NovelToon NovelToon
Yang Jadi Istrimu Siapa

Yang Jadi Istrimu Siapa

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Tamat
Popularitas:118.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aryani

Bukan pernikahan seperti yang diinginkan Mayang pada saat ia menerima lamaran Erwin, mantan teman sekolahnya. Mayang tidak mengira setelah sekian tahun tidak bertemu tiba-tiba Erwin melamarnya.
Erwin bukan pria yang suka bermain mata dengan perempuan tetapi dengan jelas ia menegaskan bahwa ia menginginkan Mayang sebagai istrinya.
Mayang tidak pernah mengira bahwa Erwin akan melamarnya dan menjanjikan pernikahan yang sesunguhnya setelah Mayang mengalami kejadian yang membuatnya tidak percaya bahwa dirinya layak untuk dicintai.
Siapa dia dan mengapa Erwin melamarnya adalah pertanyaan besar yang ada di kepalanya hingga dia tahu alasan sebenarnya.
Erwin memerlukan seorang istri agar posisinya aman sebagai penerus keluarga Hadinata karena kakeknya mengancam akan mengambil kedudukannya bila dia tidak segera menikah sementara kekasihnya sendiri lebih memilih tinggal di luar negeri.
Atas desakan dan juga keadaan yang membuat Mayang tidak bisa menolah, akhirnya mereka menikah. Tetapi ada yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selalu ada pilihan

Sama seperti Mayang, dia juga tidak mau meneruskan tegurannya pada Erwin, dia lebih memilih untuk menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Bicara sama siapa?” tanya Erwin.

“Sopir di pabrik,” jawab Mayang.

Panggilan telepon yang dilakukan Mayang pada pangilan pertama tidak mendapat respon, lalu pada panggilan ke dua juga terjadi hal yang sama sampai dia mulai bosan dan memutuskan kalau sampai panggilan ke tiga tidak juga mendapat jawaban dia akan menghubungi sopirnya pagi-pagi sekali.

Untunglah pada panggilan yang ke tiga sopirnya menjawab teleponnya.

“Iya Bu.”

“Amung, kamu masih di pameran atau sudah di pabrik?” tanya Mayang sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Mayang berdiri kaku di depan kamar yang pintunya sudah terbuka. Wajahnya begitu pucat melihat keadaan kamar yang jauh dari kata rapi.

“Saya masih di pameran Bu. Tapi sebentar lagi mau pulang,” jawab Amung.

“Kalau begitu kamu ke rumah saya ya. Saya perlu bantuan kamu sama kenek kamu. Kamu bertiga kan?” suara Mayang kembali terdengar setelah beberapa lama dia hanya diam mematung.

“Iya, saya bertiga Bu. Baik Bu, saya segera berangkat ke rumah Ibu,” jawab Amung tanpa ragu.

“Terima kasih ya Mung. Saya tunggu kamu di rumah. Kalian mungkin akan lembur lebih lama,” kata Mayang menjelaskan.

“Tidak apa-apa Bu,” jawab Amung.

Mayang kembali menelepon seseorang, ia melihat Erwin berdiri termangu di depan kamarnya lalu mengeluarkan ponsel dan membuat beberapa foto mengenai situasi yang terjadi termasuk surat yang ditinggalkan Meli untuk Mayang.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Mayang pelan sebelum sambungan teleponnya terhubung.

“Halo Tante, malam ini saya pinjam mobil dan sopirnya untuk pindahan ya,” kata Mayang langsung pada tantenya yang bernama Indri yang merupakan adik kandung ibunya.

“Kamu mau pindah kemana May. Sebelumnya kamu tidak bicara apa-apa sama tante kok tiba-tiba mau pindah?” tanya Indri heran.

“Nanti Mayang cerita kenapa Mayang pindah malam-malam begini dan kenapa ga bicara apa-apa sebelumnya sama Tante,” ujar Mayang berusaha menunda memberikan penjelasan pada tante yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

“Apa berhubungan dengan Meli?” duga Indri.

“Mayang janji akan cerita semuanya sama tante besok. Sekarang Mayang hanya ingin minta ijin untuk pinjam mobil dan sopir karena Mayang ga bisa menghubungi Om Alen,” kata Mayang tetap menolak memberi penjelasan seperti yang diminta oleh Indri.

