NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Siakan

Istri Yang Kau Siakan

Status: tamat
Genre:Cerai / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Siapa yang ingin rumah tangganya hancur? Siapa yang ingin menikah lebih dari satu kali? Semua orang pastilah berharap menikah satu kali untuk seumur hidup.

Begitu pun denganku. Meski pernikahan yang kujalani terjadi secara paksaan, tapi aku bisa menerimanya. Menjalani peran sebagai istri dengan sebaik mungkin, berbakti kepada dia yang bergelar suami.

Namun, bakti dan pengabdianku rasanya tidak cukup untuk membina rumah tangga dadakan yang kami jalani. Dia kembali kepada kekasihnya setelah aku mengandung. Kesempatan demi kesempatan aku berikan, tapi tak digunakannya dengan baik.

Bercerai? Rasanya tidak semudah itu. Aku ingin merebut kembali apa yang menjadi milikku. Termasuk modal usaha yang aku berikan dulu kepadanya. Inilah kisahku, Shanum Haniyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 20

"Shanum! SHANUM!"

Suara teriakan terdengar panik menyentak tangisanku. Sontak, pelukan kami terlepas dan bergegas mendatangi sumber suara di mana panggilan itu datang.

Sesosok tubuh berdiri dengan napas tersengal, menatapku dengan raut wajah cemas. Ia mematung ketika jarak kami hanya beberapa jengkal saja.

"Kak Dzaky? Kenapa?" Aku melangkah, menatapnya dengan bingung.

Ia menghembuskan napas panjang, beranjak turut mendekat.

"Kamu nggak apa-apa? Aku tadi dari toko kamu, dan lihat kekacauan di sana, Wati juga bilang kalo di sini sama kacaunya. Makanya aku ke sini, aku takut kamu kenapa-napa." Mata teduh itu menatapku penuh cemas, kutelisik dengan saksama. Masih sama seperti dulu kala. Ia tak pernah berubah.

Ya Allah, seandainya aku menolak pernikahan itu dan tetap menunggunya datang, mungkin nasibku tidak akan semenyedihkan ini. Kak Dzaky selalu memperlakukanku dengan lembut, terutama dia sangat paham bagaimana cara menghargai seorang wanita.

Terbersit rasa sesal di hati, pun dengan harapan yang tumbuh. Seandainya kelak aku berjodoh dengan pemuda ini ... ah, ini hanya khayalan yang timbul karena rasa sakit akibat rumah tangga yang berantakan. Tak akan mungkin Kak Dzaky mau denganku yang nanti berstatus janda anak satu.

Dia sholeh, dan pantas mendapatkan jodoh yang sepadan. Sholehah, seorang perempuan baik-baik. Tidak sepertiku, yang syariat saja tidak aku jalankan dengan benar. Tak terasa air mataku luruh, setelah ini aku akan memantaskan diri.

"Sha? Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?" Kak Dzaky mengikis jarak, nyaris dekat denganku. Jika saja syariat membolehkan, ingin kulabuhkan diri ini ke dalam pelukannya.

Kugelengkan kepala, seraya menghapus air mata. Lalu, mendongak dan menatap matanya. Kemudian, tersenyum miris. Aku menertawakan diri sendiri yang mengalami nasib tragis.

"Aku nggak apa-apa, kok, Kak. Kakak nggak usah khawatir kayak gitu. Yang rusak etalasenya, bukan aku." Kembali aku tersenyum padanya. Ia menghela napas lega, benar-benar terlihat lega.

"Duduk, Kak. Sini, Lia!" Kuajak mereka berdua duduk di sofa dalam toko. Salah satu karyawan sigap membawakan minuman serta beberapa kue sebagai teman mengobrol. Seandainya laki-laki yang mencemaskan aku adalah Raka, yang saat ini masihlah berstatus suami. Sekali lagi aku tersentak kenyataan, bahwa suamiku bukanlah laki-laki yang kini berada di sini.

