Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Selamat datang di Pulau Rimba
~Tap tombol Like👍 sebelum membaca biar nggak lupa ^_^
Happy Reading …
🍀🍀🍀🍀
Masih di sini, perjalanan ternyata masih panjang. Semua membisu dalam pikiran yang berkecamuk di dalam hati tanpa mau saling membagi.
Suara mesin baling-baling helikopter menyibak malam yang pekat. Gemerlap lampu kota memberi keindahan yang tadinya menjadi pemanis, kini berubah gelap. Netra Isna tidak mampu lagi mendapatkan visual pemandangan indah itu lagi. Hanya kegelapan, seperti caranya mendeskripsikan masa depannya setelah ini.
Sudah satu jam perjalanan yang Isna perkirakan. Rasa kantuk kini mulai menderanya, tetapi dia merasa sangat malu bila sampai tertidur di samping pria yang kini sedang menatap kosong ke depan, dengan dagu menopang pada pucuk kepalanya itu.
Rasanya Isna ingin mendongak atau sekadar menyingkirkan dagu itu, tapi rasa bersalah karena telah menyeret pria ini ke dalam kesialannya, membuat gadis itu urung bersikap kurang ajar.
“Pinjam kepalamu sebentar!” resah Krisna saat Isna sedikit menggeser tubuhnya. Badannya terasa sakit semua, rasa kebas mulai menjalari punggung.
Huh, leherku pegal.
“Apa, Anda baik-baik saja?” tanya Isna memutar bola matanya tanpa bisa menoleh sekadar memandang Krisna.
Dia hanya merasakan embusan napas yang berembus pada pucuk kepalanya. Sekali lagi membuat hatinya cukup berdesir tidak karuan.
“Bersikaplah yang baik selama tinggal di sana. Kalau kamu sampai merepotkan, aku tidak segan menyuruh Wisnu melemparkanmu ke penangkaran buayaku di sana!” tegas Krisna dengan nada datar, tetapi terkesan dingin.
Mendengar nama Wisnu disebut, langsung membuat Isna bereaksi cepat. Ia menarik kepalanya hingga kepala Krisna jatuh menunduk, menyentak pundak Isna. Krisna pun menggeram kesal, memberi sorotan matanya yang tajam kepada gadis itu.
“Maaf, Tuan,” kilah Isna tersenyum meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sorot matanya kenapa menakutkan begitu? Badanku 'kan, sakit semua kalau harus terus menahan topangan dagunya.
“Apa, Wisnu selamat?” tanya Isna menyorotkan sinar bahagia, mengabaikan sorotan mata Krisna.
Krisna hanya memberinya garis senyuman masam. Tidak mau menjawab. Dia segera menegakkan punggung, meregangkan tubuhnya yang kaku.
Isna hanya bisa mengembus napas dan memandang ke arah sebuah gemerlap lampu terpendar yang semakin mendekat, kian menjadi indah saja. Terdapat sebuah pulau paling terang di antara bayangan hitam besar di sekitarnya dalam kegelapan.
Apa itu pulau yang dimaksud Tuan Krisna? Pulau Rimba?
Isna tercengang dengan pemandangan di bawah sana. Bibirnya dan matanya tidak bisa membohongi perasaan kagumnya. Krisna tersenyum menahan gejolak perasaannya saat menatap ekspresi gadis aneh di sampingnya ini.
Kenapa ada banyak sebutan untukmu, Isna. Bahkan, aku sekarang menyebutmu gadis kampungan. Besok apalagi sebutanku untukmu?
Helikopter semakin mendekati pulau Rimba, tampak bangunan megah memenuhi separuh pulau terbangun dengan pemandangan ke arah pantai dengan lampu indah di malam hari.
Perasaan kekhawatiran Isna seketika menghilang berubah menjadi lengkungan bibir dengan mata berbinar.
“Sepertinya kau sangat senang?” ledek Krisna sambil mempersiapkan diri akan segera turun dari Helikopter. Isna hanya melengos.
Helikopter kini sudah menapak manis di atas helipad yang terdapat di halaman bangunan megah ini.
“Selamat datang di Pulau Rimba, Isna. Tapi, jangan senang dulu, kau belum tahu tempat tinggalmu, 'kan?” goda Krisna mendekatkan diri tepat di sisi wajah Isna hingga Isna memundurkan wajahnya dengan cepat. Matanya mengerjap sambil menahan napas.
