Apa yang sudah digariskan oleh takdir maka tak ada yang bisa mengubahnya.
Vevina, gadis imut dengan segala pemikiran nya yang random serta tingkah nya yang konyol tapi menyimpan rasa sakit hati atas cinta pertama yang salah.
Luke, seorang aktor muda multitalenta didunia industri hiburan. Terkenal akan keramahan dan wajah tampan nya namun sangat tertutup rapat akan kehidupan pribadi nya terutama akan cerita tentang masa lalu nya.
Sempat terpisah jauh sampai takdir kembali mempertemukan mereka dengan cara nya..!!
Akan kah takdir bisa menyatukan mereka dan berdamai dengan masa lalu yang ada??!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenariansy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Edo
Didalam apartemen kini Luke sedang disibukan dengan membaca beberapa dokumen, dimana dokumen-dokumen tersebut adalah laporan dari beberapa yayasan dan juga tawaran perpanjangan kontrak untuk beberapa pekerjaan yang hampir berakhir.
Luke yang sekarang berada disalah satu ruangan dilantai dua unit apartemennya, yang mana iya jadikan sebagai ruang kerja dan juga menjadi tempat menyimpan atau lebih tepatnya memajang semua penghargaan dan piala yang pernah iya terima selama bergelut di dunia industri hiburan yang membesarkan nama nya.
Disana juga terdapat barang-barang pemberian fans-fans yang menurut nya layak untuk dipajang dan disimpan, dan selebihnya barang-barang yang iya terima dari para fansnya akan disortir untuk disumbangkan kepada panti asuhan yang dinaungi oleh yayasan yang iya bantu danai.
Tak lama terdengar suara ketukan pada pintu di ruangan tersebut yang terbuat dari kaca yang transparan, dapat terlihat dengan jelas Edo yang mengetuk dan berdiri didepan pintu.
"Boleh masuk?" Tanya Edo yang sudah membuka pintu dan masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ada apa Do?" Luke bertanya balik ke Edo tanpa melihat nya, dirinya masih fokus membaca dokumen-dokumen yang ada atas dimeja kerjanya sekarang.
"Bisa kita bicara sebentar? Ini masalah gadis konyolmu itu."
Edo menatap Luke yang kini mendongak menatapnya setelah mendengar perkataan Edo.
"Maksud mu apa?"
Luke merasa tidak suka dengan perkataan Edo tentang gadis konyol karena Luke tau gadis konyol yang Edo maksud adalah Vina.
"Maaf.. Aku hanya bicara fakta saja." Jelas Edo tanpa rasa bersalah sambil duduk di kursi didepan meja kerja Luke sekarang.
Luke menyenderkan badannya dikursi yang iya duduki sekarang seraya memperhatikan Edo, tak bisa dipungkiri perkataan Edo ada benarnya juga. Tak salah Edo menyebutnya begitu mengingat kejadian tadi pagi yang membuatnya geleng-geleng kepala.
"Maaf Luke tapi aku serius, kita harus membahas ini. Aku senang kau bisa dekat dengan gadis yang selama ini kau suka, tapi aku harap kau bisa mengendalikan dirimu." Edo menjeda perkataannya untuk melihat reaksi dari Luke.
Luke yang sedari tadi diam memperhatikan perkataan Edo mulai paham kemana maksud dari perkataan Edo. Dirinya hanya mengangguk-angguk paham saat Edo memandanginya, iya mengisyaratkan untuk Edo melanjutkan perkataan nya.
"Luke kita semua tau bagaimana besarnya fansmu sekarang, dan jangan lupa para haters yang selalu saja bisa mencari-cari cela. Yang tak ada pun bisa jadi ada, kamu pasti paham maksud ku." Edo kembali mengamati perubahan ekspresi wajah Luke yang diam sedari tadi.
"Jujur saja aku tau bahkan sangat tau gadis itu siapa, maksudku dia adalah adik dari Jack kan? Dan maaf saja Luke aku tidak mau berurusan dengan pengacara galak itu!!"
Ucap Edo dengan meringis mengingat kejadian dimana dirinya pernah menerima bogeman mentah dari Jack dikala dirinya yang terlambat menangani haters dari Luke yang menyerang Anna kala itu.
Jack yang marah karena gosip yang beredar menyudut kan Anna sehingga Anna sempat dibenci oleh para fans dari Luke, para haters menyebarkan gosip kalau Anna dan Luke bukanlah saudara seperti yang selama ini diakui oleh keduanya. Melainkan pasangan yang tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan, sehingga banyak gosip yang menjelek-jelekan dan menyudutkan Anna, yang mana sontak saja menyulut amarah sang kekasih yang tidak terima.