"Bu, lemarinya udah dibawa keluar. Terus gimana?" lapor salah satu karyawan yang membantu tukang mengeluarkan kue-kue.

"Ya udah, kamu bisa nggak pesan lemari kaca lagi? Hari ini kita tutup aja. Kue-kue yang tadi, kalo masih bagus kalian bagi aja. Kalo nggak bungkus dan bagiin sama orang-orang," titahku padanya.

Ia mengangguk dan kembali keluar. Menutup toko kemudian pergi memesan lemari kaca bersama temannya. Mungkin dua hari ke depan toko-toko aku tutup saja dulu sampai lemari datang.

"Udah ketahuan orangnya? Di sini ada CCTV, 'kan?" tanya Kak Dzaky setelah beberapa saat diam.

"Kayaknya bukan dari daerah sini, Kak. Aku nggak kenal juga, mereka berkelompok. Apa mungkin ada bosnya, ya," jawabku menerka-nerka.

Kak Dzaky nampak berpikir, ia kembali diam dan menatap sekeliling ruangan.

"Sebaiknya kamu sewa orang buat jaga di depan, Sha. Khawatir orang itu datang lagi dan bikin ulah yang lebih dari hari ini. Kalo ada penjaga di depan, 'kan, enak bisa diawasi setiap yang datang," usul Kak Dzaky yang dengan mudah dapat aku terima.

"Kakak yang tolong cariin orangnya, ya. Yang bisa dipercaya dan mau kerja," kataku meminta.

Pemuda itu tersenyum, mengangguk tanpa keberatan sama sekali. Tak apa hari ini aku mengalami kerugian, semoga esok ada rezeki lagi.

****

"Assalamu'alaikum!" Kuucapkan salam tanpa bersemangat, masuk ke dalam rumah setelah mendapat sahutan dari Eyang. Kusalami mereka yang tengah duduk di ruang televisi, asik menonton tayangan kesukaan keduanya.

"Sha, tadi ada yang datang. Utusan dari pengadilan bawa surat panggilan sidang," ucap Mamah seraya menyerahkan amplop berwarna coklat dengan logo pengadilan agama padaku ketika hendak ke kamar.

Kuterima benda tersebut, kupandangi dengan miris. Sungguh, hatiku teriris. Sebentar lagi statusku akan berubah. Secepat inikah? Kegadisanku terenggut dengan cepat, begitu pula status istri yang baru beberapa bulan aku sandang, tapi sepertinya ini memang yang terbaik.

Mamah mengelus bahuku, dialah yang paling terpukul dari semua yang aku alami. Masih sangat jelas terbayang di mataku, maniknya yang memancarkan penderitaan di malam itu.

"Kamu udah yakin mau pisah dari Raka? Apa udah kamu pikirin matang-matang?" Sore ini, perbincangan tentang rumah tanggaku kembali dibuka.

Kutatap wajah teduh itu, wajah yang selalu memberikanku rasa tenang di hati.

"Menurut Mamah gimana? Shanum harus apa?" tanyaku nanar.

Mamah tersenyum, tak menuntut apapun dariku.

"Yah, Mamah nggak bisa kasih pendapat. Mamah cuma nggak mau keputusan yang kamu ambil nantinya bikin kamu nyesel. Semuanya terserah kamu, kalo dirasa nggak ada kebaikan buat apa?"

Aku tersenyum, memeluk Mamah tanpa kata dan mengecup pipinya.

"Shanum mau ke kamar dulu, mau istirahat, Mah. Sekalian nyiapin diri buat sidang nanti," ucapku padanya.

Mamah membelai pipiku lembut, sentuhan yang tak pernah menyakiti.

"Mamah denger toko kamu lagi kena musibah, ya?" Aku mengangguk mendengar pertanyaan itu.

"Jangan terlalu dipikirin, kalo ada apa-apa ngomong aja. Mamah pasti bantu," ucap Mamah.

Aku tahu dan aku yakin Mamah tidak akan membiarkan aku berada dalam kesulitan, tapi masalah sekarang masih dapat aku atasi sendiri.