“Bernapaslah! Kau akan mati kalau terlalu lama menahan udara di dalam rongga paru-parumu,” goda Krisna lagi sambil terkekeh dan berdiri menekuk tubuhnya, bersiap turun dari helikopter.
Begitu Krisna sudah menggeser kakinya dan turun dari helikopter, Isna baru menghembus napas dan menarik banyak-banyak udara. Rasanya sangat gugup. Krisna selalu mempermainkan Isna sesuka hati. Menambah daftar kekesalan Isna yang terpendam.
“Turun tidak? Malah melamun, di sini banyak hantu. Kau harus hati-hati dengan pikiran kosongmu itu!” Krisna meninggikan suaranya agar Isna cepat menoleh padanya.
“Eh?” Isna berjengkit segera menggeser kakinya. Memaksa tubuhnya merangsek turun dari Helikopter dengan kesusahan.
“Baru begini kau sudah sangat merepotkan!” desis Krisna merasa tidak sabar.
Krisna meraih tangan Isna dan menariknya hingga jatuh kepelukannya. Membawa tubuh mungil dibanding posturnya itu dalam dekapan.
^^^Huh? apa yang dia lakukan, kan, dilihat banyak orang?^^^
Isna merona malu dan berusaha meronta ingin diturunkan, menatap ada banyak pasang mata tengah memandangnya. Sepertinya pelayan atau pegawai, Isna tak tahu, karena mereka semua memakai seragam.
“Turunkan saya, Tuan Krisna,” bisik Isna di sisi telinga Krisna dengan cemas.
Krisna tidak perduli dan tetap membawa Isna kedalam ruangan yang luas dengan langit-langit yang menjulang tinggi, dominan warna putih bercorak keemasan.
Dibawanya gadis itu naik ke lantai atas, menyusuri tangga selangkah demi selangkah. Seirama ritme detak jantung Isna yang berdebar kencang. Raut wajah Krisna seakan menjadi dingin tidak berekspresi. Lurus menatap ke bagian ujung tangga lalu berbelok mengarah ke bagian koridor sisi kanan dari arah tangga.
“Kita mau ke mana, Tuan?” ringis Isna menampakkan rasa mulai khawatir.
“Tambahi porsi makanmu, tubuhmu seringan bulu saja,” desisnya menautkan bibirnya mencibir. Isna hanya menghela napas.
Bicaramu selalu menjengkelkanku saja.
...“Rambutmu juga, sering-seringlah keramas. Kau menguraikan hawa naga, kau itu perempuan,” ejeknya lagi sambil berbelok arah mendekat sebuah pintu tengah diantara tiga pintu yang ada di sana....
Siapa juga yang menyuruhmu menopang dagu di kepadaku, Tuan?
Perasaan Isna kini beralih menjadi gusar, saat menatap apa yang ada di depannya. Diturunkan tubuhnya dari dekapan Krisna, tepat di depan pintu berwarna putih susu yang tinggi dan lebar itu. Isna mengerjap mendongak menatap ke arah Krisna, yang tampak santai berdiri di belakangnya. Krisna memutar bola matanya mengarah ke pintu. Menyuruh Isna segera membukanya.
“Kenapa harus masuk ke dalam? Untuk apa?” tolak Isna menggeser tubuhnya ke samping. Krisna berdecak dengan tangan berkacak pinggang. Memberinya rona kesal.
“Untuk menunjukkan, kalau aku bukan orang yang lemah,” jawabnya menekan.
“Siapa yang bilang Anda lemah, Tuan?” elak Isna memutar bola mata, menengok ke kiri dan ke kanan.
Lengang, sama sekali tidak ada orang.
Lantai bawah banyak orang, kenapa di sini sepi sekali?
“Cepat masuk, aku sudah tidak sabar!” kata pria itu dengan suara menggeram.
Huh, dia bilang tidak sabar? sebenarnya dia mau apa?
“Ayo masuk!” perintah Krisna lagi dengan suara menuntut.
Isna memutar tubuhnya menghadap arah koridor dengan kepala celikukan. Krisna yang menyadari keanehan Isna menahan gelak tawanya.
Didorongnya tubuh isna merangsek pada daun pintu sambil membuka pintunya.