“Ya sudah. Nanti tante sampaikan sama Om,” ucap Indri sebelum Mayang menutup teleponnya.

“Kau yakin kalau yang melakukan semua ini saudara kembarmu?” tanya Erwin tidak sabar.

Dia yang sudah terbiasa hidup dengan limpahan kasih sayang dari orang tua dan saudara-saudaranya masih menganggap semua yang terjadi bukan dilakukan oleh saudara perempuan Mayang. Bisa saja seorang perampok yang meninggalkan jejak sebagai Meli karena tahu hubungan mereka tidak baik.

“Kalau saja Meli tidak meninggalkan pesan, aku lebih percaya yang melakukannya adalah seorang pencuri. Tapi aku tidak bisa melimpahkan kesalahan tersebut pada pencuri,” jawab Mayang mulai berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Kamar yang selalu rapi sudah tidak terlihat lagi. Semua pakaian yang berada di dalam lemarinya sudah berada di atas lantai begitu juga dengan isi laci yang sebelumnya terkunci.

“Apa yang dicari saudaramu, mau jadi maling? Kalau aku jadi kau, aku langung lapor ke polisi,” ujar Erwin dengan suara menggeram.

“Yang dia cari pasti surat-surat penting atau buku tabunganku,” jawab Mayang pelan.

“Buku tabunganmu? Untuk apa?” tanya Erwin tidak mengerti.

“Tentu saja untuk menarik saldo yang ada.”

“Dia pernah mencuri sebelumnya?” Mata Erwin menyipit mendengar informasi yang sangat mengejutkan.

“Menurutnya bukan mencuri. Dia hanya mengambil sebagian haknya karena aku tidak memberikan uang padanya.”

“Hah?”

Tanpa dapat ditahan, Mayang tertawa geli melihat ekspresi Erwin yang shock mendengar ucapannya.

“Biasa aja Win. Meli selalu mengatakan karena kami memiliki wajah yang sama maka dia juga berhak menikmati apa yang sudah aku peroleh,” katanya mulai merapikan pakaiannya.

“Kau tadi bilang mau pindah, sebenarnya mau pindah kemana?” tanya Erwin.

Erwin yakin Nuri akan terus berusaha menyalahkan dirinya walaupun pada kenyataannya Meli adalah penjahatnya. Dia akhirnya ikut membantu Mayang dengan mengambil pakaian Mayang yang berada di lantai lalu meletakannya di atas tempat tidur seperti yang dilakukan oleh Mayang.

“Ke rumahku yang lain. Tapi malam ini aku akan menginap di hotel karena rumahku belum rapi. Baru minggu depan rumah tersebut sudah cukup nyaman untuk ditempati. Sebenarnya besok adalah waktunya penyerahan kunci rumah,” jawab Mayang yang kini mulai mengikat seprey yang dijadikan pembungkus pakaiannya.

Erwin memperhatikan semua gerakan Mayang, menurutnya Mayang perlu melampiaskan segala kemarahannya dan Mayang melakukannya dengan bekerja. Mayang berusaha tegar tetapi Erwin yakin kalau dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain.

Dua jam lamanya Mayang terus bekerja merapikan semua yang perlu dia rapikan untuk dibawa sopirnya ke tempat yang baru.

“Menurutku kau bisa istirahat sekarang,” perintah Erwin ketika isi kamar Mayang sudah dia rapikan seluruhnya.

“Masih banyak barang-barang yang harus aku rapikan Win,” Mayang menolak dengan melangkah ke dapur untuk beberes.

“Hentikan Mayang! Rumah ini sudah aku beli dan kau tidak perlu melakukan pekerjaan lainnya. Kau istirahat, besok orangku akan datang merapikannya untukmu. Apa sopirmu juga akan datang besok? Kalau ya semakin mudah memindahkan semua isi rumah ini.”

“Aku tidak bisa Win. Aku harus melakukan sesuatu,” Mayang bersikeras untuk melakukan semuanya.

“Sekarang kau lihat sudah jam berapa? Kau sudah lelah, kau tidak bisa memporsir tenagamu dengan sia-sia!”