"Nggak apa-apa, Mah. Alhamdulillah cuma masalah kecil aja, Shanum bisa ngatasin sendiri. Tadi juga udah ada Kak Dzaky yang bantuin, dua hari toko Shanum tutup dulu."

Mamah tersenyum aneh mendengar penjelasanku, ia mengangguk seraya memintaku untuk pergi ke kamar. Masih dengan tersenyum, wanita itu terlebih dahulu masuk ke dapur meninggalkan aku.

"Mamah, kok, aneh, ya. Kenapa senyumnya kayak gitu banget?" gumamku heran. Kuhendikan bahu kemudian membawa kedua kaki melangkah menapaki anak tangga menuju kamarku.

Tiga hari lagi aku akan menghadapi persidangan, jika perlu aku akan meminta untuk tidak diadakan sidang mediasi. Aku ingin segera terlepas dari laki-laki itu dan keluarganya. Rasanya menjadi janda itu lebih baik daripada harus menyiksa batin sendiri setiap hari.

Aku teringat kado yang diberikan Wati padaku siang tadi. Oleh karena masalah toko, aku lupa berterimakasih kepada Kak Dzaky. Kupandangi kotak berukuran kecil di tangan, ringan dan tidak berbunyi. Kira-kira apa isinya?

Penasaran, kubuka pembungkus kado tersebut. Merobeknya dengan hati-hati. Apa isinya? Hatiku bertanya-tanya sepanjang membukanya. Bahkan, kurasa jantungku berdetak lebih kencang seperti mendapat sebuah kado istimewa dari sang kekasih hati.

Apa ini?

Kubentang kain dari dalam kado tersebut, sebuah kerudung berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga kecil di setiap sisinya.

Ya Allah!

Hatiku tersentuh, Kak Dzaky begitu ingin menjagaku. Kudekap kain tersebut, menatap cermin. Apakah aku harus mengenakannya?

1
Misaza Sumiati
dasar bodoh Raka , tinggal ceraikan shila
Misaza Sumiati
blokir no hp nya raka
Misaza Sumiati
tidak senang karakter shanum lemah
Nana Colen
mamam tah matak g tong maen jodojodoan
Nana Colen
nah gitu lah kesalahan sendiri disembunyikan tp kesalahan orang lain dicari cari 🤣🤣🤣🤣🤣
Nana Colen
dasar teu boga k era boga mitoha teh.... iiih amit-amit
Nana Colen
gak adil dong mah..... harusnya satu sama biar impas gitu 😂😂😂
Nana Colen
gak adil dong mah..... harusnya satu sama biar impas gitu 😂😂😂
Violet
👏🏻👏🏻👏🏻 Shanum Kereeen... WAJIB hukumnya utk kumpulin bukti2 yg valid biar gak ada celah diserang difitnah balik.
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Heni Setianingsih
Luar biasa
R_3DHE 💪('ω'💪)
emang dasar munafik.
ngomong disana beda disini beda ckckc
Neneng Tejaningsih
Luar biasa
Dwi Setyaningrum
nah bener kan kalau pingsannya mamanya Raka hanya akting dia hanya ga trima sumber keuangannya hilang🤪🤪🤪
Dwi Setyaningrum
mama mertua pingsan Krn sumber keuangannya sdh hilang🤭😁
Endang Werdiningsih
ga mau kehilangan sumber mata uang yg pasti'a kan mama rakha
Luchi Chipoedanz Sihite
Luar biasa
Priskha
sdh salah sombong lg
Priskha
astaga jd laki bodoh amat, apa msh krg bukti rekaman itu pingin aq tonjok aja tuch mukamu Raka smp bonyok
Priskha
lha bknnya si Benny mau tanggungjawab ya, bilang aja klau pingin menghancurkan rmh tangga org
Priskha
ambil aja tuch Raka yg aslinya kere aq pingin lihat apakah kmu msh cinta sm Raka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!