“Masuk!” titahnya dengan bibir berdecak.
“Tidak mau!” bantah Isna menolak dengan gerakan tubuhnya menjauh, melawan dorongan tubuhnya yang menempel daun pintu.
Seirama dengan sikap penolakan dari Isna, membuat tubuhnya itu malah terhuyung keras dengan langkah kaki menghentak lantai saat pintu terbuka.
Braakkk!!
Isna hampir terjatuh dan segera diraih tangan Krisna.
Deg, mata Isna memandang ke dalam ruangan dan mengedarkan pandangan ke sisi-sisi dalam yang tampak begitu luas. Terlihat dua pintu dalam kamar berderet di sampingnya.
Sebuah ranjang ukuran besar, dua buah sofa panjang berwarna coklat muda beserta mejanya, senada dengan warna desain interior kamar itu yang terlihat bagus dan nyaman. Dengan pemandangan jendela, menghadap ke arah pantai yang nampak jauh dibawah sana.
Pemandangan yang sangat bagus bagi Isna. Sebuah kamar yang luasnya tiga kali lipat dari kamarnya di rumah.
Otak Isna segera mengirim sinyal malu luar biasa. Ingin sekali dia melebur di tempatnya berdiri seperti air dan mengalir, meresap ke bawah karpet tebal yang kini dia pijak, saat melihat raut wajah kedua dokter yang pernah bertemu dengannya di Villa, sedang duduk di sofa. Mereka berdua segera berdiri dan mengulas senyuman melihat kedatangan Isna dan Krisna.
“Kenapa pikiranmu selalu mesum saat bersamaku, Nona Isna, hem?” bisik Krisna tepat di telinga Isna sambil terkekeh pelan.
Suaranya jelas nampak meledeknya juga menertawainya.
Isna menghela napas kesal bercampur malu. Dia menunduk tak berani menatap Krisna yang berjalan melewatinya dan segera bergabung dengan tim dokter yang akan merawatnya. Krisna juga merasa badannya perlu diperiksa. Rasanya tidak nyaman dengan beberapa memar dan goresan luka, mengurangi kemulusan tubuhnya.
Untuk pertama kalinya, dia berlari dari terjangan timah panas sambil membawa seorang gadis dan gadis itu kini tampak masih mematung di depan pintu dengan wajah merah padam menahan malu.
Hah ... harusnya aku tadi mati saja. Aku malu sekali.
“Apa kau sudah ketularan Wisnu? Menjadi patung hidup?” tegur Krisna memandang Isna yang masih mematung.
“Eh?”
Isna menoleh ke arah sofa, terlihat Dokter Juna sedang memeriksa Krisna, sedangkan Dokter Tito sedang duduk sedikit tegang di ujung sofa dengan canggung.
"Kemarilah." Krisna menjentikkan jari menyuruh Isna mendekat.
Isna segera mendekat dan duduk di samping Dokter Tito dengan menunduk canggung.
“Ck! Duduk di ranjang sana! Siapa yang menyuruhmu duduk santai di samping lelaki lain, selain aku!” hardik Krisna dengan nada meninggi menampakkan wajah kesal. Sorot matanya menajam menatap dokter Tito dan Isna bergantian.
"Apa-apaan sih, Kris. Kekanakan sekali." Juna membatin kesal.
Namun, setelah memahami ucapan Krisna, segera Juna dan Tito saling beradu pandang, dengan saling melempar senyuman.
"Dasar ''si Sombong' ini kena karmanya juga," ejek Juna dalam hati.
🌻🌻🌻
~ Rasa cinta itu hadir bagaikan hembusan angin yang bertiup ...
~ Yang membelaimu sayang menyentuh seluruh pori-pori ...
~ Kau tak pernah menyadari, bahwa dia telah pula merasuk, mengisi rongga-rongga paru-parumu …
~ Memompanya dan mengalirkannya sebagai napasmu, bagian dari hidup dan matimu …
~ by. SYALA YAYA 🌹🌹🌹
Bersambung …
Hai Readers …
Terimakasih atas dukungan, selalu menyempatkan waktu membaca novelku.
Salam sayang untuk kalian semua, semoga sehat dan bahagia selalu.
With Love ~ Syala Yaya🌹
~ Sambil nunggu up mampir juga ke karya teman-teman ya readers.