Jamuan makan malam sudah selesai di hidangkan oleh Aisyah, Paman dan Bibi nya pun sudah ada disana dan hanya menunggu sang tamu.
Hingga tak berselang lama, datanglah tamu yang sudah mereka tunggu sejak tadi.
Namun siapa sangka, disanalah mulai petaka untuk Aisyah.
Aisyah harus menelan pil pahit bahwa dia akan di nikahkan oleh sang Paman dengah Pria tersebut.
Tak ada penolakan ataupun pertanyaan bersedia ataupun tidak untuk Aisyah.
Bagaimana Aisyah menghadapi nya? Apalagi Aisyah tidak tau bahwa dia di jadikan penebus hutang oleh sang Paman? Dan dia juga akan di jadikan ladang balas dendam oleh pria tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pov Aisyah.
Sudah 1 bulan aku meninggalkan Rumah megah tersebut, bukan hanya meninggalkan Rumah saja, tetapi aku meninggalkan semua kemewahan, fasilitas lengkap dan juga Suami.
Ya, dia masih tetap Suamiku yang mungkin sekarang sudah berstatus gantung atau lebih parah lagi sudah bercerai.
Pagi itu Aku memilih pergi dari sana bersama dengan Karin, tak banyak yang kami bawa hanya tabungan dan juga surat-surat milikku yang berharga.
Aku bersyukur bertemu Karin, dan dia juga mau aku ajak tinggal bersama dan memulai semua nya dari awal.
Ya, kami pergi dari Rumah itu dengan tangan kosong dan uang pun hanya milik Karin.
Hingga tibalah Aku dan Karin di Kota ini, di Kota yang penuh dengan keindahan alam yang sangat asri dan juga asli.
Kami menetap di Kota Kalimantan, lebih tepatnya di pesisian yang jauh dari pusat Kota Kalimantan.
Dan dengan sisa uang yang Karin punya, aku memutuskan membuat jasa bikin cake dan menerima orderan kecil-kecilan dari Rumah.
Karena, selama kami tinggal disana tak ada yang berjualan cake apapun dan pada saat tetangga akan mengadakan ulangtahun anak nya dia kebingungan karena jarak Rumah nya jauh dari Kota.
Dan, mulai saat itu aku menawarkan jasa untuk membuat dan keluarga itu pun menerima nya dengan senang hati.
Di mulai dari sana juga Aku membuka usaha itu untuk menghidupi kami berdua dan si kecil yang masih tumbuh di dalam perutku.
*
Pagi ini, Aku menyiapkan beberapa cetakan cake untuk pesanan Bu Rt yang akan mengadakan pesta ulangtahun cucu nya.
Dan Karin, dia kebagian berangkat ke pasar untuk membeli semua bahan yang kurang.
"Uhhh, sayang kenapa nendang-nendang. Apa sudah lapar, kita tunggu Aunty pulang dari pasar dulu ya"
Aku mengusap lembut perutku yang bergerak, bahkan dia sangat aktif saat ada yang mengusap perutku ini.
Kandunganku sudah memasuki usia 5 bulan dan hal itu tidak membuatku sulit dalam bergerak, karena bayi yang aku kandung sangat anteng dan tak membuatku kesulitan.
"Aish im comming"
Terdengar suara teriakan Karin yang begitu menggema di ruang tamu, namun aku tetap menunggu di dapur saja dengan setia.
"Ini bubur pesanan kamu dan baby, ayo makan"
"Terimakasih Onty"
Sebelum memulai pekerjaan, Aku dan Karin memang selalu sarapan lebih dulu.
Entah itu bubur, sereal ataupun nasi. Yang terpenting kita sarapan agar tetap kuat.
Setelah sarapan selesai, aku mulai membuat cake yang di minta oleh Bu Rt.
Sedangkan Karin menyiapkan alat dan bahan yang lainnya, aku selalu bersyukur karena masih di beri kesehatan dan kekuatan untuk berjuang kembali.
"Karin, uang tabungan kita sudah cukup banyak kan"
"Hmmm"
"Bagaimana kalau kita beli motor saja, agar lebih mudah kamu kesana kemari dan juga mengantarkan pesanan yang cukup jauh. Agar lebih hemat dan tak perlu menyewa pada Paman Karsa"
Karin terdiam sesaat, dia seperti nya memikirkan ucapanku kali ini.
