi.
Pujian ibu pemilik warung ternyata tidak mempan untuk membuat Raditya yang dingin menjadi lumer.
"Jadi 2 ya Bu, menu sama minumnya teh hangat saja." Ucap Luna sambil tersenyum lagi.
Raditya sejak tadi hanya mencuri pandang pada Luna yang tersenyum terus, membuat lubang pipinya begitu jelas ketara.
"Tunggu sebentar mbak Luna, ibu buatkan dulu."
Luna mengangguk, ia pun megambil ponselnya dari saku jaket yang dia pakai.
"Udah sih Om, jangan ngabisin tisu deh." Luna yang ingin main ponsel tidak jadi karena melihat Raditya menarik tisu dari tempatnya lagi.
"Tapi masih kotor Lun, tempat mu belum." Katanya yang sambil mengelap meja bagian depan Luna. "Nih, lihat!" ujar Raditya menunjukan tisunya yang terdapat noda.
Jualan dipinggir jalan memang resiko debu, apalagi cuaca sedang tidak bersahabat membuat semua pepohonan gersang dan debu dimana-mana.
Luna hanya memutar kedua matanya malas, ia kembali melihat ponselnya.
"Kakek kemana sih, kok ngak di angkat." Gumamnya saat mencoba menelpon kakek Seto namun tidak tersambung.
Raditya hanya diam dengan wajah datarnya, ia tidak peduli dengan Luna yang sibuk dengan ponselnya.
Tapi Raditya baru tersadar dan segera merampas ponsel Luna begitu saja, membuat Luna melotot saat benda itu melayang pindah tempat.
"Om jangan kurang ajar deh!" kesal Luna dengan tindakan Raditya.
Raditya mengetik nomornya di ponsel Luna, dan tak lama ponsel Raditya bergetar tanda panggilan masuk.
"Nomor saya, simpan!" Katanya sambil menyerahkan ponsel Luna kembali.
Luna mengambilnya dengan kasar wajahnya pun terlihat galak, baru saja wajah Luna terlihat manis tapi sekarang asem.
"Balok es." Gumam Luna sambil menyimpan kontak nama Raditya dengan sebutan 'Balok es' romantis sekali.
"Si cerewet Manis."
Kontak nama Luna di ponsel Raditya, Luna memang cerewet dan berisik, tapi manis kalau sudah tersenyum.
Tak lama pesanan mereka datang, membuat Luna terlihat antusias. Saat ibu pemilik warung ingin pergi, tiba-tiba beliau berbisik ditelinga Luna membuat Luna seketika tersenyum menyeringai menatap Raditya.
"Oke, siip!" Ucap Luna sambil menujukan dua jari jempolnya.
Raditya memicingkan matanya melihat senyum Luna yang mencurigakan, ia berpikir jika Luna ini adalah gadis dengan otak licik.
*
*
Apa hayoo??