Edo tak akan bisa lupa bagaimana marahnya Jack waktu itu, oleh sebab itulah dirinya pun takut hal itu akan terulang kembali terlebih gadis konyol yang disukai oleh Luke adalah adik semata wayang dari pengacara galak tersebut.
Edo mengusap wajah nya kasar disertai hembusan nafas yang berat dari mulutnya. Luke pun tak jauh beda dari Edo, diri nya pun tak luput dari amukan Jack kala itu.
Bila Edo mendapatkan bogem mentah dari Jack, dirinya tak hanya mendapatkan amukan dari kekasih adik sepupunya itu namun juga dirinya melihat secara langsung bagaimana Anna yang terpuruk dan sempat jatuh sakit akibat mental nya yang kala itu tak kuat menerima hujatan dan tuduhan-tuduhan yang tidak-tidak dari berbagai pihak.
Kariernya pun sempat goyah kala itu, dirinya dibantu oleh tim dan tentunya Jack pun dengan tegas kala itu mencari dan mengusut tuntas kasus tersebut sehingga dapat memulihkan nama baik Anna dan juga karier Luke.
"Kuharap kali ini kau lebih berhati-hati, lindungi gadismu dengan baik. Aku dan tim akan selalu membantumu tapi akan lebih baik bila tak ada yang tau identitasnya dulu sekarang mungkin itu akan sangat baik untuknya dan juga hubungan kalian." Saran Edo untuk Luke.
Luke mengangguk saat Edo menyatakan dukungannya kepadanya, kemudian Edo permisi keluar dari ruangan tersebut.
Setelah dirinya kembali sendiri Luke lalu menarik salah satu laci pada meja kerja yang ada dihadapannya, didalam laci tersebut terdapat beberapa lembar photo yang telah usang dimakan usia namun masih nampak jelas potret seorang wanita cantik dengan seorang anak kecil yang tampan berpose saling memeluk dengan tawa lebar nampak bahagia.
Luke tersenyum mengusap photo tersebut, diambilnya lagi lembaran photo lain yang memperlihatkan wanita cantik tadi masih dengan senyum bahagianya mengendong bayi yang nampak terlelap serta seorang pria gagah dan juga tampan memeluk sang wanita dengan senyum tak kalah bahagianya.
Luke terdiam lama memandang kedua lembar photo ditangannya, potret sisi masa kecilnya yang paling bahagia menurutnya.
...****************...
Sedangkan ditempat lain, tepatnya di ruangan rawat inap disebuah klinik. Esther nampak sedang menatap jendela ruang inapnya yang menampilkan gumpalan awan putih di langit sore, Esther merasakan lelah pada tubuhnya padahal dari pagi dirinya hanya berbaring di ranjang pasien. Seakan paham dengan apa yang dirasakan sang kakak, dirinya hanya diam dan tak mengeluhkan apa yang sekarang dirasakan nya.
Sejenak dirinya mencuri pandang kearah sang kakak yang sedang bicara pada sang ibu melalui gawainya, Esther tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan karena jarak yang lumayan jauh.
Namun Esther dapat melihat dengan jelas ekspresi sang kakak yang nampak sedih dan lelah, andai saja waktu dapat diputar kembali mungkin tadi pagi dirinya tidak nekat mengantarkan roti kepada pelanggan toko roti sang ibu, mungkin dirinya akan baik-baik saja tapi itu juga berarti dirinya tidak bertemu dengan sosok yang iya dan sang kakak idolakan selama ini dong.
Esther gadis kecil yang kini terbaring diranjang pesakitan itu, menderita penyakit jantung bawaan dari lahir, dirinya tidak boleh melakukan aktivitas berat yang membuatnya kecapean karena akan memicu detak jantung yang tidak stabil dan sangat berbahaya.
Namun tadi pagi dirinya nekat untuk membantu sang kakak mengantarkan pesanan roti, dirinya takut roti-roti itu akan terlambat diantar karena sang kakak harus melayani pelanggan yang ramai di toko roti sang ibu.
Bukannya tak ada pegawai yang membantu terlebih untuk mengantarkan pesanan roti-roti tersebut, namun memang dirinya lah yang selalu mencari alasan agar bisa keluar dan tak diawasi oleh kakak dan sang ibu yang kerap kali melarangnya ini dan itu.
Melihat wajah sang kakak yang nampak sedih dan lelah, ada rasa bersalah yang menyelinap masuk kedalam hatinya tapi bila iya mengingat kejadian tadi pagi saat dirinya bisa bertemu bahkan mengobrol langsung dengan sang idola maka tak ada sesal dalam hati nya sekarang.
💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕
Terima kasih untuk dukungannya 💜borahe💜
panjang bnget narasi nya..
kok gk di pisah2