Memang, aku pernah beberapa kali memberi usul agar membeli motor tetapi dia menolak dengan alasan buat aku melahirkan.
"Boleh, aku juga pasti akan bingung jika nanti kamu akan melahirkan Aish. Dan aku juga akan berjualan keliling dengan motor itu"
Ya Allah, aku sungguh terharu dengab apa yang Karin lakukan untukku selama ini.
*
Tepat jam 02 siang semua pesanan Bu Rt sudah selesai, Karin akan mengirimkannya sekalian mengembalikan motor milik Paman Karsa.
"Kamu hati-hati"
Aku melambaikan tangan saat Karin pergi dari halaman Rumah kontrakan ini.
Sedangkan aku sendiri pergi masuk ke dalam Rumah lagi, aku memilih membereskan semua bekas pembuatan cake tersebut.
"Huh, aku kangen Bibi Ambar ya"
"Semoga dia selalu sehat dan maafkan aku yang pergi tanpa pamit, Bi"
Aku memilih duduk di teras belakang, menikmati udara yang sudah mau sore hari yang sejuk dan juga cukup menenangkan.
Beberapa kali ada orang yang bertanya akan keberadaanku di wilayah ini dan syukurnya mereka tidak mendapatkan apapun.
Karena aku yang selalau memakai niqab dan Karin yang berpenampilan berbeda untuk mengelabui mereka.
Hingga pada saat ini Aku dan Karin masih aman-aman saja, dan semoga saja tetap aman sampai nanti.
Dan jika Allah menakdrkan aku bertemu kembali dengan Rama, aku akan menerima nya dengan ikhlas tetapi tidak untuk kembali.
"Ayah, Bunda, Aish rindu"
"Maafkan Aish yang hanya bisa berlari daripada menyelesaikannya. Aish terlalu lemah untuk semua ini, apalagi sudah ada dia di rahim ini"
Tes.
Lagi dan lagi aku selalu menangis dalam diam kala mengingat nasib ini, dimana aku tak di inginkan oleh keluarga dan juga Suamiku.
Aku bukan wanita kuat, aku juga bisa rapuh dan sakit dalam bersamaan.
Dan saat itu tiba di saat Rama tau kalau aku masih mempertahankan bayi ini.
Aku sakit, sakit karena bukan hanya penolakan yang Rama berikan tetapi juga siksaan yang dia berikan.
Dan aku rapuh, saat lagi dan lagi dia melontarkan bahwa aku adalah anak dari pembunuh Ayah nya.
Dan setelah kebenaran itu terungkap, aku lega dan juga seperti ada power untuk pergi.
Aku selalu berdo'a agar Bunda Sofia bisa secepatnya sadar dan datang dalam kehidupanku bersama Rama. Dan semua itu terjadi saat aku memilih pasrah akan semua ini.
"Dorrr"
"Ngelamun aja sih"
Karin datang dengan mengagetkan ku yang sedang melamunkan masalalu kelam ku.
"Jadi terus di ingat, itu hanya akan menjadi sakit yang berkepanjangan jika kamu mengingatnya"
Aku hanya tersenyum dan menganggukan kepala saja, lalu aku merangkul bahu Karin dengan penuh bahagia.
"Ck, ayo makan bakso yuk di depan ada yang jualan"
"Lets Go"
Kami berdua langsung saja ke depan, dan disana bukan hanya ada kami saja.
"Eh Mbak Aish mau beli juga"
"Ya ampun itu baby udah mau berojol aja"
Berbagai pertanyaan aku terima dari para tetangga disana, dan untung saja wilayah disini semua nya baik dan tak pernah ada yang nyinyir ataupun berkomentar pedas.
"Iya Bu, seperti nya enak kalau makan bakso saat cuaca sejuk begini"
Karin menimpali nya dengan sedikit bercanda, dan memang kami sudah sangat akrab dengan mereka semua.
.
.
.
.
jangan2 yg kasih informasi waktu mau kabur keluar Negri itu si Akmal🤔
pokoknya Jangan biarin Rama ketemu sama Aisyah dulu thorr