“Ga ada yang sia-sia! Kau tahu selama ini aku selalu bekerja dan bekerja walaupun keluargaku selalu menganggap tidak bisa melakukan apa pun untuk mereka,” teriak Mayang membuat Erwin menarik tubuhnya dan memaksanya tetap berada di dalam pelukannya.

“Lepaskan aku Win.”

“Tidak. Kau harus berhenti!”

Dalam pelukan Erwin yang memaksa, Mayang berada cukup lama hingga Erwin melepaskannya setelah ia yakin Mayang sudah bisa mengendalikan dirinya dengan lebih baik.

"Terima kasih karena kamu sudah memberikan tempat ku bersandar."

“Katakan saja kalau kau memerlukannya aku akan segera datang,” jawab Erwin tersenyum.

“Kalau begitu aku akan ke kamar mandi lebih dulu untuk membersihkan tubuhku,” katanya mulai menjauh dari tubuh Erwin yang tegap seperti siap melindunginya.

Semua pakaian yang berada dalam lemari dan sudah dikeluarkan Meli sudah dimasukan kedalam koper dan sebagian dibungkus menggunakan seprey karena darurat.

Tubuh yang sudah bersih dan segar Mayang membuatnya terlihat lebih tenang saat dia membuka pintu kamar dan melihat Erwin yang berdiri menghadap jendela. Dia seperti sedang berpikir, entah apa yang sedang dia pikirkan. Entah menyesal karena mengantar dirinya pulang hingga dia harus membeli rumahnya atau ada alasan lain yang tidak dia ketahui.

Suara ketukan pintu tidak lama setelah suara mobil truk berhenti mengalihkan pikiran Mayang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya mengamati Erwin.

1
Elok Pratiwi
tidak menarik membosankan ... cerita nya datar lelet kebanyakan cerita yg tidak penting utk dibikin cerita
Katherina Ajawaila
seru juga. mks thour, walau pun kadang tegang tapi akhirnya bahagia. sukses y tj
Katherina Ajawaila
mikir donk Mayang jgn ego mesti bangga karna walau Erwin banyak cewek di luar tapi hanya kamu istri sah nya dan skrng udh ada labib pula. kalau dulu ngk suka knp mau di tidurin 🤫🤫🤫
Katherina Ajawaila
sama2 keras kepala, udh punya anak ngk mau ngalah,
Katherina Ajawaila
makanya win, belajar dr kesalahan, jgn mentang2 kaya, ganteng trus belagu
Katherina Ajawaila
enak. ngk win dengar bicara nta Mayang, sabar aja ngaku salah lebih enak loh
Katherina Ajawaila
next thour, cukup tegang juga
Katherina Ajawaila
enak punya Kk spt Riezka
Katherina Ajawaila
semangat thour, walau pun kadang ngilu hati bacanya tapi bagus ceritanya
Katherina Ajawaila
bagus, terus aja main tak ngumpet, PR ngk lo win
Katherina Ajawaila
Erwin ko ngk peka y bego
Katherina Ajawaila
mantap Thour, pengen tau ada ngk rasa nya Erwin🤭🤭🤭
Katherina Ajawaila
bagus Mayang tampil dgn wajah baru Barbara, sukses thour, keren
Katherina Ajawaila
Mantap Tante
Katherina Ajawaila
Kapok, rasain makan situ jadi suami ngk mutu, telen situ
Katherina Ajawaila
biar rasa Erwin di peralat terus sm kel belatung nangka, sementara istrri sah di terlantatin. dasar laki2
Katherina Ajawaila
ngk jelas Erwin, makan situ masa lalu mu dgn perempuan jalang yg udh jadi tanah. tinggal aja di kuburan
Katherina Ajawaila
Next thour, seru aja
Katherina Ajawaila
bersyukur Mayang semoga baby sehat dan kembar biar Erwin sadar diri dan jangan pernah mau kembali lagi dgn suami yg hanya memikirkan harta duniawi dgn masa lalunya. keren thour
Katherina Ajawaila
bagus Mayang, biar Erwin sadar diri, jgn di mulut bicara lain tapi di hati lain. walaupun skrng Mayang berbadsn dua tanpa setau Mayang ya thour
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!